
Tangisan yang meraung-raung, wajah keputusasaan dengan tatapan yang hampa dari dua orang gadis yang saat diperhatikan dengan seksama adalah Rena sebelum aku hidup di tubuhnya dan Rea yang rambutnya masih pendek, saat melihat temannya yang menggunakan sarung tangan persis seperti milikku dengan kostum kucing gadis penyihir yang telah diselimuti warna merah darah.
Seorang gadis penyihir lain dengan palu besar berbentuk mawar yang wajahnya tak bisa kulihat karena tertutupi rambut yang membunuh gadis penyihir kucing itu dengan brutal, video amatir yang direkam dari kejauhan itu sepertinya sudah jutaan kali dilihat oleh pengguna sosial media dan gadis penyihir kucing serta sarung tangan ini mungkin menjadi sebuah alasan yang tak ku ketahui kenapa senjataku sendiri yang berbeda dan akan bertanya tentang hal ini pada Rea.
Tapi sialnya besok adalah hari minggu dan di pagi minggu inilah aku kesulitan mencari keberadaan Rea untuk bertanya, nomor ponsel Rea ada pada smartphone Rena telah kucoba panggil beberapakali namun tidak pernah bisa tersambung.
Aku memutuskan untuk menanyakan padanya saat sekolah senin besok setelah hampir seharian aku mencari cara untuk menemukan rumah Rea dan nomor ponselnya dan baru sadar jika kegiatanku itu telah membuatku sampai pada malam hari, aku pun memutuskan untuk pergi ke cafe sembari mengisi perut dan mencari informasi yang ingin aku gali tentang insiden gadis penyihir kucing itu.
Tapi tak lama kemudian setelah duduk di cafe aku tersadar dari belakang pada jendela cafe di luar sana ada seseorang gadis yang sedang menatapku dengan wajah datar dengan pandangan kosong yang menusuk, Aku berbalik menoleh dan membalas tatapan mengganggu itu dengan dingin karena kesal.
"Kenapa gadis sialan itu menatapku seperti itu?" Aku bergumam kemudian mendecakkan lidah saat mataku tak lepas membalas tatapan aneh gadis di luar cafe itu.
Gadis yang mampu membaca raut wajah Rena itu pun tertawa kecil karena merasa puas saat dirinya berhasil membuat Rena memunculkan raut muka yang kesal.
Dari dalam cafe Rena mampu melihat jika gadis itu dengan wajah serius sedang memanggil seseorang yang berada tak jauh di sebelahnya.
Seseorang gadis lain yang kali ini memiliki tinggi dua meter berkulit sawo matang dan berotot mendekati gadis itu sembari menyeret seseorang dengan lengannya.
Sambil tertawa kecil dengan seringai lebar hingga menampakkan giginya gadis itu menunjuk-nunjuk sosok yang diseret oleh gadis berotot disebelahnya.
"Rea!?
Tetapi belum selesai menonton video amatir itu, Rena tersadar dari belakang pada jendela cafe di luar sana ada seseorang gadis yang sedang menatapnya dengan wajah datar dengan pandangan kosong yang menusuk, Rena berbalik menoleh dan membalas tatapan itu dengan dingin.
"Kenapa gadis sialan itu menatapku seperti itu?" Aku bergumam mataku pun tak lepas membalas tatapan aneh gadis di luar cafe itu dengan menggunakan tatapan dingin dengan air muka kesal.
Gadis yang sepertinya mampu membaca raut wajahku itu pun tertawa kecil karena merasa puas saat dirinya berhasil membuatku memunculkan raut wajah kesal yang ia mau.
Dari dalam cafe aku mampu melihat jika gadis itu dengan mengganti wajah serius sedang memanggil seseorang yang berada tak jauh di sebelahnya.
Seseorang gadis lain yang kali ini memiliki tinggi dua meter berkulit sawo matang dan berotot mendekati gadis itu sembari menyeret seseorang dengan lengannya.
Sambil tertawa kecil dengan seringai lebar hingga menampakkan giginya gadis itu menunjuk-nunjuk sosok yang diseret oleh gadis berotot disebelahnya.
"Rea!?"
Aku terlonjak dan langsung berdiri dari tempat duduknya saat tahu sosok babak belur yang diseret oleh gadis berotot itu adalah Rea yang baru dikenali nya beberapa hari yang lalu.
