Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - Wild Elemental Ball




Wild Elemental Ball


SUASANA KHAS KERAMAIAN sebelum pertandingan menemani langkah Zovras, Wolfe, Zeon, dan Axel menuju arena pertandingan di salah satu bangunan terpisah dari kastel Wisteria Academy. Mereka memasuki gerbang yang dijaga ketat oleh Kesatria Sihir dan mengedarkan pandangan ke arah keramaian. Terlihat banyak penonton yang hadir memenuhi tempat duduk yang tersedia. Tim-tim yang bertanding mulai berdatangan dan melakukan pengecekan registrasi terakhir. Satu per satu memasuki ruang arena.


"Siapa ketuanya?" tanya salah seorang pemeriksa.


"Saya, Zovras Aldebaran." Zovras mengangkat tangan ke udara dengan senyum simpul terukir di wajah.


Sesaat setelah namanya tercantum di data pendaftaran, gelang sihir biru kehijauan muncul di pergelangan tangan Wolfe, Zeon, dan Axel. Mereka heran untuk apa gelang berukiran phoenix emas itu ada di tangan mereka. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan arahan pemandu turnamen hingga sampai di pintu masuk arena. Arena turnamen itu megah dengan dinding kokoh ala Victoria. Terdapat pilar kokoh berwarna putih dengan ukiran sayap burung di atasnya. Sebuah batu kristal biru berkilau tampak melayang diapit kedua sayap gagah itu.


Wolfe mengedarkan pandangan ke segala arah dan mendengkus kesal, "Aku menyesal tidak menyalonkan diri menjadi ketua tim kemarin."


"Dasar! Ketika melihat banyak gadis cantik yang ikut, semangatmu langsung menggebu-gebu. Dasar genit!" ledek Zeon.


"Zovras, ayo bertukar! Aku jadi kaptennya, ya," rengek Wolfe.


"Jangan mau, Kapten! Ia hanya akan menggagalkan tim kita," timpal Zeon sambil tertawa.


"Telinga Panjang, Sialan! Aku tak berbicara padamu," balas Wolfe geram.


"Dasar serigala mesum," sindir Zeon.


"Apa kau bilang?" Wolfe mendekatinya, menarik kerah cowok Elf dengan surai kecoklatan itu, tetapi Zeon tenang dan bersikap biasa saja.


"Tutup mulutmu! Napasmu bisa membunuhku," balas Zeon.


"Hentikan! Bukannya menyimpan tenaga untuk hal yang tak terduga, malah berantam seperti anak kecil. Fokus atau aku sihir kalian jadi serigala dan anjing sekalian," ucap Zovras penuh penegasan.


Axel tersenyum tipis melihat anggota timnya dimarahi Zovras. Sementara mereka berdua masih saling pandang dan melotot satu sama lain, mengisyaratkan kalimat, apa kau? Tunggu saja nanti di luar!


Seluruh tim telah berkumpul di pintu arena masing-masing. Pihak penyelenggara merapalkan mantra dan dua belas pilar kokoh bercorak ekor phoenix yang melilit timbul dari permukaan tanah. Menjulang sekitar tiga meter dengan permukaan atas yang lebar dan melingkar. Sesaat setelahnya, cahaya menyilaukan pilar menghujam setiap tim. Seakan menjadi alat transportasi, mereka kini telah berada di atas pilar masing-masing dengan kaptennya yang sudah berada di tengah arena.


"SELAMAT DATANG PARA PENONTON DALAM TURNAMEN MENAKJUBKAN ABAD INI, WISTERIA ACADEMY ELEMENTRIZ TOURNAMENT CCXXII! TAHUN INI KITA KEDATANGAN SISWA-SISWI DARI MAPLE ACADEMY! BERI SAMBUTAN MERIAH!" teriak pembawa acara. Suara riuh penonton bergemuruh, mengisi ruangan besar arena itu.


Seluruh kapten tim yang sudah berkumpul di tengah arena diberikan arahan tentang babak satu turnamen. Pihak penyelenggara memanggil dua belas pegasus untuk menjadi tunggangan mereka dan seluruh kapten pun sigap naik ke atas pegasus masing-masing.


"Sebelum memulai pertandingan babak satu ini, sambutlah kepala sekolah Wisteria Academy! Beri tepuk tangan yang meriah!"


Tepuk tangan dan sorak sorai meramaikan acara megah tahun ini. Pertandingan menyelesaikan misi elemental selama tiga hari. Kepala sekolah merapalkan mantra selubung pelindung dan cahaya biru menyilaukan bersinar di atas pilar. Memunculkan selubung separuh bola tipis layaknya gelembung, tetapi sangat kokoh dan susah ditembus.


Kepala sekolah membuka kotak emas dengan ketukan tongkatnya dan sembilan bola bersinar langsung terbang menembus selubung arena. Bola itu hidup layaknya makhluk memiliki akal sendiri, terbang liar ke sana kemari.


