Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
19. Kesatria



Melihat Qori yang kelelahan pada dekapanku dan Rea yang masih berdiri terpaku saat menangis tersedu-sedu dan perasaanku yang tak karuan karena kejadian besar yang tiba-tiba ini membuatku tidak berniat mengejar Agura dan sosok berjubah hitam misterius itu yang telah hilang, aku mencoba menenangkan Rea dan membaringkan Qori yang masih shock agar gadis tomboy itu nyaman.


Diantara kesibukanku aku memperhatikan jika para Less yang tersisa di langit dan di daratan dituntaskan hampir semuanya oleh Gadis Penyihir Kesatria yang mengerahkan sepenuhnya kekuatan pedang sihirnya yang besar, setelah selesai memenuhi tugas untuk membantu kami dia pun langsung turun dari langit dan menghampiriku tanpa sedikitpun mengecek Handphone Sihir seperti gadis penyihir lain yang datang bersamanya untuk memeriksa Hope Point yang masuk.


Para fans Agura dan anak buha Len pun diamankan dan berhasil diamankan oleh gadis penyihir lain yang datang bersama gadis penyihir kestaria yang jumlahnya lebih banyak.


“Kau tidak apa-apa” Gadis Penyihir Kesatria berkata dan berjongkok saat mendekatiku.


“Yaa, seperti itulah” aku mengangguk  pelan kemudian dengan perasaan khawatir aku menoleh pada Qori kemudian Rea.


Dengan wajah yang cemas dan tatapan mata yang sendu kearah gadis penyihir kesatria itu aku melanjutkan  perkataanku “Tapi, teman-temanku.”


Gadis penyihir kesatria ikut menoleh pada Qori dan Rea kemudian menunjuk arah jalan luar pelabuhan “Kebetulan Rumah keluargaku salah satu klinik di dekat sini, kalian bertiga memulihkan diri di sana dulu.”


“Terima kasih”ucapku dengan menatap sendu gadis penyihir kesatria itu kemudian aku mengangguk lesu.


***


Setibanya di klinik yang berada dalam kondisi sedang tutup milik keluarga Gadis Penyihir Kesatria aku langsung duduk pada sofa yang ada di ruangan kliniknya dan membaringkan Qori yang masih lemas dan tak bisa bangun beserta Rea yang membisu dengan wajah murungnya.


Sepertinya karena kami yang paling dirugikan dan terkena dampak pertarungan paling parah Gadis Penyihir Kesatria hanya mengajak kami bertiga di klinik ini, dan menyerahkan urusan para Fans Agura dan bawahan Len yang menyebabkan semuanya pada gadis penyihir lain.


“Terimakasih atas bantuanmu, ee…” ucapku yang masih belum tahu nama gadis penyihir kesatria ini .


“Namaku Mily” dengan gadis penyihir kesatria itu menjawab cepat saat mengerti jika ingin tahu namanya.


Aku pun berinisiatif memberitahu namaku “Ah, namaku_”


Namun perkataanku dipotong olehnya yang tersenyum ramah nan hangat padaku “Rena, aku sudah tau namamu.”


“Kau akhir-akhir ini selalu menjadi perbincangan Rena” kata Mily lagi sat melihat wajahku yang kebingungan karena namaku diketahui olehnya yang baru kukenal.


Setelah mengatakan itu Mily, berbalik dengan mengeluarkan peralatan pertolongan pertama untuk kami bertiga dan sepenuh hati merawat kami dengan begitu mahir seperti sudah terbiasa.


“Sekali lagi terimakasih atas bantuanmu dan teman-temanmu” Aku mengulang ucapanku saat Mily mendekat dan duduk pada sofa di hadapanku.


“Mereka bukan teman-temanku” Jawab Mily kemudian mengambil smartphonenya di meja sofa yang kami duduki.


Kemudian memperlihatkan padaku postingannya pada Outstagram dan berkata “Lewat sosial media aku meyakinkan gadis penyihir yang berada di dekat sini jika ada Less yang banyak di dekat rumahku.”


“Aku memanggil mereka karena tidak yakin bisa mengatasi Less sebanyak itu sendirian dan menunggu mereka datang dulu” Mily meletakkan kembali smartphonenya ke meja.


“Aku tidak menyangka jika di sana ada kalian bertiga yang kesusahan” lanjut Mily yang memasang pandangan sendu dengan ekspresi wajah yang penuh rasa bersalah.


