
4
HEI, WEREWOLF IMITASI! Mereka bertambah banyak saat dibunuh, bagaimana ini?
Raven langsung berjongkok di atas kepala Han dan dengan kesal memukulnya, “Siapa yang kau panggil Werewolf Imitasi? Aku ini majikanmu, Kera Dekil Bodoh! Lalu kenapa kau membunuh mereka? Pantas saja semakin banyak! Bodoh!” teriak Raven.
Siapa yang kau panggil bodoh? Lagi pula, buat apa bertarung dengan monster seperti mereka jika tidak dibunuh? balas Han sambil memukul burung yang mematuk kepalanya.
“Kali ini lain, kita hanya harus mengulur waktu agar Efron dan yang lain bisa menemukan anak ayam jumbo yang nakal itu,” jelas Raven.
Kenapa tidak bilang dari tadi? Tahu begitu aku hanya akan mengayunkan tangan dengan santai, ujar Han.
Raven menatapnya dengan tatapan aneh, “Kau bilang ‘Mengayunkan tangan dengan santai’? Lalu sudah berapa banyak yang kau bunuh hanya dengan ekormu?”
Saat masih menahan kawanan burung Haireat, tiba-tiba Raven diam, membuat Han seketika berteriak kesal, Hei, jangan menjadi beban dalam pertarungan! Atau kau akan kulempar seperti yang kau lakukan pada gadis berambut biru tadi!
Raven tetap diam seolah tak mendengar, Namun sesaat kemudian Raven tertawa kecil.
“Mereka berhasil menemukan anak ayam itu,” ujar Raven sambil menatap Han. Wajahnya memerah entah karena apa. Dia melompat turun ke dahan pohon terdekat.
Lalu? Kau mau kita ke sana? tanya Han yang kini berada di dekat Raven dengan ukuran yang tak terlalu besar, menyesuaikan dengan tubuh Raven.
“Tentu saja, ayo!” ajak Raven yang langsung melepaskan puluhan klon kecilnya untuk mengelabui kawanan burung pemakan rambut itu.
Mereka langsung turun menuju lokasi sesuai ingatan Raph dan Gifon, dia yakin kalau pun berpindah pasti belum jauh. “Itu mereka, ayo cepat!” seru Raven saat melihat timnya masih di sana. Tepat sebelum sampai ia mendengar seseorang menghina Raph dan Gifon.
“Benar-benar kloningan dari Werewolf bodoh itu. Sama berisiknya dengan Raven.”
Ah, sepertinya tidak salah kalau ia tadi kulempar.
“Siapa yang kau bilang bodoh, Gadis Galak?” jawab Raven yang membuat ketiganya terkejut.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Efron.
“Tepat sebelum gadis rambut biru ini menghinaku,” jawabnya tanpa merasa terganggu dengan tatapan Helena. “Di mana anak ayamnya?” tanya Raven.
“Shht! Duduklah, dia ada di sana,” tunjuk Chalia.
Terlihat anak ayam itu sedang memandangi sebongkah batu aneh di atas sebatang kayu, batu itu tampak memiliki wajah.
“Pfft.”
Suara itu membuat Efron dan lainnya menatap Raven. Ada yang aneh darinya.
“Hehehe.”
“Kau kenapa?” tanya Helena keheranan.
“Hm, tidak apa-apa,” jawab Raven yang masih mencoba menahan tawanya.
Sial, aku terkena serbuk tawa dari Haireat Bird.
“Hahaha, anu, maaf, itu batu yang aneh. Hehehe. Entah kenapa aku merasa kalau kita harus segera menangkap anak ayam itu dan pergi dari sini. Hehehe. Aku yakin kalian berpikir hal yang sama,” ujar Raven melirik ketiga temannya sambil menahan tawanya.
Dia sudah gila atau apa? batin Efron sambil menatap adik tingkatnya heran.
“Hahaha ...., maaf kalau kalian terganggu dengan tawaku.”
“Raven, jangan bilang kau terkena serbuk tawa dari burung itu,” tanya Helena.
“Hahaha, aku sedang sial, sudah lupakan,” jawab Raven sambil tetawa.
Efron menyentuh tanah dengan tangan kirinya. Dengan memusatkan konsentrasi, tanah di sekitar ‘si Anak Ayam’ mulai bergejolak. Belum sempat anak ayam terbang, tanah di sekitarnya jatuh sejauh 50 sentimeter.
