Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - Lost Respect in Eternal Thunder




Lost Respect in Eternal Thunder


TENGAH MALAM BEGITU tenang mengiringi keindahan suasana daratan penghujung Stormville. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik scion memecah keheningan malam, sesekali terdengar suara burung hantu berkeliaran mencari mangsa. Udara terasa dingin, menambah suasana yang makin mencekam. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani anggunnya ratu malam yang bersinar terang. Nyamuk abbys juga tidak mau kalah, terbang ke sana kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan.


Zovras, Zeon, dan Wolfe yang masih terbang dibawa Falcon Autumn tengah mencari keberadaan Axel. Lampion roh jingga perlahan menghilang setibanya mereka di daerah Eternal Thunder. Awan hitam gelap pekat tertata rapi di langit daratan petir abadi itu. Mereka mendarat di daratan Eternal Thunder. Tanah liat coklat sedikit lembap menjadi pijakan empuk menuju gerbang yang terbuat dari batu dengan ukuran motif sihir Shalotl. Mereka akhirnya menemukan Axel tepat berdiri di depan gerbang. Namun, aura dingin Axel makin besar. Zeon waswas sekaligus takut melihat terjadinya pertengkaran hebat di antara mereka.


Zovras berjalan santai ditemani Elyosa, "Axel! Sudah lama menunggu?"


Axel tak memberikan respons. Zovras dan Elyosa saling pandang melihat Axel diam terpaku. Ia mendekat, mencoba menepuk pundak Axel. Perlahan kepala Axel menoleh ke arahnya. Zovras tertegun sesaat melihat perubahan mata Axel menjadi biru keunguan dan motif aneh muncul di keningnya.


Hm ....


Hanya itulah yang terdengar sebagai respons dari Axel. Zovras terdiam sejenak, kemudian memanggil Wolfe dan Zeon mendekat. Mereka melangkah masuk, tepat pada injakan pertama, efek elektrostatis yang lumayan kuat menjalar di tubuh mereka. Rambut dan bulu yang ada di permukaan kulit mereka berdiri, tertarik medan listrik yang begitu kuat. Mereka tersengat listrik tak kala menyentuh barang secara acak.


"Sepertinya ini bakal jadi jauh lebih rumit," ucap Zovras ketika memandangi awan petir menggelegar di atas mereka.


Wolfe mengedarkan pandangannya dan menemukan sesuatu berwarna putih bergerak di balik genangan air bebatuan yang sedikit menjulang. Ia menyelisik pergerakannya, "Bukankah itu hewan yang kita cari?"


"Di mana?" sahut Zovras segera setelah mengalihkan pandangannya ke arah tunjuk Werewolf itu.


"Itu Moonchibi!" sahut Zeon bersemangat.


"Moonchibi?" tanya Zovras dan Wolfe bersamaan.


"Iya ... sebelum dia terbang menjauh, aku memberinya nama itu."


"Huft ... hahaha! Bisa-bisanya hewan sihir merepotkan kau beri nama seperti itu," jawab Wolfe dengan tawa serigalanya.


“Ayo kita tang—”


Embusan angin kencang memotong ucapan Zovras. Wolfe dengan kekuatan superspeed-nya berlari mengejar ular itu.


"Wolfe, tunggu!"


Petir menggelegar dan berhasil menyambar batuan tempat injakan Wolfe. Dentuman ledakan terdengar disusul kobaran merah jingga menyala. Zeon mencemaskan serigala itu, meskipun dia sering membuatnya kesal. Namun, tetap saja ia tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Mereka bergerak dengan hati-hati. Perpindahan yang tiba-tiba menimbulkan gesekan elektrostatis yang memancing sambaran petir itu.


Zeon menghampiri Wolfe yang terduduk lemas, "Kau tak apa-apa?"


Wolfe menepis tangan Elf malang itu, "Jauhkan tangan kotormu dariku! Dasar peri lemah!"


Kekesalan Axel bertambah lagi ketika melihat Zeon diperlakukan semena-mena. Namun, di lain sisi ia sedikit senang karena sambaran petir itu membalaskan dendamnya. Tangan Wolfe terbakar.


"Kau yakin tak mau dibantu? Tanganmu mulai menghitam," tanya Zovras sekali lagi.


Wolfe merobek sedikit bajunya dan mengikat bagian tangannya yang terluka. "Apakah aku terlihat semenyedihkan itu di matamu?"


