Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Noir Crushing Journey - Klaveries




Klaveries


“HIPOTERMIA,” KATA MIGUEL memberitahu tim.


Miguel tahu tentang hipotermia karena ia berasal dari Frozen Ocean. Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh menurun secara drastis, dengan gejala badan menggigil, bibir kebiruan, dan denyut jantung lemah, seperti yang dialami David sekarang. Penyebabnya  karena berada di lingkungan dengan suhu dingin terlalu lama.


 “Apa yang harus kita lakukan?” Meski Nastradamus ahli dalam meracik ramuan, tetapi ia bukan dokter yang memahami penyakit seperti ini.


Rumah pohon tempat mereka bermalam memiliki jendela besar dengan kain penutup yang sobek. Udara dingin masuk lewat jendela yang hampir tidak memiliki kaca. Beruntung lantai kayu yang mereka pijaki tidak retak, berlubang, atau lapuk, sehingga bisa digunakan untuk tidur.


Miguel memejamkan mata sebelum menyentuh leher David, ia mencoba menyalurkan energi api yang terasa mengalir deras dalam tubuhnya. Miguel menyalurkan ke seluruh tubuh David panas tubuhnya secara perlahan dan sedikit demi sedikit. Ia tahu, kalau disalurkan panas secara instan akan membahayakan Demigod itu.


Cahaya kuning berseling merah tampak saat Miguel mengalirkan energi api menuju seluruh tubuh David. Setelah hampir satu jam, perubahan mulai terlihat dari tubuh David. Sebaliknya, bibir Miguel hampir membiru karena kehilangan energi panas dalam jumlah yang tak sedikit. Proses penyaluran energi api terputus saat Thann menarik pundak Miguel agar menjauhi David.


“Kau mau mati, ya!”  geram Thann menahan emosi.


Miguel tersenyum lemah. “Kau mau aku membiarkan si Rambut Pirang itu mati karena hipotermia, hah?” Miguel terkekeh. “Lucu sekali.”


Pemilik sayap putih itu bangkit, lantas menghampiri Demigod satu-satunya dalam tim. Pergerakannya terhenti saat rantai sihir menguncinya. Hanya satu anggota yang mampu menggerakkan benda sihir seperti ini, Nastradamus. Namun, penyihir itu tak akan menguncinya begini kalau bukan suruhan seseorang.


Miguel menoleh pada Thann yang terlihat lebih tenang. “Kau tenang, El. Satu masalah tidak bisa diselesaikan dengan ego.  Kondisi di mana David tak sadarkan diri dan kita kehilangan Noir lagi, ego bukan jalan yang akan ditempuh oleh tim, kita harus bekerja sama saat ini.”


Thann melanjutkan. “Menyalurkan energi api hanya akan memperparah keadaan.  Kau bisa kelelahan karena terus menerus menyalurkan energimu.” Thann menjeda ucapannya, “pertolongan pertama pada orang yang mengalami hipotermia salah satunya dengan diberi minuman yang hangat, bukan? Kita bisa melakukan itu.”


“Bagaimana melakukannya?” lirih Miguel, terdengar putus asa. Wilayah yang mereka lewati lebih ekstrem daripada Woodville.


Nastradamus duduk di hadapan Miguel, menggeser posisi Thann sebelumnya. Ia menepuk pundak remaja Fallen Angel itu, menguatkan. Perjalanan mereka masih panjang dengan berbagai rintangan, maka sesama anggota harus saling menguatkan.


 Di wilayah Cryoville yang saljunya menutupi sebagian tempat, pasti memiliki sesuatu sebagai penghangat, selain kotoran dan bulu kambing. Nastradamus pernah mendengar jika Dataran Lembab Thasi, tepatnya di kaki gunung, terdapat padang bunga klaveries.


Bunga klaveries bisa mengeluarkan bunyi unik dan terdengar seperti nyanyian bersama. Akar bunga klaveries sangat beracun, tetapi jika diolah dengan benar bisa menjadi es loli dengan rasa klaveries yang unik. Air rebusan batang klaveries memberikan rasa mint di lidah, tetapi hangat di tubuh.


