
Aku melepas kunci pintu rumah, untuk membiarkan para anggota mafia Raven masuk untuk terjebak dalam rencanaku, bunyi berderit pun muncul saat salah satu dari mereka membuka kedua sisi pintu dengan perlahan, setelah situ satu persatu anggita mafia itu berderap masuk dan mereka semua memegang senjata api dari pistol hingga senjata laras panjang, yang langsung mereka todongkan ke dalam ruang tamu untuk langsung menembak siapapun di dalamnya namun untungnya tidak ada satu anggota keluarga lain selain aku disini dan aku pun sudah sembunyi, dibalik tangga menuju ruang atas rumah ini.
Semua lampu di rumah ini telah aku matikan, dibalik kegelapan ada belasan senjata api yang aku ciptakan dan aku buat melayang diatas langit-langit rumah ini,saat setengah dari mereka masuk aku mulai menembaki mereka dengan rentetan peluru tak terbatas tanpa ampun, kemudian saat yakin asap-asap yang disebabkan tembakanku sudah menyeruak aku muncul dari balik kegelapan dan menyerang mereka dengan dua bilah pedang yang segera aku ciptakan, aku menumbangkan 3 dari mereka dengan menebas satu persatu kepala mereka.
3 tubuh tanpa kepala tergeletak dibawah kakiku, darah mereka pun seketika mengalir, namun sepertinya teman-teman mereka tidak menghiraukan kematian mereka bertiga karena panik dengan hujan peluru dari sihirku yang membuat mereka sekarang begitu kewalahan, tetapi anehnya aku hanya melihat hanya beberapa orang saja dari mereka yang tumbang karena peluru sihir bercahaya itu.
Karena penasaran aku pun menghentikan tembakan pada senjata-senjata apiku yang terbang, dan seketika membuat asap yang memenuhi ruang tamu memudar sehingga bisa melihat jika beberapa dari mereka dilindungi perisai bercahaya yang cukup besar untuk menutupi tubuh mereka.
Aku memutar bola mataku untuk mencari darimana asal perisai bercahaya yang sudah jelas muncul karena sihir yang hanya bisa digunakan oleh gadis penyihir di kota ini, dan seketika aku menemukan seorang gadis penyihir yang menggunakan senjata sihir perisai.
Wajah gadis penyihir yang cekung dengan tubuh kurus kerempeng itu mempertahankan sihirnya dengan sekuat tenaga menggunakan tubuhnya yang lemas nan lusuh, leher mereka pun diberi rantai oleh para mafia itu dan ditarik seperti binatang peliharaan agar gadis penyihir itu mengeluarkan perisai sihir yang sekarang wujudnya bisa berubah-rubah dan bisa menjadi senjata untuk menghujam tubuhku dengan dilempar.
Aku melompat tinggi menghindari perisai itu namun setelah melompat sebuah tombak besar muncul dari belakangku dan terpaksa membuatku menghindar lagi namun kali ini aku kehilangan keseimbangan saat menerima ledakan besar yang dimunculkan tombak besar itu.
Tombak sihir itu digunakan oleh gadis penyihir satu lagi dengan kondisi menyedihkan seperti gadis penyihir perisai dan gadis penyihir tombak juga diberi rantai untuk memaksa mereka mengeluarkan kekuatan sihir mereka untuk melawanku.
Sebuah fakta memuakkan yang kumpulkan lagi dari Mafia Raven dari tingkah mereka yang tidak hanya memanfaatkan gadis penyihir tapi juga memperlakukan gadis penyihir yang merupakan wanita seenaknya seperti itu benar-benar menambah keyakinanku untuk membunuh mereka, aku pun tersenyum lebar hingga menampakkan gigi karena lega jika rasa belas kasih ku telah hilang.
"Gadis Penyihir?" kataku diantara senyuman dengan sebelah alis yang terangkat.
"Kamu pikir kami akan menggunakan kekuatan biasa untuk melawan mu" salah satu anggita mafia Raven meninggikan nada bicaranya.
"Bagaimana Bisa?" tanyaku saat mengibaskan pedangku untuk menghilangkan darah pada ujungnya.
"Kami sudah tahu kau gadis Penyihir sama seperti nyonya muda Len" anggota mafia Raven yang memegang rantai menarik leher gadis penyihir tombak dan yang satunya menarik gadis penyihir perisai kemudian berkata "Maka, kami gunakan gadis-gadis penyihir yang kami culik ini melawan mu juga."
