Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
13. Mematuhi



Qori saat ini sedang menarik-narik pipi empuk Umi dengan sangat kuat dengan amarah ayang memuncak karena Umi diam-diam mengunggah video dirinya yang menggunakan kekuatan asli gadis penyihir sehingga ditonton ribuan dan mendapat perhatian Agura si artis yang dikagumi Umi.


"Kenapa kau menggunakan kekuatan aslimu?" tanya Qori dengan suara yang kecil.


"Bagaimana jika ada ilmuan yang meneliti kekuatanmu setelah melihat ini atau orang jahat yang ingin memanfaatkan kekuatanmu" dia menarik-narik pipi Umi sehingga tubuh kepala sahabatnya itu mengangguk-angguk.


"Kau terlalu khawatir Qori, tidak akan sejauh itu pengaruh videoku!" jawab Umi dengan mata yang berair dan terlihat ingin menangis  karena merasa sakit.


"Lagi pula aku menjelaskan di semua deskripsi videoku jika semuanya editan" jawabnya yang mencoba melepaskan tangan Qori yang menarik pipinya.


"Aaargh" Qori yang semakin kesal menambah kuat tarikan pada pipi Umi "kenapa tidak tanya dulu padaku"


Pipinya Umi ditarik sangat kuat oleh Qori sampai-sampai bibirnya melebar dan tidak jelas saat berkata"Awhku tawhu kauhw akhwan marhawh."


Aku dan Rea hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah konyol dua sahabat itu.


***


Aku merasa bersalah pada Rena karena kulit cantik putih mulus yang ia miliki aku paksakan berjalan dibawah terik matahari tanpa krim pelindung karena aku tidak mengerti  bahkan tanpa jaket saat berjalan ketika pulang sekolah hari ini dan bertambah parah saat aku terkena deburan asap motor yang berjalan di sampingku.


Karena kesal dengan motor kuno yang mesinnya tak terawat karena menyebarkan polusi udara kotor padaku aku pun menoleh pada pengendaranya, namun tak disangka jika itu adalah Qori yang mengenakan seragam kerja sebuah minimarket.


"Dari mana kau" tanyaku dengan wajah datar.


"Baru saja mengantar Umi ke rumah Agura" Qori menjawab dengan sedikit menoleh padaku sembari perlahan memelankan laju gasnya diantara kemacetan kota batavia ini.


"Padahal masih 1 jam lagi aku pergi kerja tapi dia tidak mau aku temani" Qori melihat jam yang terikat di tangan kirinya.


"Aku khawatir...." air muka cemas tergambar diwajahnya.


"Tidak apa, meski tubuhnya kecil seperti anak SD dia itu sudah SMA loh" dengan sedikit terkekeh aku menenangkan Qori dengan sedikit bercanda.


Namun dia menanggapinya dengan dingin, aku hanya bisa memalingkan wajah karena merasa malu dengan perkataan ku dan Qori pun langsung berkata lagi padaku "Soalnya dia memposting kekuatan aslinya, aku takut ada hal buruk terjadi padanya."


"Kalau menyangkut hal yang disukainya dia sangat bahagia" Qori memulai kembali mengencangkan tarikan gas motornya karena jalanan mulai agak lengang.


"Jadi iri pada Agura" Qori melanjutkan.


Ingat nanti malam kita akan berburu Less seperti biasa ya Rena!" setelah melambaikan tangan Qori pun meninggalkan aku dan dengan menarik gas lebih kencang lagi dan menuju tempat kerjanya meski masih terlalu cepat.


***


"Dimana Umi?"


Tanyaku pada Qori yang sudah seminggu ini tidak pernah melihat Umi ikut perburuan Less bersama kami lagi.


"Hari ini dia ada kegiatan bersama Agura" Qori berkata sembari menembakkan peluru revolver sihirnya pada beberapa Less ukuran normal.


"Kegiatan?" aku memasang wajah bingung dengan dahi mengkerut karena ragu dengan konsistensi party yang baru dibentuk ini saat satu anggotanya sudah lama tidak hadir.


"Melihat Agura syuting" Jawab Qori cepat.


"Hanya itu saja kegiatannya setiap kesana?" Tanyaku yang tahu jika Umi selalu pergi ke tempat Agura berada untuk menemui artis pemeran gadis penyihir itu.


