Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Noir Crushing Journey - Pet Contract




Pet Contract


“NASTRADAMUS!”


Pintu rumah pohon ditendang begitu saja, membuat Nastradamus hampir melempar alu yang digunakan untuk membuat ramuan. Saat ini, David masih terlelap, entah kapan akan terbangun, sementara Aux terus bertengger di pundaknya.


Nastradamus membuat ramuan yang berkhasiat menghangat tubuh dari dalam sambil menunggu bunga klaveries datang. Panas perapian hanya menghangatkan bagian luar tubuh, sehingga Nastradamus memikirkan cara lain untuk menaikkan suhu David ke titik normal setelah mengompres sesuai saran Miguel sekaligus mengurangi dampak akibat hipotermia. Kini Nastradamus sepertinya harus bekerja dua kali, melihat Miguel memapah Thann yang kondisinya tak jauh berbeda dengan David. Ia segera membantu Miguel yang kesulitan membawa tubuh besar Thann ke dalam rumah pohon, kemudian membaringkannya di permadani yang sudah diberi mantra perbaikan.


“Pinggangku!” keluh Miguel lantas terduduk di lantai kayu.


Nastradamus menggeleng melihat Miguel yang kelelahan memapah tubuh besar Thann. Tak sengaja, ia melihat Noir dan seekor burung hantu berwarna putih salju. Nastradamus memberi isyarat agar Noir mendekat. Kucing nakal itu terbang kemudian memeluk Nastradamus seperti tak bertemu setahun.


Melihat interaksi Noir dan Nastradamus membuat darah Miguel mendidih. “Dasar hewan nakal! Awas saja kalau kabur lagi. Kupastikan tubuhmu menjadi makanan hewan ganas di Gingko Forest!”


Noir menyembunyikan diri di balik punggung si penyihir, sementara Miguel mengeluarkan pesanan seniornya setelah memarahi kucing nakal tersebut. Ia  membawa bunga klaveries ke meja yang dipenuh oleh alat meracik ramuan.


Miguel terdiam melihat banyaknya peralatan ramuan yang ditampung tas sihir Nastradamus. Menyadari tatapan Miguel, Nastradamus menepuk pundak remaja itu. “Kau memiliki hobi yang sama denganku, meracik ramuan. Aku bisa membantumu mempelajari ramuan  tingkat satu agar dapat nilai tertinggi di mata pelajaran Ramuan dan Mantra.”


“Benarkah? Kau tak sedang menipuku, kan?” Wajah Miguel terlihat cerah.


“Aku bukan kau yang ucapannya seperti Ashlen. Pembual ulung.”


Pemilik kekuatan api itu tertawa, kemudian membantu Nastradamus membuat ramuan dari bunga klaveries. Kedua remaja itu menggunakan sarung tangan karet dan masker untuk melindungi diri dari dampak negatif pembuatan ramuan. Nastradamus memisahkan akar klaveries untuk diambil dan digunakan racunnya.


Di akademi, Nastradamus sudah mempelajari tentang bunga klaveris. Bunga itu memiliki benang sari yang menonjol, warna bunga unggu, dan daunnya memiliki rasa pahit, tidak enak serta menyebabkan sakit perut bila dimakan.


Miguel memotong batang klaveries yang sudah Nastradamus pisahkan dari akar kemudian dimasukkan ke panci yang berada di atas perapian. Setelah diberi intruksi oleh Nastradamus, ia menambahkan air ke dalam panci lalu menutupnya. Miguel melihat dua orang yang tengah terbaring di atas permadani dengan ekspresi datar.


“Beruntung kau tidak seperti mereka,” ujar Miguel pada rekannya yang sibuk membuat ramuan.


Nastradamus mengangguk sekilas. “Yeah, kalau saja seperti mereka, mungkin kau akan menjadi gila karena merawat tiga orang sekaligus.”


“Ya, gila merawat bayi besar yang menyusahkan,” gumam Miguel.


Suara denting antara lumpang dan alu tak lagi terdengar saat Nastradamus menyadari satu hal, buru-buru ia menoleh. Diperhatikannya Miguel yang terlihat berbeda; mulai dari rambut putih dengan beberapa helai berwarna hitam, tato api di leher, tanda kepingan salju di ibu jari, anting di telinga kiri yang berbentuk pentagon transparan, dan terakhir warna iris mata yang berbeda.


Penyihir bermata hijau itu menghampiri Miguel, kemudian memeriksa tubuh bocah itu. Takut jika Thann dan Miguel bertemu seseorang atau hewan ganas yang menyerang, sehingga terjadi perubahan yang mencolok pada Fallen Angel itu.


