Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
16. Tipuan



Puluhan Less mengerumuni pelabuhan tempat kami berkumpul setelah menemukan Umi yang sedang memanggil anjing kecilnya dan saat itu juga dua Less raksasa langsung menyerang kami. Aku dan Rea langsung terbang melawan dua Less itu dan Qori berusaha melindungi Umi yang belum berubah menjadi gadis penyihir di daratan dari beberapa Less biasa.


Saat sedang sibuk melawan 2 Less itu aku memperhatikan sekitar untuk memastikan Less lainnya yang mungkin akan menyerang kami namun aku sadar jika  para Less itu hanya diam dan menonton pertarungan kami seakan menunggu perintah untuk menyerang.


Mataku yang terbiasa memastikan situasi mampu melirik tempat-tempat jauh untuk mencari hal yang mungkin saja terhubung dengan gerakan puluhan Less ini yang datang karena mereka mengerumuni kami sangat terarah seperti ada yang mengkoordinasi mereka.


Setelah beberapa saat, ternyata benar, aku melihat pada menara mercusuar terdapat siluet dua gadis dengan kostum berpita dan rok yang mengembang khas gadis penyihir sedang menggenggam masing-masing satu tongkat besar yang sedang melihat kearah pertarungan kami.


Setelah mengalahkan Less raksasa yang lemah tidak seperti biasanya aku dan Rea menghampiri Qori juga baru selesai mengalahkan Less, aku mendekati Qori kemudian berkata “Less yang sangat banyak ini sepertinya ada yang mengendalikan.”


“Di sana” Aku menunjuk kearah Menara mercusuar yang cukup jauh itu.


Rea dan Qori yang kurang percaya dan bingung dengan perkataanku mengikuti telunjukku dan ikut melihat siluet dua gadis penyihir itu dan wajah mereka semakin bingung tak menyangka jika ada orang yang mampu mengendalikan Less monster jahat liar penyerang manusia.


Aku memperhatikan Umi diujung sana didekat container saat mengharapkan bantuan gadis itu mengatasi masalah yang mungkin akan  disebabkan puluhan Less diatas kami.


“Umi!” kataku pada Umi yang masih sibuk memancing anjing kecilnya agar keluar dari celah container agar tidak terkena dampak dari para Less. Panggilanku membuatnya menoleh padaku dengan air muka cemas nan takut dengan mata sembab.


“Tenang Umi, Rea akan berikan sinar penghalang untuk Wuli” sahabatnya Qori meyakinkan Umi agar tenang kemudian memberi kode lirikan mata pada Rea dan Rea pun dengan segera menciptakan penghalang disekitar container tempat anjing kecil Umi bernama Wuli tu bersembunyi.


Setelah itu dengan sedikit enggan, Umi meninggalkan tumpukan container itu dan mendekat pada kami.


“Ayo cepat berubah para Les akan menyerang kita” perintah Qori pada Umi yang masih memiliki rasa cemas.


“Baik” Umi menjawab dengan suara kecil mirip berbisik.


Setelah tenang melihat bantuan tambahan dari umi yang telah berubah ke wujud gadis penyihir bulan sabitnya aku pun mundur beberapa langkah untuk bersiap meninggalkan mereka untuk menuju mercusuar.


“Aku ingin kalian mengatasi para Less yang ada disini” kataku kemudian mulai mengangkat sekitar 10 centi tubuhku dengan sihir untuk memulai terbang untuk pergi kearah dua gadis penyihir itu.


“Dan kau?” Rea berkata dan memasang wajah cemas karena merasa sulit melepas ku tanpa bantuan untuk menghampiri dua orang gadis penyihir itu.


“Aku akan menghentikan mereka berdua” jawabku saat berbalik membelakangi 3 teman party ku.


“Tolong halangi para Less yang akan menghadang ku” aku menoleh sesaat pada Qori.


“Rena!”  Qori memanggilku sehingga membuatku sekali lagi menoleh kebelakang untuk melirik kearahnya.


“Bagaimana jika mereka yang mengendalikan itu adalah Agura bahkan Len” kata Qori yang tahu jika Len dan Agura adalah gadis penyihir yang sangat kuat di kota Batavia ini.


Aku hanya menanggapi dengan senyuman tipis dengan wajah serius yang menyiratkan keyakinan.


Qori pun membalas senyumanku itu kemudian berkata setelah melirik kearah atas sesaat saat teringat sesuatu di kepalanya “Ah, aku lupa sudah pasti kau yang sekarang bisa mengalahkan mereka.”


Setelah memberikan tatapan dan senyuman pada Qori dan juga pada Rea aku pun langsung terbang melesat menuju mercusuar, beberapa Less mencoba mnghalangi ku namun sihir Rea,Umi dan tembakan peluru Qori berhasil mencegah sehingga aku mampu melewati langit dengan aman.


