
Lady Ghost
SETELAH SATU JAM melintasi lautan, Irish dan teman-temannya sampai di tanah seberang, tempat Windz Castle berada. Suara jeritan dari kastel itu kian keras terdengar oleh mereka. Jeritan itu bukan berasal dari penghuninya, tetapi dari celah-celah jendela yang dilewati angin. Suara-suara itu membuat telinga Klorofox bergerak, gerakan yang seolah-olah daun telinganya menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber bunyi melengking itu. Selama perjalanan, Irish hanya tertidur di saku Lily karena kelelahan.
Melihat reaksi Klorofox dari sangkar di depannya, Merlin merasakan hal tidak beres. Sepertinya rubah hijau itu gelisah mendengar suara jeritan. Setiap kali angin berembus kencang, jeritan-jeritan itu akan terdengar. Tidak hanya Klorofox, Rembo juga sesekali kehilangan fokusnya saat mendengar bunyi tersebut.
“Sepertinya, kita perlu menutup telinga Klorofox!” pekik Merlin pada tim di belakangnya.
“Ada apa dengan rubah nakal itu?” tanya Lily lantang.
“Dia tampak gelisah, aku khawatir dia akan lepas kendali.” Merlinmenoleh melihat anggotanya, wajah mereka panik.
“Kira-kira apakah altarnya ada di kastel itu?” Vina akhirnya buka suara. Lily langsung teringat babak berikutnya harus diawali dengan menaruh Klorofox di altar.
“Mungkin sebaiknya kita melihat sekitar kastil, siapa tahu altar itu memang ada di sana!” Merlin memberikan saran lagi. Irish menyetujuinya.
Sesampainya di dekat bangunan kastel itu, Merlin menurunkan sapu terbangnya, Lily dan Merlin turun. Gadis penyihir itu membaca mantra untuk mengembalikan sapu terbang menjadi wand. Keempat gadis tangguh itu melihat kastel dengan banyak jendela yang terbuka. Namun, ketika angin berembus suara jeritan yang keluar dari kastel terdengar mengerikan. Bulu kuduk Irish bahkan sampai bergetar. Dia terbangun dari tidur karena mendengar suara mengerikan dari kastel, sekaligus tubuhnya terasa pegal.
“Lily, keluarkan aku!” jerit Irish lantang. Lily menarik jubah Irish, lalu Zaadia kecil itu diletakkan di tanah.
Perlahan Irish kembali ke ukuran normal. “Hah, aku ingin heran dengan apa yang aku alami, tetapi karena itu ulah Lily, sepertinya tidak perlu….” Tukas Irish menepuk lutut yang kotor oleh pasir.
Kelompok mereka memutuskan untuk berpencar sebentar, Vina memeriksa dari ketinggian, Merlin ke belakang dan sisi kiri kastel, Irish dan Lily ke arah depan dan sisi kanan.
“Kamu yakin di dalam kastel ini tidak ada hantu penasaran?” Justru Irish yang seperti hantu penasaran, dia memeluk lengan Lily erat. Keduanya tidak menemukan apa pun setelah menulusuri bagian depan kastel, yang mereka lihat hanya pilar-pilar penyangga berwarna putih dengan corak daun maple dan pusaran angin.
“Tidak tahu, yang pasti siapa pun yang tinggal di sini pasti sudah terkena penyakit pendengaran,” jawab Lily. Gadis jangkung itu menyembunyikan tangannya di saku celana turnamen karena angin di sana cukup dingin.
Windz Castle sebanarnya memang ada penghuninya, hanya Archimage yang bisa tinggal di sana. Mungkin saja benar perkiraan Lily, orang yang tinggal di sana sudah sakit telinga karena bunyi jeritan melengking setiap hari. Tiba-tiba terdengar kepakan sayap dari arah atas, rupanya Vina menemukan Irish dan Lily di sana.
“Lily! Di atas kastel tidak ada altar yang kita cari, tetapi aku bisa melihat ada semburat cahaya di arah timur.” Vina baru saja turun setelah mengitari kastel.
“Ada kolam-kolam bundar di timur dan di antaranya, bercahaya. Sepertinya itu altar turnamen,” terang Vina melipat sayapnya yang lelah. “Terbang di sini lumayan sulit, anginnya kuat sekali. Aku beberapa kali turun ke balkon karena embusannya.” Dia sempat turun ke beberapa balkon untuk menhindari angin kencang, gadis pirang itu melihat pemandangan Windville di balkon tadi, dan dari sana dia menemukan secercah cahaya yang diyakini altar.
“Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas pergi dari sini. Ayo!” Irish tergesa-gesa, Zaadia itu tidak suka mendengar suara mengerikan dari kastel. Dia ingin cepat pergi dari sini.
“Tunggu dulu, bagaimana jika Merlin menemukan sesuatu?” Vina menahan bahu Irish yang gemetar.
“Nanti kita bahas kalau semua sudah berkumpul, sekarang kita kembali ke Rembo dulu. Bisa jadi Merlin sudah kembali lebih dulu.” Lily menahan Vina, lalu ketiga perempuan itu lanjut menusuri koridor luar kastel. Koridor itu mengelilingi kastel dan bisa langsung melihat ke taman, ada jarak antara koridor dengan bangunan yang diisi dengan tanaman dan patung-patung orang tanpa wajah. Di sisi kanan dan kiri ada jalan setapak dari koridor ke dalam kastel.
“Hei, teman-teman! Kalian menyusulku ke sini ya?” Suara Merlin terdengar dari taman kecil di sebelah koridor. Merlin berdiri di dekat patung perempuan tanpa wajah.
“Merlin, sedang apa kamu di sini? Tugasmu tidak memeriksa sebelah sini.” Vina mendekat pada Merlin, tetapi gadis botak itu pucat pasi sambil tersenyum canggung.
“Kamu ingin buang air kecil?” Lily mengerutkan alis. Merlin masih komat-kamit tidak jelas. Jemarinya mengetuk-ngetuk altar patung perempuan dengan pose kedua tangan ke atas, seperti menampung air hujan.
“Hei, itu altar!” Irish melepaskan pelukannya dari lengan Lily, dia mendekati altar patung di depan. Tiba-tiba dari balik patung itu muncul sosok asap!
“Baaa!” jerit sosok itu. Irish terkejut hingga sangkar Klorofox yang dia bawa bergoyang! Sulurnya juga lepas dari lubang telinga hewan elemen itu. Benar-benar sial, angin bertiup saat itu, Klorofox yang merasa terancam melolongkan gelombang suara. Akibatnya, sangkar Klorofox retak!
“Irish, hati-hati,” tukas Merlin berusaha tenang.
“Iya, berhati-hatilah Zaadia Kecil, jangan buru-buru ….” Hantu yang muncul dari balik patung ikut berbicara pada Irish dengan sok akrab. Merlin menelan ludah.
“Apakah Zaadia ini temanmu?” Si Hantu dengan gaun putih yang menguning itu memutari Irish sembari bertanya pada Merlin. Vina ketakutan, dia bersembunyi di belakang Lily.
“Sebenarnya ..., aku ingin menjemput temanku ini,” ucap Irish terbata-bata.
“Kalian mau pergi? Hiks.” Ucapan Irish sepertinya menyakiti si Hantu sampai menangis. Irish menoleh ke belakang, memasang ekspresi memohon pada Lily dan Vina. Namun, keduanya terdiam bisu. Vina bahkan sudah pucat pasi.
“Ka-kami pamit pergi dulu, ya!” Irish pura-pura tidak takut. Tangannya meraih lengan Merlin dan ditariknya seniornya itu.
“Tidak!” Perempuan asap tadi berteriak. Lily yang kaget sigap menarik kedua anggotanya yang berada di dekat si Hantu.
“Kamu tidak boleh mengambil temanku!” jerit si Hantu lagi. “Aku tidak punya teman bermain di sini, hiks!” isakan pilu itu disusul dengan teriakan keras bersamaan dengan bunyi jeritan dari jendela. Klorofox memberontak lagi dalam sangkar akibat keributan yang terjadi. Retakan sangkarnya semakin lebar.
“Kalau kalian pergi, aku akan mengutuk kalian menjadi batu!” ancam hantu itu. Mendengar ancaman itu, Lily menyadari bahwa patung-patung di sana adalah korban dari kutukan si hantu barbar.
“Tenanglah dulu. Kamu ingin teman, kan?” tanya Lily. Dia melepaskan tangannya dari anggota tim dan mendekat pada hantu perempuan cengeng itu.
“Kamu lihat ini?” Lily mengeluarkan beberapa benih dari saku jubah turnamen. “Ini benih Zaadia, aku akan tanam di sini supaya saat dia lahir kamu akan punya teman. Bagaimana?” Lily tersenyum licik. Irish mendengar kata ‘Zaadia’ sedikit terkejut, tetapi melihat seringai Lily, dia yakin Lily pasti merencanakan sesuatu yang jail.
