Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
28. Gadis Penyihir Badut



Entah apa yang dipikirkan gadis penyihir badut untuk memaksa masuk ruanganku tiba-tiba dengan perasaan senang dan langsung memberiku Hope Point miliknya tetapi setelah itu dia sangat serius ingin mengetahui untuk apa Hope Point yang aku kumpulkan, karena mencurigai niatan dari perkataannya tentang keingintahuannya itu aku yang merasa waspada pun memberatkan nada bicara sembari menatap mata gadis penyihir badut itu dengan dalam dan tajam nan dingin kemudian berkata "Apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahuinya?"


Gadis Penyihir Badut bernama Clara itu sedikit menundukkan kepalanya untuk mengalihkan tatapan kemudian berkata dengan sedikit tergagap "Ti_tidak ada kak, aku hanya ingin bertanya"


Aku tak lepas menatap matanya karena di kepalaku aku akan menganggap dia sebagai ancaman jika  dia mengeluarkan perkataan yang berniat untuk menghalangi diriku dalam pengumpulan Hope Point untuk menghidupkan kembali Karen bahkan tak segan membunuh gadis aneh yang terlihat kuat ini jika dia akan menghalangi rencanaku.


"Maafkan aku kak Rena" Clara menepuk kedua tangannya dengan sedikit menunduk.


"Aku terpana  saat melihat  matamu yang membara ketika memburu Less" Clara kemudian kembali mengangkat kepalanya dengan tersenyum ceria, air muka bahagia nya pun ia tunjukkan dengan tariannya yang memutar-mutar girang.


"Kau sangat berusaha keras kulihat saat memburu Less jadi aku yakin ada hal besar yang ingin kau capai" Clara berkata dan sekali lagi mencoba menggenggam tanganku dengan kedua telapak tangannya, namun karena melihat tingkah anehnya yang begitu riang aku yang bergidik terpaksa harus membiarkannya menggenggam tanganku dan memperhatikan seksama tingkahnya.


"Aku ingin menghidupkan seseorang dari kematian" kataku dengan nada datar.


Clara hanya menanggapi dengan diam sembari tersenyum dengan mata yang berbinar saat menatapku lekat seakan berharap menunggu perkataanku selanjutnya.


Aku pun meneguk liur kemudian dengan sedikit menghela nafas aku melanjutkan perkataanku "Seseorang yang benar-benar aku cintai."


"Hem" Clara bergumam dan masih menatapku sembari mengangguk pelan karena memahami dan masih menunggu perkataan selanjutnya dariku.


"Seorang gadis yang di bunuh oleh orang yang sampai saat ini belum aku ketahui siapa identitasnya" aku melanjutkan perkataanku dan mengalihkan pandangan dan membuat diriku seakan-melirik pada layar monitor pc yang ku sewa karena kini mulai menghitam.


"Wah, keren" Clara berkata dengan decak kagum yang seketika terukir di wajahnya.


"Ternyata benar tebakan ku kau melakukannya untuk cinta" kata Clara disaat melepas genggaman tangannya dari tanganku yang setengah terkepal, kemudian membelakangi ku.


"Bukan untuk keegoisan seperti kebanyakan Gadis Penyihir di kota ini" Clara melanjutkan dengan menoleh ke arahku dengan air muka wajah miliknya yang tersirat kekesalan.


"JIka itu demi cinta yang tulus aku benar-benar akan mendukungmu kak" Clara berkata dengan lembut dan menatapku dengan sendu penuh keprihatinan.


Gadis penyihir badut itu pun menunjukkan layar Handphone SIhirnya kemudian menunjukkan gambar beberapa Hope Point  misterius yang masuk sama sepertiku kemudian berkata "Apa kau tahu jika membunuh manusia kita bisa mendapatkan Hope Point juga?"


Aku hanya menggeleng pelan menanggapi perkataan Clara.


Perkataan mengejutkan dari Clara membuat mataku terbelalak dan memundurkan beberapa langkah kaki kebelakang karena menerima kenyataan gelap nan suram dari fakta misterius lainnya tentang gadis penyihir di kota Batavia ini, satu-satunya pertanyaanku kenapa nyawa manusia bisa dijadikan Hope Point seolah-olah mereka juga bagian dari Less.


Aku pun memulai untuk melontarkan pertanyaan.


