
1
HANGAT SEKALI. APAKAH sudah sampai?
“Tuan Werewolf? Apakah Anda sudah sadar? Ayolah, kau itu berat, tahu!”
Raven membuka satu mata dan mencium aroma yang membuatnya merasa nyaman. Lembut sekali dan harum. Tunggu, seingatku posisi terakhir bukan kasur asrama, batinnya. Raven menoleh dan menemukan wajah yang tampak kesal.
“Sudah bangun, Tuan Mesum?” Ucapan itu membuatnya terbangun dan langsung terduduk menatap gadis manis di hadapannya. Gadis bermata biru itu langsung berdiri tanpa memandangnya.
“Ma-maaf Helena, aku tak ada maksud apa-apa,” ujar Raven tergagap karena ia terbangun di atas perut Helena.
“Jika tidak dalam misi, kau akan langsung dapat tamparan dariku,” sahut Helena dengan senyum manis, tetapi terlihat mengancam.
“Hei, ayolah, kau bisa mendapat maafnya jika berhasil menunjukkan seberapa pantas dirimu,” kata Chalia sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Efron sang kapten hanya menggeleng dan berdiri. “Sudah waktunya,” ucap Efron dan anggota tim pun bersiap menuju arena turnamen.
Raven, Helena Oceania, Chalia Aetoris, dan anggota tim siswa yang mengikuti turnamen kini sedang berdiri di luar arena, tepatnya di atas pilar tinggi berukiran burung phoenix karena lapangan akan diselubungi kubah pelindung untuk mencegah bola sihir keluar dari sana saat dilepaskan. Sementara Efron dan kapten tim lain sudah berada dalam arena.
“Hah, lama sekali. Aku tak tahan jika hanya berdiri diam begini,” keluh Raven.
“Kau ini laki-laki, kenapa suka sekali mengeluh?” sahut Chalia, ia merasa risi dengan Raven yang berisik.
“Kau tahu, ‘kan, kalau Raven itu orang yang tidak bisa diam? Tapi sepertinya bakat dia berguna sehingga bisa jadi yang terpilih mewakili sekolah kita,” tukas Helena.
“Ya, aku tahu itu, tapi setidaknya jangan begini juga, lihatlah tim lain, memperhatikan kita sampai begitunya,” jawab Chalia sambal melirik tim lain yang melihat mereka sambil tertawa, mungkin lebih tepatnya melihat tingkah Raven yang lucu atau … memalukan.
“Hah, sudahlah, sesukamu saja, aku tak peduli,” ujar Chalia kesal melihat Raven yang sibuk sendiri dan tak mendengarnya.
Setelah upacara pembukaan yang berisi sambutan dan arahan selesai dari Kepala Sekolah Wisteria Academy, bola elemen dilepas ke dalam arena. Suara terompet bergema dan para kapten melakukan putaran penuh mengelilingi lapangan bersama pegasus masing-masing. Setelah terompet kedua berbunyi, pertandingan pun resmi dimulai. Bola-bola sihir mulai beterbangan ke segala arah dengan kecepatan tinggi. Para kapten bergerak untuk mendapatkan salah satunya.
Efron langsung terbang mengejar salah satu bola, tetapi tidak semudah yang dibayangkan karena bola-bola itu sangat cepat.
Sial, susah sekali menangkapnya! Dan kenapa ada magma di bawah sana? Apa itu hanya ilusi? Ia keheranan melihat lantai arena yang semula ubin, entah bagaimana berubah menjadi lautan api dan daratan es.
Efron merogoh kantong dan menemukan sebatang kayu kecil. Kenapa ada kayu di kantongku?
“Baiklah, ada baiknya kupastikan dulu dengan ini,” ujar Efron yang langsung melempar kayu ke arah magma. Kayu itu hangus terbakar sebelum menyentuh dasar. Ah, ternyata sungguhan. Hei, mereka mau membunuh peserta atau apa? Bahaya sekali!
Saat Efron sibuk berpikir sambil mengejar, tiba-tiba seorang kapten yang hampir meraih bola elemen terkena tiupan angin cukup kuat, membuatnya terkejut dan terjatuh bersama pegasusnya. Tepat saat hampir menyentuh dasar arena, bongkahan es yang runcing perlahan naik dan menyerang dari bawah, tentu hal ini memaksanya untuk kembali terbang.