"Banyak juga sih"


Qori berjalan mendekati aku yang baru saja menembaki Less dengan sebuah sniper AWM ciptaanku yang mengeluarkan peluru sihir yang bercahaya.


"Makan-makan, membuat konten Outstagram bersama Agura dan lain sebagainya" Qori mengeluarkan smartphone miliknya dengan sihir untuk memperlihatkan konten video Oustagram pada diriku.


"Sepertinya dia tidak sendiri" aku berkata saat melihat ada sekitar belasan gadis yang berada dalam konten video itu bersama sang artis Agura.


"Iya, katanya Agura saat ini sedang melaksanakan event jumpa fans yang hanya boleh dihadiri fans wanita" Qori mematikan smartphonenya setelah melirik Umi dalam video itu yang begitu bersemangat saat menari kemudian menghilangkan kembali dengan sihir smartphone miliknya itu kemudian melanjutkan perkataan


"Dengan syarat fans yang kreatif"


Dengan nada penuh kekesalan Qori berkata.


"Seperti Umi yang dengan bodoh menggunakan kekuatan sihirnya"


"Syukurlah" Ucapku sembari terkekeh dan senang mendengar akhirnya teman party ku bisa bertemu dan bersenang-senang dengan orang dengan level artis sepeti Agura.


"Rena! Qori!" Dari belakang Rea berteriak memberitahu kami berdua yang sedang asyik berlarut dalam obrolan itu karena melihat 3 Less biasa yang mencoba menyerang kami yang lengah.


"Awas" Rea mengencangkan volume suaranya hingga terdengar oleh aku dan Qori.


Dan dengan respon yang cukup cepat aku dan Qori yang mendengar peringatan Rea itu langsung terbang menyamping untuk menghindar.


"Hampir saja..." Qori berkata kemudian mengusap keringat di dahinya.


Qori yang menyaksikan jurus dahsyat yang aku keluarkan di depan matanya itu hanya bisa menggeleng sembari tersenyum kecil karena kagum dan seakan-akan masih belum percaya jika aku yang menggunakan kekuatan seperti itu bukanlah Rena lemah nan cengeng seperti yang ia ketahui dulu.


Keesokan harinya saat akhir pekan  tiba-tiba saja Umi hadir diantara kami saat akan memburu Less dengan wajah yang murung dan memberi tahu jika dirinya diancam dikeluarkan dari event itu karena menolah mengirimkan Hope Point pada Handphone sihir milik Agura yang dengan mengejutkan ternyata seorang gadis penyihir juga di dunia nyata.


Qori memarahinya dan menyalahkan sahabatnya itu yang memancing perhatian Agura karena menggunakan kekuatan asli gadis penyihir dan saat tahu Agura pun mencoba memeras Hope Point Setiap Gadis Penyihir yang ia kumpulkan dalam satu event jumpa fans termasuk Umi di sana dan mengumpulkan banyak Hope Point dari para gadis penyihir sekaligus fansnya yang ia manfaatkan itu dan saat sudah terkumpul banyak point Agura berkata ingin mewujudkan impian mulia yaitu 'Membuat Kedamaian Abadi' di dunia ini.


"Tidak boleh!" bentak Qori ketika membantah sahabatnya itu, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar.


Umi hanya bisa menundukkan kepalanya begitu dalam mendengar tanggapan sahabatnya itu.


"Ta_tapi" Umi tergagap saat matanya yang bulat menatap tanah pada lapangan sekolah mereka.


"Tidak bisa seperti itu Umi!" Qori memasang wajah kesal pada sahabatnya itu.


"Tapi aku tidak memerlukan point itu aku tidak ingin apapun" Umi mencoba melirik wajah temannya dengan wajah memelas.


"Lagian dia mau menggunakan nya untuk kedamaian abadi di dunia ini untuk umat manusia" Matanya pun sendu saat melihat Qori.


"Aku tahu, kau setuju dengan tindakannya itu karena sesuai dengan tujuanmu menjadi gadis penyihir Umi"


Qori menepuk-nepuk pelan kepala Umi dengan senyum simpul.


"Tapi tidak dengan cara memeras mu jika dia memang mampu dan kuat aku yakin dia bisa mencari sendiri hope point di kota ini" Qori berkata dan perkataannya itu membuat aku dan Rea mengangguk setuju.


Qori meraih kedua tangan Umi dan menggenggam nya dengan erat.


