
Haireat’s Calamity
"KALIAN BERHATI-HATILAH!"
Zovras merapalkan mantra dan mereplika diri menjadi empat bayangan. Masing-masing bersiaga sembari mengeluarkan kekuatan elemental masing-masing. Penyihir rambut biru dengan tato di pipi kanan tersebut jauh lebih serius, berbeda dengan sifat bawaannya yang selalu santai. Manusia serigala bertubuh atletis itu malah berdecak kesal, masih dalam pendiriannya, meremehkan kawanan iblis bersayap kecil itu. Ia berlari mendekat kemudian mengeluarkan kekuatan gigantic-nya. Tanah di sekitar berguncang, Wolfe tak lagi memikirkan nyawa di bawah sana.
"WOLFE, JANGAN!" teriak pemilik Moon Rabbit itu sambil menyeimbangkan tubuhnya karena getaran yang dibuat Wolfe.
"Argh! Dasar serigala liar! Seenaknya saja!" Elf bersurai putih itu memanggil hewan kontraknya dan terbang menghindari batu yang terpental.
"Benar-benar serigala merepotkan!" ketus Axel.
Axel dan Zeon bergerak lincah menghancurkan penghalang mereka. Sementara Zovras tampak terlindungi, seakan ada pisau angin yang membelah sendiri gumpalan tanah keras yang mengarah padanya. Serigala nakal itu terlihat seperti anak kecil yang mengejar nyamuk yang menggigitnya. Air, bebatuan, dan pepohonan di sekitarnya menari-nari seirama dengan langkah kaki monster raksasa itu. Wolfe memukul kawanan Haireat itu dengan mudah, layaknya memukul nyamuk biasa. Satu per satu burung itu berjatuhan ke tanah. Namun, tak ada bekas darah di tangannya.
Wolfe berkacak pinggang sambil berkata, "Lihat apa aku bilang! Aku tidak bodoh, mereka lemah!"
"Mirip dengan kalian, haha!" lanjutnya jemawa.
Tiba-tiba, sayap burung itu bergerak lagi, makin lama, makin kuat. Mata mereka kembali terbuka, sementara burung Haireat dengan warna hitam legam dengan bintik-bintik putih di badannya membelah diri menjadi dua. Terus bertambah banyak.
"Matilah kita ...." Zeon kehilangan tenaga di kakinya, ia terduduk lesu dan kelihatan frustrasi.
"I've told you, Wolfe. Look! What've you done so far!" ucap Zovras santai sembari menggeleng.
Cairan merah segar mengucur dari badan Wolfe. Kawanan burung itu makin liar dan menyerang mereka semua. Serbuk aneh berhamburan di udara dan menyelinap masuk melalui aliran napas dan darah.
"Gawat! Serbuk ini ... jangan dihirup!"
Belum sempat memberitahukan dampaknya, Wolfe mulai berkeringat dingin. Rasa gatal perlahan menyeruak. Mengalir ke seluruh badan. Wolfe menggaruk seluruh bagian tubuhnya, rasa gatal itu begitu menyiksa. Ia tak lagi fokus dengan serangan burung itu. Kekuatan raksasanya menghilang.
Wolfe berguling di tanah, menggaruk bagian yang gatal dan berkata, "Sial! Aduh, auh, gatal!"
"Zeon, saring udara di sekitar kita!" Zovras pun mulai merasakan hal yang sama.
Zeon menggunakan kekuatan sylph menyaring dan memurnikan udara di sekitar mereka, memberi ruang napas, dan meredam sedikit rasa gatal yang mereka rasakan. Zovras memanfaatkan peluang itu, ia mengarahkan tiga bayangannya yang lain menyerang dan melindungi timnya. Hal ini semakin lama tampak sia-sia, setiap kali diserang justru terus bertambah banyak. Zovras yang kian terluka akibat cakaran burung, merasakan gatal yang begitu hebat di sekujur tubuhnya. Begitu pula dengan teman-temannya.
"Tak ada waktu lagi. Mereka tak bisa dihentikan," Zovras memandangi sekitar, "aku harus bertindak cepat."
Bayangan penyihir itu kembali menyatu, kini ia merapalkan mantra, membentuk kubah pelindung dari tanah berbentuk iglo. Namun, burung itu tidak pergi juga. Kawanannya masih mengudara, menjaga mereka layaknya tahanan. Seluruh anggota tim dirundung rasa gatal, terduduk diam di dalam pelindung tanah itu. Kian lama terdesak, Zovras mereplika dirinya kembali. Wujud replika ini tampak berbeda dari yang sebelumnya, kekuatan serasa mengalir penuh padanya.
Pembaca mimpi itu terheran. "Tidak mungkin."
Replika Zovras itu memiliki kekuatan petir. Elemen alam yang baru saja ia dapatkan. Ia menggunakan kekuatannya, mengaliri pelindung itu dengan sambaran petir. Burung-burung Haireat yang keras kepala tersengat satu demi satu, kemudian pergi meninggalkan iglo tanah Zovras. Mereka merasa sedikit lega, meskipun penderitaan dan luka-luka masih basah.
