Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
27. Pengunjung



Aku terperangah untuk beberapa saat karena mencerna kejadian cepat yang melewati mataku itu, hidup Agura bukan berakhir di tanganku melainkan Gadis Penyihir lain dengan kostum badut monokrom nya yang terlihat suram,


hal yang tidak ku mengerti yaitu apa yang membuatnya harus membunuh  Agura sampai tubuhnya dihancurkan seperti itu dengan wajah ceria yang penuh tawa dan kenapa juga dia yang menghabiskan santapanku.


Setelah meninggalkan mayat Agura yang mengenaskan dibelakangnya Gadis penyihir badut itu menatapku lengan dengan matanya yang begitu terbuka lebar dengan senyuman lebar yang riang bersama wajah berkulit pucat nya dengan noda darah yang terlihat seperti boneka, tatapan mengerikan darinya itu berhasil membuatku tanpa sadar memundurkan langkah beberapa langkah ketika entah kepa aku merasakan tekanan yang mengerikan darinya.


Gadis penyihir badut itu terlihat akan melangkah ingin mendekatiku namun bukan dengan perasaan ingin membunuh tetapi dengan perasaan riang aku yang tidak mengerti gelagatnya itu memilih mundur karena tak ingin mencari masalah dari orang yang terlihat gila saat membunuh Agura dengan sangat cepat,  bagiku cukup kuat ini akan merepotkan jika menjadi lawanku.


Dan pada malam itu aku langsung meninggalkan daerah pembunuhan disekitaran rumah Agura disaat aku mulai mendengar dari kejauhan suara mobil sirine polisi yang samar-samar muncul dan semakin keras suaranya.


***


"Pembantaian di berbagai daerah yang menjadi markas besar sebuah organisasi  telah terjadi..."


Sialan, di negeri ini ternyata identitas organisasi Raven sebagai mafia tidak di sembunyikan oleh publik karena mereka pernah bekerja .


...dan membuat polisi menyatakan status siaga dalam pembantaian ini dan mencari orang dengan ciri pada video cctv pada sebuah bangunan di bagian daerah utara" suara pembawa berita yang kudengar dari layar monitor komputer yang baru saja aku hidupkan di cafe internet terdengar olehku saat sedang membuka teh botolan untuk aku minum sendiri, demi menenangkan diri karena sadar beberapa hari ini aku terlarut dalam emosi dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri sehingga membuatku mendapat tekanan dari diri sendiri.


Setelah berhasil membukanya teh botolan itu aku seruput sedikit sembari membesarkan volume suara komputer yang terhubung dengan earphone nya yang aku gunakan, kemudian melihat dengan seksama tampilan channel berita di Utube yang menunjukkan rekaman cctv dengan aku didalamnya dengan wujud gadis penyihir yang sedang membunuh anggota mafia Raven.


Kemudian channel berita pada Utube itu menampilkan  para polisi yang menampilkan siaran pers yang sedang mengumumkan jika mereka secepatnya mencari sosok dengan wujud aneh yang disebut gadis penyihir itu, yang kini telah menjadi sebuah rumor besar di kota ini.


"Hooh, bodohnya aku tidak memperhitungkan hal merepotkan semacam ini" aku menatap dingin layar monitor itu  sembari meletakkan botol kemasan teh milikku keatas meja setelah menyeruputnya sekali lagi.


Dengan santai aku meregangkan tubuhku selebar-lebarnya karena merasa letih sembari bergumam "Sudah jelas aku akan menjadi buronan_"


Tiba-tiba saja muncul suara musik kencang pada handphone sihirku ku yang menembus earphone yang ku gunakan pertanda notifikasi muncul, dan saat ku lihat layar handphone sihirnya, hal aneh muncul tiba-tiba saja muncul.


“Hope point masuk?” aku bergumam saat bertanya-tanya tentang Hope Point yang secara misterius masuk di dalam Handphone Sihirku yang terkumpukoleh Hope Point ku yang sebelumnya.


"Kenapa bisa?" kataku sembari mengecek dari mana asal Hope Point itu namun tidak ada satu pun penunjuk.


