Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Cathing Victory - Chasing the Klorofox




Chasing the Klorofox


BOLA ELEMEN SUDAH di tangan, sekarang tim harus melepaskan segel hewan elemen di dalamnya dengan mantra. Lily masih memegang bola yang memiliki gambar pusaran angin itu, artinya mereka harus pergi ke Windville untuk melanjutkan babak berikutnya.


“Merlin, rapalkan mantra dan buka segel bola ini, cepat!” Lily mendekatkan bola pada Merlin.


“Tunggu, kembalikan dulu scrunchie yang kamu pinjam tadi!” Tangan Merlin juga ikut menagih sambil jari-jarinya menari. Lily menghela napas, dilepasnya scrunchie dengan satu tangan dan diserahkan pada Merlin.


“Astaga, Lily! Sampai gosong begini? Kamu serius?” Diangkatnya scrunchie yang sudah menghitam.


Lily menyengir, “Hehe, aku tidak tau, lagi pula itu karena siswa Wisteria yang mengejarku, atau karena aku terbang ke arah magma tadi.”


Merlin berdecak, dia memegang bola putih kebiruan polos itu kemudian merapalkan mantra pembuka segel. “Aperta Fortis.” Bola elemen itu membumbung ke udara lalu berubah menjadi hewan rubah hijau berkaki enam dan bersayap lebar.


“Awwoooooo! Woo woo woo!” Rubah itu melolong hingga selubung pilar terbuka. Irish dan tim spontan menutup telinga masing-masing, pusing.


“Itu Klorofox!” pekik Irish menatap rubah yang sehijau klorofil itu. Vina mengorek telinga sebentar lalu melihat hewan yang dimaksud, dia tersenyum kagum. Tidak sampai sepuluh detik, Klorofox langsung memelesat terbang ke gerbang lapangan arena.


“Ayo, cepat kejar!” Lily memberi perintah, Irish dan yang lain menurut. Mereka berlari dari pilar menuju gerbang lapangan dan keluar dari sana. Klorofox masih terlihat terbang rendah di antara tanaman di luar lapangan turnamen.


Lapangan turnamen terhubung dengan halaman berjalan setapak yang di penuhi pepohonan, jalanan itu menuju langsung ke Tunnelove, terowongan bunga wisteria yang sangat panjang. Entah Irish dan yang lain jatuh bersamaan, tiba-tiba mereka telah tertarik ke atas oleh sebuah jaring!


“Waaa!” Irish menjerit kaget karena tertarik oleh jaring dan jatuh menimpa anggota lain karena berlari di belakang.


“Kyaaa!” Vina merapatkan kakinya saat menyadari dirinya tertarik ke atas.


Lily dan Merlin panik dan adu mulut di saat genting itu. “Kamu menginjak ranjau, ya?” bentak Lily melotot.


“Aku tidak menginjak apa pun, Rambut Api!” balas Merlin tidak mau kalah melotot. Sepertinya sebentar lagi mata mereka berdua akan lepas karena adu melotot. Terdengar suara tawa yang keras, sepertinya pemilik suara itu puas melihat kejadian sial itu. Lily mengenal suara tawa tadi, tidak asing lagi itu siswa Wisteria Academy yang menjambaknya di babak pertama.


“Gadis-gadis payah, itulah akibatnya karena macam-macam dengan kami!” katanya sombong, anggota timnya yang semua laki-laki tertawa bersama si sombong itu.


“Kurang ajar kau lelaki lemah” Lily menggenggam jaring yang tersangkut di pohon itu sambil memberontak kasar. Siswa Wisteria itu tertawa lagi.


“Kalian harusnya sadar diri, tidak akan menang dengan kami para lelaki,” ucap salah satu dari mereka yang bertubuh gempal.


“Benar, kami para laki-laki lebih pandai dan kuat daripada kalian.” Mendengar itu, tanduk Irish berupa ranting bercabang keluar dari sela-sela rambut keritingnya. Dia terpancing. Vina menepuk punggung Irish panik.


“Wah, Gadis Zaadia itu marah! Hahaha!” Si gemuk itu menunjuk Irish dan meledek lagi.


“Dia pikir dia siapa? Hahaha.” Makin lama semakin panas, Irish membuka lengannya ke arah mereka dan duri-duri langsung menghujani mereka.


“Agh! Zaadia sialan!” Mereka mengaduh kesakitan.


“Ayo, kita pergi, biarkan saja para pecundang ini!” Si sombong menatap tajam Irish dan Lily satu per satu lalu pergi dengan kuda timnya.


“Ini salahmu, Lily. Harusnya kamu tidak membuat onar.” Merlin menahan emosi.


 Lily masih memijat kepalanya, “Kalau aku tidak melawan, tidak akan mendapat bola elemen, tahu!”


“Ya, tapi seharusnya kamu tidak perlu menampar siswa tadi!” Merlin terpancing emosi.


“Kalau begitu, kenapa bukan kamu saja yang melakukan babak satu, hah?”


“Tentu aku lebih baik darimu!” Merlin menyentil kening Lily.