“Biarkan aku merawat David di sini, kau dan Thann pergi mencari bunga klaveries di Dataran Lembah Thasi. Nantinya bunga itu akan berguna. Gunakan sarung tangan dan masker  ini saat memetik bunga klaveries agar tidak terkena racun dan gas pada kelopaknya.” Nastradamus memberikan sarung tangan karet dan masker, masing-masing dua pasang. Ia selalu membawa beberapa karena kegemarannya dalam meracik ramuan maupun memetik tumbuhan berkhasiat. Sesekali Nastradamus harus melindungi saluran pernapasan dan tangannya dari bahan-bahan berbahaya.


“Lantas bagaimana dengan Noir? Kau kembali menghilangkan hewan itu, ‘kan?” decak Miguel.


Nastradamus meringis lalu meminta maaf. “Aku akan melihat ke mana hewan itu pergi.” Si Penyihir memejamkan mata. Sensasi menggelitik terasa di tubuhnya. Tak sampai semenit, sebuah kilasan muncul di dalam kepala. Nastradamus mengerjap. “Sebuah padang bunga yang bermanfaat sekaligus beracun, klaveries.”


 Sebelum pergi menuju Dataran Lembah Thasi yang menyimpan kekayaan bunga klaveries, Thann menyuruh Nastradamus menggunakan mantra untuk membenarkan tirai, jendela, dan langit-langit rumah pohon agar udara dingin tidak masuk, sementara Miguel menjaga perapian agar tetap memancarkan api yang hangat untuk rekan-rekannya.


Miguel melirik Aux yang bertengger tak jauh dari David, tampak bersedih melihat pemiliknya terbaring menyedihkan.


“Dasar Demigod lemah,” ejek Miguel, melirik David yang memejamkan mata.


Melihat Thann yang masih sibuk dengan Nastradamus, membuat Miguel berdecak sebal. Ia beranjak, lantas membuka pintu rumah pohon, tetapi gerakannya terhenti saat Thann bersuara. “Mau ke mana, Anak Api?” Thann menghampiri Miguel di ambang pintu.


Miguel melirik sinis. “Berhenti memanggilku seperti itu. Kau sama menyebalkannya dengan David.”


“Kuulang, kau. Mau. Ke mana. Anak. Api,” ejek Thann menyulut emosi Miguel.


Merasa dipermainkan, Miguel tersenyum miring. Ia tak akan terpancing dengan trik murahan Thann. “Aku akan pergi ke Dataran Lembah Thasi sendiri. Kau terlihat sibuk dengan Nastradamus.”


Nastradamus menghampiri kedua rekannya dan memberikan sebuah jaket pada Thann. “Gunakan ini.” Nastradamus melirik Miguel. “Kau berasal dari wilayah beku.  Jadi, kurasa tak perlu menggunakan sesuatu untuk menahan dingin. Aku dan David akan baik-baik saja berkat api unggunmu.”


“Tentu saja.” Miguel mengangguk. “Jaga Si Tukang Marah itu, jangan mengompres di lengan atau kaki. Itu akan membahayakannya. Kau bisa mengompres dengan kain yang dibasahi air hangat, kemudian letakkan di bagian leher,” pesannya sebelum pergi.


Thann dan Miguel pergi mencari bunga klaveries. Mereka menuju Dataran Lembah Thasi yang berada di lapisan ketiga wilayah Cryoville yang berbentuk lingkaran.  Wilayah ini berupa hutan. Jumlah orang yang tinggal dan berkunjung dibatasi. Di tengah dataran ini, ada satu gunung berapi yang masih aktif bernama Anak Vulk. Bunga Klaveries berada di kaki gunung. Selain bunga klaveries, terdapat moon rabbit yang tinggal di awan-awan Cryoville dan bisa menjadi asap putih, mereka suka mengisap gas yang dihasilkan kelopak bunga ini.


Saat sudah banyak mengisap gas, moon rabbit biasanya akan bersin dan meninggalkan lendir di kelopak bunga. Lendir ini merupakan moisturizer alami yang digunakan untuk kecantikan. Jika saja Addison berada di sini, bisa dipastikan ia akan membawa banyak lendir dari moon rabbit untuk produk kecantikannya.


