
Aku sangat paham jika ekspresi riang dan ceria yang di pasang Qori saat menyapaku dengan senyuman hangatnya sekarang ini merupakan sebuah kepalsuan, bola matanya yang tampak redup dan sesekali terlihat sendu bersama kelopak mata yang agak bengkak bekas menangis membuatnya tidak bisa menyembunyikan perasaan pilunya atas kematian Umi sekalipun dia menggunakan wajah seperti itu demi membuatku tidak khawatir dengan kondisinya.
Keluarganya dan keluarga Umi hanya tahu jika tubuh Umi hancur karena terkena mesin kapal pesiar yang akan bergerak saat terjatuh mencari anjingnya yang hilang dan kabar itu pun secara ajaib bisa diterima dengan mudah oleh keluarga Umi.
Hanya Qori lah yang mengetahui sebuah kenyataan tragis saat Umi dikeroyok dibanting dan dimakan oleh monster yang tidak bisa dijelaskan oleh orang awam, karena itu aku yakin jiwa Qori lebih terguncang dari siapapun.
Setelah bertemu denganku, Qori mengajak untuk mengelilingi pusat perbelanjaan kota Batavia sembari berbincang dan saat berbincang padaku hanya wajah ceria yang ia tampilkan yang seakan-akan sedang berusaha mempertahankannya.
“Kau sudah baikan” tanyaku tentang kondisinya karena tidak menyangka dirinya yang mengurung diri akhirnya saat ini memutuskan keluar rumah.
Qori memiringkan kepalanya saat melirik beberapa tempat perbelanjaan kemudian bergumam “Ya begitulah.”
“Diriku lebih tenang dari sebelumnya” Qori memeluk lenganku dan bersandar lembut .
“Kurasa sudah cukup berlarut-larut dalam kesedihan”
Katanya lagi, tingkah dan cara bicara Qori sejenak berubah dan membuatku sempat pangling melihat gadis tomboy ini, tapi aku tahu tingkahnya demi menutupi kesedihan yang ia rasakan selama ini.
“Karena itu aku ingin mencari angin segar di kota ini” Qori memberikan senyuman hangat padaku.
“Syukurlah” jawabku sembari berjalan mengikutinya menelusuri trotoar pada pusat perbelanjaan kota Batavia.
Kami tiba pada sebuah kedai gelato yang lengkap dengan tempat duduk nyaman untuk bersantai di siang hari seperti ini.
“Aku bersyukur bisa bertemu denganmu” kata Qori yang baru saja duduk sembari memegangi eskrim miliknya.
“Saat ini aku benar-benar ingin mengajak siapapun orang untuk mengobrol”
Qori menggenggam tanganku.
“Karena sekarangtinggal kau seorang yang tepat untuk diajak mengobrol” Qori tersenyum kemudian mulai menjilati gelato miliknya saat memikirkan kondisi Rea.
Qori tidak bisa mempertahankan tangisannya sehingga air matanya pun menetes saat menyantap gelato miliknya aku yang merasa tidak enak menyaksikan pemandangan pilu itu hanya bisa menoleh kearah lain untuk mengalihkan pandangan.
Qori mengusap air matanya serta bibirnya yang terhias noda gelato sembari berkata “Karena selama ini hanya Umi lah yang sering ngobrol denganku.”
“Ahh sial, aku sebenarnya tidak mau mengingat lagi kenangan tentangnya” Umpat Qori yang mengucek keras matanya.
“Mari kita fokus mengobrol santai saja” Umi yang masih mendengus diantara nafasnya yang tersengal berusaha terkekeh dan memberikan senyuman.
Kami berlarut dalam obrolan dengan cukup lama dan tanpa sadar obrolan kami pun berhasil membuat diri Qori menjadi lebih tenang dan benar-benar ceria dibandingkan beberapa saat yang lalu, karena melihat kondisinya yang seperti itu aku pun memberanikan diri untuk bertanya tentang kematian gadis penyihir yang dibunuh Less.
“Maaf Qori”
Setelah menghabiskan Gelato milikku aku berkata.
“Tentang jasad Umi” aku memelankan nada bicara demi berhati-hati saat berbicara tentang Umi pada Qori.
“Ya, selama ini aku hanya tau kondisi jika Less berhasil menyerang manusia”
Untungnya Qori yang perasaannya sedang membaik menjawab dengan biasa saja.
“Namun aku tidak tahu apa yang terjadi jika gadis penyihir yang menerima serangan dari Less nya”
Lanjut Qori saat gelato miliknya juga habis.
