
Karen begitu erat memelukku karena menemukan teman lamanya, aku pun yang merasa bertemu teman lama yang ku cintai juga balas memeluknya erat dan ikut mengalirkan air mata aku menepuk-nepuk pundak Karen dengan pelan dan berkata "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."
"Aku juga" Karen menjawab lembut dan sesekali tersengal.
"Banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu" Karen melanjutkan dan melepas pelukannya, kemudian mengucek matanya serta mengusap wajah demi menghilangkan air tangis yang mengalir.
"Hai kak Rena."
Tiba-tiba suara seorang gadis yang familiar terdengar olehku yang seketika membuat bulu kuduk ku berdiri, nada bicara pelan namun ceria yang keluar itu membuatku merinding dan saat aku menoleh aku bisa melihat sosok Clara yang entah muncul darimana sedang berdiri dengan tatapan tajam dan kosong sedang melihatku yang baru saja selesai berpelukan dengan Karen.
"Clara kenapa kau bisa disini?" tanyaku dengan nada dingin bersama tatapan yang tajam saat memasang dinding kewaspadaan pada Clara yang sekarang memberikan seringai lebar padaku.
"Aku, diberitahu Lep jika kau ingin melihat hasil dari permintaanmu kesini" Clara berkata setelah itu berjalan perlahan mendekati aku dan Karen.
"Gadis itu siapa?" kata Karen dengan air muka penasaran.
"Dia temanku dari kota" Aku menjawab cepat setelah dengan cepat otakku memutuskan apa yang paling tepat untuk menjelaskan siapa Clara pada Karen agar tidak ada pertanyaan mendalam yang akan menjalar kemana-mana meski dengan perasaan yang tidak tulus.
Karen pun mengangguk pelan kemudian memberikan senyuman sambutan yang hangat pada Clara di depannya, dan hanya ditanggapi senyum tipis oleh KAren yang langsung menoleh ke arahku dengan riang dan berkata "Oh benar juga dia ini gadis yang kau hid_"
Aku dengan cepat melompat kearah Clara dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kananku dengan begitu kuat, aku pun memberikan tatapan tajam untuk mengintimidasinya dengan begitu dingin dan dengan nada yang berat aku berbisik di telinganya "Diam Clara..."
"...aku tidak mau semua ini jadi rumit gara-gara mendengarkan hal-hal tak masuk akal di otaknya" perlahan pada akhiran bisikanku aku melepaskan cengkraman tanganku pada bibir tipis Clara yang tetap tersenyum.
"Baiklah."
Clara mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Maaf..." kemudian mengucap dengan berbisik.
"Gadis itu siapa?" tanya Karen yang menyipitkan matanya sembari memiringkan kepala karena penasaran dengan Karen dan bingung dengan tindakan tiba-tiba dariku yang agak kasar kepada Clara.
"Dia teman ku dari kota Batavia" aku menjawab simpel dan cepat pada Karen namun membuat Clara memberikan senyuman yang bertambah lebar dan ceria karena senang mendengar perkataan ku yang menyebut dia teman.
Clara berjalan kearah Karen dan menyodorkan tangan kanannya untuk memberikan salam kemudian berkata "Kenalkan aku Clara."
"Kau tinggal sendiri?" tanyaku saat berpura-pura tidak mengetahui keadaan orang tua Karen, karena sekarang berperan sebagai Rena teman masa kecil Karen.
Karen mengangguk lesu dan bersama mata sendu dan air muka sedih dia menjawab perkataanku dengan volume suara yang kecil "Iya ibu dan ayahku meninggal karena diserang mafia dan aku sendiri yang berhasil menyelamatkan diri dari tragedi itu. "
Kekuatan perwujudan impian yang dibuat Lep dengan menggunakan Hope Point begitu menakjubkan, bukan hanya hidup kembali di dunia ini, realitas dari eksistensi Karen dirubah sampai sedetail ini,takdir yang membuat dia mati sebelumnya seolah telah berubah karena di belokkan oleh Lep, menjadi bisa menyelamatkan diri, tapi karena aku hanya meminta Karen yang hidup kembali orang tua Karen takdirnya tidak bisa dibelokkan.