Thann dan Miguel sampai di Dataran Lembah Thasi, sesuai kertas petunjuk yang diberikan Nastradamus pada Thann. Karena padang bunga klaveries begitu luas, keduanya berpencar mencari Noir yang entah berada di mana. Miguel pergi ke barat laut dan Thann ke tenggara.


“Kita akan bertemu lagi di sini,” pesan Thann yang diangguki Miguel.


Miguel mengepakan sayap putih tanpa noda menuju barat laut. Sejauh yang ia lihat hanya ada bunga klaveries, Miguel memutuskan terbang lebih tinggi. Matanya menyipit melihat sesuatu di antara bunga klaveries yang diterpa angin.


Seekor burung hantu putih tengah melindungi kucing bersayap hitam. Hewan itu menyerang burung Haireat yang akan memakan si kucing. Sayap burung hantu itu pun sudah terluka akibat cakaran burung Haireat.


“Noir!”


Iris Miguel berganti menjadi merah api, rambut hitam keselurahan dan anting pentagon yang transparan muncul. Sebuah tato di ibu jarinya berbentuk kepingan salju bercahaya terang. Miguel terbang cepat menuju sekawanan Haireat yang mengganggu burung hantu putih dan Noir.


Tangan Miguel berasap, kemudian es setipis kertas meneyelimuti jemarinya. Tepiannya sayapnya berubah menjadi setajam jarum es. Aura di sekitar Miguel terasa membekukan.


“Freezing wind!”


Setelah mengucapkan mantra, muncul gumpalan es dari salju di tanah, kemudian membentuk pusaran yang makin besar. Pusaran es itu menghampiri sekawanan burung Haireat yang hampir memakan Noir dan melukai si burung hantu. Mengakibatkan sekawanan burung Haireat terjebak dalam pusaran es.


 “Freeze!”


Terlihat jika kaki burung Haireat mulai membeku dan menjalar ke tubuh. Satu per satu burung Haireat beku lantas tumbang. Beberapa yang lolos dari serangan pertama melarikan diri. Miguel mengetatkan rahang dan irisnya seperti warna api yang membara.


Miguel dikelilingi butiran salju saat terbang. Burung hantu putih dan Noir sudah ia amankan dari burung pemakan rambut. Salju di tanah membentuk pusaran di atas tangan Miguel, kemudian berubah menjadi jarum es yang memelesat pada sekawanan burung Haireat yang berhasil kabur.


Setelah memastikan keadaan aman, Miguel baru menyadari perubahan pada dirinya. Sayapnya mengatup dan membuatnya jatuh terduduk. Ia mengerjap beberapa kali, menyadarkan diri bahwa impiannya untuk mengendalikan kekuatan es telah terwujud. Tanpa sadar, Miguel menitikkan air mata, bahkan air mata malaikat itu berubah menjadi es.


Saat ini rambut Miguel berwarna putih, tetapi ada beberapa helai berwarna hitam. Telinga kiri terpasang anting pentagon transparan dan muncul tato kepingan salju di ibu jari sebelah kiri, sementara di lehernya ada tato api. Miguel menumbuhkan kembali sayapnya yang kini berwarna putih dengan pinggiran setajam jarum es.


Melihat sayapnya, ia teringat Thann yang tak kunjung menampakkan batang hidung. Miguel membawa Noir di gendongan kemudian melihat si burung hantu. Merasa bersalah karena melindungi Noir, Miguel membawa serta burung hantu itu di tangan kiri.


Sebelum pergi, Miguel mengambil beberapa bunga klaveries dengan sarung tangan dan masker yang diberikan Nastradamus. Dirasa cukup, Miguel memasukkan bunga klaveries ke dalam tas penyihir. Setelahnya, barulah ia terbang mencari Thann.


Miguel sudah berada di titik pertemuan. Namun, malaikat bersayap hitam itu tak terlihat di mana pun. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, ia memutuskan mencari Thann ke arah tenggara.


 “Di mana si Rambut Hitam,” gerutu Miguel.


Miguel berhenti mengudara saat melihat bunga klaveries layu dan mengikuti sampai mana tanaman itu berubah warna. Tak lama, ia melihat kaki seseorang, tubuh, dan terakhir wajah familier dengan bibir membiru seperti David.


Thann terbaring di atas tanah dengan bunga klaveries yang layu di sekitarnya.


“Thann!”