
Big Snake
SEBELUM MEREKA PERGI dari pesisir, Irish ingin memetik kelapa mengunakan sulurnya. Namun, karena tidak sampai, dia memutuskan untuk memanjat dahulu, begitu sudah cukup tinggi baru memakai sulurnya memetik kelapa hijau. Irish memang pandai memanjat, apalagi jika di pohon yang banyak dahan, dia bisa berayun dari dahan ke dahan atau pohon ke pohon dengan sulurnya.
“Lily tangkap!” Irish memberi aba-aba sebelum melempar sebuah kelapa, disusul dengan tiga buah lainnya. Lily yang kewalahan hanya berhasil menangkap satu, dua lagi jatuh ke tanah, dan satu lagi ditangkap Merlin. Irish turun dan mendapati rekan timnya yang menatap kesal.
“Sebaiknya kamu tidak melempari seniormu seperti itu, Irish!” seru Merlin menyipitkan mata. Irish hanyamenyengir seraya meminta maaf.
Keempat gadis itu menikmati air kelapa untuk mengisi energi yang terkuras. Setelah airnya habis, buah itu dibelah hingga terlihat dagingnya yang putih dan tebal. Karena lapar dan lelah, mereka makan dengan lahap, dalam sekejap daging kelapa-kelapa itu habis, tetapi Irish masih berusaha mengerik daging kelapa untuk disantapnya.
“Aku tidak mau rugi,” tukas Irish masih mengais daging kelapa dengan kulit kelapa.
Lily merangkul Vina yang masih kelelahan, dia melirik pada Irish dan menyentil keningnya. “Cepat, kamu lamban sekali!” Irish terkejut sampai kelapanya jatuh, dia bangkit dan berdiri di samping Lavina untuk merangkulnya dari arah yang berbeda dari Lily.
“Irish, biar aku saja yang merangkul Vina!” titah Merlin sambil menepuk bahu Irish. “Aku lebih tinggi darimu,” lanjut gadis berkacamata itu. Sedari tadi dia memperhatikan Irish yang kesulitan menstabilkan jalannya, karena dia lebih pendek dari Lavina.
“Maafkan aku, kalian jadi kerepotan. Namun, aku sudah tidak apa-apa setelah makan tadi.” Vina akhirnya buka suara, tetapi rekan timnya tidak ada yang menggubris. Kemudian Irish bertukar dengan Merlin untuk merangkul Vina berjalan. Merlin dan Irish bertukar senyum sebentar, Irish berterima kasih pada seniornya itu.
Matahari yang menuntun mereka berlayar tadi akhirnya tenggelam, tetapi wilayah sekitar pusat kerajaan tidaklah segelap yang Irish kira, masih cukup terang sampai mereka tidak membutuhkan obor untuk penerangan.
“Kenapa di sini bisa seterang ini? Padahal sudah malam.” Gadis keriting itu menoleh pada Merlin di sebelahnya.
“Oh, di daerah sini ada gua yang sangat terang, namanya Luminosa,” terang Merlin, “artinya kita sudah dekat dengan Highland,” lanjutnya lagi tersenyum tipis.
Beberapa menit berjalan, cahayanya dari gua Luminosa semakin terang. Gua tersebut penuh dengan yang stalaktit dan stalagmit yang bergemerlap, layaknya bintang-bintang dengan warna biru dan hijau. Cahaya itu berasal dari cacing yang mengeluarkan cahaya, nama latinnya Arachnocampa luminosa, hewan kecil ini terlahir dari kepingan kecil Bintang Vothair. Cahaya cacing tersebut dapat menjadi sumber pencahayaan untuk seluruh Autumnland.
“Sudah cukup, kita istirahat di sini, aku kelelahan.” Lily langsung melepas rangkulannya dari Vina. Dia duduk sembarangan di rumput bersih dan memijat bahunya. “Kalian juga duduklah, di sini bersih.” Dia menunjuk rerumputan pendek dengan bahunya. Irish langsung menurut dan merebahkan diri. Merlin dan Vina juga mendekat untuk ikut beristirahat. Merlin menyalakan api unggun di atas sebatang dahan patah untuk menghangatkan diri.
“Aku lelah sekali,” keluh Irish.
Lily ikut merebahkan diri di dekatnya. Memainkan jarinya pada lingkar-lingkar kecil di rambut Irish. “Kamu tidak haus, Biji Ketapang? Bukannya kalau kamu dehidrasi bisa layu, ya?” tanya Lily sambil menggoda Irish.
Irish menoleh pada ketuanya sambil menyipitkan mata, bibir kecilnya manyun menatap Lily yang tertawa renyah. “Berapa kali aku katakan, aku bukan biji Ketapang!” Irish meninju-ninju kecil Lily, yang dipukuli bukannya mengaduh kesakitan malah terus tertawa.
“Sudah-sudah, hentikan! Irish, ikut aku!” Merlin berdiri lagi. Irish dan Lily langsung berhenti bergelut.
