Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
31. Kebangkitan



Pipi ku terasa hangat dadaku pun terpompa hebat karena begitu bahagia, aku pun juga bisa merasakan jika ada setetes demi setetes air mata yang perlahan mengalir dari kelopak mataku menuju pipi, diantara tangisanku aku langsung membisu dan terdiam untuk waktu yang cukup lama.


Aku terpana akibat keajaiban di depan mataku disaat Karen yang sudah mati sekarang berada di depan mataku dengan seragam sekolah SMA nya dan sedang berbincang dengan anak tetangga, wajahnya dan tawanya yang begitu manis akhirnya bisa ku jumpa lagi berkat kehebatan Hope Point yang telah aku dapatkan.


Aku cukup paham jika perjuangan yang telah aku lakukan selama menjadi gadis penyihir demi Karen tidak sia-sia, begitupula bantuan dari Clara belum lama ini, kehilangan teman yang baru sesaat aku kenali bahkan sampai membunuh orang hingga di cap kembali sebagai pembunuh berantai membunuh banyak Less telah aku lewati demi mencapai hadiah yang besar bagiku ini.


Campur aduk pikiranku itu akhirnya benar-benar membuatku terguncang tangisan gusar pun meluap dari mata, dan seluruh wajahku yang berair karena perasaan lega dari perjuangan berat yang telah aku lewati, badanku pun bergetar hebat dan lutut kaki ku tidak bisa menopang tubuhku.


Aku berlutut di jalanan bebatuan di desa ini sembari menangis tersedu-sedu akibat perasaan seorang gadis yang akhirnya bisa aku rasakan dari dalam diriku dan tanpa aku sadari jika tingkahku rupanya menarik orang banyak untuk mengerumuni diriku yang menangis tiba-tiba.


Diantara usapan mata yang aku lakukan aku melirik satu persatu orang yang perhatian denganku karena di kepalaku aku berharap jika Karen juga mendekatiku.


Tak lama kemudian Karen menerobos kerumunan untuk mencoba melihat aku yang dikerumuni karena penasaran, orang-orang yang memberi Karen jalan sepertinya tidak aneh dengan keberadaan Karen yang hidup kembali seakan Karen memang tidak pernah mati dan selalu ada di dekat mereka.


Aku mengabaikan tingkah orang-orang ramai itu dan hanya fokus pada Karen yang mulai mendekatiku karena sadar jika dirinya selalu aku tatap dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"Kau kenapa?" tanya Karen yang akhirnya benar-benar mendekatiku setelah menatapku dengan mata sendu tanda memiliki rasa simpati pada gadis yang menangis sepertiku.


Aku hanya membalas pertanyaannya dengan menggeleng pelan kemudian menambah dan mempercepat usapan di wajahku sembari bergumam saat ingin mengatakan sesuatu namun tertahan karena begitu bahagia diantara nafasku yang tersengal karena menangis.


"Kenapa menangis?" Karen menekan pertanyaan kembali karena tidak mendapat jawaban.


Aku menggeleng-geleng lebih kuat sembari menarik nafas dan mengeluarkan nya untuk menenangkan diri kemudian menjawab pertanyaan Karen yang sepertinya ingin mendengar jawabanku.


"Tidak tidak ada?"


Karen mengangguk pelan seakan memahami diriku, kemudian berdiri untuk berbicara oleh salah satu warga desa dan berkata "bibi, ada minum? anak ini sepertinya kelelahan."


Karen menunjuk ke arahku dan memberikan senyum indah ciri khasnya yang selalu ia gunakan padaku saat seperti dulu, disaat aku sedang terpana seseorang memberikanku air putih dan setelah aku meminumnya aku dibawa ke depan teras rumah orang yang memberiku air putih itu.


Setelah aku menjelaskan pada warga jika aku tidak apa-apa dan mulai tenang, warga meninggalkanku dengan Karen berdua saja sebagai sesama gadis muda untuk berbincang pada sore hari ini sampai aku benar-benar tenang dan tidak mengulang tangisan lagi.