"Mayat nyonya muda sungguh mengenaskan karena kau bunuh" satu lagi anggotanya berkata geram.
"Rena Alona kau juga akan mati mengenaskan lebih dari nyonya Len malam ini juga!" teriak satu anggotanya lagi yang cukup jauh dariku.
"Serang dia cepat!" si penarik rantai gadis penyihir tombak membentak gadis menyedihkan itu dan menariknya dengan kasar.
"Cepat bodoh!" teriak si penarik rantai gadis penyihir perisai dan menarik rambut gadis itu.
"Ampuni aku!" jawab gadis penyihir perisai menjawab saat terisak kemudian gadis penyihir perisai dan gadis penyihir tombak melayangkan serangan cepat yang tertuju ke arahku.
"Tidak ada alasan lagi untuk aku membiarkan kalian hidup" teriakku sembari menghindari ratusan perisai tajam dan tombak bercahaya yang mencoba membunuhku.
"Terimakasih karena telah melakukan hal seburuk itu di depanku" aku menangkap salah satu perisai dan membuatnya menjadi tameng sementara untuk menghindari serangan lainnya.
"Aku tidak segan membuat kalian mati mengenaskan lebih dari yang Len dapat" Aku berkata dengan nada datar kemudian, karena emosi energi sihir besar dari tubuhku seketika keluar dan membuat mereka terhempas, setelah itu seketika tercipta machine gun dari sarung tangan sihirku, aku menyalurkan energi sihir yang banyak pada machine gun itu, dan menembakkan pada mereka yang berbaris di depanku secara tak beraturan dan membuat tubuh para mafia Raven itu tercabik-cabik, darahnya muncrat, dengan darah dan daging yang berserakan dilantai.
Untung saja kedua gadis penyihir yang dibuat menjadi budak oleh para anggota mafia Raven tadi sempat melindungi diri dengan perisai sihir, sehingga aku tidak perlu merasa khawatir mereka akan terkena. Dengan darah yang memenuhi tubuh dan wajahku aku mendekat kepada mereka untuk menyuruh mereka pulang ke rumah dan menjauhkan diri dari mafia Raven, namun belum sempat aku mengatakan sepatah kata, mereka dengan wajah yang begitu takut saat melihat diriku kabur duluan.
Hening setelah kepulan asap machine gun yang memudar pun muncul saat hampir semua anggota mafia Raven sudah kehilangan bentuk tubuh mereka tetapi sebuah suara merintih pilu, memecah keheningan dan saat ku menoleh kesamping ada seseorang dengan sebelah kakinya yang menghilang meringis kesakitan.
Anggota mafia Raven yang wajahnya paling muda diantara yang lain itu berhasil selamat berkat dirinya yang terlindung dari tembok rumah ini dan tubuh-tubuh temannya karena anggota muda sepertinya berada dibarisan paling belakang, aku pun sedikit bersyukur karena niatku dari awal ingin menghilangkan keberadaan organisasi mafia Raven dan dengan sedikit siksaan mafia muda di depanku ini bisa membantu.
Aku dengan langkah pelan kemudian menginjak kedua tangannya yang berlobang karena peluru dengan mengabaikan jeritan perihnya aku bertanya dengan nada dingin "beritahu aku, dimana markas kalian."
Mafia muda itu menggeleng demi menjaga organisasinya.
"Tidak_"
Aku menembakkan satu peluru dari senapan yang masi ku terbangkan di langit ke kaki kirinya yang masi utuh kemudian membentak "Cepat sialan! "
"Di_di_di distrik utama bagian utara, ada gedung paling besar di sana itulah markas utama kami" mafia muda itu menangis dan menundukkan pandangan ke arahku seakan-akan sedang meminta ampunan.
"Beritahu juga tempat kantor cabang kalian" tanyaku lagi yang kali ini lebih kuat menginjak tangannya.
Setelah mengetahui semua informasi dari mafia muda itu aku yang tahu akan jadi rumit jika dia masih hidup dan ditemukan polisi memilih mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya dengan pistol kemudian karena ingat mereka pernah menggantung tubuh karen aku pun mengulang perlakuan mereka, kebetulan tubuh mafia mudah ini hampir utuh dengan rantai besi yang aku ciptakan aku menggantung tubuh mafia muda itu ditengah lautan darah dan daging rekan-rekannya kemudian meninggalkannya untuk mencari anggota mafia Raven yang lain.