“Kita harus cari kayu bakar,” Merlin menatap kosong Irish. Irish memasang wajah mengerti dan bangkit berdiri.
Irish dan Merlin berjalan lebih jauh ke dalam hutan Highland, keduanya hanya diam selama menyusuri hutan, hanya suara serangga yang mengiringi kesunyian. Tidak sampai sepuluh menit mereka berjalan, terlihatlah seekor ular sanca di atas pohon. Merlin memberi isyarat pada Irish dengan menaruh satu jarinya di depan bibir dan merasakan arah angin yang bertiup berlawanan. Irish mengangguk mengerti. Ular sanca itu terlihat gemuk, lebar perutnya bisa lebih lebar dari satu jengkal tangan orang dewasa. Sepertinya dia mampu menelan kedua gadis itu dan kenyang untuk beberapa minggu.
Kedua gadis itu mengendap-endap ke belakang, sialnya angin bertiup dari arah berlawanan dan aroma mereka sudah tercium oleh ular itu. Ular besar itu menoleh, mulutnya langsung menganga lebar, tampak taringnya yang runcing dan besar siap menerkam Irish atau Merlin.
“Lari,” bisik Irish lirih. Dia segera berbalik lari, disusul oleh Merlin dan ular besar yang mengejar mereka dengan mulut siap menerkam. “Lakukan sesuatu!” perintah Irish sambil berlari, napasnya terengah-engah.
Merlin hanya bisa melemparkan beberapa bola api, tetapi hanya bisa menahan ular itu sebentar. Bola yang Merlin lempar meleset beberapa kali karena dia harus melempar selagi berlari dan berbalik bersamaan. Salah satu bola itu mengenai semak-semak dan keluarlah sosok makhluk yang mereka cari-cari.
“Klorofox!” pekik Merlin. Irish spontan menoleh ke belakang, Klorofox terlihat terbang menjauh ke dalam hutan. Sementara ular sanca besar itu masih mengejar dari dahan pohon ke pohon.
“Kenapa ular ini cepat sekali?” Irish panik, dia menembakkan duri tanaman dari tangannya sembarangan. Duri-duri Irish bertebaran ke segala arah, mengenai dedaunan, pohon, dan salah satu duri mengenai mata hewan melata itu, dia berhenti karena kesakitan.
“Bagus, Irish!” tukas Merlin semangat. Dia menggunakan kesempatanuntuk mengalahkan si ular, dia menggunakan kekuatan udara untuk mendorong ular itu dari dahan pohon dengan meniupkan angin, beberapa ranting dan dahan patah akibat angin itu, ular besar tadi terjatuh dari pohon dan tertimpa dahan-dahan. Merlin menghentikan anginnya untuk melihat keadaan.
“Sepertinya ular itu terjebak. Cepat kita pergi sebelum dia bangun!” Merlin menepuk pundak Irish, Irish mengangguk kemudian mengikuti Merlin berjalan.
Kedua gadis itu berjalan tergesa-gesa, mereka melewati beberapa semak-semak hingga akhirnya menemukan kembali cahaya api unggun yang tadi Merlin nyalakan.
“Kalian tidak membawa apa-apa?” Omelan Lily menyambut Irish dan Merlin yang masih terengah-engah. “Bahkan kalian tidak membawa kayu untuk api unggun?” Gadis berambut merah itu masih terus mengomel. Vina yang terbaring di pangkuan Lily terbelalak mendengar seniornya yang berisik itu.
“Lihat, kau membangunkan Vina,” tunjuk Irish pada Lily. Lily hanya mendengus kesal.
“Bukan saatnya untuk mengkhawatirkan air minum, Lily. Baru saja kami melihat Klorofox terbang ke dalam hutan.” Merlin bicara selagi dia menunduk untuk mengatur napas, kedua tangannya berpegangan pada lutut.
“Oh iya, kami tadi bertemu dengan ular besar yang menyerang kami, lalu Klorofox muncul!” Irish jadi antusias.
“Benarkah?” Vina beranjak dari tidurnya, Lily yang memangkunya terkejut.
“Kenapa kalian tidak bilang dari tadi?” Lily pun berdiri. Ditepuknya bawahannya yang tadi kotor. “Kalau begitu, kita harus cepat!”
Vina juga bangun, kali ini dia sudah tampak lebih segar. “Benar, kita harus cepat sebelum rubah itu semakin jauh dan menyeberang ke Windville.”
“Astaga, aku hampir lupa soal itu!” jerit Irish menepuk kening. Di saat yang sama, Vina memanggil Riger kembali, Lily juga memanggil Lady. Kedua pet contract itu diberikan tugas yang sama, untuk mencari lokasi rubah hijau berkaki enam incaran mereka. Kepik Lily bernama Lady terbang masuk ke hutan melalui semak dan pepohonan, Lady akan melacak dari dalam hutan, sedangkan elang Lavina terbang di atas untuk melacak dari daerah lebih tinggi.
“Ayo! Jangan buang waktu!” Lily menarik seluruh anggotanya ke arah tempat Irish dan Merlin tadi muncul.