"Okay, it's up to you."


Serigala berbulu putih itu bangkit kembali. Namun, ia tak lagi mendapati ular yang mereka cari di tempat berada sebelumnya. Wolfe berusaha mencari lagi, mengandalkan indera penglihatan dan penciumannya yang tajam. Namun, ia tak mendapatkan hasil. Ia menjadi lebih lemas karena efek listrik yang semakin kuat saat memasuki inti wilayah petir.


Zovras mendengkus kesal, "Oh God! You are too annoying, Wolfe!"


Ketua klub astronomi yang merangkap menjadi ketua tim itu merapalkan mantra perisai pemantul pada mereka, kecuali Wolfe. Ia khawatir jika sewaktu-waktu mereka lengah saat diserang mendadak. Zovras dan dua adik tingkatnya itu mengejar Wolfe yang memasuki area Eternal Thunder lebih dalam.


"Hoam ... aku mengantuk. Zovras, bisakah kita tidur sejenak?" Zeon mengucek matanya dan ia benar-benar kelelahan.


"Nanti, kita harus menemukan Wolfe terlebih dahulu," sahut Zovras serius, "aku tak ingin dia membuat masalah lebih banyak lagi."


Huft ... menyebalkan. Kenapa, sih, aku bisa setim dengannya, batin Zeon sembari mendengkus kesal.


"Itu dia," ucap Axel singkat.


Mereka langsung bergegas menuju tempat Wolfe berhenti. Terlihat jelas ia sudah pada batas maksimalnya, tak lagi bergerak dan hanya terduduk diam dengan napas ngos-ngosan. Lukanya bertambah, sepertinya petir menyambarnya lagi.


"Kau tampak payah," ujar Zovras melipat tangannya di dada, "kenapa masih bersikeras? Ini sudah malam, waktunya untuk beristirahat."


Wolfe berdiri tegak kembali dan berkata, "Hah! Padahal sedikit lagi aku mendapatkannya, ia berhasil kabur menyelinap di antara bebatuan."


Zovras mengernyitkan dahi. "Kau masih ingin mencarinya dengan keadaan seperti itu?"


"Tentu, kenapa tidak?" sahut Wolfe santai.


Zovras memeriksa keadaan sekitar. Ternyata mereka berada di ujung satunya dari wilayah Eternal Thunder, dekat dengan wilayah Tree of Resurection. Zovras berbalik dan melihat Zeon makin mengantuk. Tanpa sengaja Zeon tertidur di bahu Axel. Akhirnya Zovras memutuskan merapalkan mantra membentuk bangunan perlindungan dari tanah. Mereka masuk dan beristirahat sejenak, setidaknya hingga fajar terbit.


 Matahari bersinar cerah, tetapi awan hitam khas Eternal Thunder belum juga menghilang. Zeon terbangun, ia melihat yang lainnya masih terlelap dan akhirnya memutuskan keluar memandangi alam sekitar. Udara segar berembus dan menerbangkan helaian rambutnya tak sepanjang dulu.


"Kau sudah bangun rupanya." Suara khas itu mengejutkan Zeon, memecah lamunan indahnya bersama alam.


"Ah iya, Zovras. Aku kira kau masih terlelap, ternyata sibuk sejak pagi," jawab Zeon santai sembari merenggangkan ototnya.


"Begitulah ... ini sudah hari kedua, sementara kita masih terjebak di sebuah pulau dengan listrik di mana-mana. Tumbuhan langka yang mendiami tempat ini, Thunder Lily, tumbuh dan bertebaran."


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Axel yang datang mendadak.


"Ah Axel, selamat pagi!" sapa Zeon datar, tak sesemangat biasanya.


"Hm, yah. Pagi!" balas Axel singkat.


"Ayo kita berangkat! Waktu kita semakin menipis," ucap Zovras dengan santai mengelus kelinci kesayangannya.


Zovras merapalkan mantra pengembali, menghilangkan bangunan tempat mereka berlindung. Wolfe tersentak bangun, akibat terjatuh begitu sandarannya hilang. Ia bangkit dengan rasa kesal. Namun, Zeon dan Axel malah mengabaikannya.


"Ayo berangkat, Wolfe!" titah Zovras.


"Argh ... padahal aku belum puas tidur," ucapnya di sela-sela kantuk menyerang.