Rupanya ada juga rintangan di udara. Wah, bahaya sekali, batin Efron
Saat sedang berusaha mengejar dan menangkap bola sihir secara acak, Efron melihat dua peserta lain sedang berkelahi memperebutkan bola—yang justru membuat bola itu lepas—sedangkan panitia hanya menonton dari tepi arena.
Ada yang berkelahi, tapi panitia hanya diam. Apa boleh berkelahi seperti itu? Atau mungkin memang sengaja dibiarkan selama tidak berbahaya dan sekadar menambah tingkat kesulitan? Biarlah, bukan urusanku.
Saat sedang terbang mencari aman, tiba-tiba salah satu bola sihir melintas di dekatnya.
Eh! Ada bola sihir, lumayan, giveaway. Efron langsung mengejar bola itu dengan kecepatan penuh. Tepat saat Efron hendak mengambil bola, secara mengejutkan ada serangan dari peserta lain.
“Serahkan bola sihir itu,” ujar seseorang sambil mengacungkan pedang dalam sarung ke arah Efron.
Seragamnya berbeda dari seragamku, tak salah lagi dia murid Wisteria Academy. Lalu, kenapa dia tak mencabut pedangnya? Apa mungkin dia meremehkanku? batin Efron saat melihat orang di depannya.
“Aku tak memegang bola sihir, kalau kau mau, ambil saja sendiri,” jawab Efron dengan gaya yang sedikit kaku. Memang begitu gaya bicaranya.
Orang itu langsung menyerang. Efron yang sudah siap, hanya menghindar dan sedikit melawan tanpa melukai. Kalau begini terus, aku tak akan bisa menang. Baiklah, terima ini!
Secara tak terduga, Efron melempar bola yang di dekatnya tadi sampai mengenai wajah orang itu dan segera kabur menjauh. Orang itu mengumpat kesal, tapi tak mengejar, sebab tujuannya adalah bola sihir.
Saat sedang terbang menghindar, Efron dikejutkan dengan sebuah bola berwarna merah yang mendenging di puncak kepalanya. Eh, ada bola lagi. Mereka terlalu sibuk dengan hal yang tak penting sampai lupa tujuan utama. Nasib anak baik memang selalu mujur, meski tidak semua, sih. Baiklah, biar kulihat elemen apa bola ini. Ah, ternyata elemen api, Fyreville adalah tujuannya. Tunggu sebentar ….
Efron melihat ke berbagai arah lalu mengangguk. Sepertinya tidak ada peserta lain yang mengetahui hal ini. Baiklah, aku akan segera menyembunyikannya di balik jubah dan kembali ke tim.
Efron segera terbang menuju pilar timnya, tetapi supaya tidak dicurigai, ia mengambil jalur memutar dan bertingkah seperti sedang mengejar bola. Meski begitu, bukan peserta lain yang menjadi rintangannya, melainkan angin dan akar tumbuhan yang berkali-kali membuatnya hampir terjatuh.
Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya Efron sampai di pilar timnya berada. Ia mendarat di atas puncaknya dan secara otomatis selubung pelindung melingkupi atas pilar tersebut.
“Bagaimana? Kita dapat apa?” tanya Raven saat Efron melompat dari punggung pegasus.
“Kita dapat elemen api,” kata Efron sambil mengangkat bola elemen itu tinggi-tinggi.
Mereka semua terdiam, lalu melihat ke arah Helena.
“Ya, aku tahu, akan kuusahakan tidak menjadi beban,” ucap Helena saat anggota tim memandangnya.
Tiba-tiba Raven maju dan menepuk bahu gadis berambut biru itu. “Tidak ada beban di antara kita, turnamen ini diadakan dengan tujuan yang jelas, salah satunya membuat kita berkembang,” ujar Raven, disusul senyum lebar khasnya yang menampilkan gigi taring.
Chalia memandang Raven lama. Entah benar kata Helena atau Werewolf muda itu termotivasi dengan ucapannya ketika tiba di Wisteria Academy tadi pagi, walau berisik dan bodoh, Raven memiliki sisi yang tak terduga dan bisa diandalkan. Salah satunya membuat orang berpikir lebih positif dan membangkitkan semangat.
Helena dan Chalia saling bertatapan. Mereka mengangguk bersamaan karena yakin satu pemikiran.
Sepertinya otak laki-laki ini sedang dalam posisi yang benar.
“Baiklah, Kapten. Selanjutnya kita harus apa?”