
5
“SATU-SATUNYA JALUR yang bisa kita lewati adalah jalur darat. Tidak mungkin kita semua menunggangi Han,” kata Efron sambil memandangi Chalia dan Helena, “Raven bahkan kini tertidur karena terlau sering mengeluarkan klon-nya, ditambah lagi ia dari tadi selalu tertawa,” tambahnya sambil melihat Raven yang sesekali tertawa.
“Hehe, daging. Hehe, makanan,” tawa Raven di tengah tidurnya.
Melihat kondisi Raven yang seperti itu, mereka merasa kesal pada diri sendiri karena tidak mencoba menghentikannya yang begitu menyukai pertarungan. Langkah mereka tertahan karena harus menunggu Raven pulih.
“Kenapa? Apa karena burung pemakan rambut itu?” tanya Chalia yang merasa terganggu dengan keputusan Efron.
Efron menggeleng. “Bukan itu saja, melainkan ada bahaya lain yang tidak pernah kita tahu,” jawab Efron sembari menepuk punggung Han yang kini tertidur di sebelahnya, beruntung Han menggunakan wujud kera kecil, sehingga ia dapat berbaring bersama Raven.
Chalia dan Helena mengangguk paham.
“Apapun keputusanmu, you are the captain. Namun, kuminta kau untuk tidak ragu memberitahu rencanamu pada kami semua. Dengan kerja sama, tugas ini akan jauh lebih mudah, bukan?” ujar Chalia.
Tak mau kalah, Helena melihat tangannya, ia tampak menyesalinya sesuatu. “Akan kucoba teknik baru yang selama ini kupelajari,” ucap Helena yang langsung merapal mantra.
Tepat setelah mantra diucapkan, gelembung air yang cukup besar tercipta. Saat mantra kedua diucapkan, muncul monster Kraken versi mini di dalam gelembung itu. Durasinya juga tak berlangsung lama, hanya bertahan beberapa menit sebelum akhirnya gelembung itu pecah dan monster Kraken kecil itu jatuh dan mati.
Helena terengah-engah setelah melakukan itu. “Gagal. Lagi dan lagi. Padahal Mr. Navarro sudah keras sekali melatihku agar tidak jadi beban jika di darat,” ucapnya pelan sambil memandangi telapak tangannya dengan tatapan kesal.
“Tidak ada kesuksesan yang berhasil dalam satu kali percobaan,” hibur Efron. “Kita akan melanjutkan perjalanan setelah Han dan Raven bangun.”
Baru saja Efron berkata seperti begitu, Han tampak menggeliat. Ia memperhatikan tuannya yang masih tertidur. Sesuatu melintas dalam benak Efron.
“Kalau kau memahamiku, bisa kau gendong majikanmu dan ikuti kami? Perjalanan untuk menuntaskan tugas ini masih panjang. Kita harus bergegas.”
Han tampak menilai Efron lama, lalu mulai menggendong Raven. Efron tersenyum puas. Setidaknya mereka bisa menghemat waktu tanpa harus menunggu Raven bangun.
Berdasarkan pengetahuan Efron tentang Auntumland, mereka berjalan lewat jalur yang terbilang aman. Namun, Chalia tampak ragu dengan jalur yang dipilih Efron.
“Kapten, aku curiga dengan jalur yang kita pilih. Apa kau benar-benar mengetahui jalur ini?” tanya Chalia yang langsung disenggol Helena. “Bukan berarti aku meragukannya, hanya instingku berkata kalau tempat ini berbahaya.”
“Sudah, percaya saja padanya. Seorang kapten tidak akan mengkhianati rekannya,” tegur Helena sambil mengibaskan rambut.
Sebenarnya aku juga tak begitu yakin, jika bukan Uno yang memilih jalan, tentu aku akan kesulitan membaca arah.
Ternyata Efron juga merasa ragu, tapi ia tidak memerlihatkan keraguannya dan membuat timnya merasa khawatir. Cukup mengikuti arahan Uno yang sekarang berada 100 meter darinya.
Master, kita sudah di jalur yang aman, ikuti jejak yang saya buat, Uno melapor. Tetap waspada. Walau jalur ini terbilang aman, masih terdapat bahaya yang mengintai
“Terima kasih infonya,” sahut Efron.
“Semuanya, jalur ini adalah jalur yang paling aman. Namun, tetap hati-hati karena ada ….”
