
Aku yang dibuntuti Clara kembali ke kota batavia dengan uang seadanya mau itu naik bis taksi atau berjalan kaki secara sembunyi-sembunyi dan berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan identitasku sedikit dengan menyamarkan wajah menggunakan topi hitam milik Rena yang selalu aku bawa dan tidak gegabah berubah menjadi gadis penyihir meskipun ada Less, mengabaikan Less dan tetap pulang.
Aku menjadi lebih waspada seperti ini karena berita tentang dua gadis penyihir yang membunuh manusia semenjak aku meninggalkan kota ini untuk menemui Karen di desa yang ada di South Java sudah tersebar luas di seluruh penjuru negeri dan aku pun menjadi incaran polisi.
Dan di saat fajar kamipun tiba di pinggiran kota Batavia.
"Kami mendapat informasi tambahan jika ada satu lagi rumor tentang gadis penyihir yang membunuh manusia dan kostumnya berwarna hitam putih.... "
Suara pembawa berita dari televisi penjaga stasiun kereta cepat sedang didengar dan di tonton oleh Clara.
"Sepertinya kita sudah menjadi buronan besar" kak kata Clara saat menoleh padaku yang duduk disebelahnya pada kursi tunggu kereta cepat menuju pusat kota Batavia kemudian mulai menutupi kepalanya dengan tudung Sweater merah miliknya.
"...Mereka berdua akan ditangkap secara khusus untuk mengantisipasi jika benar mereka memiliki kekuatan super
dan mereka sudah di kategorikan menjadi ancaman nasional" suara pembawa berita itu masih terdengar olehku saat aku dan Clara memasuki kereta cepat yang sudah tiba untuk keberangkatan kami pada pagi ini.
Di dalam kereta berkat naluri kami yang sering dilatih saat bertarung dan membunuh orang kami bisa merasakan ada orang yang sedang memantau kami, bahkan setelah turun di stasiun sampai ke setiap saat kami sedang berjalan menelusuri kota seharian sampai petang ada terus orang yang sedang mengawasi kami.
Namun anehnya sampai satu minggu mereka tidak menangkap atau menyerang kami, hanya memantau.
Di hari minggu Saat aku dan Clara hendak berpisah di persimpangan di sebelah gedung yang sangat tinggi menjulang dari belakang aku mendengar suara raungan 4 Less yang terjun dari gedung tinggi itu dan mencoba menyerang ku dengan begitu cepat, aku coba menghindar dan berlari demi menahan diri agar tidak berubah menjadi gadis penyihir karena aku tahu sedang dipantau oleh orang-orang yang aku kuduga para polisi.
Clara sepertinya lebih kesulitan dari pada aku karena 4 Less yang terjun dari gedung tadi membelah dirinya dan memunculkan Less lainnya dengan wujud lalat sehingga hampir mencapai belasan Less yang sekarang mengerumuni Clara.
Tidak sampai di Clara saja para less yang membelah diri itu ikut mengerumuni aku yang sedang kewalahan menghindari Less berbentuk kelelawar yang menyerang diriku tanpa ampun, serangan para Less lalat yang membantu rekannya itu itu perlahan menghujam tubuhku dan sangat sakit aku rasakan karena berada dalam wujud manusia serta dari belakang Less berbentuk boneka beruang mencengkram tubuhku dengan lengannya sehingga para Les lalat dan kelelawar semakin mudah menyerang ku.
Aku yang kewalahan dan hampir mati sudah jelas mengambil langkah untuk berubah menjadi gadis penyihir untuk meregenerasi tubuhku yang babak belur dihantam belasan Less dan menghabisi mereka, melihat diriku yang berubah Clara pun mengikuti dan berubah juga menjadi Gadis Penyihir Badut.
Dalam waktu hampir satu jam aku dan Clara berhasil menghabisi semua Less yang menyerang kami, dan disaat kami berdua telah berubah kembali ke wujud manusia biasa bukannya lega kami berdua terjebak dalam masalah lagi disaat video amatir kami berdua yang barusan menyerang sosok tak kasat mata dengan senjata yang muncul secara ajaib beserta cahaya-cahaya sihirnya yang ajaib bagi orang awam terpublikasi.
