Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Cathing Victory - Irish’s Past




Irish’s Past


TADI MALAM, KEEMPAT perempuan ini sudah menangkap hewan elemen mereka, berarti babak dua sudah dilalui, berikutnya Irish dan tim akan menuju ke Windville untuk melakukan misi di babak tiga, yaitu mengantarkan hewan elemen menuju altar di daerah elemen yang tepat, lalu mengalahkan hewan itu. Elemen dari hewan setiap tim dapat dilihat dari bola elemen yang ketua tim dapatkan di babak pertama. Lily mendapatkan bola elemen udara, jadi tujuan kelompok Irish adalah Windville.


Hawa kelompok Irish menjadi canggung, entah bagaimana setelah dibujuk dengan sampo khusus Zaadia oleh Lily, Irish masih saja marah, hal tersebut bisa dilihat dari tanduknya yang tidak kunjung menghilang atau tidak mengecil sedikit pun. Merlin ingin menenangkan Irish, tetapi dia putuskan untuk memberikan Zaadia pemarah itu waktu untuk berpikir. Sejak keluar dari lumpur isap, Irish berjalan sendiri di belakang dan tidak mau diajak berbicara. Dia masih tidak habis pikir, Lily tidak memberikan anggotanya salep penangkal sial dari Addison. Meskipun sepele, bagi Irish merupakan masalah yang fatal karena dia terus terkena kesialan.


Lintasan jalan yang mereka lewati perlahan berubah menjadi makin merah. Warna pasir merah ini menandakan daerah Bernama Red Sand, warna pasir yang sama dengan Sungai Riverndall dan Crimson Lake yang berwarna merah muda. Dari Red Sand, kelompok Gadis-Gadis Tangguh ini akan berangkat ke Windville. Di sanalah Klorofox harus diantar lalu ditaklukkan, jika mereka berhasil mengalahkan Klorofox, maka turnamen selesai dan mereka akan menjadi pemenang!


“Kalian lihat di sana,” Merlin menunjuk pada setitik kecil di kejauhan, setelah Irish menyipitkan mata, titik kecil tadi terlihat seperti bentuk kastel. “Itu Windz Castle, kastil itu adalah bagian dari Windville,” lanjut Merlin.


“Aku lebih baik terbang saja,” kata Vina.


“Lebih baik seperti itu,” ucap Merlin sambil melihat tim mereka yang kacau, seragam turnamen kotor dengan lumpur, rambut yang berantakan, dan dia sendiri botak. Malang sekali nasib tim yang dipimpin oleh Lily ini.


Mereka memang tidak boleh memakai alat transportasi umum untuk perjalanan dalam turnamen, tetapi untungnya memakai hewan kontrak masih diizinkan. “Kita bisa memakai pet contract.” Lily masih menatap Irish, Zaadia itu melipat tangan di dada dengan tatapan tajam.


“Kenapa menatapku seperti itu?” ketus Irish pada Lily, tanduknya masih belum menghilang rupanya.Irish benar-benar kecewa pada ketua timnya itu.


“Irish, pet contractmu bisa ditumpangi untuk meyebrang?” tanya Lily mendekati Irish.


Irish menjauh sambil mendengus kesal. “Menjauhlah dariku!” jeritnya marah.


“Irish! Kita tidak punya banyak waktu, kalau pet contract-mu bisa membantu untuk menyeberang, tolonglah kami. Jika tidak, maka akan kita pikirkan cara lain,” jelas Merlin menahan emosi. Perilaku tidak dewasa Irish hampir menguras emosinya.


“Tidak bisa,” jawab Irish memutar mata.


“Baik, kalau begitu kita akan terbang.” Merlin membuka jubahnya dan mengeluarkan wand dan selembar gulungan dari saku dalam jubah turnamen. Gulungan itu bukan gulungan sembarangan, itu adalah gulunngan mantra yang berisi beberapa mantra untuk bertahan hidup di alam. Merlin membelinya di tahun kedua dengan harga mahal saat mendaki gunung dengan Sam.


“Kita terbang dengan gulungan kertas? Kamu pasti benar-benar putus asa….” Lily menggeleng menatap Merlin.


Sahabat dari Sam itu mengayunkan wand lalu membaca mantra. “Facti sunt Scopae,” Mantra itu mengubah wand Merlin secara perlahan, wand berbentuk pena yang dia pegang menjadi panjang, ujung pena yang runcing menjadi seikat ijuk sapu. “Baiklah, aku akan membawa seorang di sapu terbangku. Vina, kamu bisa membawa Lily atau Irish mungkin?” Merlin memegang sapu setinggi badannya.


