
Quicksand and Addison Product
ALANGKAH LEGANYA HATI Irish begitu timnya mendapatkan hewan buruan mereka, si rubah hijau yang lincah ini akan mengantarkan Gadis-Gadis Tangguh pada kemenangan. Tim yang akan menepis pandangan orang bahwa perempuan itu lemah dan tidak cerdas, apalagi ledekan dari siswa Wisteria Academy kemarin, mereka terang-terangan menyombongkan diri dan menghina. Zaadia manis itu membaringkan diri di rumput hijau dengan ‘kakak ketemu besarnya’, Lily. Keduanya baru saja selesai dengan tugas berjaga, kini saatnya Merlin dan Vina yang melakukan tugas itu.
Mata Irish terpejam, tidurnya lelap seperti sudah terlepas dari beban kehidupan. Padahal, besok pagi-pagi sekali mereka harus bergegas pergi dari Crimson Lake, menuju Windville. Lily sang ketua juga tidur dengan pulas, sedangkan Merlin dan Lavina tetap terjaga. Merlin terus mengamati Klorofox di sangkarnya, rubah kecil itu sudah kelelahan memberontak, harus dia akui kalau sangkar buatan Lily sangat kuat.
“Menurutmu, kenapa air dari danau ini merah muda?” tanya Merlin pada Vina, gadis itu dari tadi hanya memandangi Crimson Lake dengan wajah kagum, bibirnya saja sudah menganga lebar. “Itu karena danau ini berisi air soda.” Merlin menahan tawanya melihat Vina yang menoleh antusias.
“Jadi, kita bisa meminumnya?” pekik Vina gembira. Merlin mengangguk, Vina yang polos langsung mendekat ke tepian dan menyendokkan air dengan tangannya. Merlin menutup bibirnya rapat agar tidak tertawa melihat Vina.
“Akh,” sembur Vina, Fallen Angel itu menyemburkan air dari mulutnya karena rasa asin yang menyerang lidah. “Merlin, kamu tega sekali!” Perempuan pirang itu menekuk bibir melihat Merlin yang tertawa keras. Danau Crimson sebenarnya merah karena garamnya.
“Haha, maaf aku hanya ingin mengusilimu.” Rupanya gadis penyihir ini sudah tertular sifat usil Lily setelah seharian bersama.
Begitu langit mulai berwarna merah keemas-emasan, Vina dan Merlin membangunkan Irish dan Lily. Rambut ikal kedua gadis dengan nama bunga itu, sama-sama berantakan bahkan di rambut Lily ada beberapa rumput tersangkut.
“Lihat, kakak beradik itu. Wajah bangun tidurnya sama-sama kusut,” ledek Merlin menunjuk Irish dan Lily. “Bahkan rambutnya juga sama kusutnya dengan wajah.”
Lily mendengar ucapan Merlin segera bangkit, dia mendekati tepi Danau Crimson untuk melihat bayangan dirinya. “Sial! Ini karena parfum rambut anti kusutku jatuh saat kita diterpa ombak kemarin!” Lily menyisir rambutnya dengan jari. “Aku akan membeli parfum rambut lagi pada Addinson saat pulang.”
“Sekarang, apakah kalian lapar?” tanya Lily, gadis jangkung itu melepas jubah turnamennya, di bagian dalamnya ada beberapa saku kecil dengan kancing. “Aku membawa beberapa benih buah untuk kita makan!” Lily membuka satu kancing dan menunjukkan biji apel di tangannya.
“Kamu kira kami burung perkutut, hah? Mana mungkin kita hanya makan biji-bijian!” Merlin mengomel. Sementara Irish masih terdiam di tempat yang sama, mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul sempurna.
“Kamu lupa ya, aku bisa menumbuhkannya menjadi pohon dengan cepat!” seru Lily yakin. Dia mengubur biji-biji apel itu dan menumbuhkannya dengan bakat yang dimiliki.
Saat itu juga, mata Irish langsung segar kembali. “Aku mau makan,” katanya sembari mendekat. Zaadia yang masih mengantuk itu memakai sulurnya untuk meraih apel dan dibagikannya pada tim. Lily memasang ekspresi sombong begitu anggota timnya makan dengan lahap.
“Manis, bukan? Buah hasil tanamku memang selalu manis sepertiku!” Dia mengibaskan rambut dengan percaya diri. Merlin menyemburkan makanannya, tidak terima dengan ucapan Lily.
“Ayo, kita berangkat. Kita lewat Twilight Forest saja supaya lebih dekat ke pantai,” titah Merlin.
“Apa kita akan menyeberang lagi?” Vina seperti déjà vu mendengar kata pantai.
“Kamu bisa terbang kalau mau,” jawab Lily.
Irish dan Vina senang mengetahui mereka akan berjalan darat ke Windville, karena kedua gadis Angkatan tiga ini sudah kapok dengan berlayar.
Setelah mengisi perut yang kosong, Irish dan lain berjalan melewati Twiligh Forest. Zaadia keriting itu membawa sangkar Klorofox dengan sulurnya karena tangan yang sudah pegal.
Langit semakin terang, begitu pun dengan langkah kaki mereka yang membawa keempat perempuan itu semakin jauh ke dalam hutan. Irish mengingat jelas dengan ular sanca besar yang semalam menyerangnya di hutan Highland, dia khawatir akan bertemu ular atau hewan buas lain di sini.
