
6
“KAPTEN, KAU MAU kita mati lebih cepat?” tanya Chalia.
“Kecepatan kita tak sebanding dengan kecepatan mereka!” sahut Helena.
“Sial, tak ada cara lain. Semuanya, naik ke punggung Han. Kita harus cepat,” seru Efron.
“Han!” seru Raven pada hewan kontraknya. Seketika Han berubah menjadi kera emas besar, empat orang dan dua hewan kontrak langsung diangkat ke atas punggungnya.
“Pegangan yang erat!” seru Raven. Tepat saat mereka sudah berpegangan erat, Han berlari dengan cepat, bahkan lebih cepat dari biasanya.
Makhluk yang mengejar mereka hanya bisa berhenti di tepi jurang memandang Efron dan timnya berada di punggung Raja Kera yang tampak seperti berlari di udara
“Akhirnya, kita sampai juga di Adamantian Mine,” ujar Raven terengah-engah.
“Sudah hampir gelap, ada baiknya kita beristirahat sejenak dan baru melanjutkan perjalanan esok hari saat pagi buta,” tukas Efron
“Benar, lagi pula mereka juga kelelahan karena harus menolong kita,” sahut Helena, menunjuk Han, Uno, dan Red yang terkapar. Bahkan Han yang masih dalam wujud aslinya mengeluarkan uap putih dari sekujur tubuh.
Saat ini, mereka berencana untuk beristirahat di lahan terbuka yang ditumbuhi bunga-bunga cantik. Mereka meningkatkan keamanan untuk menghindari berbagai serangan binatang buas.
“Lokasi kita tidak jauh dari Serelia Farm. Kebetulan ladang sudah siap panen. Jadi, nikmatilah makanan ini,” ujar Chalia sambil memberikan makanan yang tampak encer, tapi berbau harum.
“Apa ini?” tanya Helena.
“Bubur gandum,” Efron yang menjawab. Dia makan cukup lahap. Sepertinya merindukan rasa makanan rumah.
Mereka selesai makan dan beristirahat. Tiba-tiba anak ayam yang sebelumnya sudah ditangkap memberontak dari kurungan dan langsung melarikan diri.
“Sial! Anak ayamnya!” teriak Chalia.
Efron yang baru saja menutup mata terkejut mendengar teriakan itu.
Melihat itu, Efron menyentuh tanah dengan tangan kiri dan membuat tanah bergelombang sehingga anak ayam kesulitan untuk kabur, kemudian Red segera menindih anak ayam agar tidak lari lagi. Chalia akhirnya membuat kurungan baru yang dikuatkan dengan sihir Efron.
Perjalanan mereka esoknya harinya pun berlanjut. Sekarang Helena, Chalia, Red, dan Uno sedang tidur nyenyak di punggung Han, sementara Raven dan Efron menemani Han yang berjalan.
“Sedang apa, Kapten?” tanya Raven.
“Aku membuat peta sederhana. Jadi aku membuat salinan dan mencari jalur yang aman,” jawab Efron yang masih fokus pada pembuatan peta.
“Untuk apa membuat peta, sedangkan ada kau yang bersama kami?” tanya Raven dengan tatapan masih fokus pada peta yang dibuat Efron.
Efron menggeleng. “Aku juga bisa lelah,” sahut Efron dengan tatapan datar.
“Peta ini akan kalian gunakan jika sewaktu-waktu kita terpisah atau aku tak sadarkan diri. Jangan khawatir, ini sudah akurat,” jelas Efron.
“Baiklah, Kapten, sekarang waktu yang tepat untuk mengumpulkan tenaga. Berikan peta itu pada kami, kalian harus beristirahat,” sahut Chalia yang tiba-tiba berada di seblah Efron..
“Benar, Seperti yang Kapten bilang tubuh lelah jelas bukan teman perjalanan yang baik. Ingatlah bahwa lawan kita makhluk berbahaya,” sambung Helena di belakang Chalia.
Efron dan Raven saling memandang dan tersenyum. “Baiklah, aku percayakan ini pada kalian, aku akan beristirahat sekarang,” ujar Efron sambil bertukar tempat.
“Baiklah, sekarang tak ada waktu lagi, ke mana kita harus pergi, Wakil Kapten?” tanya Helena.
Chalia memegang peta yang dibuat Efron tadi, dengan senyuman mantap ia mengangkat kepala. “Baiklah, kita ikuti saja jalur ini.”
Han seketika berlari sesuai jalur yang sudah ditentukan.
“Han, kita harus mempersingkat waktu untuk keluar sebagai pemenang!” seru Chalia. Han yang semula berlari dengan kecepatan normal kini mempercepat langkah.
“Lihat langitnya!” seru Chalia. Helena menoleh, mereka melihat komet berekor dua lewat di atas mereka.
“Indahnya,” ucap Helena.
“Sepertinya kita harus mengucapkan permisi pada penduduk setempat,” ucap Chalia. Selesai bicara, tanah di sekitarnya bergetar.