Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
36. Masih Sama



Sore pun seketika berganti menjadi malam saat cahaya putih yang baru saja menguap ke angkasa meninggalkan tubuh Karen saat mata gadis itu terbuka lebar dan kebetulan melihat diriku yang berlari kecil mendekatinya kemudian langsung mendekap tubuhnya begitu erat.


"Rena?" kata Karen yang terkejut dengan kehadiranku yang begitu tiba-tiba muncul  didepan matanya.


"Kenapa aku disini?" tanya Karen dengan nafas berat karena merasa terhimpit akibat dekapan pelukanku yang cukup kuat ia terima.


Aku yang merasa bersalah dengan sifat Karen yang tidak sedikit pun melepaskan diri dari dekapanku atau merasa kesal, mungkin karena merasa sesama gadis Karen malah menerima pelukan dariku yang menggunakan tubuh Rena ini meski sedikit merasa sesak, karena itu aku perlahan melepas pelukan ku untuk Karen dan saat melihat wajah cantiknya yang tersenyum  aku kembali berlinang air mata untuk kesekian kalinya.


Karena tidak ingin membuat wajah Karen lebih khawatir lagi seperti saat aku lihat ini aku pun dengan cepat mengusap mata dan langsung menjawab pertanyaannya tadi  "Ka_kau tersungkur dan pingsan di stasiun."


"Oh, benar juga beberapa saat yang lalu aku terjatuh saat aku menarik tanganku" kata Karen saat matanya terbelalak ketika mengingat kejadian sebelum ia mati satu minggu yang lalu saat ditembak polisi berseragam SWAT, namun anehnya dia anggap itu beberapa saat yang lalu karena terjadinya di malam hari seperti sekarang.


"Tapi_ah sakit" Karen berkata saat mencoba mengingat-ingat ingatannya yang kacau balau setelah aku bangkitkan kembali dari kematian, gadis itu memegangi kepalanya karena kesakitan saat otaknya memiliki ingatan yang menumpuk karena sihir yang aku tebak berasal dari perlakuan Lep.


"Aku sudah merubah ingatannya sedikit loh" Lep berkata melalui telepati pada kepalaku seakan bisa membaca pikiranku namun saat aku menoleh ke belakang aku hanya melihat gedung SMA yang kosong karena maskot penguin itu telah menghilang.


Karen melirik sekitar pada gedung sekolah SMA kosong di malam hari ini kemudian berkata "Kenapa kita di tempat menyeramkan seperti ini_"


Aku memotong pertanyaan Karen demi menghindari penjelasan panjang yang akan membongkar semua kejadian yang akan aneh bagi dirinya itu tentangku dan semua hal yang menimpa dirinya, karena aku takut dengan berbagai respon buruk dari dirinya jika aku jelaskan asal-asalan, karena itu aku menarik tangannya untuk pergi dan mencari tempat aman agar bisa menjelaskan semuanya dengan baik


"Ayo" kataku saat membuat Karen teralihkan dan mengikuti langkah jalan cepat ku.


"Pergi Kemana?" tanya Karen lagi dengan wajah yang kebingungan.


Aku pun menghentikan langkah kaki saat tersadar jika tidak bisa menemukan tujuan kemana selanjutnya karena tahu rumah tempatku  bernaung baik saat menjadi Rene ataupun Rena, dan yang terpikirkan olehku hanyalah rumah Karen karena masih utuh dan layak ditempati, namun karena sangat jauh untuk aku yang sekarang sudah pasti meningkat menjadi incaran para polisi di seluruh negeri ini dan aku harus melarikan diri dari mereka.


"Ke Rumah aku saja kak Rena" suara berat dari Clara yang tepat dibelakang kepalaku terdengar.


"Clara" aku menoleh pada Clara yang tersenyum dan berdiri di belakangku, kemudian mengangguk pelan mengiyakan perkataannya.


Mau tidak mau aku harus menuruti perkataannya dan pergi ke rumah Clara yang sama sekali tak pernah ku bayangkan bagaimana bentuknya suasana rumah gadis gila yang berjalan sembari sedikit melompat-lompat karena kegirangan karena aku mengunjugi rumahnya bersama dengan Karen yang masih aku genggam lengannya.


"Rumahku di sana" Ketika hampir sampai  dirumahnya Clara menunjuk sebuah rumah sederhana yang tampak biasa saja dan setelah berjalan sebentar Clara memelankan langkahnya  kemudian berhenti melangkah sepenuhnya dan berkata kesal dengan nada rendah "Mereka datang lagi."


"Siapa?" tanyaku saat ikut memberhentikan langkah seperti Clara bersama dengan Karen.


"Beberapa gadis penyihir kota ini yang tak ku kenal" Clara menunjuk rombongan Gadis Penyihir yang lengkap dengan kostum warna-warni dan senjata unik mereka masing-masing.


"Kau ada masalah apa dengan mereka?" tanyaku pada Karen dengan santai karena merasa terbiasa dan sudah tahu suatu saat Clara yang sudah pernah membunuh manusia maupun gadis penyihir akan dibalas.


"Kemarin mereka bilang, mereka ingin mengambil Hope Point kita berdua" Clara menjelaskan sembari kembali berjalan mendekati rumahnya.


"Hope Point?" tanyaku yang kemudian tertegun beberapa saat ketika menyadari aku terlalu banyak membunuh Less demi Rena seorang.


"Hai Rena" kata seorang gadis penyihir yang berjalan cepat mendekatiku, kemudian diikuti oleh belasan rekan-rekannya.