“Karena sejak awal mula munculnya gadis penyihir satu setengah tahun lalu belum ada yang mengalami kematian yang disebabkan Less seperti Umi”
“Kebanyakan mati karena dibunuh sesama gadis penyihir yang jahat seperti Agura dan Len”
“Kalau tau Less bisa membuat kematian mengerikan seperti itu, saat itu aku benar-benar akan melindunginya” mata Qori mulai kembali berkaca -kaca dan tangannya yang terkepal pun beberapa kali ia pukul pelan pada meja tempat kami duduk.
“Tapi, ya sudahlah” Qori mengusap pelan matanya.
“Ah, benar juga, kau berhasil membunuh Len kan” Qori tersentak di tempat duduknya kemudian tersenyum tipis.
“Aku sangat berterimakasih setidaknya kelompok mereka dengan kita sama-sama kehilangan satu nyawa”
Seketika mata Qori dipenuhi bara api balas dendam bersama wajah seriusnya yang benar-memiliki niat membunuh.
“Bila perlu Agura kau habisi juga suatu saat nanti” Qori mengakhiri perkataannya kemudian memberikan senyum simpul.
Setelah mengitari pusat perbelanjaan kota Batavia ini Qori yang sama sekali tidak belanja apapun mengajakku berjalan sampai tiba untuk mampir di depan rumah Rea demi menjenguk gadis itu setelah kejadian kemarin, namun kakak laki-lakinya berkata pada kami jika adiknya tidak ingin bertemu dengan teman-temannya dulu karena masih trauma atas kematian Umi yang diketahui kakak laki-lakinya mati karena terkena baling-baling kapal pesiar.
Kami pulang tanpa bisa menemui Rea dan tiba lah pada penghujung hari dan kegiatan jalan-jalan kami usai dengan wajah yang sedikit muram Qori pun bersiap berpisah denganku hari ini.
“Sepertinya party kita harus dibubarkan” Qori berkata sebuah hal mengejutkan.
“Dengan kondisi Rea yang seperti itu” lanjutnya yang tahu jika kondisi tim party kami yang sudah mulai menjalin pertemanan karena mulai akrab satu sama lain sudah hancur karena berbagai hal dari kejadian besar saat itu.
“Lagipula, setelah ini, aku juga akan pergi ke suatu tempat”
Qori berkata dan menunjuk kearah stasiun kereta bawah tanah kota Batavia di depan kami
Dengan pandangan sendu saat melirik kearah stasiun Qori berkata.
“Jadi sudah saatnya kita berpisah dan party pun tidak bisa dilanjutkan lagi”
Kemudian menoleh pelan ke arahku dan memberikan senyum simpul.
Aku yang mengerti keputusan Qori dan memahami kondisi gadis-gadis muda itu memilih untuk menuruti keputusan tiba-tiba yang cukup berat ini dan menanggapi perkataan Qori itu dengan anggukan kecil dan sebuah senyuman tipis.
“Kalau begitu party dibubarkan” Qori tersenyum, dan bersiap untuk berlari kearah stasiun untuk meninggalkanku
“Jika kau ketemu Wuli anjingnya Umi, tolong pelihara ya”
Perkataan Qori yang disuruh memelihara anjing milik Umi yang di pelabuhan kemarin lari entah keman, aku tanggapi yakin dengan anggukan sekali lagi, karena aku tidak keberatan jika hanya memelihara seekor anjing milik teman sendiri.
“Kapan kau akan pulang?” tanyaku yang berharap suatu saat bisa bertemu Qori lagi.
“TIdak tahu” Qori menggeleng, kemudian memberikan senyuman lebar sebuah perpisahan yang begitu hangat padaku.
“Selamat tinggal Rena!”
Ucap Umi dia pun menghilang saat memasuki lorong kerta bawah tanah kota Batavia ketika meninggalkanku.
Saat pulang ketika hari sudah mencapai malam, entah mengapa aku tergerak untuk membuka televisi dan langsung menemukan acara berita di sana yang seolah-olah ingin memberitahuku sesuatu, awalnya aku tidak tertarik dengan acara berita itu namun perkataan dari sang pembawa berita yang mengejutkan mampu membuatku terpaku pada channel itu.
“Seorang gadis Remaja berinisial QA tewas bunuh diri karena melompat ke rel kereta cepat pada stasiun kereta bawah tanah kota Batavia yang sedang melintas, Berikut rekaman CCTV yang berhasil merekam kejadian tersebut..."
Sebuah berita hangat menyedihkan yang begitu tiba-tiba hingga membuat jiwaku terguncang, hatiku seketika menjadi pilu tanpa sadar tangisan mengalir di pipiku ketika melihat rekaman CCTV yang diputarkan saat melihat gadis dengan ciri baju yang sama dengan gadis yang aku temui tadi.
Inisial QA dengan baju yang sama dengannya sudah jelas yang dimaksud adalah Qori, ternyata ucapan selamat tinggal darinya bukan untuk pergi tapi untuk mati.