Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Cathing Victory - Windy Ball




Windy Ball


“MERLIN, PINJAMKAN AKU satu scrunchie di lenganmu!” Lily meraih tangan Merlin sembari memegang scrunchie di tangannya.


"Untuk apa? Kamu mau mengikat rambutmu?" Merlin langsung menepis tangan sang kapten dengan tatapan sewot.


"Hei, nanti saat aku terbang rambutku bisa menutupi wajah, tahu!" Lily menarik lagi lengan Merlin dan langsung melepaskan satu scrunchie dari lengan gadis itu. "Aku berjanji akan mengembalikannya," tukas Lily sembari berlari menuju tengah lapangan arena. Dia mengingat rambut merahnya itu dengan scrunchie hasil palak dari anggota timnya. Lily pun tersenyum percaya diri.


"Hah! Benar-benar si rambut api itu!" Merlin mengerutkan dahi dengan bibir berdecak kesal.


"Sudah, tidak apa-apa. Ini juga demi tim kita," ujar Lavina, tersenyum tipis. Irish menyaksikan itu hanya mengangkat alis dan mengangguk.


Merlin kemudian berdecak lagi, "Ayo, kita juga harus bersiap-siap." Dia melengos pergi diikuti oleh dua adik tingkatnya. Mereka bertiga bergegas menuju pilar bermotif burung phoneix yang dilapisi besi berwarna emas.


Setelah mereka tiba di puncak pilar yang luas, terlihat kemegahan arena yang sangat jauh berbeda dengan Maple Academy. Di atas pilar itu anggota tim berdiri untuk menunggu ketua mereka datang membawa bola elemen yang harus ditangkap di babak satu. Dari 12 kapten, hanya ada 9 kapten dan tim yang bisa mendapatkan bola elemen itu.


Semua anggota tim sudah berada di pilar masing-masing, ketua tim juga sudah berkumpul di tengah lapangan berbentuk lingkaran dan mendengar arahan dari penyelenggara.


"SELAMAT DATANG PARA PENONTON DALAM TURNAMEN MENAKJUBKAN ABAD INI, WISTERIA ACADEMY ELEMENTRIZ TOURNAMENT CCXXII! TAHUN INI KITA KEDATANGAN SISWA-SISWI DARI MAPLE ACADEMY! BERI SAMBUTAN YANG MERIAH!" ucap pembawa acara.


Suara gemuruh penonton memenuhi lapangan, membuat Lily semakin semangat untuk unjuk kebolehan. Setelah diberikan arahan, satu per satu ketua naik pegasus. Lily masih dengan senyum percaya diri menoleh ke arah peserta-peserta lain yang berjejer di samping kirinya. Dia lalu menoleh ke kanan, saat itu matanya bertemu dengan sepasang mata siswa dari Wisteria Academy. Badannya tinggi dan rambutnya juga merah seperti miliknya. Tatapan siswa itu menyipit pada Lily.


"Cih, dia pikir dia siapa? Belum tahu dia, Lily James dari Maple Academy!" Lily terkekeh dengan seringai kecil, membuat siswa yang beradu mata dengannya semakin menatap tajam. Namun, Lily tidak gentar, dia malah merasa semakin tertantang.


Kepala Sekolah Wisteria Academy memberikan kata sambutan sebentar. Setelah itu, membuat selubung agar bola elemen yang disebar tidak keluar area lapangan turnamen. Setelah kepala sekolah melepas bola elemen dari kotak, bola-bola itu terbang memasuki arena lalu beterbangan ke berbagai arah.


Terompet pun dibunyikan, para ketua tim langsung terbang satu putaran penuh mengelilingi arena sebelum mulai mengejar bola-bola tersebut. Tidak sampai di situ, lapangan turnamen pun berubah menjadi arena rintangan. Lantai sebelah kiri berubah menjadi magma dengan bebatuan tinggi menjulang disertai semburan api, lantai sebelah kanan dipenuhi dengan es-es runcing yang tinggi, sedangkan di pinggiran lapangan terdapat pepohonan.


Melihat adanya pepohonan, Lily merasa itu sebuah peluang untuk menangkap bola. Tidak peduli elemen apa, yang penting dia harus mendapatkan salah satu. Lily melambung lebih tinggi dengan pegasusnya agar tidak terkena semburan lahar panas, tetapi dia masih harus melewati bebatuan di hadapannya.


"Aish, mengganggu saja!"


Lily menyenggol salah seorang peserta yang menghalangi, lalu berbelok menghindari batu. Lily terkekeh melihat peserta itu kehilangan keseimbangan. Dia mengendalikan pegasus agar terbang lebih tinggi di atas bebatuan, tetapi di atas sana anginnya berembus kencang hingga pegasus Lily terdorong ke arah balok es runcing dan menabraknya.


