
2
“BAIKLAH, KAPTEN. SELANJUTNYA kita harus apa?”
“Apa lagi kalau bukan membuka segelnya,” jawab Chalia.
Raven mengerjap bingung. “Hm? Kau tahu dari mana?”
Helena menunjuk bola elemen. “Lihatlah, ada segel di bola itu.” Gadis berambut biru muda di sebelah Chalia menuding sebuah simbol yang melingkari benda dalam genggaman kapten mereka. Wajah cantiknya kelihatan serius.
Empat siswa Maple Academy itu memperhatikan permukaan bola yang ada di tangan Efron. Sebuah simbol yang menyerupai segel mengelilingi permukaan bola tersebut. Mereka sependapat, hewan yang dimaksud Kepala Sekolah Wisteria Academy berada di dalamnya.
“Capt, kau kaptennya. Kau juga yang murid angkatan tiga,” kata Chalia.
Efron mengeratkan genggamannya dan mengangguk. Mantra pembuka segel memang baru dipelajari di akhir tahun ajaran kedua. “Segel ini akan kubuka, bersiaplah. Apa pun yang muncul harus segera kita tangkap dan taklukkan, mengerti?”
“Laksanakan, Kapten!” jawab Raven bersemangat.
Efron bersiap, tangannya bersinar redup tepat setelah mantra diucapkan. Perlahan bola itu melayang dan segelnya mulai menghilang, sinarnya makin terang dan meledak. Dari ledakannya, muncul makhluk gemuk berkaki dua dan bersayap. Makin lama makin jelas kalau itu seekor anak ayam.
Anak ayam itu menatap mereka heran.
“Hei, kalian percaya kalau kita harus membunuh anak ayam ini? Tidakkah itu terlalu kejam?” tanya Chalia, iba memandangi makhluk mungil yang baru 'menetas' tersebut.
Helena mengangguk-angguk dan ikut menimpali, “Lucu sekali. Aku jadi tak tega jika harus membunuhnya.”
Raven tidak menanggapi dua rekan perempuannya. Dia memperhatikan ‘si anak ayam’ lebih serius. “Tunggu! Bukankah ukurannya terlalu besar untuk seekor anak ayam? Bahkan ini terlalu besar!”
“Hei, cepat tangkap sebelum ia kabur!” titah Efron yang kesal melihat timnya justru memandangi anak ayam besar itu.
Baru selesai Efron bicara, anak ayam itu langsung terbang menjauh. Ini kali pertama mereka melihat seekor ayam terbang. Makhluk dari dalam bola itu kian menjauh dan selagi ia masih terlihat, tim bergegas menyusul.
Raven menatap bahunya dan berujar, “Ayo, Han! Kera emasku yang tampan.”
“Baik, Tuan!” sahut Han yang langsung melompat dari bahu Raven dan berubah ke wujud asalnya, Kera Raksasa Berbulu Emas. Han kemudian meletakkan Raven di kepala dan Helena di pundak.
“Kalian kejar dia! Jangan sampai kehilangan jejak!” Efron memberikan perintah dengan tegas. “Kuingatkan lagi, hewan tadi berelemen api, tujuannya pasti wilayah Fyreville. Untuk lokasi, mungkin saja dekat Maple Hill. Kita harus menangkapnya lebih dulu, sebelum ia sampai ke Fyreville jika ingin menang.” Laki-laki itu memandangi kedua rekannya dalam-dalam.
Raven mengangguk mantap. “Percayakan padaku, Kapten! Aku dan Helena akan menggunakan jalur udara, mungkin saja anak ayam itu lewat sana!” teriak Raven yang langsung memelesat tanpa menunggu persetujuan Efron.
Efron mendongak, memperhatikan Raven yang meninggi. “Padahal aku belum bilang boleh atau tidak,” gerutunya.
Chalia menepuk-nepuk punggung seniornya. Berusaha meredakan emosi penyihir ahli ramuan tersebut. “Sudahlah. Percayakan saja bagian udara pada mereka, kita fokus di darat. Ayo!”
“Halo, Kapten! Kenapa kau menggerutu? Apakah ada yang perlu kubantu?” tanya seseorang dari balik tubuh Efron dan Chalia.
Efron tidak langsung menoleh. “Ya. Bantu kami cari anak ….” Efron merasa heran mendengar suara selain Chalia. I berbalik dan tersentak.
Chalia yang merasa aneh ikut membalikkan badan. Reaksinya tidak jauh beda dengan Efron yang tersentak, tapi ia juga menjerit kaget, “Siapa kau?”
Sosok itu berwajah mirip sekali dengan Raven. “Hei, tidak usah berteriak, aku tidak tuli. Aku Raph, kloning Raven. Tubuh asliku menyuruh tetap di sini untuk membantu kalian mencari di darat, katanya akan sulit jika hanya dua orang yang mencari,” jelas Raph. “Efron, kenapa kau tak meminta Meerkat kesayanganmu untuk melacak jejak anak ayam itu?”
