Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
24. Akar



Malam itu juga aku terbang mencari markas cabang mafia Raven yang tersebar 9 daerah di negeri ini dan dengan sekejap karena sihir terbang aku mampu pergi dan membunuh orang-orang mafia Raven dari 9 daerah itu dalam satu hari dan berkat sihir juga aku tidak perlu mengeluh soal makan, minum dan tidur saat pergi ke berbagai daerah.


Tetapi konsekuensinya aku hanya harus absen pergi ke sekolah karena terburu-buru, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya karena semua ini demi membalaskan dendam Karen dan juga teman-temanku yang ikut terlibat karena Len putri bos mereka.


Lagipula kedepannya mereka mungkin akan mencari aku terus untuk balas dendam atas kematian Len disaat aku berada dalam misi cepat mengumpulkan Hope Point, mereka akan menggangu jadi lebih cepat dibunuh lebih baik.


Setelah berhasil menghancurkan dan membunuh semua orang-orang mafia Raven pada cabang mereka di 9 daerah aku kembali ke kota Batavia untuk mencari markas mereka di distrik utama bagian utara, setelah 1 menit terbang aku menemukan markas mereka pada daerah pinggiran kota Batavia, aku melewati rumah-rumah kumuh yang seakan menjadi rumput halaman gedung besar mereka yang mewah dan berdiri di depan pintu gerbang gedung itu.


"Heh, jadi tempat semegah ini markas para penjahat yang membunuh karen" gumamku yang geram, melihat kemewahan mereka dengan beberapa mobil mewah didalamnya dan saat mendengar tawa mereka disaat asik bercanda ria yang bisa kulihat dari jendela sedang pesta, berpakaian rapi dan mewah ditengah gemerlap lampu elegan.


“Bagus, mereka sedang berkumpul karena berpesta” kataku untuk meyakinkan diri sendiri kemudian amarah sekali lagi membuat energi sihir besar menyeruak di tubuhku, aku menciptakan berbagai ratusan senjata peledak dan senjata api juga pedang, dan seketika menembakkannya kearah gedung.


Pedang-pedang yang seperti hujan, dentuman ledakan tak henti peluru-peluru yang menghancurkan kaca dan tembok yang bercahaya warna-warni karena sihir dalam beberapa menit meluluh lantak kan bangunan megah itu sampai hancur dan senada dengan rumah-rumah kumuh disekitar sana.


Tubuh yang tertimpa reruntuhan, tertusuk pedang, terkena pecahan kaca, peluru, tubuh yang hancur karena ledakan semua dialami oleh anggota mafia itu yang sekarang mengakhiri tawa mereka dengan rintihan dan tangisan.


Masih ada beberapa dari mereka yang selamat dari serangan ku, tapi mereka bukan masalah, karena aku langsung berlari kearah mereka menembak kepala mereka dengan pistol juga menebaskan samurai ke tubuh mereka.


Diantara orang-orang mafia Raven yang selamat itu ada seseorang yang menarik perhatianku dia sedang tergopoh-gopoh melarikan diri dengan kepala yang tercecer darah dan kaki yang pincang bersama luka-luka kecil ditubuhnya, aku mencoba mengakhiri hidup orang itu namun dari belakang seseorang mencekik ku.


“Tidak akan ku biarkan kau menyentuh Bos!” kata orang yang begitu banyak darah dan terlihat lemas itu, dari tindakannya yang seakan melindungi seseorang sampai titik darah penghabisan dan sepertinya dia adalah tangan kanan orang yang berusaha aku dekati ini.


"Hai" aku menyapa orang itu saat sadar dialah bos mafia Raven karena ingin dilindungi sampai segitunya, oleh orang yang mencoba mencekik ku dengan lemah ini, dengan sangat mudah aku melumpuhkannya dengan memberikan tembakan pistol pada lutut, dan saat dia terduduk aku langsung memenggal kepalanya.


"Apa anda ayahnya Len?" aku memberikan senyuman tipis, dan setelah mengibaskan samurai untuk membersihkan darah pada pedang ku aku perlahan mendekatinya, tapi ada 15 macam jenis serangan sihir yang melayang ke arahku, dengan cepat aku menciptakan belasan perisai militer yang terbang memutari aku untuk menahan serangan sihir itu.