Sementara korbannya pasrah saat tubuhnya diperiksa tanpa alasan yang jelas. Badannya lelah akibat memapah Thann, belum lagi dua hewan yang harus dibawa. “Bisa tidak kau menjauh dariku, Nastradamus? Tidak ada luka di tubuhku. Kami tidak bertarung atau apa pun, kecuali menghalau burung Haireat yang hampir memakan Noir.”


 “Apa!” Nastradamus berteriak tepat di telinga Miguel.


Miguel menjauhi Nastradamus lantas menghampiri burung hantu yang terkapar di lantai kayu. “Bisa kau buatkan ramuan untuk burung hantu ini? Dia terluka karena melindungi Noir,” pinta Miguel.


Noir yang juga diperiksa oleh Nastradamus hanya pasrah saat tubuhnya digoyangkan ke kanan dan kiri. “Oh, tentu saja. Akan kubuatkan ramuan. Nanti kau baluri hewan itu. Mengerti?” Ia menatap Miguel. “Namun, kau harus jelaskan bagaimana bisa penampilanmu berubah seperti itu? Kau seperti habis bertemu Addison yang mampu mengubah penampilan seseorang,” tutur Nastradamus.


Aku tak peduli, batin Miguel.


Sepuluh menit berlalu, Nastradamus selesai membuat obat. Ia memberikannya pada Miguel yang langsung digunakan untuk membaluri luka si burung hantu. Miguel meringis ketika melakukannya.


“Maaf, ya. Pasti tubuhmu kesakitan menahan luka ini.” Miguel berbicara pada burung hantu yang dibalas kepakan sayap beberapa kali.


 Penyihir asal Rainville itu melirik Miguel yang asik berbicara dengan burung hantu. Ia hampir menyelesaikan pekerjaannya membuat racun dari akar klaveries. Juga rebusan air dari batang klaveries yang sudah mendidih. Nastradamus segera menuangkan rebusan ke dalam botol bening ukuran sedang.


“Minum ini.” Ia menyodorkan botol bening berisi air rebusan batang klaveries pada Miguel.


“Bagaimana rasanya? Aku tak mau mencoba minuman aneh ini—”


Nastradamus mencekoki Miguel, tanpa peduli jika malaikat itu akan tersedak. Setelah air rebusan masuk ke dalam tenggorokan, rasa mint langsung memanjakan lidah. Miguel yang akan mengamuk kepada si penyihir mendadak diam setelah tubuhnya terasa hangat akibat air rebusan batang klaveries.


“Sekarang, ceritakan bagaimana penampilanmu bisa berubah?”


Miguel berjalan menuju jendela yang sudah memiliki kaca karena diperbaiki oleh Nastradamus. Ia melihat salju berjatuhan dari langit, ingatannya menerawang jauh pada masa kecil yang suram. Membahas bagaimana penampilannya saat ini, sama saja membuka memori lama soal kekuatan lain yang baru saja aktif.


“Dengarkan, jangan menyela,” peringat Miguel serius.


Nastradamus mengangguk. Ia menyelimuti Thann dari kain yang memang sejak awal ada di rumah pohon, meski robek sana-sini. David sudah terlihat normal, napasnya beraturan dan bibir yang tak lagi membiru. Tinggal menunggu siuman.


“Semua orang hanya tahu, jika aku memiliki kekuatan api. Namun, sebenarnya ada kekuatan lain yang belum aktif. Kekuatan itu aktif saat aku menemukan burung hantu putih yang melindungi Noir. Entah bagaimana bisa aktif, padahal sejak kecil aku mencoba untuk memancing kekuatan itu, tetapi selalu gagal.”


Dirasa Miguel berhenti bercerita, Nastradamus berucap, “Kekuatan apa yang kau maksud?”


Miguel menumbuhkan sayap putih bersih kemudian mengepakkannya beberapa kali sampai terangkat ke udara. Di telapak tangannya, muncul pusaran kecil berupa butiran salju yang makin membesar. Iris Miguel berubah menjadi semerah api dan rambutnya bahkan berubah hitam seluruhnya.


“Miguel, hentikan!”


Nastradamus menjadi panik. Kekuatan es yang baru saja aktif ternyata masih sulit dikendalikan. Miguel hampir membuat seisi rumah pohon berantakan, kalau saja burung hantu putih tidak terbang di hadapan pemilik kekuatan es yang belum stabil tersebut. Nastradamus melihat jika burung hantu putih itu membuat kekuatan baru Miguel lebih stabil dan berangsur-angsur menghilang.