Tapi mungkin setelah ini aku akan mengumpulkan Hope Point lagi agar cukup untuk menghidupkan kedua orang tua Karen yang sudah aku sayangi seperti orang tua sendiri.
"Temanku yang aku bilang tadi" Karen melanjutkan pembicaraan lagi tapi kali ini ikut menoleh pada Clara yang baru dikenalinya supaya gadis itu ikut bergabung juga dalam obrolan,
"Dia di cap sebagai pembunuh berantai dan di tembak polisi saat melakukan balas dendam atas kematian orang tuaku oleh para mafia itu" Karen menoleh ke arahku dengan wajah yang begitu sendu.
"Aku tidak tahu kenapa dia melakukan tindakan bodoh itu" kata Karen dengan penekanan kuat pada ujung perkataannya kemudian sesekali menoleh pada Clara yang duduk di kursi sebelahku, Karen menoleh ke arahku lagi tapi aku pun langsung mengalihkan pandangan yang ia berikan saat aku merasa bersalah karena kemarahan Karen itu meskipun dalam wujud Rena karena melakukan hal bodoh yang ia sebutkan.
"Tapi rumornya organisasi mereka bubar aku jadinya agak tenang" Karen berkata lega dan tampaknya dari gestur wajahnya akan mengakhiri pembicaraan itu dan ingin mengalihkan ke pembicaraan lain.
Tapi dengan bodohnya Clara masih mau melanjutkan dan menambah pembicaraan tentang para mafia yang dibunuh itu dan dari tatapan bangganya padaku seperti ingin memberitahu Karen sebuah informasi yang ia dapat dari menguntit aku beberapa bulan ini jika akulah yang membunuh semua anggota Mafia Raven "Iya karena kak Rena lah yang mem_"
Seketika aku memotong perkataan Clara dengan tatapan ancaman dengan ekspresi wajah yang tersirat jika akan membunuhnya kalau dia bersikeras memberitahu Karen yang mungkin akan menjadi takut kepadaku dan bingung atas semua kejadian pembunuhan itu. Clara mengangguk kemudian terdiam dan membisu untuk beberapa saat karena paham akan isyarat wajah yang aku berikan.
Pembicaraan pun seketika teralihkan dan kami berdua membicarakan hal lain seputar sekolah dan lingkungan kami asing-masing, film terbaru, lagu makanan yang cocok untuk para gadis bahkan tentang animasi gadis penyihir yang sangat disukai Karen dan Clara hanya memerhatikan kami dengan diam karena tidak mengerti apa yang kami bicarakan.
Obrolan terus berlanjut sampai malam kamipun dibawa ke rumah Karen, rumah yang membuat aku nostalgia sekaligus rumah yang membawa banyak kesedihan padaku karena disinilah terjadinya pembantaian tragis itu, tapi demi Karen aku menghilangkan perasaan sedih dan perasaan lainnya yang menggangguku agar bisa ceria berbicara dan tertawa dengan Karen apa adanya.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu" kataku saat pamit di gerbang pintu rumah Karen pada malam itu.
"Kami mau pergi sekolah Besok" aku melanjutkan sembari menarik lengan Clara yang menatap cemburu pada Karen.
"Kapan-kapan aku akan ke rumahmu di kota batavia" ucap Karen sembari melambaikan tangannya.
Aku membalas lambaian itu dan tersenyum sembari mengangguk karena menantikan kehadiran Karen lagi yang akan mengunjungi ku.
"Tunggu aku ya" Karen memberikan senyumannya yang begitu manis dan indah dengan perasaan hangat saat memperhatikan aku yang meninggalkannya untuk pulang ke kota Batavia.