Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
6. Teman dan Musuh



"Tentu saja kami mau" Rea di sebelahku menjawab cepat permintaan bergabung dari dua gadis di depanku itu padahal aku sendiri belum menjawabnya.


Rea pun menoleh dengan bola mata yang berbinar saat menatapku.


"Iya kan Rena?"


Aku dibuat Rea tidak bisa menolak karena gadis itu memasang ekspresi bahagia yang terang benderang senang mendapatkan teman baru untukku dan tentu saja membuatku tak enak menolaknya.


Aku mengangguk perlahan dan menerima ajakan itu, lagipula  mungkin saja saat bergabung dengan party sesama gadis penyihir ini aku bisa mempelajari lebih banyak tentang sistem gadis penyihir di kota ini supaya mempermudah aku  mengumpulkan Hope Point untuk menghidupkan Karen kembali.


Gadis penyihir koboy menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan juga setelah itu berkata "Kalau begitu kami akan memperkenalkan diri."


"Perkenalkan namaku Qori Atrea" Gadis penyihir koboy meraih tanganku kemudian Rea untuk berjabat.


"Aku, Umi Zera" Gadis penyihir bulan sabit mengikuti.


"Mulai hari ini, party kita secara resmi terbentuk" Gadis penyihir koboy berkata dengan senyuman yang tersirat diantara wajah keren miliknya yang cantik diantara rambut pendek hitam yang ter lambai oleh angin malam.


***


Beberapa hari setelahnya, Rea,  Qori dan Umi  setelah menjadi party untuk saling membantu dalam memburu Less dan mendapatkan Hope Point namun jarak hubungan kami untuk dikatakan sebagai teman masih sangat jauh.


Kebetulan kami bersekolah di tempat yang berbeda saat pulang sekolah selalu bertemu untuk merencanakan pemburuan Less dan selalu setelah selesai kami hanya mengucapkan salam saja sebagai formalitas tanpa basa-basi apalagi sekedar mengobrol.


Dan hari ini Rea yang kecewa dengan sifat ketidakakraban kami  melampiaskannya dengan memaksaku jalan-jalan menemaninya berkeliling kota Batavia dan diakhir perjalanan dia mentraktirku sebuah ice cream dari minimarket yang menjadi tempat kunjungan terakhir kami berdua.


"Rea"


Aku memanggil nama gadis itu saat tiba-tiba saja kepalaku dihantui pertanyaan tentang mahluk misterius bernama Less yang sering kami hadapi.


Rena melirik ke arahku saat menjilati perlahan ice cream strawberry miliknya.


"Apa?"


"Less kemarin jika menimpa kakek nenek itu apakah akan  membuat mereka mati tertindih?" tanyaku yang penasaran dengan efek yang terjadi jika manusia terkena dampak serangan Less.


"Apa Less bisa menyerang manusia seperti binatang buas lainnya?"


Rea menanggapi perkataan ku dengan menggeleng kemudian dengan cepat menggigit ice cream miliknya untuk langsung dihabiskan, Rea  kemudian membanting stik ice cream nya kedalam kotak sampah kemudian berkata "Manusia yang tidak sengaja kena serangan Less jiwa mereka akan terjebak dalam sebuah dunia aneh yang mirip dunia mimpi dan mereka akan mati karena kehilangan jiwa tanpa tubuh yang hancur."


"Tubuh manusia tidak hancur?" mataku terbelalak saat bertanya lagi.


"Tidak, meskipun bisa dilihat Less adalah makhluk semi astral karena tidak bisa menyentuh tubuh manusia" Rena menjawab dengan memasang wajah yang serius.


"Less hanya tertarik mengkonsumsi energi positif manusia rupanya" kataku sembari mengalihkan pandangan dari Rea untuk menatap jalanan sepi yang menjelang senja.


"Tapi jika seorang manusia terlalu banyak diserap energi positifnya jiwa mereka juga lama-lama akan hilang" lanjut Rea yang kali ini menoleh padaku.


"Bukankah kau juga sudah tahu, soalnya itu pengetahuan umum para gadis penyihir loh" Rea menyipitkan matanya bersama air muka kebingungan yang tersirat saat menoleh padaku karena sadar jika pertanyaanku aneh.


"Ke, kebetulan aku sudah lupa" aku berdalih dan terpaksa menunjukan seringai panik padanya karena tak sengaja keceplosan.


Beberapa saat kemudian kami yang sadar jika hari sudah mulai gelap memutuskan untuk pulang dan setelah berpisah dengan Rea di persimpangan jalan aku bertemu dengan gadis cantik bergaya selebritis dari kelasku yang kemarin kelihatan kesal dari tatapan tajam nan dinginnya saat aku menjadi jagoan dan mengalahkan 2 gadis yang menggangguku, dan sekarang masih menatapku seperti itu.


Dengan begitu dingin gadis itu berjalan perlahan ke arahku dan masih mempertahankan tatapan amarahnya kemudian saat berpapasan denganku dia berkata  dengan nada mengintimidasi “Besok sepulang sekolah temui aku, aku ada sedikit hadiah untukmu.” gadis itu kemudian menoleh padaku dan memberikan tatapan remeh.