"Apa yang mau kalian lakukan pada Rea!" Teriakku dengan mata yang terbelalak.
Aku memperhatikan gerak bibir gadis aneh yang baru saja selesai menyeringai itu.
"Ikuti aku" gumamku saat mengikuti gerak bibir gadis aneh itu dan dengan segera menyimpan smartphone kembali dan membayar dengan benar pada kasi raku kemudian keluar dari cafe untuk mengikuti gadis yang menawan Rea.
***
Aku tiba di sebuah gang kecil setelah beberapa menit berjalan mengikuti gadis tadi bersama temannya yang berotot dan ikut menghentikan langkah seperti mereka berdua didepan tembok yang menjadi ujung buntu gang kecil itu.
"Apa yang mau kau lakukan dengan Rea?" Aku berkata dengan tatapan kesal pada gadis yang mengenakan sweater itu.
Dengan lambaian tangan gadis itu menyuruh temannya yang berotot mundur beberapa langkah.
"Sebelum aku jawab aku mau kita berubah dulu" Gadis itu menanggapi perkataanku dengan datar.
"Gadis penyihir lagi" Kataku saat menyadari kalimat 'berubah' dari gadis di depanku ini itu.
"Apa mungkin seperti ini semua sifat asli para gadis penyihir?" aku menghujatnya dengan wajah mengejek saat kedua kalinya ditantang bertarung oleh gadis penyihir.
Perasaanku di acara TV mereka sangat baik melihat aksi heroik para gadis penyihir pada acara animasi yang sering dia tonton bersama Karen.
Aku mengembalikan fokus dan dengan kening yang mengerut aku kembali menatap tajam penuh waspada pada gadis penyihir yang telah menawan Rea itu.
"Merepotkan" aku mendecakkan lidah kemudian langsung berlari menuju gadis penyihir di depanku itu untuk menyerang dengan tinjunya.
"Serahkan Rea!" dengan nada yang tinggi aka berkata saat memasang ancang-memukul gadis itu, tetapi seketika tindakanku terhenti saat sadar jika gadis berotot yang menyeret Rea mencekik kuat leher kurus yang dimiliki gadis yang baru saja menjadi temanku itu.
"Kau tidak mau menuruti aku..." dengan tatapan kesal nada dingin muncul dari perkataan gadis yang menjadi lawanku itu dia pun memberikan kode pada temannya yang berotot untuk semakin menguatkan cengkraman pada leher Rea.
Aku yang merasa terancam tanpa sadar mundur beberapa langkah menjauhi gadis yang akan aku pukul.
Meskipun cengkraman yang diberikan gadis berotot sangat kuat, tetapi bersama erangan kesakitan dan suara serak Rea berusaha mengeluarkan suaranya dan saat berhasil dia berkata padaku.
"Pergilah Rena!"
Meski tersendat Rea tetap menyampaikan perkataanya untukku.
"Seperti Ayn dulu_" Rea masih melanjutkan perkataannya meskipun tersengal.
"Ayn?" Aku bergumam karena memikirkan siapa nama yang tak dikenalinya itu.
"Gadis penyihir yang Rea sebut itu mungkinkah yang di video_"
Belum sempat berpikir jauh pikiranku terganggu oleh jeritan kesakitan dari Rea karena cengkraman di lehernya semakin kuat. Tak sanggup melihat wajah yang memerah dengan mata yang berair dari Rea membuatku menyetujui permintaan gadis berpakaian sweater itu kemudian berkata dengan lantang.
"Baiklah aku akan berubah."
Gadis otot pun diperintah untuk melepas cengkraman, sehingga membuat Rea yang kesakitan terduduk lemas dia pun tidak memiliki tenaga dan kesadaran yang cukup, sampai-sampai tidak bisa menghentikan tindakanku yang menuruti lawan untuk berubah.
"Magical Change"
Aku mengucap mantra dan berubah wujud menjadi gadis penyihir matahari.
Melihat perubahan itu gadis dengan pakaian sweater tersenyum kemudian mengucapkan mantra juga untuk berubah.
"Magical Change."
Dan pertarungan dua gadis penyihir yang tak terhindarkan pun dimulai malam itu juga.