"Huh, s-syukurlah mereka su-sudah pergi." Ucapan Zeon terbata-bata akibat kegatalan.
Mereka berjalan mendekati sungai untuk membersihkan bekas-bekas luka. Mereka mulai terbiasa dengan rasa gatal itu dan perlahan mengabaikannya walaupun sewaktu-waktu kambuh lagi.
Zovras mengibaskan rambutnya yang setengah basah, kemudian berkata, "Sebaiknya kita singgah sebentar. Mencari ramuan penghilang gatal sesaat. Ayo pergi!"
Matahari begitu terik, sinar hangatnya berubah menjadi pancaran cahaya yang membakar kulit. Zovras dan timnya terlihat payah dan menyedihkan, terus melangkah hingga tiba di pintu masuk Phagoda Market. Pasar besar yang berada di wilayah Stormville. Ramai orang berlalu lalang melakukan aktivitas masing-masing. Banyak interaksi terjadi antara penjual dan pembeli. Tak jarang terlihat preman dan brandalan mampir, begitu pula beberapa pemberontak yang tengah asyik memenuhi kebutuhannya.
"Dasar lemah!" ucap Wolfe di sela napas yang terengah-engah.
"Ini juga karena ulahmu! Bukannya menolong sama sekali, malah menambah penderitan. Huh!"
Axel heran melihat dua rekan timnya yang tak pernah ada akurnya. Tampaknya tenaga mereka tak pernah habis untuk adu mulut. Makin hari, semakin mirip pertikaian serigala dan anjing saja.
"Hei! Bisa tidak aku mendapat hari yang tenang saja untuk beberapa saat? Aku sudah kehabisan banyak tenaga karena kecerobohan kalian!" ucap Zovras memandangi mereka.
"Kami?" tanya Zeon, "Tapi itu ulah W—"
Perkataan Zeon terputus mendadak akibat mendapat injakan kaki Axel. Seolah Axel memintanya menurut sejenak. Zeon menatapnya dan mendapatkan kode dari Axel. Ia menggangguk paham dan diam.
"Ayo, kita temukan toko ramuan terlebih dahulu. Aku tak ingin tidurku terganggu nanti malam." Zovras berjalan mendahului mereka, tanpa menghiraukan balasan Zeon, Axel, dan Wolfe.
Mereka menyusuri jalan utama. Memandang ke kiri dan kanan untuk menemukan toko ramuan yang mereka cari. Kriminalitas kini terlihat, beberapa pemberontak memalak yang lemah di sekitarnya. Wolfe menggeram, tetapi mendapat tatapan ancaman dari Axel membuatnya meneguk ludah, serasa bertemu malaikat maut. Hingga langkah kaki mereka terhenti tepat di depan sebuah toko bertuliskan Hardacabru. Botol-botol ramuan terpampang jelas dari kaca toko. Zovras masuk, sementara yang lain memilih menunggu di depan toko.
"Aku takut kita tak akan bisa menyelesaikan turnamen ini tepat waktu," ucap Zeon memecah keheningan.
"Kenapa?" sahut Axel.
"Lihatlah, betapa menyedihkannya kita karena tingkah konyol serigala itu," timpal Zeon yang sedang memperhatikan Wolfe sedang melihat depan toko yang lain. "Selalu saja seenaknya."
Axel hanya memberikan deheman sebagai respons. Ia kemudian berbicara, "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Selalu saja berantam hanya karena masalah kecil."
Empat belas kata? Cowok yang terkenal irit bicara melakukan itu. Yang benar saja, batin Zeon sembari tersenyum menahan tawa.
"Kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya kesal padanya."
"Apa kau menyukainya?" Pertanyaan Axel berhasil membuat keheningan kembali muncul.
"APA! Najis! Aku masih normal ya, Axel." Zeon menatap Axel dengan rasa tak suka.
"Hm ...."
Kesunyian kembali terjadi. Ekspresi datar Axel menambah kekesalan Zeon setelah difitnah menyukai pria serigala payah itu. Mereka masih memandangi Wolfe yang tengah asyik melihat toko-toko di sekitar. Hingga tak sadar Zovras selesai dan menghampiri mereka.
"Boom!"
"Apa, sih, Zovras! Bikin jantungan saja!" Zeon tertangkap basah melamun.
"Apa yang kalian bicarakan? Tampaknya begitu serius. Mana Wolfe?"
Zeon mengarahkan jari telunjuknya ke salah satu toko dan berkata, "Tuh, di sana!"
"Apa yang sedang serigala itu lakukan, sih?"
Axel dan Zeon mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Zovras memberikan keduanya ramuan penghilang gatal sementara, hanya bertahan satu hari. Kemudian menyimpan sisanya untuk serigala besar itu. Mereka masih diam di tempat sambil memandangi Wolfe yang sedang berjalan ke sebuah kerumunan. Entah apa yang akan dia lakukan, tetapi Zeon sangat berharap tidak terjadi lagi masalah yang sangat menyebalkan.