“Teman?” Hantu tadi terdengar antusias, dia mendekat pada Lily untuk melihatnya menanam benih-benih tadi. Lily mengubur benih-benih itu lalu menumbuhkannya hingga menjadi sebuah pohon bonsai kecil dengan akar tebal dan batang berbentuk wajah seram. Akar-akarnya yang tebal dapat bergerak dan berfungsi sebagai kaki untuknya berjalan. Lily menutup rapat bibirnya untuk menahan tawa.
“Lihat? Zaadia kecil ini bisa menjadi teman!” seru Lily menunjuk bonsai seram tadi. Si hantu bertepuk tangan senang.
“Sekarang kamu sudah mendapatkan teman bermain petak umpet lagi.” Lily menepuk tangan pada pahanya untuk membersihkan tanah yang menempel, si Hantu tersenyum melihat apa yang Lily ciptakan dan mulai menghitung untuk bermain petak umpet dengan tanaman seram itu.
“Lily, ayo pergi,” bisik Merlin menarik lengan Lily, tetapi Lily menginginkan tanaman bonsai yang dia ciptakan itu, berhubung si hantu sedang menutup mata dan berhitung sampai 100, Lily buru-buru mencabut ‘bonsai golem’ yang dia tanam tadi. Perempuan rambut merah itu langsung melangkah mundur, kemudian perlahan mereka semua pergi menjauh.
“Benih apa sebenarnya yang kamu berikan itu? Dan kenapa bantuknya jadi seperti golem kecil buruk rupa? Tidak mungkin Zaadia seperti ini perawakannya!” Irish mengecilkan volume suaranya ketika mereka berjalan cepat di koridor.
“Oh, ini….” Lily menahan tawa sejenak, “hanya biji tanaman bonsai kerdilyang aku kantungi kemarin dari Highland.” Akhirnya tawa Lily pecah. Irish buru-buru menutup mulut ketua jailnya itu.
“Aku nyaris berpikir kamu jadi predator kaumku, dasar Rambut Api!” Berang Irish kesal.
“Hahaha, maafkan aku, tapi tipuanku hebat, kan?” Lily langsung menyombongkan diri. “Aku akan bawa tanaman ini untuk menakuti Maya di asrama, haha!”
“Bgiku kamu terlalu kejam pada si hantu, Lily,” lirih Merlin.
“Oh, ternyata kamu memang sudah berteman dengan hantu cenggeng itu?” Goda Irish.
Merlin menggeleng cepat. “Tidak! Aku hanya berniat menipunya dengan bermain petak umpet agar bisa melarikan diri!” Merlin membela diri.
“Hah? Itu ide yang konyol!” Vina melebarkan matanya seraya tertawa renyah.
“Lupakan saja, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum dia sadar itu tipuan!”
“Benar juga, sebaiknya kita periksa cahaya yang aku lihat di timur tadi!” Vina teringat cahaya yang dia lihat saat di balkon. “Irish, sepertimya kami membutuhkan bantuan dari pet contract milikmu, apakah kamu bersedia memanggilnya?” tanya Lily berusaha ramah. Irish hanya mengangguk meskipun matanya tidak mau menatap Lily.
“Kalau begitu, tolong panggil, Irish. Kami mengandalkanmu.” Vina tersenyum ramah.
Lily dan Merlin terus menatap Irish dengan mata penuh harap, dia benar-benar masih kesal. Namun, melihat anggota kelompoknya yang terus memohon Irish mulai luluh, tanduk rantingnya mulai menyusut.
“Berjanjilah kalian, jika melihat hewan kontrakku tidak bereaksi berlebihan.” Akhirnya Irish menyerah, dia memanggil hewan kontraknya dengan cara meniupkan udara pada jemarinya, lalu diusapkan tanda benih di keningnya. Dalam beberapa detik, datang seekor rusa jantan yang besar menghampiri mereka. Rusa bertanduk itu membungkuk sopan seolah memberi hormat. “Perkenalkan, ini Rembo,” tukas Irish tersenyum tipis. Dia menyambut rusa besar itu dengan elusan lembut di kepalanya.
Seperti biasa, Vina mengangga lebar saat dia kagum. Lily dan Merlin terdiam melihat rusa milik Irish. Rembo adalah rusa jantan yang ukurannya besar seperti banteng, tingginya pun setara dengan kuda Mustang. Namun, ada banyak bekas luka di badan rusa besar itu. Irish terlihat lebih tenang saat Rembo datang, sesekali dia mengeluskan wajah ke kepala hewan kontraknya itu.
“Dia rusa yang aku bawa kabur dari sirkus, jadi jangan meremehkan Rembo.” Irish memerintahkan Rembo agar menunduk, Irish naik terlebih dahulu bersama dengan Klorofox, lalu Vina, Merlin, Lily yang memangku tanaman yang dibawa.