
Rea menyentuh lembut pipi mulus putihnya yang cerah telah menggelap karena membiru, dengan sedikit meringis dia berkata "Gadis berotot itu menghadang aku saat pulang les dan langsung memukul wajahku."
"Saat aku terkulai, dia membawaku ke hadapanmu" Rea berkata saat digendong kembali olehku dan aku hanya mengangguk untuk menanggapi perkataannya tanpa berkata.
Didalam keheningan menuju persimpangan aku yang pura-pura menjadi Rena yang asli memulai pembicaraan seakan-akan mengingat kejadian satu tahun lalu yang dikatakan Rea itu.
"Saat itu, Len menyerang kita apa mungkin ada kaitannya dengan senjata sihirku yang hilang ya?"
"Bukan kemungkinan tapi sudah jelaskan" dengan nada lirih Rea menjawab.
Dengan terengah-engah Rea yang memaksa berkata dengan tempo pelan "Entah mengapa dia sangat menginginkan senjatamu namun kita memilih untuk tidak memberikannya."
"Sampai senjata itu hilang sendiri dan membuatnya marah-marah" Rea mendengus, menyiratkan kekesalan.
"Seharusnya dia tidak harus sampai membunuh lagi pula itu senjataku sendiri" timpal ku yang masih membuat perkataan seolah-olah aku adalah Rena yang tahu akan kejadian satu tahun lalu itu.
"Benar sih, tapi karena Ayn yang sempat bertarung satu lawan satu dengannya pernah mengatakan jika ingin menjatuhkan kerajaannya itulah yang membuat dia sangat murka sampai membunuh Ayn di depan mata kita" dengan nada berat Rea mengatakan hal yang tidak ingin dia ingat lagi dan perlahan ia pun kembali menangis, namun aku yang mengerti perasaanya akan trauma itu memilih diam pada malam yang dihiasi gemerlap lampu jalan itu dan berjalan pulang dengan santai dengan suasana hening diantara tangisan pelan Rea
***.
Pagi hari saat di sekolah tiba-tiba suasana menjadi suram khususnya untuk kelas ku, akibat berduka atas kematian Bian, dari desas-desus siswi di sekolah ini dikabarkan termutilasi dan mayatnya ditemukan di jembatan pada kota ini dan hari ini dua temannya si gadis kurus dan gempal tidak masuk sekolah karena sedang membantu keluarga Bian di rumah duka.
Sudah jelas aku kebingungan karena tahu jika sebenarnya Bian saat pertarungan malam kemarin selamat karena melarikan diri atau memang Len membunuhnya.
Yang penting bukan aku yang membunuhnya, karena aku ingin menjadi gadis penyihir yang bersih dar hal semacam itu agar Karen tidak kecewa.
Tapi.
Di kota ini lagi-lagi kejadian tentang gelap dan anehnya para gadis penyihir.
Karena hal itu aku pun beberapa kali menggaruk kepalanya karena tidak menyangka betapa suramnya kehidupan mereka di dunia nyata.
Bahkan membuatku berpikiran memilih untuk semakin waspada namun hari ini karena begitu letih akibat pertarungan kemarin aku tidak terlalu ingin memikirkan lebih dalam hal itu dan pulang seperti biasa.
Namun hari ini dan seterusnya pulang sekolah terasa sedikit berbeda saat adanya Qori dan Umi yang entah mengapa sejak kejadian saat pertarungan dengan komplotan Len menjadi lebih terbuka dan akrab dengan Rea dan aku.
Sejak peristiwa itu hubunganku yang dulunya anggota mafia sekaligus pembunuh berantai dengan Rea, Qori dan Umi gadis SMA biasa sekaligus gadis penyihir menjadi sangat akrab sampai beberapa minggu kemudian.
Bahkan selalu membasmi Less bersama semenjak hari itu, seperti hari ini setelah kami melawan beberapa Less di dekat pelabuhan di pinggiran kota batavia mereka pun mengajak aku untuk bercengkrama di cafe yang menyediakan manisan yang digemari para gadis dan mau tidak mau aku pun harus menyesuaikan diri.
Tepat setelah hening yang tercipta antara aku dan Rea yang sedang karena memikirkan sesuatu, Qori dan Umi yang datang setelah memesan minuman, langsung menuju meja makan kemudian sembari menoleh kearah dapur cafe Umi berkata "Sepertinya aku mau memesan makanan juga."
"Makan mu banyak juga ya Umi" Aku dan Rea berkata serentak karena merasa lucu dengan nafsu makan besar Umi meskipun bertubuh mungil, aku dan Rea kemudian saling menoleh dan tersenyum.
Setelah itu Umi pun menanggapi perkataan kami dengan wajah yang bangga.
"Dia tidak menyangkalnya" Dengan mata yang bahagia saat melihat Umi Qori pun berkata dan terkekeh menilai sifat Umi yang disebutkan Qori adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki.