“Mungkin aku bisa membawa Irish, badannya tidak lebih berat dariku.” Vina mengembangkan sayap.


Irish menggeleng. “Asal kamu tahu, meskipun aku bergelantungan atau bergandengan tangan denganmu. Keseimbangan terbangmu tidak akan selalu stabil. Aku sudah mengalaminya.” Irish menyeringai remeh menatap Vina.


“Mengalami apa?” Merlin memotong.


“Lalu kamu duduk bertiga di sapu ini dengan kami?” tanya Lily. Irish langsung memutar mata.


“Irish! Sampai kapan kamu akan seperti ini? Waktu kita tidak banyak!” Emosi Merlin sudah pada puncaknya.


Irish semakin terpancing. “Sampai dia mau meminta maaf atas keegoisannya! Apa tidak sadar tindakannya membahayakan anggota tim? Bagaimana bisa seorang pemimpin melakukan itu pada anggotanya! Teman-temannya sendiri,” isak Irish menunjuk Lily, “Aku percaya padamu, Lily. Namun ini yang kamu lakukan pada kami?” Suara Irish semakin bergetar.


Irish dan Lily memang dekat, Lily adalah siswa senior yang pertama menyambutnya karena sangat tertarik pada Zaadia. Lily dan Irish memiliki minat dan bakat yang sama, yaitu berhubungan dengan tanaman. Meskipun usil, Irish tetap menghormati Lily yang selalu bersemangat. Lily bahkan mengenalkan Irish pada teman-teman dekatnya, seperti Efron, Maya, dan Levi. Sejak berteman dengan mereka, Irish merasa diakui dan berharga. Tentu saja Irish kecewa atas semua kesialan yang terjadi selama turnamen karena keegoisan Lily.


Lily terdiam sejenak, menarik napas panjang seraya menutup mata. Baginya, semua kesialan yang terjadi adalah hal sepele, karena mereka selalu berhasil keluar dari masalah. Namun, melihat reaksi Irish, Lily menyadari kalau dia sudah kelewatan.


“Selama di sirkus, aku tidak bisa pergi jauh dari karavan. Meskipun sirkus telah pergi banyak wilayah, aku tetap tidak merasa bebas. Namun, suatu hari aku melakukan kesalahan, Mr. Baron menghukumku dengan memberikan tamparan dan tidak memberikan makan. Padahal, aku selalu menghormatinya yang telah membesarkanku, rasanya hatiku sakit!” jelas Irish.  “Sampai suatu hari, aku mendapat surat dari Maple Academy, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk bebas dan bahagia, tapi ternyata, sama saja.”


“Aku minta maaf, Irish.” Lily menatap Irish sendu. “Maafkan aku,” ujar Lily memegang tangan Irish. Pedih melihat adik kesayangannya menangis.


Irish menyeka lendir di hidungnya, dan menatap Lily. Zaadia itu mengantur napas sejenak. “Aku tidak bisa memaafkanmu, tapi aku juga tidak bisa membencimu,” Irish menyedot ingus yang hampir mengalir dari hidungnya, “jangan kecewakan kami lagi.”


“Baiklah,” tukas Lily memeluk Irish. Irish tidak mau membalas pelukan itu. Gengsinya lebih besar dari rasa simpatinya.


“Sepertinya aku punya ide untuk menebus kesalahanku.” Lily mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantung jubahnya, dan meneteskan tiga tetes pada kepala Irish. Irish langsung menyusut! Rupanya, Lily membawa Srink Potion.


“Lily!” Suara Irish terdengar mengecil.


“Apa yang kamu lakukan, Lily?” Merlin panik melihat Irish yang menjadi sekecil jari telunjuk.


“Lily, kenapa kamu lakukan itu?” Vina mendekat pada Irish, mengangkatnya pelan dan menatapnya iba.


“Dengan begini, kita semua bisa pergi dengan mudah, kan? Kamu bisa masuk ke saku seragamku.” Lily menarik jubah Irish, Zaadia mungil itu mengomel sambil memberontak. Kaki kecilnya melayang di udara.


“Nah, sekarang kita bisa berangkat!” Lily menaruh Irish pada saku di dadanya. Irish berpegangan pada pinggir saku.


“Luar biasa….” Merlin kehabisan kata-kata. Segera dia gantungkan sangkar Klorofox di ujung sapu terbangnya lalu menaikinya, disusul Lily yang duduk di belakang.


“Baiklah, ayo!” pekik Merlin mulai mengendalikan sapu, Vina mengikuti dari samping, Sedangkan Irish yang bertengger pada saku Lily, harus beberapa kali terkena sapuan rambut ikal gadis itu.


“Hah, sial!”