“Hei, sudah, aku mohon jangan berkelahi ….” Vina melerai kedua senior yang mengimpitnya di tengah.


“Awoooo, ada gadis-gadis cantik rupanya!” Sebuah suara yang tak asing masuk ke telinga Irish, dia menoleh ke sumber suara yang tengah ditempeleng oleh temannya. Itu Wolfe dan Zeon.


“Serigala Mesum, kebiasaannya kumat lagi!” teriak Zeon.


Dua orang lagi turun dari Falcon dan mendekat, Axel dan Zovras. Zeon dan Wolfe yang hendak berkelahi langsung terjatuh setelah dibuat tersandung Zovras  dengan mantra tanah. Irish tertawa remeh melihat kekonyolan itu.


“Hei, boys! Kalian datang ingin melihat saja atau mau menolong kami? Jangan seperti boc ….” Belum selesai Lily protes, dia dan anggotanya terempas ke tanah karena jaring dipotong oleh lelaki berambut hitam Axel.


“Keparat! Coba beri aba-aba dulu! Malah menjatuhkan orang seenaknya! Kemari kau, Axel!” Protes Lily pada lelaki berambut hitam yang memiliki tatapan dingin. Irish dan yang lain sibuk menepuk pakaian yang berdebu, sesekali melirik si tampan yang hendak dihajar kapten mereka.


Lily mendekat, tangannya siap menampar, tetapi dipeluk oleh Vina dari belakang. Sedangkan yang diancam tenang-tenang saja, “Mau apa, hm?”


“Pakai bertanya lagi! Tentu saja memberimu pelajaran!” Lily semakin menjadi-jadi.


“Sudah Lily, sudah. Yang penting kan kita sudah bebas,” ucap Vina tersenyum canggung. Lengannya masih sibuk memeluk Lily yang tidak ada capeknya memberontak.


“Terima kasih telah menyelamatkan kami, Axel,” kata Vina, sedangkan Lily berusaha melepaskan diri.


Setelah lepas, Lily menepuk lengan dan pakaiannya, menatap Axel tajam sembari berlalu, di situlah Merlin muncul, “Awas saja kau lain kali, kali ini aku masih memberimu ampun.”


“Ayo, kita segera berangkat,” ucap Zovras kepada tim mereka dan tidak ingin memperpanjang urusan dengan gerombolan cewek liar itu.


“Lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Wolfe.


“Sudah aman. Mereka akan baik-baik saja dengan Lily yang liar itu,” jawab Zovras lagi.


“Wolfe, cepat! Waktu kita tidak banyak!” Akhirnya Zovras murka melihat Wolfe enggan beranjak dari tim para gadis itu.


Sementara Irish tidak bisa melepas tatapannya ke arah Wolfe, tatapan tajam seperti akan menyeruduk Wolfe dengan tanduknya.


“Irish, kamu kenapa?” Vina menepuk pelan tanduk Irish, berharap bisa masuk lagi ke kepalanya.


“Kami pergi dulu ya, kalian berhati-hatilah. Dan kamu Gadis Zaadia, jangan marah begitu, oke? Nanti manisnya luntur lho ….” Goda Wolfe yang sempat mengelus rambut keriwil Irish. Pipi gadis itu memerah, tetapi tangannya mengepal kuat. Irish mengalihkan pandangan kesal.


Sedangkan Vina malah fokus pada Axel. Namun, yang dipandangi sibuk menaiki Falcon, justru Wolfe yang terus memandanginya.


“Hah, drama sabun apa ini?” Irish menghela napas sembari menyelipkan rambutnya di balik telinga.


“Apa katamu, Biji Ketapang?” tanya Lily menghancurkan lamunannya.


“Ah, tidak ada. Aku hanya bergumam sendiri.” Irish cepat-cepat menggeleng.


“Kalian dengar tadi kata Zovras? Dia sebut aku liar?” Lily menunjuk ke udara, Falcon tim Zovras masih terlihat, tapi tidak dengan Klorofox yang mereka kejar.


“Bukannya itu memang benar, ya?” Merlin tersenyum licik sambil melipat tangan. Irish dan Vina menahan tawa.


“Sekarang, ke mana Klofox itu tadi? Karena para laki-laki dari Wisteria tadi kita jadi kehilangan jejak!” Lily lanjut mengomel. Dia tidak henti-hentinya memaki-maki dan menunjuk langit.


Merlin menepuk kening. Bertanya-tanya pertimbangan macam apa yang dilakukan pihak sekolah sampai menjadikan Lily James sebagai ketua.


“Seharusnya, jika Klorofox terbang dengan kecepatan seperti tadi, dia masih di sekitar sini,” tukas Irish yakin.


“Itu benar, sebaiknya kita periksa daerah sini dulu.” Vina juga setuju.


Saat itu di atas mereka beberapa tim lewat terbang dengan pet contract, ada juga yang lewat sambil berlari. Lily menyaksikan itu semua sembari menatap remeh, “Sial!”


“Astaga, Ayo! Kita bisa tertinggal kalau tidak cepat!” Merlin langsung berbalik dan berlari menuju Tunnelove.