Setiap channel berita televisi menayangkan video amatir tentang pertarungan kami berdua itu pada layar video tron di pinggir jalan bahkan pada layar LCD besar gedung-gedung di kota batavia yang beritanya tak hanya tersebar ke seluruh penjuru Batavia saja tetapi sampai seluruh Indonesia.
Terkejut, kagum, penasaran, bahagia dan berbagai ekspresi lainnya muncul seketika dari orang-orang yang melintasi jalanan dengan cukup padat di kota Batavia pada malam ini sahat melihat hal ajaib didepan mereka tanpa mengetahui jika kami diincar para polisi.
Desis yang berasal dari bunyi walkie talkie polisi lalu lintas itu muncul saat polisi muda dibelakang aku itu menekan tombolnya kemudian berkata "Bagaimana pak? Berikan Perintah."
"Habisi mereka, mereka bisa berbahaya untuk negeri ini" Jawab atasannya itu tanpa basa basi dan diakhiri dengan desis walkie talkie yang seakan menusuk telingaku yang seolah-olah memberi tahu diriku jika akan ada bahaya yang datang.
Dan ternyata benar, dalam waktu kurang dari setengah jam suara-suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan dan satu persatu mobil polisi itu pun datang dan akhirnya secar a bergerombol mobil-mobil polisi itu pun mengerumuni halaman gedung tempat dimana aku dan Clara terpaku karena terdiam akibat peristiwa secepat kilat yang membuat kami terpojok ini.
Salah satu polisi dengan setelan jas hitam berdiri di antara para polisi berseragam bawahannya yang telah menodongkan senjata kepada kami, kemudian meminjam pengeras suara yang dan saat menggenggamnya dengan erat dia berteriak. "Gadis Penyihir Biru dan Gadis penyihir HItam."
"Kami sudah banyak melihat bukti kejahatan kalian dengan kekuatan sihir yang ajaib itu, ditambah lagi sebuah bukti dari kejadian yang berhasil kami rekam barusan" Polisi bersetelan jas yang sepertinya merupakan Inspektur para polisi itu terbatuk dan setelah melegakan tenggorokannya ia melanjutkan perkataannya kembali.
"Menyerah lah personil kami sudah memasang Bom disekitar kalian" dia melanjutkan dan melirik pada anggotanya yang tadi selalu memantau kami disaat kembali dan mendekati dirinya sesudah meletakkan bom.
"Dan di depan 4 tank sudah mengepung kalian 400 personil sudah kami kerahkan" polisi bersetelan jas itu menunjuk 4 tank mereka yang mulai berdatangan.
"Menunduk dan menyerah lah" polisi bersetelan jas mengakhir perkataannya dan mengembalikan pengeras suaranya, kemudian memantau tindak tanduk kami berdua yang telah dia cap sebagai kriminal pembunuh berantai sembari ikut menodongkan pistol glock miliknya pada kami.
"Kak Rena?" dengan wajah yang tenang Clara bertanya kepadaku untuk mengetahui keputusanku dalam menghadapi situasi ini dan dari matanya yang sendu dia seakan menunggu dan akan mengikuti apapun keputusanku.
Bersama Clara aku terpikir untuk memberikan serangan besar pada barisan polisi di depan kami dan kabur disaat mereka kewalahan, aku pun mencoba mengungkapkan isi pikiranku mitu pada clara dan berkata "Aku akan_"
Perkataanku terputus saat dari kejauhan di belakang barisan para polisi yang mengepung kami dapat aku lihat sosok Karen yang sedang berjalan pelan dengan wajahnya yang kebingungan.
"Karen" kataku dan mencoba untuk melesat dan berlari kearah Karen di sana namun tanganku ditahan oleh Clara.
Karen menggeleng sembari memperhatikan tubuhku yang masih dalam wujud manusia biasa kemudian berkata "Jangan gegabah kak, kau bisa tertangkap jika lari begitu saja seperti itu, kita harus memikirkan rencana."
Aku mengangguk menuruti perkataan Clara, kemudian bergumam "Kenapa secepat ini dia datang."
"Waktunya tidak tepat" aku masih bergumam disaat tombol berubah menjadi Gadis Penyihir pada handphone sihirku aku tekan kembali.