Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Elementriz Battle on Maple Hill - 8




8


“TAK BAIK JIKA memembuang waktu, kita harus segera berangkat,” ujar Efron.


“Setuju, tak baik bagi kita terlalu menikmati pemandangan tulang belulang ini,” sahut Helena.


“Han, bagaimana keadaanmu?” tanya Raven. Han hanya mengangguk tanda bahwa tenaganya sudah pulih.


“Baiklah, Han, berubahlah menjadi besar dan bawalah kami menuju lokasi yang sudah ditentukan. Ikuti petunjuk Efron, kau paham?” tanya Raven.


Han berteriak semangat tanda paham, lalu tubuhnya membesar dan menggendong Raven dan kelompoknya sesuai petunjuk Efron.


“Ayo semuanya, berangkat!” seru Efron.


Kini mereka melakukan perjalanan dengan tenaga dan semangat yang baru.


“Entah kenapa aku merasa saat ini waktu terasa begitu cepat,” ujar Chalia.


“Bukan hanya kau, aku juga merasakannya,” jawab Raven.


“Mungkin karena semangat baru kita,” sahut Helena sambil tertawa.


Mereka melanjutkan perjalanan itu sembari berbincang-bincang dan tanpa terasa sudah memasuki wilayah yang dituju. “Semuanya, kita sudah hampir memasuki wilayah sekitar Maple Hill,” ujar Efron.


Ketika mereka sudah berada di puncak bukit, tiba-tiba Efron jatuh, membuat kelompoknya panik.


“Tenanglah, ia hanya tertidur. Nampaknya ia begitu kelelahan karena harus menuntun jalan sekaligus memastikan keselamatan kita,” ujar Raven.


“Aku juga lelah,” keluh Chalia, sementara Helena hanya diam sambil memandang sekitar.


“Han, cari tempat yang aman agar kami dapat beristirahat karena hari masih gelap,” titah Raven.


Han mengangguk, lalu menuju gua batu tempat untuk beristirahat. “Istirahatlah di sini.”


Baru selesai Raven bicara, mereka langsung tidur, termasuk Han dan anak ayam besar yag ada dalam kurungan. Sementara Raven berjaga.


 “Selamat pagi.” Pagi ini Efron bangun lebih dulu, disusul Chalia dan Helena.


“Pagi juga. Bagaimana anak ayamnya?” tanya Chalia.


“Anak ayam itu tidak kabur. Sepanjang malam ia tidur dengan tenang,” jelas Raven tanpa menoleh.


“Sepertinya itu ada bangunan yang agak mencurigakan,” ucap Chalia yang ikut menatap arah pandang Raven.


“Ayo kita ke sana, bawa anak ayam itu, barang kali di sana aula yang dimaksud. Ingat, tandanya adalah lambang phoenix,” ajak Efron.


Raven dan yang lain mengangguk patuh, Helena mengambil kurungan anak ayam itu dan mengikuti kelompoknya. Gadis keturunan Aphrodite itu menatap makhluk yang tampak menggemaskan itu dengan khawatir.


Kenapa aku merasa bahwa anak ayam ini menjadi lebih berbahaya? Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.


“Hah, akhirnya selesai juga. Apa lagi selanjutnya?” tanya Chalia.


“Aku juga tak tahu,” jawab Helena.


“Aku pun tak tahu, entah kenapa aku mendadak lupa tugas akhir kita,” sahut Efron.


“Suhu udara Fyreville sangat panas ternyata,” keluh Raven.


“Panas. Benar juga,” sahut Chalia.


Helena mendadak diam, ia seperti merasakan aura berbahaya yang menyebar. Begitu juga Efron, sejak tadinya selalu merasakan hal yang tidak nyaman. “Teman-teman,” panggil Efron.


“Ada apa, Kapten?” tanya Raven.


“Aku ingat mengenai tugas akhir kita,” ujar Efron.


“Apa itu? Ayolah aku suda tak tahan di sini,” tanya Chalia tak sabar.


“Tugas akhir kita adalah ....”


Belum selesai Efron bicara, sosok makhluk bersayap dengan api merah membara di seluruh tubuhnya terbang dengan rendah. Hewan itu adalah transformasi dari anak ayam setelah diletakkan di altar.


“Mengalahkan makhluk yang muncul setelah kita meletakkan hewan tadi di altar,” sambung Efron.


Selesai Efron berucap, Raven segera berlari menjauh dan membuat kloning. “Hei burung jelek! Aku di sini, tangkap aku kalau bisa!” ledek Raven.


Burung dengan tubuh dan api yang begitu besar langsung mengejar dan mencoba menangkap Raven. Gerakan Raven yang tidak bisa diam membuat si burung besar memburunya.


“Pukul bagian yang paling rentan, semakin besar ukurannya, maka semakin mudah menemukan titik lemahnya,” seru Efron.


Helena mengeluarkan sabitnya dan harus mengeluhkan kerusakan kukunya. Dia melompat ke arah burung itu dan memutarkan sabit dengan ganas. Jika di awal ia terlihat enggan memegangnya, berbeda ketika sudah mulai. Benturan elemen api dan es menciptakan uap.


Burung itu mencoba menyemburkan api, tetapi Efron bergerak cepat dan muncul di bawah paruh burung terbakar itu, dia melepaskan pukulan pada paruh itu. Sementara Raven menghantam bagian atas paruh yang dekat dengan lubang hidung, sehingga napas apinya tertahan dan meledak di mulutnya sendiri.


Meski begitu, burung abadi itu tetap hidup dan kembali menyerang dengan ganas. “Jika terus seperti ini, bukan burung itu yang kelelahan, tapi kita yang terkapar duluan,” komentar Chalia sembari menembakkan panah beruntun.


“Aku ada ide,” ucap Helena sambil menghentikan memutar sabit berbahayanya. “Efron, Raven, kalian tahan makhluk besar itu. Kami akan jalan-jalan dulu. Han, bawa kami menjauh,” perintahnya.


Han mengangguk kemudian membawa Helena, Chalia, Red, dan Uno pergi menjauh dari Maple Hill, sementara Efron, Raven, dan kloningnya menahan monster besar itu.


“Efron! Raven! Ingatlah, jangan mati!” teriak Helena.


“Helena, ini kesempatan kita untuk menunjukkan kekuatan di tempat yang tak ada hubungannya dengan kemampuan alami kita,” ujar Chalia.


“Aku tahu, sebab itu aku bilang pada mereka untuk tidak mati, sebab akulah yang akan membunuh mereka,” sahut Helena dengan tangan disilangkan di depan dada.


“Dasar gadis yang kejam, beruntung kau cantik,” ujar Chalia.


Helena hanya tersenyum manis sembari mengeluarkan genangan air dari tanah di sekitarnya. “Muncullah!”