
"Sa_santai Rena" Qori yang tergagap dengan tatapan takut saat melirik kesamping melepas tanganku yang mencengkram pundaknya.
"Aku akan jelaskan" Qori melanjutkan dan dia mulai menjelaskan padaku saat kami berada di dalam eskalator dan setelah kami bertiga serentak kembali ke wujud manusia.
"Pada dasarnya Len adalah putri tunggal ketua mafia Raven di kota" Qori berkata saat mengikuti irama langkah kakiku yang lambat saat berjalan.
"Mafia Raven berpusat di kota ini?" tanyaku lagi saat sedikit membenarkan posisi Rea yang aku gendong.
"Iya mafia terbesar di negeri ini dengan cabang yang tersebar di 13 kota" Qori menjawab dengan sedikit menyiratkan kekaguman dengan rasa tidak percaya saat membahas besarnya mafia Raven yang berkaitan dengan kematian Karen.
"Salah satunya di north java kan?" tanyaku yang mencoba mengarahkan siap tahu jika Qori tahu dengan kasus pembunuhan satu keluarga di sebuah desa di sana yang dilakukan cabang mafia Raven di kota tempat aku tinggal dulu.
"Iya di sana juga" Qori menjawab namun langsung membisu karena sepertinya hanya tahu dimana cabang mafia Raven dan tidak tahu apa-apa tentang kasus di sana.
Qori mengambil nafas perlahan dan mengeluarkannya dengan air muka yang agak takut dia berkata "Ada rumor yang mengatakan Len menggunakan kekuatan ayahnya untuk menculik gadis penyihir dengan senjata sihir yang ia mau untuk dia dan teman-temannya gunakan."
"Menculik?" tanyaku.
"Iya, menculik sampai-sampai para gadis penyihir itu tidak pernah ditemukan" jawab Qori, umi disebelahnya pun berinisiatif demi membuatku paham ,menampilkan tayangan berita pada MeTube dan menunjukkan layar smartphonenya dengan berita puluhan gadis yang hilang dalam dua tahun terakhir itu itu padaku.
"Semenjak melakukan hal seperti itu sekejap berkuasa diantara gadis penyihir dan menjadi salah satu yang paling kuat" Qori melanjutkan dan menepuk kepala Umi sembari tersenyum.
Umi membalas senyuman Qori kemudian melanjutkan perkataan temannya itu "Pengaruhnya sampai bisa membuat sebuah kelompok gadis penyihir dengan senjata sihir yang sangat banyak dan dia bos nya"
"Aku pernah mendengar dari seorang gadis penyihir yang jika Len juga mengabulkan permintaan gadis penyihir yang ingin membunuh gadis penyihir lainnya menggunakan anggora mafia ayahnya."
"Sesama gadis penyihir?" tanyaku lagi karena tidak bisa menerima tindakan Len yang memanfaatkan kekuatan ayahnya.
"Iya, selain karena persaingan Len menjanjikan akan mengambil hope point gadis penyihir yang dibunuhnya untuk dibagi pembuat permintaan" jawab Umi saat memasukkan kembali smartphonenya kedalam saku.
Perkataan Qori yang menjelaskan jika Len bersama mafia Raven menerima permintaan untuk membunuh mempersempit petunjuk dari tujuan mafia Raven karena aku jadi yakin jika ada yang meminta mereka membunuh keluarga Karen, karena jika berdasar dendam atau hutang keluarga Karen tidak pernah berhubungan dengan mafia sebelumnya, tapi jika membunuh karena permintaan gadis penyihir yang ingin membunuh Karen, itu juga tidak mungkin karena Karen bukan gadis penyihir.
"Pembunuhan di desa yang ada di South Java apa ada kaitannya dengan gadis penyihir?" tanyaku mempersempit pembicaraan, berharap Qori dan Umi memberikan sedikit petunjuk tentang mafia Raven dengan pembunuhan di Desa South Java.
"Desa di South Java?" Qori memiringkan kepalanya dengan air muka bingung karena tidak mengetahui apa-apa, kemudian menoleh pada Umi berharap temannya itu tahu sesuatu.
"Ah, kasus yang ada kaitannya dengan Rene sang pembunuh berantai ya?" setelah melirik Qori, Umi berkata padaku.
Langkahku terhenti saat sekian lama, saat namaku di kehidupan sebelumnya disebutkan lagi dengan santainya oleh Umi yang tidak mengetahui jika dia mengatakan itu di depan orangnya langsung.
