
Ledakan besar yang muncul membuat orang-orang ramai berkumpul mendekati gang tempatku bertarung dan hal itu pun aku manfaatkan , saat fokus gadis penyihir mawar itu kacau saat mencari ku diantara kegaduhan dan keramaian hingga akhirnya nanti dia akan melakukan serangan untuk mengakhiri semuanya.
Aku sempat menggendong Rea saat merampas nya dari gadis berotot untuk menyelamatkan gadis itu ketika ledakan terjadi, dengan kemampuan gadis penyihir semuanya bisa cepat kulakukan bahkan memudahkan aku untuk melompat tinggi dan mendarat pada atap sebuah gedung demi memperhatikan posisi lawanku dari atas seperti sekarang.
Aku yang mengira gadis penyihir mawar masih dibawah tidak menyangka jika tiba-tiba saja ada hawa keberadaan gadis penyihir mawar yang muncul dari belakangku dan langsung mencoba menghantamkan palu besar pada yang panik karena prediksi yang salah dan membuat aku yang sedang menggendong Rea kewalahan.
Untungnya aku mampu menghindar namun hentakan keras palu sihir itu membuatku goyah dan hampir tersungkur.
Gadis penyihir mawar memanfaatkan kondisi diriku dan langsung mengeluarkan sebuah senjata sihir berbentuk X-bow dengan ukiran dan atribut sayap yang muncul dari sebuah gelang di lengannya.
"Kau memiliki dua senjata sihir?" Seketika aku mengeluarkan pertanyaan saat terkejut melihat senjata shiri kedua dari gadis penyihir mawar itu.
Tentu saja pertanyaanku itu tidak dijawab dan gadis penyihir mawar tetap menembak aku yang terdesak disaat aku sedang menciptakan perisai militer untuk menghalau hujaman yang membuat anak panah X-bow itu terbentur kuat hingga mengeluarkan cahaya dengan gelombang kuat.
Aku tahu jika pandangan gadis penyihir mawar itu sedang terganggu karena silau berkat energi sihir dari perisai dan anak panah yang berbenturan, aku pun berinisiatif memanfaatkan momen itu untuk menciptakan banyak perisai lagi kemudian meletakkan nya di sekeliling Rea yang aku baringkan diatas lantai atap gedung agar gadis yang sudah babak belur tu terlindungi.
Setelah kilatan cahaya berakhir gadis penyihir mawar menendang perisai ciptaanku kemudian dengan nada tinggi berkata "Untung saja aku melompat duluan ke atap ini setelah ledakan tadi!"
"Aku tahu kau akan melompat ke tempat paling tinggi ini agar bisa menyerang dari atas Rena" Mata gadis penyihir mawar itu berkeliling saat mencari Rena yang menghilang lagi.
"Pintar juga taktik mu itu" Kata Gadis penyihir mawar yang akhirnya menemukanku saat sedang menyusun perisai pada Rea yang tak berdaya.
Dengan kecepatan tinggi ia melesat untuk menyerang ku lagi disaat aku tak sempat bertahan dan harus menerima hantaman keras palu sihir dibelakangnya sehingga aku terpental sampai ke tepi gedung yang tinggi.
Untung saja ajaibnya kostum gadis penyihir yang aku kenakan menyembuhkan tubuhku secara perlahan sehingga membuatku tidak terlalu merasakan sakit.
Senyuman tipis kekagumanku muncul saat mengetahui efek ajaib kostum gadis penyihir, setelah itu aku menoleh kebelakang dan menyadari jika mundur selangkah lagi aku akan jatuh dari gedung ini.
Aku mengangguk pelan karena tahu gadis penyihir mawar benar-benar ingin membunuhku dengan membuatku hampir jatuh, aku mengangguk pelan karena tahu niatnya, kemudian aku berjalan maju perlahan mendekati gadis penyihir mawar dengan menatap matanya dengan tajam,.
Seringai lebar yang sering ku gunakan untuk membunuh orang yang kuat sejak menjadi tentara bayaran pun muncul lagi setelah sekian lama.
“Apa-apaan tatapan itu!” Gadis penyihir mawar meninggikan nada bicaranya.
“Senyuman itu!” gadis penyihir mawar berlari mendekatiku untung menyerang dengan beberapa kali menembak X-Bow sihirnya yang sia-sia karena bisa aku tangkis dengan salah satu perisai militer yang aku bawa.
Gadis penyihir mawar kemudian mengganti serangan dengan menghantamkan palu mawar besarnya kearah kepalaku dengan kecepatan tinggi sembari berteriak “ Kau meremehkan ku ha!?”
“MEREMEHKAN LEN!”
“Salah satu gadis penyihir terkuat di kota ini yang memiliki banyak gadis penyihir sebagai pengikut!”
