
Tidak ada pertikaian yang terjadi pada aku dan Clara di dalam cafe internet itu setelah dia mengajakku berkenalan dan mengikrarkan perjanjian jika akan membantuku, namun yang aku kesal kan setelah percakapan itu bukannya langsung pulang dai selalu duduk di sebelahku, mencoba memelukku, menggenggam tanganku bahkan menyender dan jelas beberapa kali selalu aku cegah tindakannya itu dengan di tepis serta mendorong, namun dia terus mengulangi siklus tindakannya sehingga aku hanya bisa pasrah sampai dia tertidur.
Dengan senyap aku meninggalkan Clara yang tertidur di cafe internet ini, setelah menutup pintu dengan pelan saat keluar aku berjalan perlahan tapi pasti dan setelah membayar semua tagihan dengan uang yang aku dapat dari kantong para mayat dari rumah Agura aku langsung berjalan cepat keluar cafe dan langsung berjalan di tengah malam kota batavia yang berada pada perbatasan kota sebelah ini tanpa tujuan.
Aku mencari tempat yang bisa membuatku merebahkan badan karena lelah setelah beberapa hari tubuhku aku gunakan untuk bertarung dan mentalku yang aku paksakan untuk membunuh, setelah hampir setengah jam berjalan dan menghajar beberapa laki-laki dewasa tak berguna yang menggodaku pada dini hari ini aku pun menemukan sebuah kursi panjang taman yang terbuat dari kayu jati dan sangat sempurna bagiku untuk tempat beristirahat.
Aku melirik ke kiri, ke kanan dan kebelakang untuk memastikan jika Clara tidak mengikuti aku sampai ke taman yang cukup sepi ini, setelah itu aku pun merebahkan badanku dan merasakan sensasi nyaman yang menyeruak ke seluruh tubuhku karena hanya memiliki sehelai jaket yang bisa melindungi ku dari hawa dingin malam hari demi membuat hangat tubuhku aku meringkuk begitu dalam sehingga akhirnya lelah pun membawaku tertidur lelap.
Aku merasakan ada yang berbeda pada bagian kepala belakangku seakan ada benda empuk yang menopang, padahal aku sangat yakin jika saat aku tertidur kepalaku berada pada bagian kursi kayu pajang yang aku temukan.
"Kak Rena" aku mendengar suara seorang gadis dengan nada yang begitu manis secara samar dari telingaku dan bisa aku simpulkan jika sesuatu yang empuk itu berasal dari gadis yang memanggil namaku itu.
Aku mencoba membuka mata diantara silau matahari pagi yang menghalau penglihatan ku kemudian langsung menegakkan badan untuk duduk, diantara mata yang menyipit aku mencoba melirik kearah penopang kepalaku yang ternyata paha seorang gadis dengan setelan one piece yanga ku kenali dan sialnya saat ku toleh ternyata asal suara itu dari Clara yang sekarang sedang memandangiku dengan mata yang berbinar dan senyum bahagia.
Tubuhku sedikit terlonjak hingga membuatku sedikit menggeser kan badan dan menjauh karena terkejut, mataku langsung terbuka lebar dan langsung menatapnya dengan tajam dengan ekspresi yang dingin karena waspada, tetapi Clara yang tak terganggu dengan gestur dan mimik wajahku itu tersenyum bahkan menyentuh pundakku sembari berkata "Kau jahat sekali meninggalkanku begitu saja di cafe itu_"
"Pergilah" kataku dengan membentak saat menepis tangannya yang menyentuh pundakku.
Clara masih memasang wajah yang penuh senyum disaat matanya melirik tangannya yang baru saja ditepis olehku dengan mata yang sendu, kemudian Clara pun melanjutkan perkataan dengan tensi tinggi bersama nada yang riang "Tapi syukurlah aku bisa bertemu lagi denganmu."
Aku langsung berdiri dan meninggalkan kursi taman yang panjang itu dan berjalan cepat meninggalkan Clara di belakangku, tetapi gadis penyihir badut itu dengan gigih berlari kecil mendekatiku dengan senyuman seperti biasa dia bertanya padaku "Apa kegiatan kita hari ini?"
