Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Elementriz Battle on Maple Hill - 7




7


SAAT DI TENGAH padang, tiba-tiba tanah bergetar dan muncul dua ekor kalajengking besar dari bawah tanah. Getaran itu membangunkan Efron dan Raven.


“Kalian siap bertarung?” tanya Efron.


“Jika Kapten siap, maka tak ada pilihan bagi kelompoknya selain mematuhi perintah,” jawab Raven.


“Selama bukan perintah bunuh diri, aku tak akan mundur,” sahut Chalia.


“Namun, jika diperintah untuk membunuh teman, maka yang akan menjadi korban pertamaku adalah Kapten,” tambah Helena yang seketika ditatap Efron.


Han dan Chalia hanya tertawa kecil, sesaat kemudian Han melompat dan bergerak menyerang kalajengking tanah itu.


“Hei, jika kau tak segera memberi perintah, maka jangan salahkan aku jika dia bertindak bodoh,” tegur Chalia saat Raven maju menyerang sendirian.


“Aku akan di sini bersama Chalia, kau majulah, Kapten” ujar Helena yang sudah melepaskan antingnya dan berubah menjadi sabit es bergagang api. “Ini hanya senjata pemberian orang tuaku, meski jarang aku pakai karena tidak anggun. Tidak cocok dengan kepribadianku,” jelas Helena.


“Cantik, kok,” komentar Chalia yang sedang mengambil ancang-ancang.


“Baiklah, saatnya menyerang!” seru Efron.


Chalia menyerang dari jarak jauh dengan panahnya, sementara Helena berjaga-jaga jika ada monster lain yang muncul.


Awalnya mereka mampu mengimbangi kekuatan dua monster kalajengking itu, tetapi semakin lama kekuatan mereka menurun. Kurangnya istirahat, membuat mereka tak bisa mengerahkan tenaga supenuhnya.


“Efron!” teriak Raven ketika melihat Efron yang sudah melemah terkena sapuan capit dari monster kalajengking yang lebih besar.


“Chalia, lindungi kami!” seru Raven pada Chalia yang langsung melepaskan puluhan anak panah untuk melindungi Raven dan Efron.


Raven langsung menyerang monster kalajengking yang sudah melukai Efron. Ia mulai kewalahan karena cangkang monster itu sangat kuat. Namun, Raven merasa aneh, monster itu selalu menghindari serangan di tempat yang sama


“Chalia, satu titik tiga peluru!” seru Raven.


“Aku sudah tahu,” ucap Chalia yang sudah membidik dan menembak tepat di kepala monster itu. Panah kedua dilepaskan dan menembak tepat di panah sebelumnya.


Berkat puluhan anak panah Chalia yang menancap ditempat yang sama, Raven berhasil membuat monster kalajengking tanah itu tersungkur dengan sekali pukul.


“Masih belum cukup!”


Wujud Raven berubah menjadi setengah kera dengan tongkat di bahu kanannya. Rambutnya yang semula hitam kemerahan kini sedikit bertambah dengan warna putih dan emas.


Belum sempat Raven memukul si kalajengking, mendadak monster itu diam tak bergerak. Sesuatu yang berwarna putih tampak mengibas di kepala si monter. Tiba-tiba monster itu terkapar dan tubuh membengkak sebelum akhirnya meledak dan hancur. Helena berdiri dengan anggun sambil berusaha mengeluarkan sabit esnya yang tertancap di tengah kepala monster kalajengking.


Di sisi lain, monster lain menyerang Efron dengan ganas, tetapi berhasil dihindarinya tanpa kesulitan. Efron menyentuh tanah dengan tangan kirinya, tanah di sekitarnya bergelombang dan merayapi kaki si monster. Kaki-kaki monster itu hancur karena impitan sihir Efron.


 “Sebentar lagi fajar dan kita akan memasuki wilayah Fyreville. Chalia dan Ra—”


Efron menatap mereka heran dan beralih kepada gadis berambut biru. Helena justru terlihat tidak peduli.


“Kami terlalu banyak istirahat, Kapten. Sekaramg giliranmu. Chalia bisa membaca peta dengan akurat, lagi pula tujuan kita sama,” jelas Raven.


“Wah, wah, wah, ada dua gadis cantik.” Terdengar sebuah suara dari balik pohon.


“Sepertinya mereka keturunan bangsawan. Kita untung besar kali ini,” sahut yang lain.


“Pergi, jika tidak ingin terjadi sesuatu!” hardik Chalia galak.


“Hahaha, baru kali ini aku menemeui gadis bangsawan yang berani menghardik kita,” ujar seorang pria yang membawa sebilah pedang.


“Hei, lihatlah, gadis berambut biru itu terlihat manis, seperti seorang putri kerajaan,” sahut yang lain.


“Maaf, di sini akulah sang Putri,” sahut Chalia.


“Benar, putrinya ada di sebelahku, sedangkan yang di belakangku ini berkedudukan lebih tinggi,” jawab Raven. “Biar kami perkenalkan, gadis manis di belakangku ini bukan sang Putri, tetapi sang Ratu Sabit,” ujar Raven.


“Benar! Sedangkan lelaki tampan di belakangku ini bukan sang Pangeran, tetapi sang Raja,” sahut Chalia.


Para bandit itu terdiam, saling lirik, lalu mereka tertawa. “Hahaha, hormat kepada Raja dan Ratu.”


Belum selesai bandit itu bicara, sebuah tendangan membuat salah seorang bandit itu tersungkur. “Begitu caramu menghadapi sang Raja?” hardik Raven.


“Kurang ajar! Bunuh mere—” Ucapannya terpotong saat darah terpercik di wajahnya.


“Kami tak sekejam yang kau pikir. Temanmu tidak mati, hanya aliran mana sihirnya terhambat sementara,” ujar Raven.


“Kami memaafkan kalian. Pergilah sebelum kami berubah pikiran,” perintah Chalia.


“Tunggu,” tahan Efron membuat para bandit itu berhenti dan gemetar.


“Benarkah ini jalur menuju Maple Hill dan Gohol?” tanya Efron.


“B-benar, Yang Mulia. Jalur yang Anda ambil sudah benar. Setelah sampai di perbatasan, Anda hanya perlu menaiki kendaraan siput untuk sampai di atas,” jawab mereka ketakutan.


“Terima kasih. Pergilah dan segera obati luka temanmu.”


Tanpa berkata terima kasih, mereka langsung menjauh.


Mereka melanjutkan perjalanan, matahari terlihat di ufuk timur, seperti api yang sangat besar. Mereka terkadang masih bertemu binatang buas maupun kelompok bandit, terutama di Crimson Forest, tetapi dengan mudah lewati.


Setelah berjam-jam berjalan, sampailah mereka di wilayah Sunset Love. Suatu pemandangan membuat Raven, Chalia, dan Helena ngeri. Hanya namanya saja yang memakai Love, pada kenyataannya di sana-sini berserakan tulang-belulang, bahkan pepohonan di sini berasal dari tulang belulang manusia.


“Tempat yang bagus,” ujar Raven.


“Kepalamu!” bentak Chalia, sedang Efron hanya tertawa.