Belum selesai Efron bicara, hewan buas muncul di sebelah mereka. Beruntung mereka terhalang pohon besar dengan sulur yang sangat banyak, sehingga sulit bagi monster itu untuk menangkap mereka.
Ternyata, meski sudah melalui jalur yang terbilang aman, nyatanya ancaman dari hewan buas lainnya tetap berdatangan, membuat mereka harus lari dan sembunyi, lalu menyusun taktik dalam beberapa jam ke depan.
“Selamat pagi.”
Efron, Chalia, dan Helena menoleh dengan tatapan lesu. Baju dan wajah mereka penuh debu dan lumpur, bahkan Red dan Uno kini terkapar kelelahan, telinganya yang semula berdiri, kini menekuk ke bawah.
“Tuan Mesum, apakah tidurmu nyenyak?” tanya Helena dengan senyum manisnya, membuat Raven menatap ke arah sekelompok monster yang mengintai di belakang.
“Maaf, aku terlalu lama tidur. Kalian istirahat saja, sisanya serahkan padaku,” ujar Raven dengan suara dalam, matanya kini berubah merah.
“Kau sudah tidak tertawa lagi?” tanya Chalia.
“Masih, kok, hanya waktunya tidak tepat untuk tertawa,” jawab Raven dengan seringainya yang memerlihatkan taring.
“Kalian tidurlah. Han, bawa mereka. Murid-muridku sudah menunggu,” ujar Raven yang langsung mengambil tongkatnya.
“Lalu kau akan bertindak sendirian lagi?” tanya Efron tajam.
“Ada apa, Capt? Aku hanya ingin membuat segalanya lebih mudah.” Raven tampak gelisah. Dia memutar-mutar tongkatnya. Instingnya sudah menyeruak ingin menghajar para monster yang mengejar timnya semalaman, Eh, aku tidur selama itu?
“Dan menghadapi mereka sendirian itu membuat semuanya mudah? Kalau seperti itu, kami pulang saja sekarang. Tuntaskan misi ini sendirian.”
“Hei!” Raven menatap rekan timnya satu per satu. Jelas kelelahan tergambar di wajah mereka semua. “Kalian tentu belum beristirahat. Sekarang biarkan aku yang menangani mereka semua.”
“Jadi, menurutmu kami ini payah, kan?” Kali ini Chalia yang bersuara. Dia mulai memerlihatkan kejengkelannya. Semalaman tidak tidur dan melindungi Werewolf yang tidur jelas bukan kegiatan favoritnya.
“Buktinya kalian masih dikejar monster?” Raven berkata sambil lalu.
Kali ini Helena mendekati Raven, lalu tanpa ragu menamparnya. Serpihan es dan bunga api berhampuran dari sela-sela jari gadis itu ketika mendaratkan tangannya di pipi Raven. Werewolf itu tampak terkejut, mengusap pipinya sambil meringis kesakitan. “Apa-apan ini?”
“Aku hanya ingin menyadarkanmu saja Werewolf Muda. Sikapmu yang sok jagoan membuat tim kita kesulitan. Kesukaanmu bertarunglah yang justru mengundang para monster mendekati tim kita.”
“Jadi, menurutmu aku yang mengundang mereka?” Raven tidak terima dirinya dituduh sembarangan. Ia masih mengusap pipinya yang sekarang bewarna merah terang. Kekuatan api dan es jika digabungkan sungguh menyakitkan saat terkena kulit. Pantas saja Addison trauma dengan tamparan Helena.
“Serbuk gatal dari Haireat Bird tidak bisa menempel di tubuh Han. Serbuk itu berjatuhan dan meninggalkan jejak bagi monster.” Efron berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Raven.
“Tapi aku ti—“
“Kau tidak gatal, tentu saja. Bukankah kau bertarung dengan Haireat Bird sambil berdiri di atas tubuh Han yang membesar. Tentu saja itu akan lebih banyak menempel di tubuh Han. Sayangnya, bulu-bulu halus Han melunturkan serbuk itu sepanjang perjalanan kita.” Efron memotong kalimat Raven.
Mendengar penjelasan kapten tim, Raven tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menatap Han yang sedang menggaruk-garuk tubuhnya. Sama sekali tidak menduga tentang hal tersebut.
“Jadi ….” Raven tidak bisa meneruskan kalimatnya. Dia merasa bersalah sekaligus kesal.
