Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
26. Penghakiman



Aku masuk ke kamar mewah Agura dan mendekati gadis itu dengan perlahan kemudian mencengkram kepalanya dan menarik rambutnya yang sangat halus harum dan bersih dengan sangat kuat sehingga membuat lehernya hampir patah kebelakang dengan tangan kiri, kemudian dengan tangan kananku aku mencengkram lehernya dan berkata dingin sembari memberikan seringai lebar.


“Aku saja tidak berubah...”


Agura melirikku dengan air muka ketakutan, keringat dingin pun muncul di dahinya tetapi aku memilih mengabaikan reaksinya yang menyedihkan itu dan memulai penyiksaan yang menuju kematian di akhir dengan pertama menancapkan pisau yang aku genggam pada bahunya, mencabutnya dan menancapkannya lagi beberapakali dengan santai sehingga darah di bahunya keluar cukup banyak.


Kedua telapak tangannya yang telah ku lubangi dengan peluru tak sanggup mencegah tusukan pisau yang aku lakukan, apalagi lehernya saat ini masih ku cengkram dan membuat dia kelelahan sehingga gadis itu hanya bisa mengamuk dengan gerakan kecil sembari meraung-raung diantara tangisannya dan mencoba berbicara namun suaranya yang keluar saat tersengal karena tangisan menjadi tidak jelas sehingga aku tidak tau apa yang mau dia katakan.


Saat akan memulai siksaan selanjutnya dari belakang ada seseorang yang mencoba mencekik aku dari belakang dengan lengannya yang berotot, aku yang langsung merasa sesak dengan cepat mencoba keluar dari cengkraman orang yang mencekik ku itu, dengan menembakkan pistolku pada pinggul orang itu dan saat cekikannya melemah karena dia kesakitan aku mencoba melepaskan cekikannya tetapi dia memiliki daya tahan yang kuat sehingga masih belum lepas dari cengkeramannya.


"Nyonya Agura, LARI!" dengan suara berat laki-laki yang menggelegar orang itu memerintahkan Agura untuk lari dariku dan Agura pun dengan semangat hidup yang tinggi langsung berdiri serta sempat mengambil Handphone Sihirnya kemudian dengan langkah cepat karena tak sanggup berlari akibat luka-luka yang ia terima ia pun berhasil menjauh dariku.


Aku tidak terlalu cemas pada Agura yang lari karena tahu aku busa mengejar gadis itu yang sudah melemah, namun orang yang mencekik ku ini akan merepotkan saat aku mencoba mengejar Agura karena itu Aku ku mencoba lagi kali ini melepas cekikan yang mencengkram ku itu dengan menancapkan pisauku pada lengannya yang terbungkus lengan panjang seragam keamanan dan akhirnya membuat cekikannya melemah lagi.


Aku langsung menyikut perutnya dengan kuat sehingga membuat cekikannya di leherku benar-benar terlepas, setelah terlepas aku juga menendang orang itu orang dan membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang kemudian berkata “Karena kau Agura berhasil lari,sialan!”


Orang yang merupakan satu-satunya orang dan penjaga keamanan yang selamat di rumah ini dan sempat menghidupkan genset pada lampu rumah Agura ini, saat kulihat sembari meringis kesakitan penjaga keamanan itu mencabut pisau yang tertancap pada lengannya dan membantingnya begitu saja, kemudian dia menahan derasnya darah yang mengalir pada pinggulnya yang bersarang peluru pistolku.


Meski sedang dalam kondisi yang merugikan jika bertarung denganku,dengan tatapan meremehkan saat melihat gadis remaja dia pun melompat untuk mencoba menangkap ku.


Tentu saja aku tidak mau disentuh oleh pria dewasa yang berlumuran darah, karena itu aku langsung menghindar dengan sedikit menunduk aku meninju pinggulnya yang masih bersarang sebuah peluru dan membuat dia menjerit kesakitan, dengan tubuh yang cukup berotot dia masih bisa berdiri dan ketika aku melancarkan tendangan kaki kanan kearah kepalanya dia masih bisa menangkis dengan tangan kirinya.