Mereka mengabaikan Wolfe, seolah tak mengharapkannya. Serigala itu terkejut melihat perubahan mereka, termasuk kakak tingkat yang biasanya ramah kepadanya. Ia tak menghiraukan itu dan bergegas mengikuti langkah mereka. Zovras membawa mereka menyusuri tempat yang ia selidiki tadi pagi. Mereka mengedarkan pandangan ke segala arah, hingga langkah mereka terhenti ketika Axel memberitahu keberadaan ular liar itu.


"Ular itu lebih pintar dari yang kita kira. Berhati-hatilah! Banyak Volibear yang tengah tidur di sekitarnya."


"Baik, Zovras." Axel dan Zeon bergerak terlebih dahulu dengan perlahan.


Krak! Roar!


"Ups ... sorry," ucap Zeon cengengesan.


Zeon tersandung dan menginjak sesuatu yang empuk.. Auman seekor beruang menggema dan membangunkan kawanannya. Zeon dan Axel terkepung, sementara ular itu melarikan diri ke dalam gua.


"Gawat! Ayo kita pergi, Zeon."


Axel mengembangkan sayap hitamnya. Ia mengangkat Zeon dan membawanya kabur, tetapi serangan petir yang diberikan Volibear berhasil mengenainya. Mereka terjatuh tepat di depan gua.


"Wolfe, ayo kita selamatkan mereka!" ucap Zovras panik, "Wolfe? Hei Wolfe, dengar tidak!"


Wolfe tak merespons karena asik mencoba menangkap seekor ikan di sungai. Suara Zovras mengagetkannya, akhirnya ia malah terkena setruman Thunderfish.


"Argh, apa Zovras?"


"Bisa-bisanya kau makan sementara teman timmu kesusahan! Ayo!" Zovras meninggalkannya, berlalu di antara bebatuan terjal.


Zovras dan Wolfe bergerak cepat menghujam kawanan Volibear yang tengah mengamuk itu. Zovras mereplika dirinya menjadi empat bayangan dan menghalau serangan petir, sementara Wolfe membuka jalan menuju Axel dan Zeon.


"Kalian tak apa-apa?" tanya Zovras.


"Iya, tak apa-apa. Namun, sayap Axel kena sambar," jawab Zeon merasa bersalah melihat keadaan Axel.


"Benar-benar lemah! Hanya beban tim saja," celutuk Wolfe jemawa.


Zeon merasa tertampar dengan perkataan Wolfe. Axel merasakan apa yang Zeon rasakan, kepalan tangan keras tercipta dengan aura yang begitu gelap. Namun, Zeon tetap menahan diri. Akhirnya, ia melampiaskan kekesalannya melalui pukulan ke arah beruang Volibear. Hantaman kuat dari Axel berhasil merobohkan beberapa Volibear. Zovras dan Zeon terkejut dengan kejadian itu.


"Sepertinya kita harus segera pergi. Ular itu kembali menghilang dan kita tak boleh membunuh hewan langka jikalau tak ingin menjadi buronan Violet Owl," ucap Zovras ketika mengamati jumlah volibear makin banyak.


"Ah iya, apa kau tak punya sesuatu yang berguna, Zovras? Biasanya kau selalu siap sedia untuk hal tak terduga,"  tanya Zeon penuh harap.


"Ah iya, aku baru ingat."


Zovras mengambil sesuatu dari kantong sihirnya, rramuan dengan tabung bermotif aneh. Zovras merapalkan mantra air dan menggabungkannya dengan ramuan itu, menembakkan air campuran itu ke langit dan meledakkannya. Rintik air itu mengenai kawanan Volibear, perlahan satu per satu tertidur pulas.


"Zeon, panggil hewanmu. Kita harus segera menyelamatkan diri," titah Zovras.


"Siap, Kapten!" Zeon memanggil Falcon Autumn kesayangannya.


Mereka semua menaikinya dan terbang keluar dari wilayah petir berbahaya itu. Zovras merapalkan mantra pemantul petir untuk berjaga-jaga. Benar saja, pelindung itu sangat berguna. Petir-petir itu terpantul dan mengenai tempat lain. Ledakan tak terhindarkan. Mereka akhirnya bisa lepas dari kepungan Volibear dan bergegas menuju Ravenfort, salah satu wilayah terbesar dari Rainville.