“Pergilah!” teriak Raven setelah membuat 30 klon mini dirinya yang langsung menangkap anak ayam itu.
“Dapat! Hahaha!” teriak Raven girang saat klonnya berhasil menangkap dan menahan anak ayam itu.
“Kerja bagus para mini-Raven!” puji Chalia dibalas tawa klon Raven.
Sekarang anak ayam sudah didapatkan, tetapi mereka tak bisa berdiam diri. Tawa Raven akan mengundang makhluk mistis lain berdatangan.
“Hah, akhirnya kita berhasil menangkap hewan nakal ini. Sekarang apa lagi?” ucap Chalia lega.
“Ayo, kita segera menuju wilayah yang elemennya sesuai dengan makhluk ini dan meletakkannya di altar sesuai peraturan yang dibacakan saat upacara tadi,” ujar Efron mengingatkan.
“Dan seingatku tujuan kita adalah wilayah Freevilla. Ya, kan?” tanya Helena yang dibalas lirikan lelah Efron, sementara Chalia dan Raven menahan agar tidak tertawa, tapi Raven lelah menahan tawa.
“Hahaha … nama yang lucu!” seru Raven yang sudah tak tahan.
“APA YANG KAU TERTAWAKAN?” teriak Helena kesal.
“Hahaha, maaf-maaf, aku benar-benar tak kuat, Freevilla, hihihi,” balas Raven yang membuat wajah Helena memerah.
“Baiklah, tujuan kita selanjutnya adalah wilayah Fyreville. Raven, kalau kau bisa, buat klonmu untuk melindungi kita dari serangan hewan buas yang bisa saja tiba-tiba menyerang.” Efron mencoba menengahi pertikaian yang akan meledak.
“Hahaha, aku sudah tahu apa tugasku, Kapten,” ujar Raven yang sudah ada dua klon di belakangnya. Sementara Helena mendengkus sambil menatap Raven sinis.
Bocah bodoh ini! Tunggu saja pembalasanku di Akademi nanti. Seenaknya menertawakan orang. Dia pikir dia pintar?
“Maple Hill dan Gohol, di antara dua wilayah itu ada lokasi elemen api terkuat, kemungkinan altarnya ada di sana,” ucap Efron pada timnya.
“Jangan lupakan kalau kapten kita adalah seorang Wizard, tentu saja ia mengetahui lokasi elemen terkuat di setiap wilayah,” ujar Chalia mengingatkan.
“Benar juga,” jawab Helena.
“Hehehe, maaf, Kapten, aku lupa identitasmu. Apa yang kita tunggu? Ayo berangkat, hahaha!” seru Raven semangat.
“Hati-hati, di tengah hutan begini biasanya ada banyak jebakan. Hal yang patut kita waspadai adalah….”
WROAAAR!
Belum selesai Efron bicara suara monster terdengar dari arah belakang mereka.
“LARI!” perintah Efron yang langsung berlari menjauh, sedangkan Raven hanya bisa tertawa keras. Menurutnya, hal ini mengasyikkan, lari dikejar monster.
“Hahaha, aku tak tahan lagi. Ayo, Han!” seru Raven yang langsung mengambil tongkat dari punggungnya. Han yang melihat itu hanya bisa patuh, ia tahu kalau sekarang Raven sedang serius.
“Hahaha, aku sedang kesal! Hahaha, majulah!” teriak Raven sambil mengacungkan ujung tongkatnya pada kawanan monster, lalu maju menyerang dan membunuh tiga di antaranya.
“Dia bilang sedang kesal, tapi dia tertawa, apa maksudnya?” tanya Chalia kesal melihat tingkah Raven.
“Dia terkena serbuk gatal dan serbuk tertawa yang berasal dari Haireat Bird,” jelas Efron.
“Lalu kenapa dia hanya tertawa? Apakah tubuhnya tahan terhadap rasa gatal?” tanya Helena.
“Mungkin ia berusaha menahannya,” jawab Efron.
Sedangkan Raven kini sedang membunuh para monster yang mengejar mereka sambil tertawa, meski wajah dan seragamnya berlumur darah monster.
“Bukankah kita harus membantunya?” tanya Chalia.
Helena menggeleng. “Tidak, biarkan saja si Werewolf Bodoh yang sok jago itu bertarung sendirian. Itu maunya, kan?” jawabnya yang langsung ditatap Chalia, sementara Efron hanya mendesah pasrah. Entah harus senang atau sedih dengan keunikan dari setiap anggota timnya.