"Rene kau Rena" celetuk Qori yang terkekeh karena menganggap namaku dan Rena seperti sebuah lelucon.
"Sepertinya tidak ada, di tv kan mereka selalu menolak memberikan keterangan" Umi mengakhiri perkataannya dan bersiap berpisah denganku setelah mencapai lantai gedung ini.
Gedung yang sudah sepi ditengah malam ini membuat tidak ada yang menyadari keberadaan kami yang membawa Rea yang sudah babak belur.
"Kalau begitu kami duluan ya" kata Qori dan bersama dengan Umi melambaikan tangan kemudian meninggalkan aku setelah keluar gedung.
“Kau ingat saat babak belur seperti ini kita bertiga dulu selalu saling menggendong dengan bergantian karena masalah berat badan” Rea yang tempo bicaranya begitu pelan dan terdengar lesu, tertawa kecil dari balik punggungku saat terbangun.
“Dan di perjalanan pulang selalu saja sambil bercanda meski sudah tidak sanggup lagi tertawa” Rea masih mempertahankan senyuman bahagia di antara wajah lesu yang ia dapatkan karena lelah dan kesakitan berkat dihajar bawahan Len.
“Sejak kehilangan Ayn setahun yang lalu kau tidak pernah berubah menjadi gadis penyihir untuk membunuh Less lagi" Rea melirikku yang menggendongnya dengan mata yang sendu.
"Tapi kemarin, tiba-tiba saja kau ingin bertarung melawan Less raksasa bersamaku" Rea menjelaskan tentang apa yang terjadi pada sahabat aslinya itu tepat sebelum jiwaku terbangun.
"Anehnya lagi sifatmu jadi berubah karena benturan saat bertarung" Rea masih melanjutkan perkataannya di saat aku mulai menurunkannya untuk duduk sesaat pada trotoar.
Aku dan Rea memilih beristirahat sementara dan hening pun sempat tercipta di antara mereka berdua.
"Sarung tangan itu..."
Rea memaksa berkata lagi.
Tergambar jelas jika saat berkata Rea tersenyum tipis karena tak lepas mengenang mendiang Ayn si gadis yang tak ku ketahui itu.
"Aku masih ingat sebelum terbunuh dia selalu meminjamkan sebelah sarung tangannya,
Karena kasihan melihatmu tidak pernah memegang senjata aslimu yang kau katakan 'hilang tiba-tiba' Rea melanjutkan perkataannya.
"I_iya aku juga ingat dia mengatakan itu" kataku berdalih.
Hilang? Kenapa senjata sihirnya bisa hilang? Tanggapan dalam pikiranku sudah jelas muncul saat merasa aneh kenapa senjata sihir itu bisa hilang dengan tiba-tiba.
Namun aku tidak bisa fokus karena jelas terlihat Rea masih ingin menyampaikan perkataan-perkataan pada diriku.
"Ayn berpesan jika ada sesuatu terjadi padanya, kau yang akan memegang sepenuhnya senjata sihirnya." kata Rea yang seakan sedang mengenang kejadian masa lalu pada aku 'Rena' temannya.
"Dan tibalah hari itu"
Saat duduk Rea menundukkan kepalanya.
"Hari di mana kita mengalami hal yang paling terburuk sehingga sesuatu benar-benar terjadi pada Ayn" Rea menunduk sangat dalam seolah penuh akan penyesalan.
"Di saat Len menghabisinya" Mata Rea pun berkaca-kaca.
"Saat itu aku sangat lemah sehingga tidak bisa melindungi mu dan dirinya saat Len tanpa ampun menghujamkan palunya pada Ayn" tangisan Rea dimulai saat dia mulai menceritakan sebuah peristiwa yang sama dengan kejadian yang aku lihat di dalam video amatir.
"Bahkan sampai sekarang aku harus merepotkan mu karena lemahnya aku" Air mata Rea pun semakin mengalir deras.
"Sudah, tenanglah" Ujarku saat menenangkan gadis itu yang terisak akan penyesalan dan kekesalannya.
Setelah tangisan gadis itu reda demi memperbaiki suasana hati Rea, aku mengajak Rea mengobrol mencoba mencari tahu seperti apa masa lalu dari tubuh Rena yang aku hinggapi saat ini dan sedikit tentang senjata sihir asli yang dimiliki Rena.