“Jadi, kalau kau sudah sadar. Diamlah. Sementara kau tidur, kami sudah membuat banyak jebakan. Thanks to Chalia yang dengan bakat inderanya bisa memantau pergerakan para monster,” tukas Helena.
“Apa?” Raven menatap Chalia yang kini terlihat jemawa. Selama ini dia mengira Elf yang pendek itu hanya pandai memanah.
“Kau pikir aku tidak punya bakat selain memanah?” Seperti bisa membaca pikiran, Chalia langsung bertanya apa yang terlintas dalam pikiran Raven.
Segera Raven menggeleng cepat. Dia harus bisa menunjukkan bahwa dirinya juga bisa diandalkan. “Jadi, di mana saja lokasi jebakan para monster itu?”
“Mau kau apakan?” Chalia bertanya sengit. Dia tidak mau kalau jebakan yang sudah susah payah mereka susun jadi berantakan.
“Aku yang menyebabkan mereka mengikuti kita. Jadi, aku juga yang bertanggung jawab untuk mengusir para monster itu.”
“Tentu saja bukan? Kau pikir aku hanya bisa bertarung?”
“Bukankah itu benar?” Helena mengakhiri pertanyaan retorika itu sambil tersenyum.
“Dengar, kita hanya membuang waktu berdebat di sini. Aku akan mengalihkan para monster itu menuju jebakan yang sudah kalian buat.” Kalimat terakhir ditambahkan Raven saat dia melihat Chalia mengangkat busurnya.
“Kalian terus bergerak untuk memecahkan masalah si anak ayam. Kalian bisa menunggangi Han….”
“Tidak! Han tetap bersamamu!” tolak Efron.
“Tapi kalian bisa terl—“
“Kau pikir kakak kelasmu ini terlalu lemah untuk terus kau lindungi? Menurutmu siapa yang melindungi tidur lelapmu kalau bukan kami bertiga?”
Raven terdiam menyadari bahwa dia memanglah hanya anak kelas satu. Berbeda dengan Efron dan Chalia yang tentu saja sudah lebih duluan mengembangkan bakat di akademi.
Chalia langsung memberi tahu posisi jebakan untuk para monster. Raven mengangguk-anggukkan kepala. Kondisinya yang prima karena sudah tidur semalaman membuat dia mudah menerima penjelasan Chalia.
Selesai memberi petunjuk pada Raven, Efron memegang tangan Chalia dan Helena. Dia menatap Raven lalu berujar, “Susul begitu selesai!”
Saat Raven berkedip, dia tidak bisa melihat teman-teman setimnya. Dengan keheranan ia menggaruk rambut hitam kemerahannya. “Mereka cepat sekali,” gumamnya.
Berusaha untuk melupakan keanehan itu, Raven berdiri sambil berkacak pinggang. Dia menatap Han yang ukurannya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
“Baiklah, Han. Aku akan menggunakan lolonganku. Sebaiknya kau menutup telingamu.”
Anda serius, Tuanku?
“Tentu saja. Sudah jangan banyak bicara. Kau tutup telingamu. Ini adalah cara yang paling ampuh memancing para monster ke arah jebakan teman-temanku.”
Raven mulai mengeluarkan lolongannya. Satu hal yang akhirnya membuat ia bisa diterima sebagai siswa Maple Academy. Lolongan ilusi. Siapa pun yang mendengar lolongan ini akan masuk ke dalam ilusi sesuai nada yang diaumkan oleh Raven.
Sementara di sisi lain, Efron, Helena dan Chalia menjejakkan kaki di tengah hutan. Chalia dan Helena yang tidak siap hampir saja terjatuh.
“Apa itu tadi?” tanya Chalia.
“Kupikir kau tahu,” jawab Helena.
“Sebaiknya kita beristirahat di sini.” Tanpa menjawab, Efron mulai berjalan berkeliling. Dia membuat barikade dengan mantra perlindungan.
“Kita di mana?” Chalia bertanya seakan tidak kapok pertanyaannya tidak dijawab.
“Lokasi kita tidak jauh dari Well of Time,” jawab Efron singkat.
“Kenapa kita—“
“Karena kita perlu beristirahat. Memaksakan diri untuk terus berjalan ke tujuan sementara tubuh lelah tidak membuat misi lekas selesai.” Efron memotong kalimat Helena yang dijawab dengan kerlingan gadis berambut biru itu.