“Wow, Raven ternyata sangat bertanggung jawab meninggalkan klon untuk menjaga kita. Bukankah dia layak menjadi kapten?”
Chalia yang mendengar sarkasme dalam nada suara Efron hanya tertawa. “Tenang saja, Capt. Aku bisa membantumu. Percuma saja bakatku ini kalau tidak dimanfaatkan.”
Sementara itu Raven dan Helena yang berada di atas Han tampak mencari dengan saksama. Berkali-kali Raven melepaskan puluhan duplikatnya yang berukuran ibu jari. Klon itu mencari ke sana kemari, tetapi tak satu pun melihat anak ayam besar tersebut.
Raven membuang napas gusar. “Ayolah anak ayam besar yang imut, keluarlah. Kami tak akan memakanmu,” ujarnya sedikit kesal
“Kami?” Helena mengernyit, tidak terima dengan ucapan rekan setimnya.
“Aku.” Raven meralat.
Keturunan Dewi Afrodit itu mengangguk dan kembali melihat sekitar, berharap ia bisa melihat Anak Ayam itu melompat-lompat kegirangan.
Kenapa aku berpikir begitu? Sial, aku tertular pola, pikir Raven. Helena menggeleng, tak mau pikiran jernihnya terkontaminasi pikiran sederhana Raven.
Berusaha mengalihkan pikirannya dan memecah keheningan, Helena mengusap-usap bulu keemasan kera peliharaan Raven. “Raven, kera milikmu selain besar, bulunya juga cukup halus, ya?”
“Tentu, aku juga heran kenapa bisa begitu,” balas Raven sambil menepuk kepala Han.
Jangan macam-macam dengannya, kau paham, 'kan? Raven memperingatkan Han, sengaja menggunakan telepati. Bisa gawat kalau Helena mendengar.
Hei, aku ini kera waras. Aku tak tertarik dengan manusia, balas Han. Geramannya tentu hanya dimengerti dan didengar oleh Raven selaku pemilik.
“Ah, ya. Helena, aku mau bertanya.”
“Tanya saja,” jawab Helena, pandangannya masih fokus kepada dataran luas dan puncak-puncak pohon yang barang kali menyembunyikan tubuh si Anak Ayam.
“Hmmm, maaf sebelumnya. Jika kita bertempur di wilayah Fyreville, apakah kau benar-benar tidak bisa menggunakan kekuatanmu?”
Helena hanya diam dan memandang ke arah lain. Melihat Helena tak menjawab, Raven ikut terdiam. Ia merasa sedikit tidak enak karena menanyakan hal itu, mendadak Raven merasa benar-benar bodoh karena bertanya, padahal ia tahu lawan dari air adalah api.
Raven mengusap tengkuknya gugup. “A-ah, hehe, jangan menamparku, ya. Aku hanya bertanya atau kau bisa menamparku saat sudah kembali ke Maple Academy nanti, hehehe,” ujarnya merasa tak enak. Bayangan tamparan menyakitkan Helena membuat Raven berjengit.
“Bisa,” jawab Helena pelan, seolah ia sedang bicara dengan dirinya sendiri.
Raven mendengar jawaban itu, tapi dia memilih tetap diam seolah tak mendengar. Ada baiknya aku diam, sekalipun manis, tapi dia terlalu mengerikan untuk hal sesensitif itu.
Saat masih fokus mencari dan mengejar, dia mendengar suara kepakan sayap dalam jumlah besar. Saat menengok ke belakang, wajahnya berubah ngeri.
“Raph, beritahu mereka kalau—”
KOAAAK!
Tepat saat Raven ingin mengabari Efron dan Chalia melalui Raph, tiba-tiba terdengar bunyi koak yang begitu keras, nyaring, dan mengerikan.
Oh, tidak. Makhluk menjijikkan itu telah muncul.
Raph mengernyit karena 'sambungan' dari sang pemilik tubuh asli tiba-tiba terputus. “Kalau?”
“Kalau Haireat Bird telah muncul,” lanjut Raven pada tiruannya.
“Kapten! Tubuh asliku bilang kalau burung Haireat telah muncul!” teriak Raph, berita itu seketika membuat Efron berhenti melangkah. Dia menatap langit dan mulai bersiap.
“Raph, Chalia, kita harus segera menemukan anak ayam itu. Jangan lupa untuk melindungi kepala masing-masing, kalau tidak mau menjadi botak,” ujar Efron yang langsung memakai tudung kepala, sementara Chalia menggunakan topi, dan Raph memakai kain hitam yang ada di lengan kirinya.
Sekarang aku tahu kenapa selalu ada kain hitam di lengan kirinya, meski terlihat mengganggu, tetapi ternyata kain itu cukup berguna juga.