
Hari ini aku kembali ke sekolah seperti biasa setelah melakukan perjalanan jauh yang singkat, hal berbeda dengan suasana begitu sepi pada pagi yang dingin aku rasakan, semenjak Rea tidak pernah keluar rumah lagi aku hanya sendirian disekolah ini, dua pentolan kelas yang pernah menggangguku dulu hari ini menatapku dengan tatapan penuh kekesalan dengan mata yang memerah karena baru saja menangis.
Mereka yang tidak mengetahui tentang gadis penyihir hanya bisa menatap kesal ke arahku karena memiliki kecurigaan jika aku yang pernah menghajar Len adalah orang yang tepat untuk dituduh sebagai pembunuh Len, namun karena tidak memiliki bukti dan takut untuk melawanku karena itu hanya tatapan mata seperti itulah yang bisa mereka berikan padaku.
Aku membalas mereka dengan tatapan tajam yang dingin sehingga membuat mereka menundukkan pandangan tetapi masih mencoba sedikit-sedikit melirik aku, tetapi aku memilih mengalihkan pandangan dari mereka yang sudah tak berdaya dan menyedihkan itu karena tidak ingin lagi menggangu mereka hingga menimbulkan masalah, dan melihat obrolan kedua rekan kelas ku yang lain saat sedang menonton sebuah acara tv yang familiar bagiku.
Mereka menonton acara dari orang yang ingin sekali aku bunuh.
“Kau Lihat acaranya Agura hari ini?” tanya seorang teman sekelas ku pada temannya yang ada dihadapannya.
“Magical Girl Red Raptor Agura?” tanggap temannya yang didepan itu.
“Iya” teman sekelas ku itu mengangguk.
“Iya aku menontonnya hari ini episode terakhir kan” kata temannya dengan wajah yang ceria.
“Seru ya!” dia melanjutkan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
“Aku sampai terharu” teman sekelas ku memberi gestur tangis dengan tangan dan matanya ya ng tak mengeluarkan air mata.
“Katanya Agura setelah acaranya ini tamat dia akan mendapat serial baru kan tentang drama romantis” temannya menjelaskan topik lain lagi.
Dengan riang teman sekelas ku mengangguk kencang dan menjawab cepat “iya, lawannya mainnya kan pacar nya itu.”
“Kemarin dia juga mendapatkan penghargaan” temannya menambahkan lagi.
Kebahagiaan, dari obrolan dua orang teman kelasku itu sepertinya setelah bertarung denganku dia mendapatkan banyak kebahagiaan, aku merasa muak saat mengetahui jika Agura seberuntung itu, aku yang geram mengepalkan tangan sambil menatap meja tempatku duduk saat memikirkan langkah selanjutnya untuk memberhentikan kebahagiaan Agura dengan cara membunuh gadis itu.
Aku terpikir rencana singkat untuk memulai langkah membunuh Agura malam ini, dengan mencari tahu alamat rumah serta keamanan rumahnya untuk memudahkan ku membunuh gadis Artis itu. Sepulang sekolah pada sore hari aku memulai dengan pencarian informasi melalui ponsel dan laptop mencari informasi dengan mengontak para fansnya yang bukan gadis penyihir, sampai bergabung pada grup fans mereka secara online sehingga dalam waktu 3 hari aku pun berhasil mendapatkan semua informasinya.
Ayahnya adalah pemasok senjata untuk mafia Raven, pantas saja disebut kerabat oleh Agura rumah nya berada pada distrik Selatan daerah didekat pantai, aku memilih untuki kesana dengan wujud manusia menaiki bus dan berjalan kaki dan berniat ingin membunuhnya secara diam-diam, tanpa harus menjadi gadis penyihir demi menghindari serangan sisa fansnya yang menyadari jika Rena Gadis penyihir menyerang idolanya.
Aku berjalan pelan menuju gerbang rumah besar rumah mewah Agura dan dari belakang menggunakan teknik membunuh senyap yang sering aku gunakan saat di medan perang aku membunuh beberapa penjaga rumah Agura, setelah melewati gerbang rumahnya aku melirik beberapa mobil mewah dirumahnya serta benda-benda mewah lainnya, karena aku sadar jika disekitar dan di dalam rumah Agura masih terdapat beberapa orang dan penjaga keamanan rumahnya aku pun memanfaatkan mobil mewah itu dengan meledakkannya menggunakan bom tempel dan berhasil membuat suasana gaduh , di saat semua orang sibuk mendekati sumber ledakan dan panik aku bergegas mematikan listrik utama rumah mewahnya yang telah aku ku ketahui posisinya dari hasil mecari tahu beberapa hari ini.
Mataku yang terbiasa dalam gelap menelusuri rumah besar nan megah itu secara perlahan dan memeriksa satu persatu ruang kamar demi menemukan Agura, aku tiba di suatu ruangan kamar namun bukan Agura didalamnya melainkan kedua orang tua Agura yang telah aku kenali cirinya dalam gelap ini, mereka tidak menyadari jika aku berada dibelakang mereka yang sedang sibuk mencari lampu darurat dan lilin.
Sekelebat rasa kasihan saat merasa tidak tega jika harus membunuh kedua orang tua seseorang terlintas di kepalaku saat teringat betapa tragisnya kematian kedua orang tua Karen, namun aku dengan cepat menghilangkan perasaanku saat jika dos mereka tidak sebanding dengan belas kasih yang aku pikirkan, mereka telah memberikan senjata pada orang-orang yang membunuh orang yang kucintai bahkan anak kesayangan mereka menggunakan Less untuk menyerang kami dan membuat Umi terbunuh dan Qori bunuh diri.
Dengan tatapan kosong akibat berbagai perasaan yang telah aku musnahkan aku pun dengan segera menebas kepala mereka, dan saat kedua orang tua Agura menggeliat aku langsung mengakhiri penderitaan mereka dengan menembak kepala mereka berdua dengan cepat dalam senyap.
Beberapa saat kemudian aku menemukan kamar Agura dan kebetulan gadis Artis itu baru mau masuk ke kamarnya karena baru saja datang dari kamar mandi.
Ketika baru saja mau mendekati nya lampu rumah itu dengan pencahayaan mini kembali hidup, aku melirik kearah jendela luar dan melihat jika seseorang penjaga keamanan rumah Agura ada yang berhasil menghidupkan genset.
“Hai Agura” aku menyapa Agura dengan senyum.
“Siapa memberitahumu tempat ini” Agura menanggapi dengan wajah panik dan cemas.
“Aku mencari sendiri” aku menjawab kemudian merogok saku celana jeans ku untuk mengambil smartphone.
“Hai Agura coba lihat ini" aku menunjukkan foto ayahnya Len yang mati di tanganku beberapa hari kemarin serta foto ayah ibunya yang barusan aku bunuh.
“Dasar gila” dia terduduk saat melihat 2 foto mengenaskan itu.
"Papa, Mama" mata Agura mulai berkaca-kaca.
"Siapapun tolong aku!" teriak Agura kemudian karena tidak ada satu pun orang yang datang dia memilih berlari ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Saat aku sadar jika dia mencoba mencari handphone sihirnya untuk melawan ku, aku pun dengan cepat menembaki kedua telapak tangannya sehingga dia tidak bisa memegang apapun.
“Ampuni aku Rena” kata Agura yang terduduk, dia mengerang, kemudian mulai menangis.
“Tidak-tidak Agura kau tidak boleh berubah” kataku memperhatikan dengan lembut gadis artis yang sedang meringis kesakitan itu.