“Dan kau tau termasuk Ayn aku sudah banyak membunuh gadis penyihir di kota ini” mata Len memperhatikan gerakan tangan Rena yang mencoba menangkis serangan palunya beberapa kali.
“Dan mengambil point mereka untuk menambah kekuatanku” Len mengakhiri perkataannya kemudian memelankan hujaman serangannya karena kelelahan.
“Mengambil point?”
Aku melompat mundur dan dengan nafas yang terengah-engah dia mencoba melanjutkan perkataannya “jadi kekuatan yang kau miliki ini bukan berasal dari hal curang..”
“Tapi jika kau berbicara masalah pembunuh aku jadinya bersemangat” Aku menciptakan ratusan jenis pedang dari sarung tangan sihirku dan menerbangkannya.
“Kurasa tidak apa jika sekarang aku membunuh orang jahat pembunuh gadis penyihir sepertimu" Rena tersenyum kemudian mengambil dua pedang dari yang ia terbangkan dan dengan kecepatan tinggi langsung menyerang gadis penyihir mawar dengan sangat serius.
“Aku tidak akan segan pada pembunuh!” aku meninggikan nada bicara mengambil salah satu pedang yang ku ciptakan dan bertubi-tubi menebas tubuh Len bersama dengan tebasan pedangku yang terbang.
Len berusaha keras menangkis ratusan pedang ciptaan sarung tangan sihir ku namun dia tidak bisa menyamai kecepatan ku sehingga banyak tebasan mengenai tubuhnya.
“Apa-apaan ini?” kata Len yang merasakan betapa pedihnya beberapa tebasan yang kuberikan ditubuhnya hingga mengeluarkan darah cukup banyak.
“Kecepatan dan kekuatannya meningkat seketika?”
Mata Len terbelalak karena terkejut melihat wajah iblis haus darah dan serius saat aku berniat membunuhnya.
“Kau mengajak ku bertarung karena hanya ingin membalaskan dendam Bian?”
Rena berkata dan dengan tendangan udara menendang kepala Len dan membuat gadis penyihir mawar itu tersungkur.
“Atau hanya untuk bersenang-senang?” aku melompat dan melesak keatas tubuh len yang tersungkur dan menusukkan pedangnya pada bahu Len.
“AAARGH” Len yang berbalik terpojok itu menjerit kesakitan saat pedang dengan ukuran yang besar tertusuk pada bahunya.
“Jawab…” dengan nada dingin aku bertanya pada Len yang mengerang kesakitan sembari memutar pedang itu.
Namun tidak ada jawaban dari Len karena teriakan gadis penyihir mawar itu semakin kuat dan kencang di antara tangisan deras yang mengalir dimatanya.
Aku mengerahkan semua pedang yang terbang kearah tubuh Len yang tengkurap pada lantai atap gedung untuk mengakhiri hidup gadis penyihir mawar itu yang ku pilih untuk di bunuh, karena bagiku orang yang bangga membunuh orang lain dan tidak merasa bersalah harus dibunuh, aku tidak ingin orang-orang seperti parah pembunuh keluarga Karen yang tidak merasa bersalah musnah dari dunia ini.
Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri kemudian berkata “Maaf tapi kau tidak akan bisa mendapatkan semuanya karena kau akan kubun_”
Tindakanku terhenti saat pukulan kuat kurasakan pada punggung hingga membuatku sedikit muntah.
Aku menoleh kebelakang dan menemukan jika gadis berotot lah yang memukulku dengan senjata sihir berbentuk sarung tinju setelah berubah menjadi gadis penyihir dengan kostum bermotif hitam putih corak sapi.
"Sialan Bantuan” Aku mengumpat saat menjauh dari tubuh Len yang telah mengucurkan darah.
Gadis penyihir berotot itu langsung memberikan serangan kedua tepat disaat aku sedang menciptakan senjata lagi.
Aku mengarahkan salah satu pedangnya yang terbang ke arah kaki gadis penyihir berotot hingga tertancap kuat, gadis penyihir berotot itu pun mengerang kesakitan dan tak bisa bergerak untuk maju menyerang ku.
“Kepalamu akan hancur” aku berkata saat menodongkan shotgun yang baru saja selesai tercipta dari sarung tangan sihirnya tepat di depan kepala gadis penyihir berotot.
“Jika kau bersikeras membantu temanmu" kataku melanjutkan, dengan tatapan serius penuh aura membunuh.
Dari pintu koridor dibelakang aku mendengar langkah kaki seseorang dan saat menoleh kearah pintu itu ada seseorang gadis manusia yang masih mengenakan seragam SMA dan menggenggam sebuah pisau sembari berlari untuk mencoba menikam ku
“Bian!?” kataku saat mengenali gadis itu.