Aku tidak mempedulikannya dan mempercepat langkah kakiku dengan melebarkan langkah selebar mungkin.
"Berburu Less?" tanya Clara lagi yang tidak peduli jika aku mengabaikannya.
Aku membisu dan terus berjalan maju.
"Aku bilang pergi sialan!" kataku mengusir Clara yang membuatku risih karena mau ikut campur urusanku membalas dendam dan memburu Less, namun karena takut akan ada pertarungan antara aku dan dia di pagi ini jika aku mengusirnya dengan kekerasan aku pun hanya bisa mengeluarkan perkataan kasar seperti itu dan sekali lagi hanya harus pasrah dengan tindakan Gadis Penyihir Badut itu.
"Hehehehe" tawa Clara yang membuntuti aku terdengar karena senang melihat jika beberapa saat kemudian aku sudah tenang dan hanya diam tanpa mengusirnya.
Pada sore hari aku yang masih dibuntuti oleh Clara dan mengabaikannya memilih untuk berubah menjadi Gadis Penyihir karena menemukan 4 Less di depan mataku yang sedang membuat fenomena gaib untuk menggangu manusia sehingga membuat belasan orang pingsan.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku pada Clara yang tampaknya ikut mengeluarkan handphone sihir sama sepertiku.
"Sudah jelas membantumu kan?" jawab Clara cepat saat menekan tombol berubah menjadi Gadis Penyihir Badut miliknya setelah cahaya putih monoton mengelilingi tubuhnya.
Dia pun menyerang duluan Less itu dengan sepatu senjata sihirnya yang telah ia rubah menjadi dua bila kapak dan berputar pada sekitar 2 Less biasa yang terbang itu untuk mengalahkannya, aku pun kemudian ikut berubah menjadi gadis penyihir dan menyerang 2 Less di daratan dengan pistol dan katana yang aku ciptakan.
Setelah menyelesaikan pertarungan Clara langsung berlari kecil ke arahku dan mengirimkan Hope Pointnya dengan segera pada Handphone Sihirku "Ini kak aku membawa Hope Point lagi untukmu."
Bukan hanya hari ini keesokan harinya beberapa hari setelahnya dia terus membantuku mengumpulkan Hope Point sehingga terhitung menjadi sangat banyak aku dapatkan, namun pada hari ini ada suatu keanehan yang menimpa tubuh Clara setelah keseringan mengirimkan Hope Pointnya padaku.
Pada hari ke sepuluh di malam hari ini aku bisa memastikan setelah Hope Pointnya terus berkurang Clara sempat sempoyongan dan hampir pingsan karena kelelahan dan kehilangan energi akibat berlebihan membantuku, tetapi untungnya dia mampu berdiri dan bisa mempertahankan kesadarannya.
Dari atas langit malam pada halaman gedung kosong tempat kami berburu Less ini ada sosok cahaya putih sekelebat yang mencoba menghujam tubuh Clara disaat gadis penyihir badut itu kelelahan, sosok dengan sebilah pedang besar itu hampir saja memenggal kepalanya, namun dengan kepekaan yang hebat Clara menggunakan kecepatan tinggi melompat jauh menghindar dengan sepatu sihir yang sekejap ia rubah menjadi pegas.
"Mily" aku menyebut nama gadis yang aku kenali beberapa hari yang lalu itu ketika melihat dirinya yang seorang gadis penyihir kesatria sedang memberikan tatapan ingin membunuh yang tertuju lurus dan tajam pada Clara yang saat ini sedang memberikan seringai jahil yang lebar pada Mily.
"Hai Mily" sapa Clara saat melambaikan tangan pada Mily yang memberikan kuda-kuda bertarung yang serius.
"Akhirnya ketemu disini, kau benar-benar akan aku bunuh Clara!" Mily seketika mengeluarkan hempasan energi sihir yang besar sama seperti yang sering aku lakukan jika tersulut amarah sehingga membuat aku dan Clara hampir terjatuh.