Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
34. Pengulangan



Dengan pakaian yang sangat manis dan modis yang cocok dengan wajah cantik miliknya sepertinya Karen memiliki niat untuk mengunjungi aku di kota ini, tapi bagiku bagaimanapun juga waktunya sangat cepat aku kira dia akan datang beberapa minggu bahkan beberapa bulan lagi, aku sangat senang dia datang mengunjungi tapi sekarang aku berada dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk menerimanya sebagai tamu.


Rumah yang lebih tepatnya milik Rena yang asli sudah hancur dan sekarang aku dikepung oleh anggota kepolisian dalam jumlah besar, tidak ada tempat untuk dirinya mampir bahkan jika diluar seperti ,ini dia akan melihatku dikejar-kejar polisi, bahkan buruknya bisa terlibat dalam peristiwa yang membuat aku dan Clara terpojok ini, entah itu Karen bisa tertangkap bahkan tertembak oleh polisi.


"Aku punya rencana" tiba-tiba aku melontarkan perkataan pada Clara yang masih memasang wajah yang santai ditengah situasi terpojok.


Aku memperhatikan barisan gerombolan para polisi yang sedang menodongkan senjata pada kami berdua untuk memperkirakan jarak untuk aku terbang cepat melewati mereka dan tiba di dekat Karen dan menjemput gadis itu untuk terbang lagi meninggalkan tempat dimana kami di kepung sekarang ini.


"Rencana?" tanya Clara yang tak kunjung mendapatkan penjelasan lanjutan dariku terkait rencana untuk menangani situasi yang mendesak aku dan Clara.


Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyum, kemudian mendekatinya dengan langkah cepat dan melakukan tindakan yang membuatnya terkejut saat aku memeluk tubuhnya.


"Wah apa yang kau lakukan kak Rena" kata Clara dengan sedikit terkekeh karena kegirangan.


"Clara ayo berubah" aku berkata pada Clara saat sebelah tanganku menekan Handphone Sihir untuk berubah, sehingga akhirnya diikuti juga oleh Clara.


Melihat kelap-kelip cahaya perubahan wujud yang menyelimuti kami para polisi di depan kami menambah kewaspadaan dan mengeluarkan tameng anti huru hara mereka  sebagian dari mereka ada yang menembaki kami, aku menghiraukan tindakan para polisi itu dan melanjutkan perkataanku pada Clara yang masib aku peluk "Clara buat sepatu pegas lalu terbangkan aku."


"Baik kak" Clara mengangguk dan seketika menciptakan pegas pada sepatu sihirnya.


Clara mulai menekan pegas pada kakinya dan aku pun memberi energi sihir saat ikut menghujam kearah tanah agar tekanan pegasnya semakin kuat sehingga cahaya karena energi sihir yang aku keluarkan muncul dan cukup untuk membuat mata para polisi silau dan menjadi bingung.


Sebelum melompat terbang kearah langit aku  menyempatkan untuk menciptakan berbagai senjata api yang ku buat melayang untuk menyerang tanah didepan para polisi berpijak agar menciptakan debu untuk menambah langkah pengalihan demi kabur dari kepungan mereka dan kemudian kami pun melompat dengan ketinggian mencapai %00 meter berkat pegas dan dorongan energi sihir yang aku keluarkan.


Saat melayang di langit mataku masih terfokus pada Karen yang nampak kebingungan dengan keramaian para polisi yang tiba-tiba di kota ini, kemudian karena diatas langit ini kami sudah aman dengan incaran polisi aku langsung mendekati Karen dengan terbang menggunakan kemampuan umum gadis penyihir yang aku miliki diikuti dengan Clara di belakangku untuk melewati barisan para polisi yang terlihat begitu kecil dari atas langit.


"Terimakasih atas bantuannya" Ucapku pada Clara di sebelahku setelah mendarat di dekat Karen dan membuat wajah Gadis Penyihir Badut itu berseri-seri dan langsung membalas ucapanku "Sama-sama Kak Rena."


"Rena, kostum apa itu" tentu saja kata pertama yang muncul dari Karen keluar seperti itu saat melihatku berada dalam wujud gadis penyihir berwarna biru.


Aku menarik lengan Karen dengan cukup kuat untuk mengamankannya kemudian membawanya kearah stasiun kereta cepat bawah tanah agar bisa melarikan diri sembari berkata "Nanti aku jelaskan ikut aku dulu."


Tetapi beberapa polisi ada yang menyadari keberadaan aku dan Clara di dekat belakang barisan mereka sehingga langsung banyak dari mereka yang mengejar kami.


"Ada apa ini Rena?" tanya Karen yang kebingungan melihat para polisi itu mengejar kami.


"Menyerah lah kalian berdua" para polisi itu berteriak sembari mengeluarkan rentetan tembakan pistol yang hampir mengenai aku dan Karen.


"Kita ditembaki polsi!" teriak Karen padaku saat mendengar dentingan peluru-peluru menghujam besi disekitarnya,


Dan tentu saja aku yang berada dalam lautan desing peluru itu tidak bisa menjawab pertanyaan Karen karena terlalu fokus menghindar dan mewaspadai peluru-peluru itu agar Karen tidak terkena, aku pun dengan cepat menciptakan perisai melayang yang mengitari tubuh Karen demi melindungi gadis itu sembari berteriak pada Clara "Clara buat mereka sibuk, aku akan memberikan apapun yang kau mau sebagai imbalannya."


