
10
“DASAR MONSTER SIALAN!” teriak Efron, ketenangannya memudar. Mereka terlihat sangat kerepotan, berkali-kali diempaskan oleh sayap burung besar itu.
“Aku mau menyerah saja kali ini,” ucap Chalia.
“Itu sempat terpikir olehku, tapi … ,” jawab Efron.
“Aku lebih takut dengan kemarahan Mr. Navarro daripada burung itu. Kalian tahu sendiri, di akademi kita diajarkan untuk tidak mudah menyerah begitu saja,” jawab Helena.
“Be-benar juga,” balas Chalia sembari membayangkan ketika pulang dengan menyerah dan bertemu Kepala Sekolah. “Lebih baik kita kalah daripada menyerah.”
Tepat saat burung itu menyemburkan napas apinya, sesosok manusia dengan sayap, ekor, dan tanduk naga melindungi mereka. Mereka terkejut dengan kehadiran makhluk tersebut.
“Aku lupa bilang bilang kalau aku punya dua hewan kontrak, Raja Kera dan Naga Hitam. Perkenalkan, namanya Stain.”
“Oh, kau masih hidup rupanya,” kata Chalia.
“Beruntung kali ini Stain mau meminjamkan kekuatannya,” ucap Raven.
Karena kau memaksaku, jawab Stain lewat telepati.
“Stain, sesuai janjiku, setelah ini kau bisa bersantai di balik bajuku,” ujar Raven sambil melangkah maju di udara. “Aku tak bisa mengeluarkan napas naga, tapi aku akan menggunakan kekuatan fisik naga untuk membuatnya tersudut!” seru Raven pada tiga temannya.
“Sekarang kau tahu kan, alasanku jarang memanggilmu? Maaf aku merahasiakan ini, walaupun naga, kau masih anak-anak, belum bisa mengontrol kekuatan, lagi pula aku tak suka membawa anak-anak dalam pertarungan,” ucap Raven degan suara dalam. “Jangan khawatir, aku tetap bangga memiliki naga yang tampan sepertimu.”
Ucapan Raven membuat Stain terharu, ia bersumpah dalam hati akan menjadi penjaga Raven dan keturunannya.
“Saatnya menyerang, Stain!”
Laksanakan, Tuan!
Bersamaan dengan napas api dari burung phoenix, Raven yang bergabung dengan Stain menangkis sekaligus menyerang tepat di bagian kiri bawah paruh burung itu sebelum mereka terpental. Beruntung Han dengan sigap menangkap Raven dan Stain yang sudah terpisah.
“Masuklah Stain, waktuku hanya tiga menit sebelum akhirnya bisa terbaring lagi,” ujar Raven. Stain menurut lalu masuk dalam baju Raven dan berubah menjadi tato naga di punggungnya.
“Baiklah, Han, bersiaplah!”
Melihat Raven terpental, Efron dan lainnya segera menyerang burung phoenix itu dengan segenap kekuatan mereka.
“Kenapa kita tak mencoba bergabung dengan hewan kontrak kita juga?” tanya Chalia sambil menyerang, Efron tertawa mendengarnya.
“Nona, ingatlah, ini pertarungan tim. Jika perorangan, tentu yang paling kuat Helena. Namun, lihatlah, di tempat ini yang paling diuntungkan adalah Raven, baik dengan Han mau pun dengan Stain. Walaupun Helena mampu menggunakan kekuatannya, tetap saja ia kesulitan dan akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar jika ia sampai menyerap seluruh pasokan air di daratan ini,” jelas Efron yag terlihat sangat santai menangkis dan menahan serangan dengan gerakan cepatnya.
“Pengalamanku lebih bayak dibanding pengalamanmu, aku lebih suka melihat orang lain berkembang. Itulah sebabnya aku bergabung dengan tim ini, meski awalnya terpaksa, tetapi pada akhirnya aku menyadari bahwa kalian semua baik jika bekerja sama.”
“Kau bicara panjang lagi, seperti bukan dirimu saja,” sahut Helena yang terlihat menawan dengan zirah es lengkap dengan mahkota es di kepalanya.
“AKU DATANG!”
Suara yang begitu mereka kenal. Saat menoleh dan melihat Raven tak ada yang berubah, selain matanya. Mata kirinya yang sebelumnya hitam kini merah menyerupai mata serigala. Tongkatnya yang semula merah dengan ujung emas, berubah menjadi hitam.
“Dengar, aku akan melolong ke arah burung itu. Serang saja selagi ia masih dalam ilusi, waktu ilusiku tak lama, jadi jangan buang kesempatan.”
Efron dan lainnya mengerti, saatnya mereka menyerang dengan kekuatan penuh. Serangan dibuka oleh Raven dengan lolongan khasnya. Ia menyerang phoenix dan membuatnya masuk dalam dunia ilusi.
“Serang!” seru Efron, ketiganya segera menyerang, baik dengan sihir maupun fisik.
Red dan Uno juga membantu melilitkan tali baja di kaki dan tubuh burung itu. Efron dan lainnya menyerang dengan tiga kombinasi sempurna, panah, es, dan tanah.
“Semuanya! Gabungkan kekuatan kita!” seru Efron.
Melihat teman-temannya menyatukan kekuatan, Raven tersenyum semangat.
“Inilah, kekuatan kami!”
Sebuah ledakan muncul tepat saat mereka menghantam burung phoenix itu. Tanpa mereka sadari, sebuah portal terbentuk dari jalinan api dan memuntahkan beberapa orang dari dalamnya. Efron memperhatikan empat orang yang terlempar ke hadapan mereka. Empat orang yang mengenakan seragam turnamen seperti mereka.
“Claryn?” Chalia bertanya pada salah satu dari empat orang itu. Seorang perempuan berambut cokelat sebahu. Dia sebenarnya tak yakin itu teman seangkatannya.
Mendengar suara Chalia, barulah Efron menyadari itu adalah empat siswa dari akademi.
“Kapten, sepertinya kita sudah bukan di Maple Hill lagi,” ujar Helena sambil menunjuk bahwa Maple Hill jauh di belakang mereka.
Perkataan Helena mengalihkan atensi Efron. Dia melihat sekeliling dan berkata, “Benar juga, ternyata kita bertempur sampai wilayah Gohol dan anehnya tidak ada orang sama sekali sepanjang kita bertempur.”
“Kita terlalu fokus pada pertarungan, sampai kita lupa melihat sekitar,” sahut Chalia.
“Kapten, aku lelah. Sekarang pukul berapa?” tanya Raven sambil bersandar pada tongkatnya.
“Sekarang ini pukul tiga sore, kenapa?” tanya Chalia.
“Lapar, hehehe,” jawaban polos Raven membuat tiga temannya memutar bola mata mereka dengan malas.
Yeah, inilah Raven.