"Setidaknya Hope Point milikmu adalah bayaran dari jerih payah mu menyelamatkan manusia di kota ini, jadi dia tidak boleh seenaknya mengambil"


Dengan sedikit menunduk Qori melirik wajah Umi dengan senyuman hangat kemudian melanjutkan perkataan dengan lembut


"Karena aku ingat kau pernah bilang Hope Point milikmu itu seandainya diperoleh banyak akan kau gunakan untuk menyelamatkan umat manusia."


"Meskipun sebenarnya kau tidak terlalu ingin menggunakannya untuk hal-hal merepotkan seperti impian egois manusia dari gadis penyihir lain" Tangan Qori semakin menggenggam erat dengan perlahan telapak Umi yang lebih kecil darinya.


"Tapi" Umi menatap sendu mata sahabatnya karena ingin dimengerti jika dia ingin melakukan sesuatu yang baik untuk idolanya.


"Biarkan kau sendiri yang melakukan penyelamatan untuk umat manusia, aku ingin kau yang jad pemeran utamanya "Qori membuat telapak tangan Umi terkepal kuat.


"Lagipula kita tidak akan pernah tahu apa dia benar-benar menggunakan point itu untuk kedamaian atau tidak" Qori perlahan mulai melepaskan genggaman tangannya.


"Dia itu artis mungkin saja dia akting" Dengan mata yang terpejam Qori berkata, kemudian menghela nafas


"Dia menjadi sosok penyelamat umat manusia juga hanya akting" Qori mendengus  kesal.


"Hanya akulah seharusnya yang bisa kau percayai"


Qori mengerutkan keningnya karena cemburu pada Umi yang sepenuh hati ingin melakukan sesuatu untuk Agura.


"Kau boleh mengidolakannya tetapi tidak harus kau harus menuruti keinginan buruknya" Qori yang melepaskan genggaman, menyilangkan lengannya.


Setelah mengatakan itu Qori berbalik ke arahku.


"Sifat buruk sang artis karena mengambil keuntungan dari sahabatku mungkin itu adalah sifat aslinya"


Qori berbisik ke telingaku setelah itu memandangi sekujur tubuh dari sosok polos sahabatnya itu.


"Tidak akan kubiarkan dia memanfaatkan Umi"kata Qori padaku sembari mengepalkan  tangannya dan aku pun menanggapi perkataan tiba-tibanya yang sangat menyayangi Umi hanya dengan mengangguk.


"Baiklah aku sudah lega" Setelah mendengar ceramah sahabatnya Umi pun menghirup nafas dalam-dalam dan perlahan mengeluarkannya agar tenang.


Kemudian dengan senyuman manis ia berkata pada Qori dengan riang "...karena orang yang aku percayai telah memberikanku pencerahan."


"Aku akan bilang pada Agura aku menolak memberikannya dan rela dikeluarkan dari Event itu" Umi mengakhiri perkataannya dan langsung berbalik meninggalkan kami pada malam ini.


***


Malam hari aku mencoba untuk memperkuat fisikku yang telah menjadi seorang gadis muda ini dan memulai marathon malam di dekat pusat taman olahraga, dan saat pulang sekitar jam 10 malam aku memilih istirahat sebentar sembari meminum air mineral yang baru saja aku beli.


Tanpa diduga saat itu juga dari kejauhan di dekat zebra cross jalan raya besar di hadapanku aku melihat sebuah pemandangan mengerikan dari seorang gadis babak belur yang dikejar sebuah mobil mercy hitam untuk ditabrak dan belum sempat aku tolong, dengan cepat gadis itu tertabrak serta dilindas oleh mobil Mercy hitamnya.


Kemudian dari dalam mobil Mercy aku melihat seorang gadis yang memeluk boneka T-Rex dengan tudung dari jaket hitamnya yang ia kenakan keluar kemudian memungut handphone sihir yang terpental dari tubuh si gadis yang ia tabrak.


"Padahal kau bisa mengirim Hope Point secara baik-baik padaku" Gadis itu terkekeh-kekeh.


Wajah penabrak yang keluar itu adalah  wajah seorang artis yang diidolakan Umi yaitu Agura.


Aku langsung mengeluarkan smartphoneku untuk memberitahu Qori bahwa  Agura ternyata orang yang berbahaya karena aku cemas akan ada sesuatu hal buruk menimpa Umi karena menolak gadis artis yang tampak gila ini untuk memberi Hope Point.