"Kenapa_"


"Karena itu aku membantumu memberantas penghalang mu dengan membunuh mereka sekalipun mereka manusia, karena bisa memperoleh Hope Point dari nyawa mereka" perkataan menggebu-gebu dan mengacuhkan sekitar dari Clara itu membuat perkataanku terputus sehingga membuatku tidak jadi mempertanyakan teka-teki itu yang begitu rumit pada Clara yang bisa ku pastikan dia juga kurang mengetahui tentang alasan Hope Point bisa diambil dari nyawa manusia.


"Membunuh orang-orang bisa mendapat Hope Point" aku tetap bergumam dan tak menanggapi perkataan panjang Clara itu karena penasaran, dan tentunya gumaman ku bukan tertuju pada Clara, seketika aku mengingat jika Hope Point ku bertambah cukup banyak sekarang dan aku pun mengerti alasannya karena aku telah membunuh semua anggota Mafia Raven dan Orang-orang disekitar Agura.


Aku masih terdiam memikirkan beberapa pertanyaan di kepalaku, namun Clara melanjutkan perkataan dari mulutnya yang tampak cerewet "Iya, kau belum pernah ,diberitahu Lep soal ini kak?"


Aku hanya diam dengan sedikit menggeleng menanggapi perkataan Clara.


Clara mengangguk pelan dan kembali ke  jalur perkataannya dan berkata dengan cukup panjang :Hope Point yang aku dapatkan dari membunuh orang yang menghalangi dirimu kan aku bagikan padamu"


Clara menyingkap rambut lurus peraknya yang terurai lembut ke telinga nya yang pucat kemudian melanjutkan perkataan "Dan aku sudah melakukannya dimulai dengan mengakhiri Bian yang kabur dari mu, orang yang pertama kali menghalangi mu."


Satu telunjuk Clara terangkat saat berbicara.


Aku mengangguk pelan memahami jika ternyata saat meninggalnya Bian yang termutilasi dulu pelakunya adalah Clara si Gadis Penyihir Badut gila ini.


"Kemudian Agura, yang juga mencoba kabur kemarin" jari telunjuk Clara sebua lagi terangkat saat berbicara.


"Dan untuk seterusnya aku akan melakukannya terus untuk membantu mu mengumpulkan Hope Point


Bahkan akan membantumu mencari siapa pelaku yang kau cari itu" kata Clara lagi dengan kedua telunjuk yang diputar-putar.


"Mohon Bantuannya kak" Clara kemudian membungkuk.


"Kenapa kau segitunya ingin membantu ku?" tanya ku saat aku tahu jika gadis bernama Clara ini sangat berambisi membantuku dengan ragam tingkah aneh miliknya yang mencurigakan.


"Apa alasanmu melakukannya?"aku sedikit menarik kerah bajunya.


"Apa tindakan untuk cinta membutuhkan Alasan?" Clara yang tidak merasa terganggu saat aku angkat kerah bajunya dengan santainya tersenyum sembari menatapku dengan tatapan mengerikannya.


"Seperti dirimu sekarang?" dan sekarang senyuman Clara itu menjadi seringai lebar yang menampakkan semua giginya yang kelihatan sangat rapi.


"Yang membunuh penghalangmu demi cinta" Clara berkata dan mulai terkekeh.


"Hahaha"


Tawa Clara yang terbahak-bahak membuatku tertegun saat dia mengatakan kebenaran tentang diriku, aku pun tidak bisa menyanggah apapun dan lebih memilih menunduk karena merasa satu pikiran dengannya.


"Sampai kau juga menyukaiku akan akan terus membantumu dan menarik perhatianmu"


Gadis Penyihir Badut bernama Clara itu tetap menatapku dengan mengerikan, namun meski begitu rasa kekaguman yang membara terbalut dalam bola matanya, dengan setelan one piece wajah yang sangat mulus bersama kulit pucat dan rambut peraknya, gadis yang sedikit lebih tinggi dari Umi itu  terlihat seperti boneka dalam film horor, dan seakan menjadi setan yang memiliki kekaguman besar terhadapku dari tatapan nanar nya itu, wajahnya seakan ingin memberikan hiburan untukku dari aksi-aksinya yang kejam membunuh orang, seakan seperti penghibur yang ingin memberi persembahan hiburan pada seorang raja.


Yah, namanya juga Gadis Penyihir Badut.