“Biji Ketapang! Sepertinya kamu harus diet! Berat sekali!” keluh Lily. Namun, ketika matanya melihat betis Irish, dia langsung mundur pelan-pelan. “Ini lumpur hisap!”
“Vina, kamu baik-baik saja?” Lily melihat Vina di balik Irish, Merlin masih memegangi Vina, sayangnya kaki Merlin malah ikut tenggelam!
“Astaga! Ini pasti karena karena kalian tidak memakai salep antisial dari Addison!” Lily mengomel disertai promosi. Memang gadis rambut merah ini pelanggan setia Addison di Maple Academy. “Untung saja aku memakai salep itu sebelum turnamen,” lanjutnya bangga.
“Kalau begitu, bantu kami Lily!” berang Irish yang sudah terisap lumpur sampai lutut. Lily kemudian mengendalikan pohon di sebelahnya, dahan dan rantingnya memanjang sehingga mudah untuk digapai Irish dan yang lain.
“Berikan dulu Klorofox padaku!” Perintah Lily pada Irish, Irish menuruti dan memberikan sangkar Klorofox dengan sulurnya. Dia meraih dahan pohon yang Lily kendalikan, lalu mengeluarkan diri dari lumpur.
Nasib sial untuk Merlin dan Lavina yang tidak dapat meraih dahan pohon karena terlalu tinggi, kaki mereka sudah hampir tenggelam setengah.
“Cepat bantu kami juga!” Vina mulai panik, kaki jenjangnya sudah tenggelam selutut. Irish melontarkan lagi sulurnya pada Vina dan Merlin. Namun keduanya sangat berat!
“Hei, satu-satu!” Irish menjerit kesal, lengannya sudah terasa sakit karena ditarik dua orang sekaligus. “Biarkan Merlin dulu yang naik!” titah Irish lagi, Vina melepaskan sulur dan baru Irish dengan mudah menarik Merlin keluar dari lumpur, tentu saja Lily ikut membantu Irish untuk menarik perempuan botak itu.
“Seharusnya kamu membagikan pada kami salep antisial itu, Lily!” tukas Merlin dengan wajah datar.
“Asal kamu tahu, salep itu mahal, aku bahkan meminta diskon pada Addison!” Lily mengelus kepala botak Merlin, “makanya aku tidak berbagi, karena itu mahal!”
“Promosinya nanti dulu, bantu aku menarik Vina!” Irish mulai marah, tanduknya keluar dari sela-sela rambut. Dia sudah muak dengan kesialan bertubi-tubi yang dialami. Lily dan Merlin segera membantu Irish menarik Vina. Malaikat cantik itu keluar dari lumpur sambil tersenyum lega.
“Terima kasih sudah membantuku,” ujar Vina masih tersenyum. Namun, ketika dia melihat pakaian yang kotor, senyumnya itu luntur. “Aduh, menjijikan!”
Lily tersenyum bangga, berkat salep yang dia beli dari Addison, dia tidak terkena kesialan. Ketika perahu mereka terbalik, dia saja yang tetap mengapung dengan stabil, dia bahkan tidak bertemu ular sanca di hutan Highland, dan sekarang dia juga tidak terperosok oleh lumpur isap. “Wah, harus kuakui salep penangkal sial dari Addison ini manjur!”
“Pantas saja kamu terus-terusan beruntung! Seharusnya kamu membagikan pada kami juga salep penangkal sial itu!” Irish menarik kerah Lily geram.
“Baik-baik, maafkan aku,” Lily mendorong pelan bahu Irish saat melihat tanduk di kepala gadis berambut hijau itu seolah-olah akan menyeduruknya saat itu juga. “Sebagai gantinya akan kubelikan pupuk biji ketapang saat pulang nanti,” goda Lily lagi, Irish menggeram kesal.
“Atau, sampo khusus Zaadia saja bagaimana?” Lily tersenyum canggung melihat tanduk Irish yang semakin tinggi, kakinya nyaris gemetar. “Akan kubelikan dua botol dari Addison dengan dua aroma yang berbeda. Hehehe.”
Merlin dan Vna hanya diam, antara takut karena emosi Irish dan menikmati melihat Lily yang ketakutan.
“Aku tidak perlu itu semua! Kamu tidak mengerti apa yang sudah kita lewati?” Tanduk Irish bertumbuh besar, sebesar rasa kecewanya terhadap Lily. “Kita nyaris tenggelam di laut, dimakan ular sanca, mati karena lumpur hidup! Dan kamu masih saja terkekeh melihat anggotamu dalam bahaya?” Irish mendekat pada Lily, tanduknya sudah tinggi karena cabang yang semakin banyak.
Lily mundur perlahan. “Aku hanya melakukannya demi tim, kurasa salep anti-sial itu cukup dipakai pada ketua saja, untuk apa aku berbagi pada kalian?” Peluh Lily mengalir di pelipisnya.
Merlin menghampiri kedua gadis itu dan melerai debat yang tiada habisnya. “Sudahlah, benar kata Zovras. Kamu gila, Lily!” Irish berbalik kesal dengan mata berkaca-kaca.