"Astaga! Apa dia baik-baik saja?" Lavina yang menyaksikan dari kejauhan panik melihat Lily menabrak balok es. Irish dan Merlin menelan ludah bersamaan, gugup.


"Lily! Cepat!" jerit Merlin meskipun suaranya tidak akan terdengar oleh Lily.


Lily menyeimbangkan diri pada pegasus dan mulai terbang lagi. Bola elemen berwarna biru gradasi hijau lewat dengan cepat, Lily mengisyaratkan pegasusnya agar terbang mengikuti bola tersebut.


"Ya, ampun, bola yang merepotkan!"


"Ini kesempatan yang bagus!" jerit Lily. Dia memelesat menuju pepohonan dan mengunakan kekuatannya agar dahan dan ranting pohon menutupi jalan bola elemen. Bola putih itu tersangkut, Lily dengan cepat terbang dan mengambilnya.


"Hore!" jerit Irish dan Lavina dari pilar. Mereka berpegangan tangan sambil melompat senang melihat sang ketua berhasil mendapatkan bola.


Merlin tersenyum bangga sambil mengepalkan tangan dengan antusias, "Yes, bagus!"


"Polos sekali!" protes Lily meilhat bola elemen angin di tangannya. "Ya, sudahlah, yang penting dapat." Lily berbalik dan kembali memasuki arena rintangan es. Jika dia melewati atas bebatuan pasti akan tertiup angin lagi dan terempas ke arah berlawanan dari pilar timnya.


"Hei, Kuncir Poni!" Seseorang mendorong Lily dari samping dan menarik kuncir rambutnya.


Lily terjepit di antara batu es dan pegasus yang ditunggangi lawan.


"Agh!" erang Lily kesakitan, akar rambut belakangnya seperti akan tercabut dari kepala. Lily berbalik pada siswa itu kemudian menamparnya. "Aish, dasar kurang ajar!"


Tidak puas dengan tamparan, Lily juga menendang pegasus milik lawan agar menjauh. Siswa itu rupanya peserta yang tadi beradu mata dengan Lily. Dia mengelus pipinya yang merah akibat tamparan maut Lily.


"Oh, ternyata kamu tampan juga kalau dilihat dari dekat," ucap Lily mengedipkan sebelah mata.


Siswa Wisteria Academy itu merapatkan gigi dan kembali menyerang Lily, untung saja Lily dapat menghindar dan memelesat pergi ke arah rintangan batuan dengan lantai magma. Siswa Wisteria itu tidak menyerah, dia terus mengejar Lily.


Siswa itu emosi dan menembakan bola api dari tangannya, tetapi tembakkan itu meleset. Lily berbalik dan mengejek siswa berambut merah api itu. "Segitu saja kemampuanmu?" Lily menyeringai.


"Aku bisa melakukan lebih baik dari dia," kata Merlin pada Iris dan Lavina sambil menunjuk siswa yang berhadapan dengan Lily.


"Woah, tembakannya payah sekali," ujar Irish menggeleng menyaksikan apa yang ditunjuk Merlin. Merlin kemudian tersenyum puas mendengar respons Irish.


Sekali lagi, tembakan itu kembali meleset, tetapi akibat dari itu batu di hadapan Lily roboh. Lily oleng karena menghindari batu, bola elemen yang digenggamnya sampai merosot jatuh.


"Sial!" Ia mengejar bola itu ke bawah, siswa Wisteria tadi juga mengejar bola incarannya.


Bola semakin dekat dengan magma, Lily dan siswa Wisteria itu tidak menyerah meski panas membakar. Ketika mereka berdekatan, Lily mengibaskan rambutnya sehingga menampar si Siswa Menyebalkan itu. Lily langsung meraih bola elemen itu dan terbang lebih tinggi. "Rambutku menyukaimu rupanya, hahaha!" ejek Lily melihat siswa itu mengelus pipi lagi. Lily langsung terbang meninggalkan siswa laki-laki tampan itu menuju pilar timnya.


Setelah keluar dari area bebatuan, Lily membuka jalan di depannya dengan bakat yang dimiliki. Pohon-pohon langsung bergeser dan membukakan celah untuknya lewat.


"Bagaimana? Aku keren, 'kan?" pekik Lily saat pegasusnya mendarat di hadapan anggota timnya. Selubung pilar langsung aktif ketika pegasus mendarat sempurna, Lily turun dan menunjukkan bola elemen yang ia dapatkan. Anggota tim melingkarinya dengan antusias.


"Bola ini elemen angin rupanya," kata Merlin ketika menyadari pola berbentuk pusaran angin.


"Kerja bagus, Lily!" Irish menepuk lengan Lily senang sementara Vina tersenyum kagum melihat bola elemen itu.