Aku hanya tersenyum tipis karena terkesan dengan tindakannya yang mencoba mengintimidasi diriku yang sudah terbiasa dengan ancaman, aku pun mengangguk dan berniat akan menemuinya sepulang sekolah dan menantikan 'hadiah' yang akan diberikan gadis itu karena telah menghajar dua orang yang mungkin temannya.


Bak seorang bos sebuah kelompok Bian berdiri sombong di hadapanku dengan tatapan remeh yang mengintimidasi karena tidak suka dua anak buahnya aku beri pelajaran.


“Ini uangnya” Bian, memberikan uang pada kedua siswa laki-laki sma lain bertubuh tinggi besar dengan rambut yang diwarnai merah dan kuning bergaya preman sekolahan yang berdiri gagah di sampingnya.


“Setelah dia menyerah boleh kami nikmati?” Si laki-laki dengan rambut yang di cat merah  disebelah kanannya berkata.


“Iya, terserah apa mau kalian” Bian berkata sembari menepuk pundak laki-laki berambut merah dan juga bewarna emas di sebelah kirinya.


"Kau sangat baik Bian!" Laki-laki berambut warna emas disebelahnya itu tersenyum lebar saat menatapku dengan tatapan mesum.


Sembari tersenyum aku menunduk memandangi tubuh Rena ini yang menurutku tubuh yang telah menjadi waha jiwaku ini hanya tubuh gadis kurus  yang masih sangat suci dan polos dan mau tidak mau aku harus mengalahkan mereka.


“Tidak sanggup melawanku sendirian ya”


Aku menjatuhkan tas selempang milikku kepermukaan tanah.


“Baiklah akan ku layani” kemudian aku memasang kuda-kuda yang sering aku gunakan saat menjadi tentara bayaran dan siap melawan kedua preman yang masih muda itu.


“Iya setelah itu layani kami di tempat yang empuk kan?” laki-laki berambut kuning berkata hal yang menjijikan padaku kemudian maju duluan menyerang dengan diikuti  si rambut merah.


“Mau apa kau dengan tubuh lemah seperti itu” kata si rambut merah melihat tubuh mungilku yang baginya mungkin terlihat lemah.


“Lebih baik menyerah dan langsung saja bermain dengan kami” kata si rambut kuning saat melirik wajahku dengan tatapan nanar nya.


“Hahahaha”


Kedua laki-laki preman SMA berambut warna itu tertawa serentak seakan yakin bisa menang melawanku.


Aku mengabaikan tawa remeh kedua orang itu untuk tetap fokus saat memikirkan bagaimana cara menang dari mereka berdua menggunakan tubuh gadis remaja  yang sangat lemah dan ringan ini tanpa harus dibantu dengan kekuatan sihir.


Belum selesai aku berfikir hujaman demi hujaman dari tinju dan tendangan kedua laki-laki SMA itu yang mencoba menghantam tubuhku itu makin kencang, tapi sama sekali tidak bisa mengenai tubuhku karena serangan mereka sangat mudah dibaca arahnya dibanding para tentara lawan dan para mafia yang pernah ku bunuh.


Aku akhirnya sadar jika tubuh ringan keuntungannya bisa bergerak cepat dan tentu saja dengan tinggal menambahkan sedikit teknik dari berbagai pengalamanku beberapa saat kemudian mereka pun mengerang kesakitan


”Akhakkkhakhaaakkk”


Tawa kedua orang itu tadi pun seketika berubah menjadi permintaan ampunan dengan terbatuk-batuk setelah dicekik serta tubuh mereka sudah babak belur pukulan di titik fatal yang aku berikan.


“Segini saja?” Aku berbalik dan mengambil kembali tas selempang yang aku. jatuhkan.


“Kau bukan Rena” Bian yang bingung berkata, sembari menoleh pada kedua temannya yang  berlari meninggalkannya karena takut.


“Siapa kau...”


Bian terduduk kebelakang dengan keringat dingin yang menetes dan menatapku dengan ketakutan serta terduduk dan terseok-seok saat aku mendekatinya.


“Barusa,n aku hanya mengeluarkan sifat asliku agar kau tidak menggangu lagi” Aku berdalih lagi untuk mengancam Bian agar tidak menggangguku, supaya aku bisa tenang menjalani kehidupan untuk memenuhi misi membunuh ribuan less demi Karen.


“Sialan kau!”


Meskipun masih ada rasa takut Bian dengan cepat berdiri kembali dan mengeluarkan sebuah handphone sihir dari sakunya.


“Magical Change” Bian mengucapkan mantra yang tak asing bagiku saat menekan tombol  handphone sihir yang baru saja ia keluarkan dari saku rok SMA nya.


Dan seketika munculah proses perubahan Gadis Penyihir yang begitu meriah dengan cahaya-cahaya sihirnya yang kelap-kelip dengan begitu indah membungkus tubuh BIan.