Setelah duduk dan berkumpul kemudian menunggu pesanan kedua, Fokus Rea dan aku yang masih meminum cafe latte kami yang belum habis, teralihkan oleh suara pada smartphone yang digenggam Umi sembari menatap fokus layarnya.
Karena Umi duduk di sampingku, AKu pun mampu melihat apa yang ditonton oleh gadis SMA yang sekarang terlihat seperti anak-anak itu, seorang gadis penyihir dengan teman-teman dinosaurus kecilnya yang merupakan raptor berjumlah puluhan dengan tubuh yang seperti boneka.
"Dia, siapa?" Tanyaku pada Umi.
Namun gadis bertubuh mungil itu sangat fokus dan seakan-akan terjebak dalam dunianya sendiri sehingga tidak menanggapi pertanyaan aku yang masih menunggu jawaban di sebelahnya.
Qori yang juga mendengar pertanyaanku itu memilih menjawab kan perkataan sahabatnya kemudian berkata "Dia Red Raptor Agura."
Aku menanggapi dengan diam mataku pun menyipit dan kepala ku sedikit aku miringkan karena tidak mengenal siapa nama orang yang disebutkan Qori.
"Artis dalam drama gadis penyihir hari minggu yang sangat disukai Umi" Qori pun menambah penjelasan agar aku benar-benar mengerti.
Kemudian aku yang sedikit mengerti dan memberikan anggukan kepala pelan, kemudian memberi senyuman tipis saat menoleh pada Umi di sebelahku.
"Aku ke toilet sebentar" Umi berdiri dan dengan tangan yang masih menggenggam smartphone karena masih menonton kemudian pergi menuju toilet.
"Umi adalah fans berat Agura" Qori masih melanjutkan penjelasannya dengan semangat dan penuh perasaan bahagia meskipun Umi tidak ada di dekat kami.
"Kalian tahu motivasi Umi untuk menjadi gadis penyihir hanya untuk menyelamatkan umat manusia" Qori melirik kearah Umi yang memasuki toilet dengan senyum simpul.
"Berbeda dengan beberapa gadis penyihir lain yang ingin meraih sesuatu"
Qori ber deham dan kembali menoleh pada Aku dan Rea disekitarnya.
"Dan tujuan Umi yang membasmi Less demi menyelamatkan manusia itu terinspirasi dari drama fantasi Agura"
Mata Qori berbinar seakan teringat akan aksi Red Raptor Agura dalam drama itu yang sangat heroik dari acara gadis penyihir yang belum pernah aku tonton bersama Karen itu.
"Umi sangat ngefans dengan gadis itu berkat acara drama fantasi berjudul Red Raptor Agura pada TV di minggu pagi" Qori berkata, dan dari perkataan-perkataan penuh semangat bersama ekspresi-ekspresi hangat dari Qori membuatku sangat yakin jika Qori begitu menyayangi dan mengagumi Umi sahabatnya
"Dan katanya dia sangat ingin bertemu Red Raptor Agura suatu saat nanti."
Qori mengakhiri perkataan-perkataannya dan langsung mengalihkan semuanya pada smartphone miliknya saat dikeluarkan dari kantong saku kemeja modis nya, dan memilih melihat Outstagram karena tidak ada bahan pembicaraan dengan kami lagi.
Saat melihat sebuah konten di Outstagram mata Qori terbelalak air muka terkejut pun mengalir di wajahnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat, Qori pun kemudian menoleh pada arah toilet dan memasang wajah yang penuh rasa amarah yang tertuju pada Umi yang masih berada di dalam sana.
"Yeeeaaaaaah"
Namun dari dalam toilet tiba-tiba saja Umi berteriak histeris nan bahagia sehingga hampir semua pelanggan di cafe ini menoleh kearahnya namun gadis mungil itu menghiraukan dan berlari mendekati kami kembali.
"Ada apa?" Tanya aku dan Rea secara serentak lagi.
"Aa, aku" Umi tergagap dan langsung menunjukan sesuatu pada layar smartphonenya kepada ketiga kami dan kami yang melihat jika ada akun Outstagram Agura menghubungi Umi membuat kami bertiga menyimpulkan jika Umi berteriak barusan karena sangat senang karena akhirnya Red Raptor Agura benar-benar menghubungi Umi yang merupakan seorang fans.
"Aku, dapat kiriman pesan langsung dari Red Raptor Agura untuk mengunjungi rumahnya" Jelas Umi saat matanya tertuju pada Qori.
"Kenapa Bisa?" Tanggapan wajar dari aku pun muncul ekspresi kebingungan namun bahagia dariku pun tergambar jelas atas apa yang telah dialami gadis mungil itu atas terkabulnya impian gadis mungil yang sekarang menjadi teman akrabku itu.
"Dia menonton dan memberi like video konten gadis penyihir yang Umi buat di Outstagram" Jawab Qori kemudian menunjukkan video pendek milik Umi yang sedang menggunakan sihir asli gadis penyihir berbentuk bulan dengan wajah memerah yang terbakar amarah.