
Aku tidak pernah menyangka ternyata Qori akan mengakhiri hidupnya seperti ini dan benar wajahnya yang ceria saat itu hanya bertahan sesaat karena ingin membuatku tidak khawatir saja dan memilih mengakhiri hidup karena ternyata jiwanya benar-benar hancur.
Canda dan tawa yang selalu mengitarinya saat bersama Umi, lenyap begitu saja dari yang ku perhatikan tingkah ceria dari gadis tomboy yang keren juga dingin dari Qori itu terpicu karena tingkah sahabat mungilnya yang lucu.
Qori pernah memberitahuku jika kehidupan keluarganya begitu rumit dan hampir hancur, Ibunya mengalami gangguan jiwa, ayahnya meninggal dan kakak laki-lakinya sering sakit-sakitan sehingga harus membuatnya kerja paruh waktu secara keras.
Bahkan saat dipilih menjadi gadis penyihir dia pernah memberitahuku bahwa impiannya hanya satu yaitu hanya mendapatkan kebahagiaan.
Kehidupan Qori menjadi sangat gelap, namun karena ada Umi yang selalu menemaninya hidupnya pun menjadi cerah dan bersemangat.
Tidak ada lagi yang bisa lagi menggoda Umi dengan perkataan ‘anak kecil’ karena tubuh mungilnya.
Tidak ada lagi yang bisa diomeli olehnya melihat tingkah Umi yang terkadang aneh bak adik kecilnya.
Tidak ada lagi yang menemaninya saat melakukan hal-hal sulit seperti menjadi gadis penyihir untuk membunuh Less.
Sebenarnya Qori bisa meraih kebahagiaan jikalau tetap menjadi gadis penyihir dan mengumpulkan banyak Hope Point, tetapi karena merasa telah kehilangan pendukung hidup yang seolah menjadi cahaya untuk menyinari kegelapan dalam dirinya, jiwanya yang kehilangan cahaya itu pun kembali gelap hingga benar-benar menyentuh dasar kegelapan dalam jiwanya, aku pernah mengalami hal yang sama jadi aku paham, namun bedanya kegelapan menggerakkan tanganku untuk membunuh orang dengan balas dendam.
Sehari setelahnya selama beberapa bulan menjadi gadis penyihir untuk kedua kalinya setelah kematian Umi aku pergi ke sebuah upacara pemakaman Qori yang berada dipinggiran kota Batavia, pemakaman menyedihkan dengan hanya dihadiri tetangga sekitanya yang sedikit .
Banyak yang membicarakan Qori yang semasa hidupnya sangat kesulitan bersama temannya yang merupakan salah satu keluarga kelas menengah yaitu Umi, karena Umi, Qori sedikit demi sedikit bisa berinteraksi ramah dengan mereka, namun mereka menyesalkan kematian Qori yang memutuskan mengakhiri hidup hanya karena kehilangan Umi.
Tidak pernah aku sangka ternyata kehidupan gadis penyihir di sekitarku yang aku alami begitu tragis dan suram, penuh dengan dendam, ego manusia yang gelap, saling bunuh padahal yang kutahu di televisi mereka sangat ceria dan bahagia, tapi mungkin seperti inilah yang sesungguhnya jika gadis penyihir ada di dunia nyata.
Kalau begini, menjadi gadis penyihir sama saja tingkatannya seperti pembunuhan para mafia dan pembunuhan saat perang menjadi tentara bayaran yang pernah aku lakukan, apa mungkin takdirku memang haus mengalami kehidupan yang berkaitan dengan kematian seperti ini terus dan tidak akan pernah membuatku mendapatkan kebahagiaan diantara kedamaian.
Suasana hatiku hari ini semakin memburuk karena ditambah lagi oleh suasana rumah yang sepi nan sunyi seperti biasa menyambut ku saat pulang dari upacara pemakaman Qori, berkata orang tua Rena yang tiada karena dulu setelah aku cari tahu mereka sudah meninggal karena kecelakaan maut di jalan tol.
Setelah meminum air putih yang banyak untuk menenangkan diri dan berdiri sendirian di dekat dispenser dengan tiba-tiba aku merasakan ada sesosok mahluk yang muncul di belakangku sehingga membuatku reflek ingin menekan tombol berubah pada handphone sihirku.
“Seperti itukah sifatmu pada maskot Gadis Penyihir” Lep berkata dengan nada datar yang sama seperti wajahnya.
“Kau melihatku seakan-akan melihat Less” Lep terkekeh dengan mempertahankan wajah datarnya.