"Kau dari mana." tanya Karen yang memulai pembicaraan.


"Kota Batavia" jawabku cepat setelah itu menghabiskan dalam satu tegukan air putih yang disediakan olehku.


Karen mengangguk-angguk setelah memperhatikanku berbicara berkata sembari menyelipkan senyuman tipis pada wajahnya "Gaya bicaramu itu sangat mirip dengan teman lamaku."


"Benarkah?" kataku yang memasang wajah pura-pura tidak tahu saat sadar jika aku tidak pernah merubah gaya bicaraku saat menjadi Rena sehingga aku yakin Karen sadar jika gaya bicaraku ini adalah gaya bicara Rene teman lamanya dulu yaitu aku sendiri.


Karen mengangguk pelan dengan senyum simpul dan berkata "Dia sudah meninggal sekitar hampir satu tahun lalu karena ditembak polisi."


"Dia sangat hebat, baik, gagah dan keren"  dari bibir Karen pujian demi pujian untuk mengenang diriku yang sudah mati keluar saat gadis itu mencoba mengalihkan arah pembicaraan yang kemungkinan akan membawa kearah penjelasan jika diriku mati karena jadi buronan pembunuh.


"Kalo tidak salah dia dulunya adalah mantan tentara bayaran" wajah kagum bersama senyuman muncul dari Karen muncul saat gadis cantik itu mengeluarkan telunjuknya ke dekat kepala.


Lagi-lagi aku terpesona dengan senyumannya yang tak kusangka bisa ku temui lagi secara nyata, seakan mimpi aku tidak pernah menyangka jika Hope Point benar-benar bisa mengabulkan impian mustahil ini, mataku pun berkaca-kaca karena mau menangis lagi saat melihatnya sedekat ini lagi dengan perasaan tak percaya, aku pun dengan cepat mengusap mataku agar tidak ketahuan akan menangis.


"Kau kesini ada urusan apa?" tanya Karen lagi yang menoleh ke arahku dengan mata indahnya yang menatapku dengan penuh semangat.


Aku memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab perkataan Karen dan untungnya aku pernah mengingat jika Karen memiliki teman bernama Rena yang pindah ke kota saat masih SD dan mungkin saja dengan skenario ini aku bisa dekat dengan Karen, semoga saja Rena ini adalah Ren ayng dikenali oleh Karen saat SD dulu, setelah berpikir aku dengan sedikit tergagap berkata  "A_aku mencari teman lamaku."


"Teman?" Karen memiringkan kepalanya.


Aku mengangguk pelan kemudian melanjutkan perkataan "Dan aku sangat senang ketika menemukannya, karena itu aku menangis."


"Menemukannya?" Tanya Karen lagi yang kali ini lebih antusias dengan wajah kagetnya yang merasa tak percaya.


"Iya" aku menyodorkan tanganku kearah Karen untuk memberikan salam.


"Kau ingat aku Karen aku Rena" kataku yang berpura-pura menjadi Rena si gadis asli yang mengenal teman masa kecilnya yaitu Karen yang sekarang ada dihadapannya.


"Rena!" Karen terbelalak mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut pun seketika ia tutup dan saat itu juga perlahan air mata menetes di pipinya.


"Ternyata benar, aku kira hanya firasatku saja kau mirip dengan Rena teman masa kecilku" Karen berkata diantara isak tangisnya.


Karen mengusap matanya kemudian melanjutkan perkataan "ternyata kau benar-benar Rena, sahabatku saat kecil dulu."


"Syukurlah aku bisa bertemu denganmu, aku sangat ingin menceritakan banyak hal padamu" Karen berdiri dari kursinya dan berjalan ke arahku untuk memelukku begitu erat karena merasakan pertemuan yang begitu bahagia dan menangis karena Haru.