Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
7. Pertikaian



Setelah cahaya kelap-kelip dari proses perubahan Gadis Penyihir itu membungkus tubuh Bian dan memberikan pernak-pernik bunga serta kostum cerah bewarna kuning dan putih, sekejap cahaya itu lenyap diantara tubuh Bian yang sedang melompat maju mendekatiku untuk menyerang


“Rasakan ini! ” dengan sekuat tenaga Bian yang terbakar amarah melontarkan bom berbentuk bunga dari senjata sihirnya yang merupakan tongkat berbentuk tangkai bunga padaku secara membabi buta.


Aku melompat dan menghindar memanfaatkan pepohonan dan bangunan kosong dibelakang dengan tenang sehingga berhasil terhindar dari dampak ledakan, dengan wajah yang serius aku berteriak padanya.


“Ternyata kau juga seorang Gadis Penyihir!”


“Kebetulan aku ingin latihan dengan kekuatan sihir yang didapatkan tubuh ini” Aku tersenyum kemudian mengeluarkan handphone sihirnya dan segera membuka lipatan handphone itu sembari sibuk menghindari serangan.


“Sial aku lupa kalimat berubah yang diberitahu Rea kemarin” Aku yang kebingungan kemudian sembunyi didalam bangunan kosong saat mau fokus mencari tombol yang tepat dari beberapa tombol pada handphone sihir itu, diantara kebingungan karena tidak mengetahui tombol mana yang benar.


Memanfaatkan insting yang sembarangan aku pun hanya memilih tombol yang ukurannya paling besar di antara tombol kecil yang mengelilingi pada handphone itu, untungnya  saat ditekan benar-benar memunculkan tulisan ‘Ucapkan Mantra Berubah!’ yang kelap kelip.


Aku yang masih belum mengingat mantra untuk berubah itu memiringkan kepala kemudian langsung berdiri untuk berteriak kearah Bian yang masih menyerang.


“Tadi kau bilang apa sebelum berubah!?”


Dan tentu saja Bian yang telah terbakar amarah serta terburu-buru hanya untuk mengalahkan aku, tidak menjawab pertanyaan tentang mantra darinya itu.


Karena mau sekuat apapun aku berteriak telinga nya yang telah diusik dengan dentuman-dentuman keras dari bom yang memekakkan telinga sehingga membuat Bian sulit mendengarnya.


“Oh iya aku ingat!” Aku mendapat pencerahan pikiran setelah beberapa saat mengingat-ingat perkataan Bian  saat membaca mantra itu dan Rea yang pernah memberitahu.


“Magical Change”


Aau berteriak dan layar handphone sihir milikku menunjukkan simbol matahari yang berputar, seketika cahaya dari dalam ponsel bewarna biru muncul dan menyelimuti tubuhku kemudian dengan ajaib memunculkan pernak-pernik, aksesoris dan kostumnya dalam sekejap.


Bian memperhatikan dengan cukup waspada diriku yang mulai menyerang balik dirinya dengan senjata-senjata yang dimunculkan dari sarung tangan sihir yang aku kenakan, beberapa dari senjata itu ada tameng militer keluar yang menangkal ledakan yang ia berikan.


Entah mengapa saat aku menyerang kekesalan dari BIan untukku menjadi-jadi.


“Kau itu harusnya  seorang gadis penyihir yang cengeng dan lemah!”


"Tidak sekuat ini sialan"


"KENAPA!"


Sembari mengerang dan melontarkan umpatan Bian memperkuat serangan bomnya padaku, untungnya aku masih bisa menghindar dan menghalau karena serangan itu bukanlah serangan yang terukur  aku juga beberapa kali mampu menyerang BIan hingga membuat beberapa bagian tubuh bian terluka dan tentu saja Bian pun bertambah kesal.


Aku tahu dia kesal karena bayangan tentang Rena si gadis cengeng dan lemah yang selama ini menjadi target perundungan nya seketika dihancurkan olehku yang mengalami reinkarnasi pada tubuh Rena dan Bian yang tidak terima akan dikalahkan olehku dan merasa akan direndahkan berusaha membunuhku agar harga  dirinya tetap terjaga, karena Rena yang kuat dan berhasil mengalahkannya akan menjadi aib untuk gadis yang telah memuncaki rantai makanan pada kelas Rena.