"Benarkah!" Seringai lebar nan ceria seketika muncul pada wajah Clara yang senang dengan perkataanku.


Kemudian dengan wajah yang berseri-seri Clara langsung menciptakan machine gun pada sepatu kanannya dan di sepatu kirinya tetap mempertahankan pegas.


"Baiklah!" Clara berkata kemudian mengangguk setelah itu gadis itu pun mengeluarkan rentetan tembakan peluru machine gun dari sepatunya dengan brutal saat melompat-lompat seperti kelinci  dan membuat darah para polisi itu berhamburan di sekitar jalanan aspal.


"Ada apa ini" tanya Karen disaat suaranya bersaingan dengan bunyi hentakan sepatu kami yang berdetak teratur saat menuruni anak tangga kereta cepat bawah tanah ini.


Aku menghentikan langkah kakiku kemudian berbalik kearah KAren dan menyentuh kedua pundaknya yang kecil  "Bukan keanehan Karen."


"Lihatlah" kataku melanjutkan saat menunjuk kostum gadis penyihir bermotif matahari bewarna biru milikku.


"Aku menggunakan kostum gadis penyihir, ini bukan Cosplay Karen" kataku dengan nada riang dan sejenak melupakan situasi mencekam yang mendesak yang baru ku alami barusan.


"Aku sekarang menjadi seorang gadis penyihir sungguhan" aku mengeluarkan senjata sihirku yang berbentuk tangan kucing.


"Benarkah" kata Karen dan seketika matanya pun menjadi berbinar-binar.


"Wah sungguh menakjubkan" kata Karen takjub dan langsung menerima perkataan tak masuk akal bagi manusia biasa sepertinya dia juga memasang wajah tak percaya sekaligus bahagia saat mendengar perkataanku.


"Aku yakin kau sangat senang" kataku sembari memberikan senyum bahagia padanya,


"Kau masih ingat jika aku suka gadis penyihir Rena?" tanya Karen.


"Tentu saja" aku mengangguk saat berperan sebagai Rena teman masa kecilnya yang berpura-pura tahu jika Karen menyukai gadis penyihir saat kecil, padahal dulu aku tahu sendiri kesukaannya itu saat tinggal satu rumah dengannya,


"Tapi, bagaimana bisa hal fantasi bisa terjadi di dunia nyata seperti ini" kata Karen dan mulai berlari kecil mengikuti langkah cepat ku yang ingin mencari kereta cepat yang bisa ditumpangi untuk kabur.


"Nanti aku jelaskan setelah kita berhasil keluar dari situasi mendesak ini" kataku saat menoleh padanya dan saati tu juga dari belakang Karen aku melihat dari jalur berlawanan rombongan polisi yang lengkap dengan setelan SWAT dengan senjata laras panjang sedang menumpangi kereta kosong.


"Kenapa kau dikejar polisi bukannya tugas gadis penyihir menyelamatkan manusia" Karen melanjutkan perkataannya saat memperhatikan wajah panik yang aku munculkan.


"Bukan dikejar seperti kriminal seperti sekarang" dan akhirnya Karen pun ikut menoleh kearah para polisi bersetelan seragam SWAT itu.


"Nanti akan aku jelaskan juga kenapa aku dikejar!" kataku dengan nada tinggi pada Karen dan kembali menarik tangan gadis itu untuk menjauh dari para polisi berseragam SWAT yang turun satu persatu dari kereta cepat dan mulai mengejar kami.


Karena sudah menemukan gerbong yang kosong aku pun menghilangkan perisai yang mengitari tubuh Karen supaya muat untuk masuk ke pintu gerbong kereta cepat itu sembari berlari kemudian tiba-tiba saja Karen yang aku genggam tangannya itu tersungkur dan seketika membuatku berteriak.


"Karen Bahaya!"


Dan saat kulihat kakinya sudah dilubangi oleh timah panas aku mencari sumber tembakan yang terarah pada kaki Karen yang berasal dari samping kami dan ternyata yang menembak bukanlah para polisi melainkan sosok bertudung hitam yang pernah kulihat membantu Agura di pelabuhan waktu itu dengan sebuah pistol kecil yang ia genggam dengan tangan kecilnya yang seperti tangan seorang gadis muda.


Aku bisa melihat sekelebat senyuman seorang gadis dari balik bayang tudung hitam itu meskipun tidak sepenuhnya jelas wajahnya dan saat aku teralihkan, rupanya para polisi yang mengira akulah yang mengeluarkan bunyi tembakan tadi membalas bunyi satu tembakan itu dengan ratusan rentetan tembakan peluru senjata laras panjang mereka yang terarah ke arahku dan sialnya mengenai Karen duluan di depanku.


"Karen_" perkataanku terputus aat menyaksikan tubuh Karen yang baru saja akan berdiri dibredel dengan beberapa peluru ditubuhnya sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak


"Tidak" Aku bergumam saat melihat gadis yang aku cintai itu sekali lagi tergeletak tak berdaya diatas lantai stasiun dan menjadi tak berdaya.


Aku menciptakan perisai yang banyak kembal untuk melindungi diriku dari rentetan tembakan dan berlari kearah KAren yang bersimbah darah dan memangkunya di atas pahaku.


"TIDAK!" aku berteriak lirih.


"Bukan seperti ini yang aku mau" tangisan yang tersedu-sedu yang tak tertahankan pun seketika keluar dari mataku saat melihat kematian Karen yang terulang.