"Terkait rangkaian pembunuhan ini ditemukan kasus pembantaian satu keluarga artis remaja Agura" berita kedua tentang pembantaian di rumah besar Agura terdengar olehku saat sedang mencari tahu keanehan pada Handphone Sihir Ku.


"Mayat artis terkenal Agura ditemukan dalam kondisi mengenaskan pada jalan raya yang tak jauh dari rumahnya..."


Akhiran dari tampilan dan suara berita itu hampir tidak ku perhatikan ketika aku menyadari ada orang yang mengetuk ruangan berfasilitas internet yang aku gunakan untuk bersantai dan bersembunyi selama dua hari ini.


Dengan perlahan dan waspada aku berdiri dan mendekat pada pintu ruanganku dengan tangan yang bersiap mengambil pistol pada saku celana jeans ku.


Aku membuka perlahan pintu ruanganku dan hanya sedikit membuat celah pada pintu agar bisa mengintip siapa orang yang mengetuk, tatapan mata tajam dari mata bulat yang kulihat kemarin sekarang kembali muncul secara mengejutkan bersama seringai lebarnya yang mengerikan.


"Namaku Clara" dia memperkenalkan dirinya tanpa permintaan dariku dengan wajah riang sembari mendorong pintu yang aku tahan karena ingin masuk.


Aku menguatkan pertahananku karena tidak suka dengan ekspresi aneh dari gadis di hadapanku ini yang begitu mencurigakan dan tampak sangat memaksa dengan dorongan kuatnya karena ingin masuk keruangan ku.


"Aku ingin jadi temanmu kak Rena" gadis penyihir badut itu terengah-engah saat mendorong namun tetap mempertahankan seringai lebarnya yang ceria.


"Aku sangat menyukai sosok kuat kak Rena" dia semakin menguatkan dorongan badannya ke pintu, karena jadi sangat berisik aku pun melepas pertahanan ku dan mengizinkannya masuk, tetapi karena merasa harus waspada pada gadis aneh menyeramkan yang mencurigakan ini aku pun masih bersiap mengeluarkan pistol.


"Tak kusangka kak Rena yang pernah membantuku dulu dengan lembut ternyata sekuat ini" kata gadis penyihir badut saat berhasil masuk ke ruangan ku dengan sedikit terkekeh.


"Kebetulan aku tidur disini malam ini dan tak sengaja melihatmu membeli minuman tadi" dia berkata dengan ekspresi riang dengan melompat-lompat pelan.


"Karena itu aku kesini" Gadis penyihir badut itu mengambil sesuatu pada tas selempang kecilnya.


"Ada perlu apa?" tanyaku sembari memperhatikan pakaian one piece nya yang sama saat membunuh Agura saat itu.


"Aku mau mengatakan sesuatu" matanya berbinar saat menatapku.


"Aku mengagumimu kak" dia mencoba menggenggam tanganku dan langsung aku tepis karena merasa terganggu dengan tingkah anehnya.


"Aku suka kamu kak!" dan melirik sedih tangannya sendiri saat di tepis olehku dan memunculkan ekspresi kecewa tetapi langsung sekejap ia rubah dengan senyuman dan wajah ceria seperti tadi dan melanjutkan perkataannya.


"Ini aku kirim hope point untukmu"


Gadis penyihir badut itu mengeluarkan Handphone Sihirnya.


"Apa maksudmu" tanyaku yang tak mengerti tindakannya yang begitu aneh dan tiba-tiba.


"Aku tidak membutuhkan Hope Point yang aku peroleh karena itu aku mau memberikan pada kak Rena orang yang aku kagumi" dia melanjutkan dan menekan tombol pengiriman Hope Point yang secara praktis bisa langsung terhubung dengan Hope Point milikku.


Hand Phone sihirku langsung berbunyi dan layarnya memunculkan cahaya kelap-kelip pertanda jika ada notifikasi Hope Point yang masuk.


"Kalau boleh tahu"


Gadis penyihir badut menatapku tajam dan merubah wajahnya menjadi serius.


"Kakak mengumpulkan Hope Point untuk apa?" kata gadis penyihir badut saat memiringkan kepala.