Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
18. Akhir dari Badai



Tawa cekikikan keluar dari mulut Agura yang berada di hadapanku  karena tahu Umi sudah tewas dengan mengenaskan, dia pun memperhatikan dengan seksama kejadian itu dengan mata terbelalak dengan wajah yang terperangah.


“Karma!” Agura kemudian wajah artis cantiknya seketika menjadi begitu jelek dan mengerikan saat menertawai aku dan kematian Umi.


“Itu Karma RENAAA!” teriak Agura saat menggenggam erat kembali kedua tongkat pengendali sihirnya dan melompat untuk mengayunkannya kearah tubuhku .


“Segitunya ingin membunuhku dan mengabaikan segalanya” Agura menghujat ku diantara bunyi dentingan tongkatnya yang beradu dengan perisai milikku.


“Kenapa? HAH!”


Tanya Agura dengan nada tinggi


Saat dia mengayunkan satu tongkatnya aku memiringkan perisai kudan membuat pukulan tongkatnya tergelincir dia pun hampir tersungkur melihat tubuhnya yang goyah saat akan jatuh aku pun menendang kuat tubuh gadis penyihir itu agar menjauh.


Sembari meringkuk memegangi pinggul dengan wajah yang kesal “Kau tidak suka dengan Len yang berkuasa makanya kau bunuh!?”


“Bahkan berniat ingin membunuhku juga apa kau juga membenci popularitas ku yang bisa mendapatkan segalanya!” Agura membentak-bentak ku dengan nada yang sangat tinggi sehingga benar-benar menghilangkan kesan artis yang dimilikinya dari air muka miliknya.


Perkataan Agura itu membuatku menggeleng karena sedikitpun tidak tertarik dengan kekuasaan Len aku membunuh Len tadi hanya karena ingin balas dendam pada pelaku yang mewajarkan kematian Karen, aku juga berniat membunuh Agura tadi karena mendengar ayahnya kerabat keluarga Len, tapi melihat tindakan Agura yang menyudutkan kami dengan cara sejauh ini sehingga membuat kami kehilangan satu teman party membuatku cukup kesal.


“Kau tidak mendapatkan segalanya kau hanya memaksakan kehendak mu.”


Aku berkata dengan tangan yang terkepal kuat karena kesal.


“Seperti menyerang kami dengan Less seperti ini hanya karena Umi tidak menurutimu saat itu, sampai meminta bantuan Len” aku melirik sekitar tempat puluhan Less yang menggeliat, mengamuk dan menoleh pada Qori yang masih terduduk lemas dan Rea berusaha menahan serangan gadis penyihir lain.


“Tidak, aku tidak peduli lagi pada Umi aku hanya kesal dengan kelompok kalian yang berani menentang ku saat menyerang seperti kemarin, bahkan berani melawan kelompok Len” Agura berkata dengan nada dingin dengan masih melirik kami dengan pandangan merendahkan sekalipun tadi sudah aku sudutkan.


Agura melempar boneka lagi dan memunculkan Raptor bewarna merah yang langsung menyerang ku cakaran kaki, tebasan ekor dan gigitan mereka lebih kuat dari dinosaurus lainnya yang pernah dikeluarkan Agura.


Serangan raptor merah ini membuat teringat cuplikan acara Red Raptor Agura pada handphone Umi yang mengeluarkan Raptor Merah yang lebih lucu dan imut dari ini untuk menyerang monster.


Ya, Umi sangat suka orang ini dengan akting jiwa heroiknya pada acara itu, tapi idolanya itu sekarang bertingkah seperti penjahat dan menganggap kami seperti monster yang dilawannya bahkan tertawa atas kematian Umi.


Aku melihat sendu mayat Umi yang menyisakan tubuh bagian bawahnya.


Gumam di mulutku perlahan muncul.


“Tenang Umi Aku akan membunuh Idola mu untukmu agar kau bisa tenang.”


Karena kesedihan dam amarah yang begitu besar aku merasakan energi sihirku meluap hebat hingga keluar dari dalam tubuhku dan meledak hingga menimbulkan hempasan angin yang sangat besar dan membuat para gadis penyihir dan Less terpental cukup jauh.


Aku mempertahankan energi sihir besar yang memancar dari tubuhku kemudian menciptakan sebuah Sniper berjenis SPR-2 kemudian menggumamkan satu kata dengan nada yang begitu datar dengan air muka dingin saat membidik.


“MATI”


Seketika sebagian energi sihirku yang meluap memasuki moncong sniper ciptaanku dan saat pelatuknya kutarik kilatan cahaya yang sangat besar sehingga menyilaukan seluruh area Pelabuhan muncul dan saat pelurunya keluar cahaya merah terang menyelimuti dan membuat tanah yang dilewati terangkat.