“Seharusnya aku tidak perlu menunggu yang lainnya untuk pergi bersama-sama” Mily berkata dan memperlihatkan gestur mengusap-usap pipi putih mulusnya karena merasa tidak enak padaku.


“Tidak apa” jawabku dan memberikan senyum simpul.


“Kudengar, di sana ada anak yang mengaku fans Agura dan bawahan Len, apa dua orang itu juga ada di sana?” tanya Mily dengan nada tenang nan serius.


Aku mengambil nafas sesaat untuk menenangkan diri dan bersiap dengan apapun reaksi yang akan diberikan Mily dari jawabanku, kemudian melanjutkan “Sudah aku bunuh.”


“Begitukah” tanggapan singkat terlontar dari mulut Mily, dengan wajah yang tenang dan begitu biasa saja.


“Reaksimu kenapa seperti itu?” aku yang merasa aneh dengan reaksi tak wajar itu bertanya.


“Aku mewajarkan tindakanmu, karena dari dulu sudah banyak gadis penyihir yang ingin membunuhnya” jawab Mily dengan memandangku menggunakan mata yang sendu.


Tangan Mily terkepal “Sifat dan bisnis mafianya itu membuat kami dendam.”


“Tapi kami takut dengan keluarganya makanya selama ini kami biarkan” Mily melanjutkan dan memberikan senyum tipis padaku, yang seakan-akan sedang memberikanku pujian atas tindakanku membunuh Len.


“Para Less sebanyak itu apa disebabkan mereka juga?” tanya Mily saat matanya menoleh pada jendela luar klinik.


“Ya, kata Agura Lep memberikan mereka senjata sihir yang bisa mengendalikan Less” jawabku.


“Lep?” dengan wajah kurang percaya Mily memiringkan kepalanya.


Mily mengelus-elus lehernya dan berkata “Ya, sebenarnya dari dulu aku juga sedikit curiga dengan penguin itu.”


Mily menatap arah plafon sembari berkata “Hampir setiap gadis di kota ini dia jadikan gadis penyihir tanpa memikirkan kriteria yang tepat demi melindungi bumi dari serangan Less.”


“Asalkan memiliki Impian gadis muda manapun dia pilih menjadi gadis penyihir, karena itu banyak yang sifatnya buruk seperti Agura dan Len” tangan Mily terkepal kuat wajahnya pun seketika menunjukkan ekspresi kekesalan.


“…Juga gadis penyihir Joker” kata Mily saat melontarkan nama gadis penyihir lain dengan suara yang begitu kecil sehingga mirip seperti sedang berbisik.


“Joker” tanyaku yang penasaran dengan julukan unik gadis penyihir itu.


“Ah, lupakan”


Mily langsung mengalihkan pembicaraan kemudian berbalik untuk keluar klinik dan melanjutkan perkataannya “Ngomong-ngomong aku tadi sempat memanaskan sup.”


Sembari memakan sup Aku dan Mily mengobrol dengan cukup lama meskipun Qori dan Umi tidak sedikitpun bergabung dalam obrolan dan hanya fokus menghabiskan sup untuk mereka. Kemudian kami bertiga saat sadar jika hari sudah cukup larut memutuskan pulang dengan ditemani Mily.


Sepenjang perjalanan bersama Mily entah mengapa membuatku teringat sedikit dengan Karen, karena memiliki sedikit kesamaan dari sifat baiknya, suka mengobrol, ramah bahkan sama-sama memiliki klinik keluarga.


Sifatnya yang baik saat menolong kami benar benar sesuai dengan kostum gadis penyihir miliknya yang bergaya kesatria, kesan yang dia berikan padaku bak kesatria sesungguhnya yang ada pada cerita dongeng.


Bahkan saat berpisah dia memberikanku nomor Smartphonenya dan memintaku menghubunginya jika ada kesulitan di kota Batavia ini sebagai gadis penyihir.


***


Sejak kejadian besar itu berminggu-minggu hari terlewat tidak ada gangguan yang datang dari Agura, aku bersekolah seperti biasa tapi hari-hariku seketika terasa berbeda, karena sejak kejadian besar itu, Rea yang masih merasa bersalah tidak ingin bertemu aku lagi dan Qori selalu mengurung diri dirumahnya karena masih berduka dan tidak percaya jika dia kehilangan Umi sahabatnya.


“Oi Rena” tapi hari ini sepulang sekolah suara Qori yang cukup ceria memanggilku, aku pun menoleh pada gadis yang baru aku lihat lagi setelah sekian lama.