Kepala sekolah Wisteria Academy mengayunkan tongkatnya dengan santai dan mengubah lantai arena menjadi simulasi kematian yang sangat mengerikan. Lantai itu terbagi dua, separuh berisi magma dengan batu panas menjulang tinggi ke angkasa dan yang lainnya seperti daratan kutub utara dengan kristal es runcing menjulang.


"Semangat, Zovras! Kalahkan mereka!" teriak Zeon dari pilar timnya.


"Jangan kecewakan aku, Rambut Biru!" timpal Wolfe.


Zovras terbang menerjang halang rintang es. Bola incarannya ternyata lebih cerdik dan lincah dibanding yang ia kira. Ia mengejar lebih cepat tanpa menghiraukan sekitarnya. Tak sadar sedari tadi ada yang mengincarnya dari jauh.


"Naughty Ball! I won't let you go!" ucap Zovras sambil menembakkan water shoot yang memiliki air berkecepatan tinggi pada bola itu. Namun meleset, ia berhasil menghindar lagi. "Arrrghhh! You make me mad, boy!"


Tiba-tiba serangan laser cahaya mengenai Zovras. Ia terpental dari pegasusnya tepat di daerah magma berapi. Lidah api itu meletup-letup siap menelan apa saja yang terjatuh, bahkan nyawa Zovras.


"ZOVRAS!" teriak Zeon dan Wolfe.


"Gawat! Marionette Strings!" ucap Axel merapalkan mantra, tetapi tak ada yang terjadi. "Arghhh!"


"AXEL!" teriak Zeon.


"Pelankan suaramu, tak perlu berteriak sekencang itu di depanku. Aku tak apa-apa, gelang ini mencegah kita membantu Zovras," jelas Axel.


Tanpa mereka sadari, Zovras menggunakan kekuatannya membentuk trampolin air dan melompat kembali ke atas pegasusnya. Ia mengudara kembali dan berhasil menenangkan teman timnya. Ia tak melihat siapa penyerangnya tadi dan memutuskan lebih waspada.


Zovras merapalkan mantra, membentuk dua replika dirinya menunggangi pegasus. Zovras dan bayangannya kembali memelesat menangkap bola biru incarannya. Ia pikir, dengan begini bisa jauh lebih aman dari serangan dan lebih cepat menangkap bola itu. Namun, pemikiran itu hancur ketika serangan bertubi-tubi menghujamnya, ditambah semburan magma dan serangan es dari arena bawah. Ia menghindarinya terus-menerus dan akhirnya tak melihat arah jalannya hingga menabrak dinding pembatas turnamen.


"Oh, God. Ini sungguh memalukan." Zovras menetralkan pandangannya yang masih kabur akibat terempas, sementara seluruh penonton tertawa lepas akibat tindakan cerobohnya.


Sungguh hari sial, bahkan untuk menangkap satu bola saja kesulitan. Ia akhirnya berkolaborasi dengan bayangannya menggunakan sihir elemen untuk menangkap bola tersebut. Kini Zovras jauh lebih menguasai daerah pertarungan. Serangan tiba-tiba bisa ia halau dengan berpindah-pindah bayangan replika dirinya. Ia menambah kecepatan dan hampir mengimbangi laju bola elemen itu.


Zovras merapalkan mantra dan tebasan angin menghujam bola elemen itu, tapi tetap saja tak mengenainya. "Oh, ayolah. I'm gonna be frustated now," ucap Zovras mulai kesal.


Tidak habis akal, Zovras dan bayangan merapalkan mantra bersamaan untuk mengeluarkan wind boom dan water cannon. Salah satunya berhasil mengenai bola elemen dan membuatnya goyah. Zovras memanfaatkan kesempatan emas itu untuk segera menangkap bola. Tiba-tiba, sosok penyerang kembali menampakkan diri. Ia menyerang Zovras tanpa henti. Bayangan Zovras melihat hal itu dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi tubuh asli. Perisai air terbentuk di depan mereka, memantulkan kekuatan cahaya itu  mengenai salah satu dinding dan meledak.


Zovras asli membentuk kurungan sihir dari angin. Ia berhasil menangkap bola elemen dan segera terbang menuju timnya. Kapten yang lain tak membiarkannya pergi dengan mudah, mereka menyerang Zovras bergantian. Namun, ia berhasil menghindar dan memantulkannya. Tak jarang ia menyerang balik untuk membuat celah. Bukan hanya itu, arena juganya seperti tidak rela ada tim yang mendapatkan bola, lantai arena terus menyemburkan magma dan balok-balok es ke arah Zovras. Lelaki berambut biru itu menghindar dengan gesit dengan bayangannya sebagai pelindung dan terus bergegas menuju timnya. Akhirnya, ia sampai di pilar timnya. Selubung pelindung pilar aktif, serangan para kapten mental ke segala arah.


"Great job, Boss!" puji Wolfe dengan menirukan gaya bicara Zovras. Zovras memandangi penyerangnya tadi yang memakai pelindung wajah.


"Sepertinya dia akan menjadi penghalang kita dalam perjalanan," ucap Axel tiba-tiba membuat Zovras memandanginya.


"Yeah, right! Ayo, kita buka segelnya."