Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
10. Bantuan dan Bantuan



Bian mencoba menusuk belakang tubuhku yang kebetulan tidak sempat bergerak karena tidak menyangka dia akan muncul, dia pun tertawa kecil saat menyaksikan darah yang menetes pada lantai atap gedung saat melakukan hal itu saat yakin jika tubuhku sudah ia tusuk.


“Haha_”


Tetapi tawanya terputus ketika sadar jika sumber darah itu bukan dari punggungku melainkan telapak tanganku  yang terbungkus sarung tangan sihir,tidak mungkin aku membiarkan begitu saja dia menusukku karena itu sejak tadi aku memutuskan untuk menahan tusukannya dengan tangan.


“Sial!”


Bian yang terlihat sangat berantakan dengan matanya yang memerah, meludah kearah samping karena kesal.


Aku yang terkejut sontak melirik telapak tanganku yang terluka, untungnya aku tahu jika atribut gadis penyihir yang aku gunakan pasti akan menyembuhkan lukaku dan sekarang perlahan telapak tanganku kembali seperti semula.


Serangan kedua dilakukan lagi oleh BIan tapi kali ini aku menahannya dengan tangkisan pedang karena mengincar leherku, setelah itu aku menembakan peluruh shotgun kearah samping Len agar gadis yang sedang memegang palu itu menjauh, dan mengarahkan sebagian pedangnya kearah leher gadis penyihir berotot agar tidak macam-macam.


Setelah itu membuat perlindungan dengan pedang terbangnya yang banyak agar bisa fokus menyingkirkan gangguan kecil seperti BIan didepanku ini, aku langsung melepas pisau yang digenggam Bian dengan menepis telapak tangan gadis itu dengan tendangan kaki kiri kemudian terbang memutar untuk memberikan tendangan kaki kanan pada kepala Bian sehingga membuat gadis itu terkapar seketika.


Setelah menjatuhkan Bian, aku melanjutkan lagi pertarungan dengan Len dan Gadis penyihir berotot yang baru saja berhasil melepaskan pedang yang tertancap dikakinya dengan paksa kemudian kembali menyerang ku dengan bringas. Pertarungan antar  gadis penyihir diantara kami bertiga akhirnya menjadi begitu intens sehingga menimbulkan kelap-kelip cahaya dan dentuman heboh yang disebabkan sihir.


Setelah beberapa saat bertarung aku yang mendarat dan berdiri didekat Bian yang terkapar Bian, memperhatikan sesaat gadis itu yang perlahan bangun sembari memegangi dadanya yang sesak akan rasa sakit dan wajahnya yang memperlihatkan ekspresi amarah sepertinya bangun akibat suara pertarungan ku dan Len.


Aku kemudian mengalihkan fokusku pada orang yang tidak terlalu penting untuk aku waspadai itu dan kembali terbang untuk menyerang Len.


Di sela pertarungan, dari kejauhan aku masih memperhatikan Bian yang mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih pusing kemudian berbalik untuk menoleh pada pertarungan ku dan Len, Bian seakan terperangah melihat pertarungan kami dan memilih untuk kabur karena merasa tidak selevel  sekalipun dia memilih berubah menjadi gadis penyihir dan terlibat dalam pertarungan.


Namun baru memulai tiga langkah untuk melarikan diri Bian dihadang oleh Len yang langsung melesat kearah gadis itu dan meninggalkan pertarungan denganku, Bian memperhatikan rambut dan wajah kotor Len yang agak babak belur dengan wajah panik.


Len yang sama-sama menggunakan wajah panik memilih berkata pada Bian.


“Bodoh kenapa kau keluar?”


“Ma_maafkan aku Len” Bian menjawab cepat dengan mata yang sama sekali tidak melihat wajah orang yang lebih kuat darinya itu karena ketakutan.


“Lagian aku bilang untuk menunggu sampai aku kalahkan dia, tidak dalam wujud gadis penyihir dan saat dia benar-benar kelelahan baru kau bisa mengakhiri hidupnya!” Len mencekik leher Bian dengan begitu kuat sembari sesekali melirik aku yang sedang meladeni gadis penyihir berotot yang gantian menyerang ku.


Len melepas cengkraman tangannya dari leher Bian  karena akan kembali melanjutkan pertarungan.


“Tapi mau sampai kapan? kau tidak kelihatan akan membuat Rena dalam kondisi kalah dan kelelahan seperti itu?”


Namun perkataan dari Bian itu membuat langkahnya terhenti karena kesal dengan perkataan gadis penyihir yang levelnya lebih lemah darinya  yang seakan meremehkannya karena diyakini tidak bisa mengalahkan aku.


Setelah terbatuk, Bian melanjutkan perkataannya “Dendamku tidak akan terbayar kalau aku hanya memantau dari kejauhan!”


Len yang kesal menatap dingin wajah Bian yang membuatnya muak dia pun meluapkan amarahnya dengan menembakkan senjata sihirnya yang satu lagi yaitu X-Bow dengan bertubi-tubi sembari berkata dingin.


“Rasakan ini pecundang sialan...”