Dan saat kulihat ternyata ada 15 gadis penyihir dengan kondisi yang sama dengan yang dirantai kemarin sedang menyerang ku dengan ekspresi ketakutan.


Diantara jeda serangan mereka aku memberikan tatapan intimidasi dengan tubuh tegap yang mengisyaratkan mereka jika aku siap meladeni mereka, namun karena takut mereka terdiam membisu dan tidak memberikan serangan lagi, aku berniat membiarkan mereka agar pergi dari tempat mereka disiksa dan diperas ini dan berkata  "Pulanglah aku akan membunuh orang ini dan kalian bisa bebas" kataku sembari menunjuk bos mafia Raven itu dengan ujung bilah pedang samuraiku.


"Semua anggota dan kerajaan mereka telah aku hancurkan, jadi pergilah" sembari berkata pada gadis itu aku melirik  bos mafia Raven yang terduduk dan langsung merangkak untuk melarikan diri aku pun, menghalangi ayah Len itu dengan menembaki kakinya agar tidak kabur.


15 gadis penyihir tadi langsung berlari meninggalkan gedung yang hampir hancur ini dan setelah memandangi punggung mereka yang menyedihkan aku pun melangkah pelan mendekati bos mafia Raven dan menancapkan samurai ku pada telapak tangannya, sehingga membuat dia teriak kesakitan.


"Si_siapa kau?" tanya nya diantara rintihan.


"Tapi sebentar."


Aku membuka mata lebar-lebar untuk melotot tajam pada bos mafia Raven itu.


"Kalau kubilang namaku Rene, apa kau mengingat nama itu?" tanyaku dengan nada berat.


"Rene si pembunuh berantai" bos mafia Raven itu mengangguk pelan dan mencoba menenangkan nafasnya yang sesak.


“Wah, tidak hanya gadis penyihir” kata bos mafia Raven kemudian terengah-engah.


“Ternyata reinkarnasi juga adalah hal yang nyata” bos mafia Raven itu terkekeh dengan air muka takut yang menyedihkan.


“Apa yang kau mau dariku?” kata bos mafia Raven itu dengan mata yang mulai mengeluarkan air mata.


“Uang, rumah kekuasaan, aku akan memberikan se_semuanya” bibir bos mafia raven yang sudah tua itu bergetar hebat saat melihatku dengan penuh ketakutan.


“Aku hanya ingin menanyakan, siapa orang yang menyuruhmu melakukan pembunuhan satu keluarga dari anak yang Bernama Karen” kataku dengan wajah yang serius.


“Aku tidak tahu_”


Jawaban yang mencoba menyembunyikan sesuatu hal dari bos mafia Raven itu langsung ku potong dengan mendekatkan bilah tajam samurai yang ku genggam untuk mengancam pria tua itu.


Bos mafia raven yang takut kehilangan nyawa pun terpaksa menjawab meski agak terbata “Ta_tapi dia bilang dia bukan orang dari dunia ini.”


"Hanya itu yang kutahu, ampuni aku" kata bos mafia Raven sat menundukkan kepalanya hingga mendekati ujung sepatu sihir ku.


Aku tahu aku memiliki rasa sedih melihat orang yang cukup tua dan memiliki keluarga sepertinya menjadi menyedihkan karena tindakanku, namun jika membandingkan dosanya yang membuat gadis penyihir, manusia bahkan orang yang kucintai menderita hanya karena kejayaan, harta dan kekuasaan, aku tidak bisa mengampuni dia, jika dia hidup mungkin akan membuat identitas diriku yang menciptakan insiden dalam satu hari ini terbongkar.


Jadi aku memutuskan untuk membunuh ayah Len di depanku ini.


Aku mengelus sedikit kepalanya yang agak berwarna putih karena mulai beruban kemudian aku mendekatkan ujung pistolku pada kepala belakangnya, kemudian menarik pelatuknya dengan cepat untuk mengakhiri hidup bos mafia Raven yang telah ku akhiri, hidupnya, semua yang dia miliki,kejayaannya, hartanya dan kekuasaannya.