Saat terbang aku yang merasa cemas dengan tugas yang akan mereka lakukan dalam membasmi banyak Less menoleh sesaat namun yang ku dapati bukan hanya Less saja yang mengerumuni mereka namun para gadis penyihir lain yang terdiri dari anak buah Len saat itu dan beberapa fans Agura dan terlihat akan menyerang mereka.


“Sialan” Aku mengumpat dan langsung menciptakan perisai ku dan sebuah thompson untuk menembak mahluk yang pernah kulihat itu yaitu dinosaurus pteranodon yang berasal dari sihir panggilan Agura.


“Hahaha kena kau Rena!” tawa dan perkataan bernada tinggi ku dengar dari arah mercusuar dan aku menemukan Agura lah yang berkata saat menoleh kearah sana.


“Kau lagi Agura!” aku mendecak kan lidah karena kesal kemudian menoleh pada satu orang lagi disebelahnya.


“Bahkan Len”  kataku lagi saat melihat Len dengan wajah meremehkannya dengan tatapan dingin yang sangat khas.


“Apalagi yang kalian rencanakan kali ini Sialan!” aku menembaki pteranodon itu secara beruntun tanpa ampun dan seketika langsung kalah dan lenyap setelah terjatuh.


Aku langsung melesat menuju Len dan Agura yang sangat santai menghadapi ku, Len dengan senjata sihir lainnya setelah meletakkan tongkat sihir besar miliknya mengeluarkan sebuah gelang gadis penyihir yang bisa memunculkan  perisai sihir untuk menangkis kemudian berkata “Aku hanya mau kau lenyap Rena! keberadaan mu sangat mengganggu kota Batavia yang sudah aku genggam.”


“Aku tidak peduli" kataku setelah itu berbelok untuk menyerang Len dari celah samping perisai dan menendang tubuhnya dengan sangat kuat sehingga tubuhnya yang terbanting menabrak tubuh Agura dan gua gadis itu pun jatuh bersamaan dari atas mercusuar.


Dengan terbang aku mengejar mereka yang jatuh dan menembak tubuh Agura yang berhasil selamat dengan menaiki dinosaurus terbangnya.


"Agura selamatkan dua tongkat sihir pengendali para Less itu" Len berteriak pada Agura yang terbang kembali menuju puncak menara mercusuar.


Aku melesat kearah tubuh Len dan mencengkram tubuhnya untuk mengarahkan mocong senjata Thompson milikku tepat didepan wajahnya dan melontarkan perkataan bernada  berat untuk mengintimidasi :Jika menghalangiku maka kalian sudah pasti akan aku habisi.”


Aku yang teringat  jika Len adlah putri mafia Raven terpikir untuk bertanya sesuatu “Apa kau tahu sesuatu tentang pembantaian satu keluarga di desa yang ada di kota South Java?”


“Kenapa kau mau tahu itu?" Jawab Len saat tubuh kami berdua menuju dasar laut, namun aku dian tidak menanggapi perkataannya karena menunggu jawaban yang tepat, dengan wajah yang serius aku pun mencekik sedikit lehernya agar dia mau menjawab.


"Se_sepertinya  ka_kau salah satu kerabat mereka ya” Len menjawab kali ini dengan tersengal karena membaca ekspresiku yang seakan marah dengan terjadinya peristiwa yang terjadi itu.


“Maafkan kami, gadis yang meminta kami melakukannya membayar imbalan yang sangat besar” kata Len yang lancar berbicara setelah kulepas cekikan dilehernya, setelah itu kami berdua tercebur kedalam laut.


Saat  keluar permukaan laut setelah tersedak Len melanjutkan perkataannya “Uang untuk anak buah ayahku.”


“Senjata Sihir”


diantara deburan ombak itu aku melihat senyuman tak bersalah muncul dari wajah Len.


“Bahkan Hope Point” Len terkekeh.


“Demi mengabulkan impianku Itu lebih penting dari nyawa mereka” Len menatapku dengan tatapan tajam diantara seringai lebar bibirnya yang memperlihatkan semua giginya,


Aku yang tersulut amarah langsung mencengkram wajahnya.


Sesaat aku melirik thompson ku yang masih bisa ditembakkan kearah langit meskipun basah karena memiliki unsur sihir aku yang terlanjur kalap, dengan tatapan kosong melihat wajah Len yang tak bisa lepas dari genggaman tanganku yang kuat dan mengeluarkan senyuman kepuasan.


Dengan panik Len yang mencoba melepaskan wajahnya dari cengkraman kuat tanganku menggeliat dan berkata “Oi mau apa kau_” aku menyumpal mulutnya dengan ujung moncong thompson yang masih ku genggam dan bersiap menghancurkan kepala gadis itu sekarang juga.