Saat mengingat perkataan Agura yang mengatakan jika Lep lah yang memberi mereka tongkat pengendali Less yang menciptakan peristiwa besar dan membuatku kehilangan 2 orang yang telah aku anggap teman membuat darahku mendidih, mataku melotot melihat maskot itu, amarahku memuncak hingga membuat tinjuku terkepal. “Lep.” aku menyebut nama maskot itu dengan nada yang begitu dingin
Lep mengabaikan ekspresiku dan menatapku dengan biasa kemudian diantara tawa kecilnya dia berkata“Sudahlah lupakan lagipula aku sering dikira Less oleh gadis penyihir lain."
"Aku ber_” perkataan Lep terpotong saat dia menyadari tebasan pisau daging yang ku ayunkan hampir memotong kepalanya.
"Hop" Lep melompat kebelakang dengan menatapku kesal akibat serangan kejutanku yang bertujuan untuk menghabisinya.
"Hampir Saja"
Lep berkata sembari terkekeh dengan wajah datar seperti tadi.
Lep mengangguk-angguk pelan kemudian berkata "sudah jelas kau akan membunuhku ya."
"Karena mendengar perkataan si artis bodoh itu" Lep mendengus kesal setelah itu mengambil nafas dan melanjutkan perkataannya "tapi dengarkan aku dulu Rena."
"Aku memiliki alasan untukmu kenapa aku menolong mereka berdua" Lep dengan kaki pendeknya berjalan pelan mendekatiku.
"Diam kau sialan!" kataku yang masih belum bisa memaafkan tindakannya sekalipun dia memiliki alasan.
"heeh" gumam Lep saat menghindari lemparan pisau daging yang ku arahkan padanya.
Lep menoleh kearah pisau daging yang tertancap pada tembok dibelakangnya itu kemudian berkata "Sifatmu yang selalu mengabaikan segalanya demi egomu itu bisa membuatmu kesulitan lagi loh."
Lep seketika diam dan membuatku membisu karena perkataannya, suasana hening pun mengitari ku saat aku mencoba mendinginkan kepala dan menyetujui perkataan Lep agar sifat buruk yang telah menciptakan ku sebagai pembunuh ini tidak membuat informasi penting di sekitarku terabaikan, aku sadar karena mengabaikan informasi sekitar lah Umi tidak bisa aku lindungi.
Aku menunduk dan bersandar pada tembok di dekatku, Lep pun yang memahami gestur diriku yang berniat mendengarkannya kemudian melanjutkan perkataan "Baiklah akan aku jelaskan."
"Ada seseorang yang memintaku melakukannya" kata Lep dengan nada tegas nan serius.
"Dan kau menurutinya begitu saja" aku menanggapi dengan nada dingin.
"Dia memiliki pengaruh besar untuk keselamatan dunia ini, jadi sudah jelas aku membantunya" Lep menjelaskan informasi untukku sembari memutari lantai dapurku dengan langkah kecil kaki pendeknya.
"Jika kau hidup dia berkata kau akan menghalangi semua itu dan akan membuat dunia ini hancur" Lep memajukan kepalanya dengan membuka lebar bola mata merahnya saat menatapku dengan suram.
"Siapa orang yang mirip dukun perama itu" kataku sembari terkekeh kecil karena aneh dengan penjelasan Lep yang memberitahu jika ada seseorang yang seolah bisa meramal kehidupanku.
"Dukun peramal?" gumam Lep memiringkan kepalanya untuk berpikir seolah-olang kurang memahami istilah dari bahasa manusia biasa yang aku gunakan.
"Aku tidak bisa memberitahu identitas orang itu padamu" kata Lep datar saat melirik pelan ke arahku.
"Jadi jangan dendam padaku ya"
Dengan aneh tiba-tiba saja diantara paruh penguinnya Lep bisa memberikan senyuman Lebar kemudian berkata
"Aku memberikan keringanan dengan hanya memberi gadis penyihir kekuatan lebih agar bisa menjatuhkan mu."
"Sebenarnya aku bisa menjatuhkan mu saat ini juga jika perkataannya benar" Lep melanjutkan dan maju lagi mendekatiku dengan wajah datarnya yang suram bersama tatapan tajam yang mencoba mengintimidasi ku.
"Lakukanlah jika kau yakin bisa menjatuhkan aku Lep" aku membalas tatapan intimidasinya.
Lep mundur karena merasakan aura membunuh yang aku keluarkan saat menatapnya kemudian "tidak, kau salah satu gadis penyihir yang masih berada dalam naunganku dan aku tidak mau kehilangan satu gadis penyihir terkuat milikku akibat perkataannya."
"Lagipula agar drama gadis penyihir yang ada di kota ini menarik, biarkanlah para gadis penyihir yang ada masalah denganmu saja yang melakukannya" Lep tertawa terbahak-bahak bersama wajah datarnya yang menyeramkan nan suram.