"Apa-apaan kuda-kuda Sejak tadi kusadari gaya bicara mu seperti laki-laki" gadis penyihir mawar itu berkata sembari mengeluarkan tongkat sihirnya yang berbentuk bunga mawar dan berjalan mendekati Rena.
"Sungguh aneh" gadis penyihir mawari itu tersenyum tipis.
"Jangan banyak bicara, jika kau ada dendam padaku lawan saja aku jangan libatkan Rea" kataku demi mengalihkan pembicaraan mengenai gaya bicara ku dan kuda-kuda dari latihan militer yang aku pelajari ini setelah itu menoleh pada Rea yang telah terkulai lemas.
"Hey kemarin kau mengganggu Bian temanku kan?" gadis penyihir mawar berkata saat muncul sebuah cahaya berpola mawar pada tongkatnya tongkatnya pun membesar dan membentuk palu besar dengan kelopak mawar sebagai kepala sekaligus alas pemukulnya.
"Tidak ada salahnya jika sekarang aku mengganggu Rea temanmu."
Dari jawaban gadis penyihir mawar itu aku mengerti dia hanya ingin membalaskan dendam dari temannya Bian yang aku kalahkan kemarin padaku.
Gadis penyihir mawar itu melompat dan menghantamkan palunya padaku dengan begitu kuat sehingga memunculkan bunyi dentuman yang keras, tetapi dibalik debu tanah dan aspal yang berhamburan gadis itu tidak menemukan sosok diriku, karena aku dengan cepat berhasil menghilangkan keberadaan dari pandangannya.
Tapi gadis penyihir mawar ini memiliki insting yang kuat sehingga menyadari jika aku berada tepat diatasnya dengan gerakan lincah dia pun menghindari serangan ku dan menghantamkan palunya dari samping kiri pada tubuhku dan membuatku terpental dan menghantam dinding sisi kanan tembok gang.
"...aku tau tentang rumor dirimu yang tiba-tiba menjadi kuat seolah-olah dirasuki prang yang berbeda, tapi bukan berarti kekuatanmu itu bisa kau manfaatkan seenaknya untuk mengusik teman yang berada dalam kuasa ku" gadis penyihir mawar masih melanjutkan perkataannya yang cukup panjang saat berjalan mendekati aku yang terduduk.
Sambil duduk aku memberikan serangan cepat dengan senjata UZA yang cepat aku ciptakan, namun gadis penyihir mawar itu berhasil menangkis dengan palu miliknya.
Tapi kali ini gadis penyihir mawar terkecoh karena tidak menyangka jika aku memanfaatkan moment dia menangkis peluru untuk langsung menyerang celah dirinya dari samping dengan sebilah samurai yang serentak ku ciptakan dengan sarung tangan kucing ini.
Gadis penyihir mawar itu bisa menghindar meski harus mengalami sedikit luka pada bahu kanannya karena tebasan katana milikku.
Gadis penyihir mawar itu membuat palunya sebagai tumpuan dan melompat untuk memberikan tendangan ke arahku yang kehilangan keseimbangan setelah menebaskan samurai dengan sekuat tenaga.
Aku yang tak sempat mengelak terkena tendangan itu tepat pada perut dan sekali lagi membuatku terpental dan menghantam tembok ujung gang buntu itu.
"Palu itu" gumamku saat memandangi palu yang ditenteng gadis penyihir mawar itu.
"Dugaanku Benar"
Aku terbayang senjata sihir yang sama pada video yang aku tonton kemarin malam dengan palu dihadapannya.
Di video itu Rena, Rea dan gadis bernama Ayn yang mungkin berkostum kucing melawan gadis penyihir di depanku ini.
.
.
.
Saat gadis penyihir mawar itu berjalan pelan dengan tatapan kemenangan yang meremehkan diriku aku memulai untuk menciptakan sebuah ranjau dan langsung menempelkannya ketanah.
Melihat aku yang masih belum bangun dari duduk, Gadis penyihir mawar itu kembali menghantamkan palunya pada diriku. Aku dengan cepat menghindar kembali agar palunya menghantam ranjau yang ku ciptakan dan ledakan besar maha dahsyat dari ranjau dengan banyak energi sihir yang beradu dengan palu sihir besar pun tak terhindarkan.