
"Sialan!"
Aku mengumpat kearah para polisi berseragam SWAT yang mulai berlari kecil ke arahku untuk memberi serangan kedua, aku pun langsung menerbangkan perisai ku tadi saat mereka sibuk berlari dan sembari mengumpat mereka kali ini dengan teriakan yang sangat kencang.
"SIALAN KALIAN! "
Saat beberapa dari mereka terjatuh oleh hantaman perisaiku dan tubuh mereka yang jatuh itu membuat beberapa teman mereka tersandung dan akhirnya susunan mereka kewalahan aku pun memanfaatkan celah mereka itu dengan mulai menciptakan AK-47 sebanyak-banyaknya menggunakan kecepatan tinggi.
Aku memperhatikan satu persatu dari mereka bangkit setelah memastikan jika AK-47 ku telah sempurna aku ciptakan, kemudian saat barisan depan mereka mulai jongkok untuk berdiri aku pun langsung menembaki mereka dengan memasukkan energi sihir yang cukup besar sembari berkata dengan nada tinggi "Kalian membuat usahaku menjadi sia-sia!"
Satu persatu dari polisi berseragam SWAT itu terkapar karena rentetan tembakan AK-47 ku yang memunculkan kelap-kelip warna-warni sihir dan merah darah mereka yang muncrat seperti kembang api muncul untuk menghiasi kematian mereka yang wajar karena telah membunuh Karen, aku yang sudah terlanjur terbakar emosi langsung menciptakan berbagai senjata lagi di mulai dari senjata peledak bahkan belasan pedang dan langsung membantai para polisi berseragam SWAt tersebut dengan cepat dan tepat.
"Ternyata gadis pembunuh itu benar-benar bisa melakukan hal ajaib!" salah satu dari ,para polisi berseragam SWAT itu menjatuhkan senjatanya dan langsung berlari kearah atas tangga untuk meninggalkan stasiun kereta cepat bawah tanah ini demi menyelamatkan diri dari pembantaian yang telah aku mulai.
Salah satu pedangku tentu saja aku gunakan untuk mengejarnya dan menusuk kepala belakanganya dan membuat dia tersungkur bersimbah darah tanpa sempat keluar dari stasiun kereta bawah tanah ini.
Dengan pedang, pistol bahkan senjata peledak aku membantai para polisi berseragam SWAT itu dengan kecepatan tinggi sembari berkata dengan nada tinggi saat menyerang mereka .
"Tak akan ku maafkan!"
Dengan senjata peledak aku meruntuhkan lorong turunan tangga menuju kereta bawah tanah ini agar tidak ada bantuan yang datang dari polisi biasa yang mengepung kami yang saat ini sedang diladeni oleh Clara itu karena bisa datang ke sini melewati tangga itu dan juga supaya bisa mencegah para polisi berseragam SWAT yang ketakutan dengan giliran mereka dibantai keluar gerbong serta menembaki kereta mereka juga agar tak bisa pergi ke stasiun lainnya untuk melarikan diri.
"Akan ku bunuh kalian agar tidak bisa menghalangiku lagi!" dengan nada tinggi aku melanjutkan pembantaian dengan energi sihir yang meluap tidak ada satu pun serangan para polisi berseragam SWAT itu yang bisa melukaiku serangan ku pun akibat sihir menjadi lebih kuat sehingga menciptakan tarian membunuh yang sangat indah dariku dihiasi dengan darah asap dan peluru.
Saat selesai membantai mereka hujan darah pun muncul dan aku yang terdiam karena melamun langsung memfokuskan diri untuk mencari mayat Karen tadi diantara lautan mayat para polisi yang aku bunuh ini.
Aku mengangkat tubuh Karen sembari memberitahu Clara dengan telepati sesama gadis penyihir jika dia harus menghabisi semua polisi itu agar tidak ada yang menghalangi diriku untuk menghidupkan Karen untuk kedepannya dan dengan terkekeh riang Clara pun menuruti pintaku, setelah itu sembari menangis dengan terbang aku membawa mayat gadis yang aku cintai sembari mencari Lep demi menanyakan kesempatan lain untuk diriku.