Tapi persetan dengan harga dirinya tentu saja aku tidak akan membiarkan dia membunuhku karena masih banyak yang harus aku lakukan.


Bian berteriak “KAU AKAN KU BUNUH RENAAA”


Bian mengeluarkan serangan andalannya dengan memulai melayangkan bom bunga tulip besar kearah langit untuk dilempar padaku.


Mengetahui BIan yang tak terkendali serta  tidak fokus saat menciptakan bom itu karena terbakar amarah, aku pun mencoba menghilangkan keberadaan di hadapan gadis penyihir bunga itu.


Saat menahan bom bunga tulip besar itu agar tidak dijatuhkan sembarangan, Bian mencari keberadaan ku yang menjadi target lemparannya namun dia yang panik tidak bisa menemukan apapun.


Beberapa detik kemudian aku muncul dibelakang Bian dan menodongkan sebuah pisau kecil pada leher gadis penyihir bunga itu.


Ujung tajam pisau yang aku ciptakan aku tekan sedikit sehingga membuat leher putih Bian mengeluarkan setetes darah, Bian pun hanya bisa membisu dengan keringat dingin yang mengalir pada dahinya diantara tubuhnya yang gemetar ketakutan.


“Maaf aku akan kerepotan jika harus mati sekarang”


Tanganku mulai menggerayangi leher Bian.


“Jadi sekali lagi maaf”


Dibantu dengan kekuatan fisik tambahan alami seorang Gadis Penyihir yang sangat membantu aku  menggunakan teknik cekikan lengan dengan cukup kuat pada leher Bian sehingga membuat gadis itu kesulitan bernafas.


“Hilangkan BOM itu atau kau akan kehabisan nafas” aku berbisik dengan nada dingin pada telinga Bian.


“Aakh” Bian mengerang kesakitan saat masih mempertahankan sifat keras kepalanya dengan mempertahankan bom besar itu, namun karena merasa cekikan yang aku berikan semakin membuatnya sesak dia pun terpaksa melenyapkan bom itu.


Setelah bom itu menghilang aku langsung melepaskan Bian dari cengkraman ku.


“Setahu yang ku tonton gadis penyihir itu tidak membunuh orang apalagi sesama teman seperjuangan” kataku pada Bian saat terbayang dengan adegan-adegan kartun gadis penyihir yang dulu sering aku tonton bersama Karen.


“Kau akan menyusahkan aku kedepannya jika kau selalu memiliki niat untuk menghancurkan aku”


Aku memperhatikan seksama seorang Bian yang tersungkur dengan menyedihkan.


Aku melangkah pelan mendekati Bian yang terkapar di tanah, kemudian memegang dagu Bian untuk memberikan tatapan kosong yang begitu dingin dan mengerikan dan berkata dengan nada ancaman “Tapi jika kau masih memilki niat  untuk mengusik ku untuk balas dendam aku tidak segan membunuhmu saat itu juga.”


"Sudah kuduga setiap gadis penyihir memiliki senjata yang sama dengan simbol mereka" kataku sembari memandangi layar handphone sihir saat terbayang akan senjata-senjata yang digunakan beberapa gadis penyihir yang aku temui.


"Tetapi kenapa senjataku sarung tangan kucing?" kataku saat terbayang sarung tangan kucing miliknya yang bisa memunculkan segala jenis senjata hanya dengan membayangkan senjata yanga ingin digunakan.


"Bukan senjata yang mirip seperti matahari?"


Jari jemari bergerak cepat untuk memunculkan tulisan Gadis penyihir di kota batavia saat mengetik, sehingga memunculkan banyak gambar pada layar smartphone tentang penampakan gadis penyihir yang ditangkap orang-orang  pada sosial media yang tampaknya menjadi urban legend di kota itu.


Aku pun melanjutkan perkataan sembari mengetik dengan menyelipkan kalimat 'Gadis penyihir berkostum kucing' pada pencarian internetnya.


Dan dar ribuan gambar aku menemukan sebuah video amatir penampakan 3 gadis penyihir yang berkostum biru langit seperti diriku dan berkostum pernak-pernik bintang seperti Rea serta seorang gadis yang tergeletak dengan berlumuran darah sesudah dihantam palu besar berbentuk mawar oleh seorang gadis penyihir yang menjadi lawan ketiga gadis penyihir itu.