Miguel terduduk saat sayapnya mengatup dan hilang. Ia terlentang di lantai kayu setelah kekuatannya tidak aktif, ternyata mengaktifkan kekuatan es membuatnya kehabisan mana.


 “Kau baik-baik saja?” Nastradamus khawatir.


Miguel bergumam, “Ya.”


“Jangan memaksakan diri, mungkin tubuhmu masih harus menyesuaikan. Kau bisa melatihnya selama perjalanan sebagai pembelajaran, sama seperti David,” saran Nastradamus.


“Akan kucoba.”


Miguel, itu namamu, kan?


Dahi Miguel berkerut. Ia bingung saat ada suara yang menggema di kepalanya.


Siapa kau?


Burung hantu putih terbang, lantas bertengger di pundak Miguel.


Aku adalah burung hantu yang kau selamatkan.


Miguel melihat burung hantu putih dengan alis bertaut. “Apa maumu?”


Aku ingin menjalin pet contract denganmu.


Miguel merasa bimbang. Kekuatan es miliknya baru aktif dan ia merasa ada hal yang berbeda saat berdekatan dengan burung hantu itu. Seolah kehadirannya menstabilkan kekuatan es yang belum bisa Miguel sendiri kendalikan.


 “Nastradamus, burung hantu ini memintaku menjalin pet contract,” kata Miguel, terdengar skeptis.


Pemandangan di wilayah Cyroville sangat indah dengan bintang bertaburan di atas langit, Nastradamus memperhatikan langit malam setelah membiarkan siswa tahun pertama itu memikirkan kekuatan barunya. Ia hanya akan memberi saran jika diminta, seperti sekarang. “Bukankah bagus, kau akan memiliki pet contract?”


Miguel belum memiliki pet contract, ia hanya fokus pada kekuatan es yang belum aktif sampai pendaftaran Maple Academy. Keraguan menyerang hati. Kekuatan es milikinya baru saja aktif, bagaimana bisa ia menjalin pet contract? Ia takuti akan membahayakan hewan kontraknya.


Nastradamus duduk di samping Miguel yang terlentang. “Kurasa, jika kau menerima burung hantu itu, akan ada sebuah keberuntungan yang akan kau dapat.” Nastradamus mengatakan hal itu karena melihat bagaimana kekuatan Miguel perlahan stabil jika berada di dekat burung hantu.


“Apa maksudmu?” Miguel terduduk dengan wajah serius bercampur penasaran.


Bukan masalah jika kekuatan es milikmu baru saja aktif, Miguel.


“Untukmu bukan masalah, tetapi untukku akan menjadi masalah kalau kau terluka saat aku tak bisa mengendalikan kekuatan es!” Air muka Miguel terlihat menyedihkan dan frustrasi.


Nastradamus menepuk bahu Miguel. “Saran dariku, terima saja.”


Sebelum mengambil keputusan, Miguel menghirup napas untuk mengisi paru-paru dengan udara, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia menatap mata si burung hantu putih.


“Aku menerimamu sebagai pet contract.”


Seketika rumah pohon memunculkan cahaya kecil yang berhamburan di langit-langit, lantas pecah layaknya kembang api. Sebuah kursi, kayu untuk perapian, kain, dan lainnya tercipta dari sulur rumah pohon. Jalinan pet contract menghasilkan barang berguna di dalam rumah tersebut. Tak lama, tercipta tato kepingan salju di bulu leher burung hantu, persis seperti miliki Miguel.


Kau bisa memberiku nama, Miguel.


Melihat bulunya yang seputih susu, membuat Miguel teringat akan tumpukan salju. “Namamu adalah Xiovi. Aku akan memanggimu, Xio.”


Tentu. Terima kasih sudah mau menjalin pet contract denganku.


“Tentu.”


Nastradamus hanya memperhatikan bagaimana remaja itu mendapatkan pet contract, bahkan jalinan keduanya membuat keajaiban kecil. Malam ini, mereka akan bermalam di hutan Giofar akibat dua anggota yang sakit dan cuaca yang makin terasa menyiksa tulang, lebih-lebih badai salju akan turun.


Miguel menghampiri perapian, menjaga suhu api agar tetap stabil sehingga ruangan di rumah pohon tidak terasa dingin. Setelah menjalin pet contract, ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Seperti perasaan nyaman.


Ketika malam makin larut, Nastradamus duduk di sebelah Miguel untuk membahas rencana selanjutnya. Tanpa mereka sadari, dua orang yang terserang hipotermia perlahan bangkit dan duduk di atas permadani. Melihat Noir dalam pelukan Nastradamus, membuat keduanya tersenyum sinis.


“Dasar hewan nakal!”