Setelah hampir satu jam lamanya aku pun menemukan Lep di atas sebuah tower dan sedang memandangi pemandangan kota Batavia di malam hari yang diiringi dengan bunyi sirine polisi yang bertebaran di mana-mana dan kacau karena perbuatanku dan Clara
Saat aku mendarat di dekatnya dengan menggendong Karen dalam dekapanku setelah menoleh pada mayat Karen Lep kemudian menoleh ke arahku dan berkata "Sepertinya kau telah menjadi kriminal nomor satu di negeri ini Rena, karena tindakan mu demi satu orang yang begitu kau cintai."
"Kau tahu aku mencintai gadis ini?" tanyaku curiga karena perkataannya yang seolah-olah tahu jika aku sangat mencintai Karen padahal dia hanya tahu jika aku ingin menghidupkan Karen saja.
"Aku menebak-nebak saja" lep terkekeh,
"Terserah" kataku yang tak peduli lagi dengan perkataannya yang mencurigakan itu kemudian meletakkan pelan tubuh Karen di permukaan besi tower tempat aku dan Lep berpijak, setelah itu aku berjalan mendekati Lep yang berdiri di tepi kemudian bertanya "Jawab apa aku masih bisa meminta pengabulan impian?"
"Bisa, sampai kapanpun gadis penyihir bisa mewujudkan impiannya selagi mereka bisa mengumpulkan jumlah Hope Point yang mereka perlukan untuk mengabulkan impian mereka" Lep kemudian berbalik dari tepi tower dan dengan langkah kaki kecilnya berjalan mendekatiku.
"ini" ucapku saat menunjukkan Hope Point yang aku kumpulkan dari membunuh banyak polisi berseragam SWAT tadi dan berharap Hope Point yang jumlahnya sedikit ini bisa membuat Lep mengabulkan impianku untuk menghidupkan kembali Karen untuk kedua kalinya.
"Masih belum cukup" Lep menjawab cepat dengan wajah datarnya.
"Kau harus membantai para Less lagi" dia mengakhiri perkataannya dengan menatapku dalam dengan mata bulatnya yang kosong, seakan terhisap oleh tatapan mata penguinnya aku pun begitu saja menerima saran darinya dan beberapa hari setelahnya aku telah banyak membunuh Less di kota batavia berkat Clara kau pun menjadi sangat cepat mengumpulkan Hope Point
"Sudah aku lakukan" kataku setelah satu minggu berlalu saat menemui Lep di sebuah halaman gedung SMA yang kosong dan memberikan Handphone Sihirku pada Lep untuk menunjukkan Hope Point yang aku dapatkan bersama Clara saat menghabisi setengah Less di kota batavia ini.
"Kau dibantu Clara lagi ya?" kata Lep saat memperhatikan jumlah Hope Point yang aku kumpulkan.
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Lep dengan tidak berkata apapun.
"Dimana gadis itu sekarang?" tanya Lep lagi kemudian mengembalikan Handphone Sihirku.
"Clara ada urusan dengan beberapa gadis penyihir yang ingin membunuhnya" jawabku cepat.
Lep terkekeh kemudian berkata "Baiklah akan aku kabulkan permintaanmu."
Lep mengangkat tangannya seperti berdoa dan dari tubuhnya mulai memunculkan cahaya putih seperti sedang mengumpulkan energi.
Selagi melakukan proses pengabulan impian dia menyempatkan berbicara padaku "Wah kau sangat hebat demi impianmu kau bisa melakukan semuanya dengan waktu singkat."
Aku mengabaikan perkataannya dan menyela perkataan maskot gadis penyihir itu dengan perkataan permintaan dariku "Aku punya permintaan tolong hidupkan kembali Karen di dekatku saja."
"Baiklah" Lep mengangguk dan menguatkan energi miliknya kemudian mengarahkannya kearah belakang tempat aku berdiri pada Lapangan depan gedung SMA kosong ini.
Setelah selesai Lep menunjuk kearah belakangku, aku pun mengikuti arah sayap Lep menunjuk dan melihat ada Karen yang berdiri di belakangku dengan wajah kebingungan.
"Karen" ucapku dengan senyum ceria yang dihiasi tangisan bahagia sekali lagi.