Agura yang ketakutan menggunakan para dinosaurusnya dan beberapa Less raksasa dan biasa yang ia kendalikan dengan tongkat untuk menjadi perisai hidup yang melindunginya, tapi sia-sia karena tembakan sniper sihirku sangat kuat dan dahsyat dan langsung menghancurkan apapun yang melindunginya kemudian membuat Agura terpental saat terkena.


Hanya ada asap yang mengepul hebat didepan mataku sosok Agura sudah lenyap, aku melirik gadis penyihir lain yang terkejut dan takut saat melihatku, setelah tahu mereka tidak berani mendekatiku aku yang tidak ada gangguan langsung menghampiri Qori yang terduduk lemas meratap tersedu-sedu.


“TIdak, tidak, tidak” Qori menggeleng kuat meninju-ninju tanah dengan gigi yang terkatup keras karena kesal.


“Dia dikeroyok karena mencoba melindungi anjingnya dan tersudut di sana” dengan mata yang memerah dan membengkak karena menangis, Qori menoleh padaku saat berkata.


Rea di sampingku yang sedang berdiri mulai menangis juga dan menyalahkan dirinya sendiri “Maafkan aku maafkan yang tidak bisa mempertahankan sihir pertahanan untuk anjingnya Umi.”


“Aku tidak bisa membantunya” nafas Rea tersendat-sendat tangisan gadis itu juga semakin kuat.


“Dia terkapar lemas dan terpental kearah kerumunan Less” Qori berkata saat tubuhnya mulai lemas dan akan jatuh.


“Aku tidak bisa menyelamatkannya” Qori mengakhiri perkataannya dan terkulai lemas saat ku tangkup tubuhnya yang kearah tanah dan seketika membisu dengan mata kosong yang mirip ikan mati dan mata yang mengalir tangis pilu akibat kematian sahabatnya.


Aku memang mengetahui jika Less bisa menyerang manusia dan meskipun manusia mati diserang tubuh mereka tetap utuh karena jiwa mereka saja yang rusak, tapi aku tidak pernah tahu jika gadis penyihir bisa diserang seperti ini dengan tubuh hancur yang mengenaskan.


Qori yang berada dalam pelukan ku ini juga tidak pernah menjelaskannya bahkan mungkin dia juga tidak tahu, atau mungkin fakta kematian gadis penyihir yang mengenaskan saat dihancurkan Less adalah hal yang baru bagi mereka.


Pengetahuanku tentang gadis penyihir masih sangat minim tapi aku tahu sosok yang bisa menjelaskan semua kengerian ini.


Lep.


Maskot penguin misterius yang kutemukan saat melihat kearah mercusuar tadi sedang menatap kosong ke arahku dengan  begitu tajam menyeramkan.


Semua ini karena maskot penguin itu, dari mulut Agura dialah yang meminjamkan mereka kekuatan seperti ini.


“Kalian tolong aku mengalahkan Less yang di langit dan kalian di daratan.”


Ditengah keheningan yang tercipta akibat sihirku aku mendengar suara tegas seroang gadis yang menggema diatas langit.


“Sisanya hentikan para gadis penyihir bodoh yang menyerang teman-teman Rena itu” gadis penyihir dengan kostum seperti kesatria abad pertengahan yang pernah kulihat pernah mengalahkan Less dengan mudah bersama karismanya yang mengagumkan.


Belasan gadis penyihir yang terlihat cukup kuat membasmi Less yang tersisa dan sebagian lagi menghentikan tindakan fans Agura dan bawahan Len yang masih mencoba menyerang kami dan kembali membuat suasana riuh di sekitar pelabuhan.


“Sini kembalikan”


Kudengar dari kejauhan suara aneh sesosok manusia berjubah dan bertudung serba hitam yang pernah kulihat kemarin diantara keriuhan itu sedang membentak seseorang ditempat reruntuhan container akibat dampak serangan ku menghabisi agura.


“Sudah cukup tugasmu”


Kata sosok itu mengambil dua tongkat pengendali Less dari tangan Agura dengan kasar.


“Ta_tapi kekuatan tongkat itu menakjubkan” jawab Agura yang tak kusangka masih hidup setelah serangan sekuat yang aku berikan tadi.


Gadis itu menghilangkan semacam perisai sihir yang mungkin digunakannya untuk melindungi Agura dari serangan ku.


“Aku mau tongkat itu” kata Agura memelas dan memeluk kaki sosok itu.


Dan seketika Agura dan sosok itu hilang seketika dengan sihir teleportasi yang muncul dengan cahaya kelap-kelip di sekitar mereka berdua.