"Kau menjadi penyebab utama krisis yang terjadi diantara gadis penyihir" gadis penyihir yang berjalan duluan kearah kami tadi berkata lagi.


"Kami sangat sulit menemukan Less" gadis penyihir lain menambahkan, kemudian menangis setelah mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan diri dia melanjutkan, perkataannya dengan nada tinggi.


"Karena banyak yang sudah diburu oleh Kalian berdua!"


Gadis penyihir lainnya mengacak-acak rambutnya dan dengan wajah yang depresi menatap nanar pada diriku kemudian berkata dengan nada tinggi juga  "Jika begini nyawa kami akan ditukar sebagai hutang Hope Point  karena Less sebagai sumbernya sudah mau habis."


Aku pernah mendengar aturan menyedihkan ini dari Rea, sekian banyak derita yang dialami gadis penyihir di kota ini, Hope Point bukan lah sesuatu yang didapat secara cuma-cuma saja melainkan sebuah Point yang harus didapatkan terus menerus jangan sampai kosong karena itu adalah sumber kekuatan sekaligus sumber nyawa gadis penyihir di kota ini bisa dikatakan 'Daur Ulang' dari nyawa para Less yang dibunuh, jika kosong maka sebagai ganti Hope Point maka nyawa lah yang diambil.


Namun aku tidak peduli pada penderitaan mereka yang disebabkan karena mereka lemah, lagipula aku tidak peduli dengan derita mereka selama tujuanku untuk membuat gadis yang aku cintai tetap hidup, bahkan jika mereka menghalangiku gadis-gadis penyihir lemah ini tidak segan aku bunuh, oleh karena itu aku memasang kuda-kuda waspada dan bersiap berubah kembali melawan mereka dan akan membunuh mereka jika menghalangiku sekarang untuk menyelamatkan Karen.


Salah satu gadis penyihir lainnya ikut berjalan mendekatiku dan mengeluarkan senjata sihirnya saat siap bertarung kemudian berkata "Dan sekarang para polisi mencari keberadaan gadis penyihir untuk ditangkap karena mereka anggap sosok yang bahaya."


"Dasar hama pengganggu!" para gadis penyihir itu berkata serentak kemudian berlari untuk menyerang aku dan Clara, tetapi Clara juga ikut berlari maju dan menghadang tubuh mereka dengan tangan kosong tanpa berubah, Clara memberikan kedipan mata padaku yang mengisyaratkan jika dirinya mengerti kalau aku akan semakin kesulitan menjelaskan situasi ajaib para gadis penyihir jika memperlihatkan perubahanku dan Clara pada Karen.


"Kalian berdua akan mati ditangan kami sialan" kata gadis penyihir yang menebas tubuh Clara dengan senjata sihirnya yang berbentuk pisau.


"Kak Rena biar aku yang melawan mereka kau bawa saja Karen ke tempat yang aman" perintah Clara diantara tubuhnya yang berceceran darah sembari tersenyum hangat.


"Terimakasih Clara" ucapku sembari mengangguk kemudian menarik lengan Karen yang wajahnya saat kulihat semakin kebingungan dengan situasi aneh yang menyeramkan yang barusan dialaminya.


"Aku tidak akan memaafkan orang-orang yang berani mengancam kak Rena!" Clara berteriak dan mendorong tubuh para gadis penyihir itu dengan kekuatannya yang kuat sebagai manusia biasa, setelah melirik aksi Clara itu aku pun kembali fokus membawa KAren menjauh dari tempat akan dimulainya pertarungan para gadis penyihir.


***


"Aku mau duduk disini saja" Karen yang kelelahan setelah berlari kemudian duduk pada malam hari ini pada lantai teras sebuah ruko.


"Aman" gumamku yang melirik jika tidak ada gadis penyihir atau pun para polisi yang mengejar ku.


Namun sialnya aku melihat salah satu orang yang tak ingin ku lihat untuk saat ini dengan gaya berpakaian misteriusnya yang khas, sehingga membuatku berkata dengan nada kesal "Gadis bertudung hitam itu lagi."


"Hai Rena aku ingin bertanya" Karen yang duduk tak jauh di belakangku memanggilku.


Aku pun mengangguk untuk meyakinkan jika aku mendengar perkataan Karen dengan mata yang masih mewaspadai keberadaan manusia bertudung hitam sembari meningkatkan kewaspadaan.


Melihat tanggapanku itu Karen melanjutkan pertanyaannya dengan berkata "Para gadis itu kemarin dan para polisi itu sebenarnya kenapa mengejar kalian ber_"


Perkataan Karen tiba-tiba terputus dan digantikan oleh bunyi dentuman kencang di belakangku disaat aku tidak menoleh pada Karen, aku pun berbalik dan berlari kearah Karen namun aku terlambat saat melihat jika sebuah truk kecil dengan pengendaranya yang mabuk sudah menghantam tubuh Karen yang sedang duduk dan membuat gadis itu tewas bersimbah darah.


"Tiga kali" ucapku kesal menghitung kematian Karen yang telah susah payah aku hidupkan kembali, kemudian menoleh dengan wajah penuh amarah pada gadis bertudung yang memberikan seringai lebar padaku kemudian tiba-tiba menghilang diantara keramaian orang-orang yang mulai mengerumuni mayat Karen.


Tetapi setelah kejadian hari ini, usahaku tidak terputus, karena setelah itu aku kembali mengumpulkan Hope Point dari para Less yang tersisa dan membunuh banyak gadis penyihir yang ingin melawanku tadi dengan mengambil Hope Point mereka, siklus seperti itu terus aku lakukan namun tetap saja nasib Karen berujung pada kematian.