Bian yang mengerang kesakitan saat panah-panah X-Bow itu menuju perut dan kakinya, dengan wajah menyedihkan yang kusut masai sembari menangis, dengan setengah menunduk di antara isak tangisnya Bian berteriak “Ampuni aku Len!”


“Aaaa”


Bian mengerang dan berlari kembali menuju pintu koridor untuk melarikan diri dari sana.


“Aaaaaaaaaa”


Setelah melihat Bian orang yang sempat menjadi teman dekat dirinya itu kabur, Len pun langsung tidak peduli akan penderitaan gadis penyihir bunga itu dan langsung kembali memfokuskan dirinya untuk terbang dan melawanku kembali.


“Kau yakin sekali bisa mengalahkan aku dan mau menyuruh Bian mengakhiri hidupku dengan sebilah pisau” Aku berkata sembari menginjak kepala gadis penyihir berotot yang baru saja berhasil aku kalahkan saat mendarat kembali di atap gedung.


Pupil mata Len membesar karena kesal bawahannya diperlakukan seperti itu dia pun kembali berlari untuk membalas dengan amukan dan menyerang ku secara membabi buta sehingga membuatku tidak bisa memperhatikan sekitar, karena lengah sebuah sihir api dari atas langit berhasil menghujam lenganku aku mencoba melirik keatas dan melihat ada dua gadis penyihir dengan kostum warna biru dan merah yang terbang dan mencoba menembaki ku dengan sihir api dan air dari tongkat sihir mereka untuk membantu Len.


Tapi dalam sekejap serangan mereka berdua dihentikan oleh penghalang raksasa berbentuk bulan sabit yang dilancarkan oleh Umi yang tiba-tiba muncul dan melesat terbang kearah mereka untuk menghalangi serangan itu, sesaat kemudian Qori juga muncul dan menembaki kedua gadis penyihir itu.


"Rena! Fokus saja dengan pertarungan mu!"


Qori berteriak ke arahku.


"Aku dan Umi akan mengurus mereka"


Perkataan Qori itu membuatku tersenyum setelah mengangguk mendengar perkataannya aku yang terbantu dengan bantuan teman party ku itu merasa harus bersemangat mengalahkan Len dan dengan begitu serius aku pun menyerang Len tanpa ampun dan tidak peduli hidup dan mati gadis penyihir mawar itu sehingga membuatnya benar-benar terpojok.


Umi dan Qori juga membuat kewalahan dua gadis penyihir yang menjadi bala bantuan di atas langit sana, wajah gadis penyihir berotot yang aku injak kepalanya kelihatan panik.


“LEN!” gadis penyihir berotot itu berteriak.


“Kita mundur dulu” gadis penyihir berotot dengan suara beratnya meyakinkan pemimpinnya dengan air muka serius karena tahu mereka bisa saja kalah.


Saat itu juga gadis penyihir berotot mengeluarkan sebuah senjata gadis penyihir berbentuk tongkat dengan ornamen sayap dan menekan tombol pada tongkat itu.


“Awas kau Rena aku benar-benar akan membunuhmu setelah ini!” Len mengakhiri perkataannya dan hilang bersama dengan cahaya merah yang menggantikannya.


Begitupun gadis penyihir berotot yang diinjaknya dan dua gadis berkostum biru dan merah bersama Len menghilang karena sihir teleportasi dari senjata sihir berbentuk tongkat kecil itu.


Aku lega jika pertarungan nya berakhir dan dengan setengah kelelahan aku berlari kecil kearah benteng perisai militer yang aku bangun untuk melindungi Rea.


"Apakah ada serangan sihir yang mengenai dirimu?" Aku bertanya saat membongkar perisai-perisai yang telah ia susun.


Dengan wajah yang lesu Rea yang baru saja bangun menjawab dengan menggeleng pelan.


"Ayo kita pulang" aku dengan lembut berkata agar Rea tenang dan membawa Rea dengan menggendongnya dipunggung.


"Bagaimana kalian tahu aku bertarung disini" aku berkata pada Qori dan Umi yang setelah bertarung mendarat  menghampiriku.


"Kami sedang makan di cafe dekat sini tadi" Umi menunjuk kearah Utara bawah gedung ini.


"Umi melihat kilatan cahaya dan kostum biru dari kejauhan, kami memilih untuk memastikannya sehingga menemukanmu dan  memilih membantu karena sepertinya kau cukup kesulitan" Qori menambahkan sembari melirik Rea yang ku gendong.


"Kau bertarung dengan Len" Umi berkata padaku yang mulai berjalan untuk turun dan meninggalkan gedung ini.


"Kemungkinan kau akan berada dalam masalah besar setelah ini Rena" Qori berkata dengan nada khawatir, kemudian menyentuh pundakku.


"Dia itu terhubung dengan mafia Raven di kota ini lo!"


"Apa?" tanyaku saat menanggapi perkataan Qori.


Seketika darahku mendidih mendengar nama kelompok mafia itu, aku pun secara otomatis menangkap tangan Qori kemudian menggenggamnya erat dan menatap dalam matanya agar dia segera menjelaskan hubungan Len dengan para mafia yang sebagian anggotanya sudah membunuh Karen itu.