Aku memberikan tendangan kaki kiri kearah kepalanya lagi dari arah kanan dan tangan kanannya pun masih bisa menangkis dengan baik, meskipun harus melepas perlindungan pinggulnya yang berlubang karena tembakan, aku memberi ancang-ancang untuk memukul lukanya dan menjadikannya tipuan, saat dia tertuju untuk melindungi luka tembakan di pinggulnya, aku langsung menangkap tubuhnya dan menjatuhkannya ke lantai.


Setelah bunyi keras saat tubuhnya menghujam lantai muncul, aku menambahkan bunyi lagi di kedua pelipis, mata dan rahangnya dengan tinjuan kecepatan tinggi, karena aku tahu jika mengandalkan kekuatan seorang gadis saja maka orang ini tidak akan merasakan apa-apa karena itu aku mengincar area vital diwajahnya dengan kecepatan tinggi bertubi-tubi dan mengabaikan rasa sakit pada kepalan tinjuku yang seakan-akan mau patah.


Aku menghela nafas panjang karena lega penghalang balas dendamku sudah tak bernyawa, dengan pelan aku berdiri meninggalkan mayat orang itu dan belasan mayat lainnya yang berdarah-darah di rumah mewah ini dan tertuju pada Agura yang kabur padahal dia lah sajian utamanya.


"Hai Agura" kataku saat mengecek magazine yang tersisa 8 peluru, sembari berjalan mencari Agura yang darahnya berceceran pada gang sempit di dekat rumahnya.


"Kau dimana?" kataku lagi dengan santai sembari tersenyum tipis karena merasa lucu dengan semangat hidup Agura yang kabur tapi akhirnya ketahuan karena darahnya yang berceceran.


Aku menemukan gadis artis itu saat berjalan dekat turunan pada jalanan sepi di depanku pada malam ini aku yang masih menjaga senyuman mencoba menyapa gadis yang terlihat menyedihkan itu "Di sana kau rupanya _"


Perkataanku jadi terputus saat melihat jika Agura dihampiri seorang gadis dengan setelan one piece dan bertelanjang kaki, aku melihat jika gadis itu tersenyum kemudian mengeluarkan handphone sihir.


"Gadis penyihir?" gumamku sembari memperhatikan gadis yang menghampiri itu saat berubah dan menjadi gadis penyihir yang kostumnya mirip badut dengan warna monokrom.


Melihat gadis itu berubah wujud Agura yang merasa terancam menggunakan sisa tenaganya untuk ikut berubah juga demi membela diri dan setelah berubah Agura melancarkan serangan memanggil dinosaurus miliknya, namun tampaknya gadis penyhir badut itu lebih kuat sehingga senjata sihirnya yang merupakan sepatu yang bisa berubah bentuk menjadi pedang mampu memusnahkan semua dinosaurus milik Agura dengan gerakan kaki yang lincah.


Gadis penyihir badut itu merubah bentuk sepatu kanannya menjadi seperti mata palu dan membentuk pegas di sebelah kiri, kemudian mengkombinasikannya dengan menggunakan pegas untuk melesat terbang secepat kilat kehadapan Agura dan meghantam wajah gadis penyhir dinosaurus itu dengan sepatu kanannya yang sudah menjadi palu.


Agura tersungkur dengan wajah yang berdarah dan belum sempat tubuhnya dilompati lagi oleh Gadis Penyihir Badut, Dengan melompat-lompat karena pegas dikakinya Gadis Penyihir Badut pun memberikan hujaman sepatu palu bertubi-tubi pada seluruh tubuh Agura dengan cepat.


"AAarg" Agura menjerit saat perlahan seluruh tulangnya hancur dan darah ditubuhnya menyembur sehingga membuat daging ditubuhnya terpecah.


"Papa mama....aaakh" hanya ada rintihan pilu putus asa dari Agura yang sekarat, diantara tawa bahagia menyeramkan Gadis Penyhir Badut yang menghancurkan tubuh Agura.


Dengan siksaan menyeramkan dari Gadis Penyihir Badut yang aku saksikan tepat di depan mataku Agura pun akhirnya tewas seketika.