“Bagaimana dengan Raven?” Kali ini Helena berhasil menuntaskan pertanyaannya.
Efron menjawab pertanyaan Helena dengan menunjuk ke atas. Saat Helena mengikuti arah yang ditunjuk sang kapten, dia tersentak saat ada kaki besar menjejak di tanah dekat mereka beristirahat.
“Hei! Kalian di sini rupanya!” teriak Raven yang turun dari punggung Han.” Kalian cepat juga sudah sampai di sini,” sambung Raven sambil memungut kayu-kayu kering.
“Untuk apa kayu-kayu kering itu?” tanya Helena.
“Aku akan membuat lubang, lalu membuat api di dalamnya. Sudahlah, kalian istirahat saja, aku mau jalan-jalan,” jawab Raven masih sibuk.
Saat Raven Selesai membuat lubang dan api, ia mendengar dengkuran Efron. “Keras sekali, biarlah. Han jaga mereka, aku mau jalan-jalan, nanti kuberi hadiah,” titah Raven yang langsung berlari pergi.
Beberapa saat kemudian, Raven kembali dengan menarik hewan buruan, Han melompat kegirangan.
Oh, tuanku yang baik, Anda pasti lelah, biar kebantu membersihkan buruannya.
Raven hanya memandang, lalu menggeleng. “Dasar Kera Nakal. Baiklah, kerjakan tugasmu, aku mau membuat api yang lebih besar,” ujar Raven dan langsung pergi.
“Ada yang membawa daging buruan ternyata.” Suara seorang gadis terdengar dari atas pohon, Chalia turun dengan anggun. Dia menjejakkan kaki tanpa terjatuh.
“Awalnya, daging ini hanya untukku dan Han, tetapi karena kalian tidak sempat berburu, tak masalah jika aku membaginya. Toh, makan bersama jauh lebih menyenangkan,” sahut Raven yang sedang menyusun kayu api.
“Mana bagianku? Biar kubersihkan sendiri,” tanya Helena yang juga sudah bergabung. Raven hanya menunjuk asal.
“Bau apa ini?” tanya Efron.
“Uno bakar,” sahut Raven singkat.
“Ha?”
Raven menunjuk hewan di dekat Helena.
“Itu bukan Uno. ”
Raven tak peduli, ia masih fokus pada kulit hewan yang ia bakar lemaknya. Ia berencana membuat pakaian dan selimut menggunakan kulit dan bulu mereka.
“Efron, ke mana kita selanjutnya?” tanya Raven.
“Kita masih di sekitar Well of Time. Menurut Uno, kita harus melalui jalur yang sudah dibuatnya,” jawab Efron sambil makan.
“Ah, benar juga, dari tadi aku tak melihat Uno. Apa dia jalan duluan? ” tanya Raven. Efron hanya mengangangguk.
“Sudah mulai terang, hari kedua akan dimulai. Hati-hati, kabut ilusi akan turun, jangan berpencar,” jelas Efron.
Kali ini mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat baru dan lebih berhati-hati. Namun, tetap saja tak ada yang tau dari arah mana datangnya bahaya. Beruntung mereka tak kehilangan jejak yang ditinggalkan Uno.
Berkali-kali mereka dikejar hewan buas, bahkan lucunya sempat terjebak dalam kabut ilusi saat berada di hutan dekat Well of Time. Bahkan terperosok dalam jurang di Forest of Echoes.
“Beruntung ada tali tambang dalam tasku. Naiklah, Han, ikat tali ini dengan kuat,” perintah Raven. Han segera naik dan mengikatnya di pohon, sehingga mereka bisa naik dari jurang.
“Aku akan membuat ramuan obat untuk luka kita,” ujar Efron saat sudah di atas.
Setelah meminum ramuan dari Efron, mereka melanjutkan perjalanan.
“Sebaiknya aku memandu kalian,” ujar Chalia. Gadis berambut merah itu mulai menajamkan penglihatannya. Red yang mengetahui celah dari Kabut Ilusi memimpin. Chalia mengikuti jejak bau Red. Kabut Ilusi tidak bisa mengelabui bebauan. Itulah yang dimanfaatkan oleh Red dan Chalia. Dengan adanya Red yang memandu jalan, mereka akhirnya bisa keluar dari kabut itu setelah beberapa jam terjebak.