
Sekali lagi sejak pertarungan di pelabuhan Mily membawaku kerumahnya dan sedikit membawa suasana nostalgia, setelah pertarungan besar pada pelabuhan itu dengan rumahnya yang ada klinik serta membawaku nostalgia juga pada rumah Karen yang sama, sama ada klinik.
Seperti kebiasaan, Mily kali ini pun memberikan sajian berupa teh hangat dann sejumput kue kering untukku, kemudian duduk di depanku untuk berbicara denganku.
"Apa yang membuatmu ingin membantuku" tanyaku saat dengan santainya mulai menyeruput teh buatan Mily.
Mily tersenyum kemudian mengambil sebuah kue kering untuk dimakan dan diantara kunyahannya dia berkata "Sudah kubilang kan karena perasaan kehilangan yang sama."
Aku mengangguk menanggapi perkataannya kemudian ikut mengunyah kue keringnya.
"Kau tahu hal yang belum kelihatan solusinya seperti kematian berulang temanmu meski berapa kali kau hidupkan tidak bisa di selesaikan hanya dengan emosi" Mily menasehati ku dan tersenyum.
Mily kembali menyentuh tangan kiri ku dan berkata "Aku juga kalau terlalu tenggelam dalam emosi saat bertemu dengan Clara saat itu melihat dirimu yang menghentikan ku untuk menyerangnya kurasa aku mungkin juga akan menyerang kamu."
"Maafkan aku" ucapku yang teringat pernah menghentikan Mily yang mengamuk saat melihat Clara bersamaku, karena aku anggap Clara begitu menguntungkan diriku yang mengumpulkan Hope Point saat itu.
"Aku juga minta maaf sudah terbawa suasana saat itu" Mily ikut menunduk sedikit memberi ucapan maaf juga.
Setelah cukup lama berbincang tentang Karen yang aku katakan sebagai seorang sahabat sampai gadis bertudung yang selalu menghalangiku itu pada ruang tamu rumahnya ini, Mily mengeluarkan Laptop dan Smartphone nya yang diletakkan di atas meja ruang tamu dan berkata "Rencana yang aku pikirkan, kita harus mencari tahu dan menangkap orang dengan tudung yang kau katakan selalu menjadi penyebab kematian Karen sahabatmu itu."
"Setelah itu mengalahkannya" lanjut Mily saat menghidupkan laptopnya.
"Baiklah beritahu aku seperti apa ciri-ciri gadis bertudung yang kau katakan itu."
Pertanyaan dari Karen itu membuatku dengan cepat memaparkan gambaran gadis bertudung yang kulihat itu pada Karen dan menjelaskan ciri-cirinya seperti bekas luka pada lengan yang kulihat saat dia mengeluarkan pistol untuk menembak Karen dan rambutnya yang berwarna biru sama seperti ku dan beberapa detail kecil yang pernah kulihat saat bertemu gadis bertudung hitam itu selama pengulangan mati dan hidup Karen yang aku lakukan.
Saat sadar jikan anehnya gadis bertudung itu sering muncul begitu saja tanpa aku sadari aku pun bergumam dengan suara kecil "Dia sering muncul tiba-tiba disaat aku bersama Karen dan juga sering muncul di dekat Lep"
Rupanya Mily mendengar gumam dariku itu dan langsung memainkan laptopnya untuk memutar video CCTV ataupun video amatir yang memunculkan sosok Lep secara misterius di kota Batavia ini.
"Apa kau ingat dimana saja tempat kau melihatnya?" kata Mily yang masih memainkan laptopnya dan kemudian setelah berhenti memainkan laptop dia menekan beberapa angka pada smartphone miliknya.
"Tenang Rena aku punya banyak data dan kenalan yang bisa memberi mu informasi terkait orang seperti itu aku juga akan memberitahu mereka dimana saja gadis itu pernah terlihat" kata Mily lagi yang kali ini menelpon dan mengirim SMS dan pesan eletronik lainnya pada beberapa orang yang tampaknya cukup akrab dengannya,
"Karena ingin balas dendam pada Clara aku bisa mengakses semua ini." setelah menghubungi orang-orang itu Mily berkata lagi dan menunjuk data-data serta rekaman video miliknya yang sepertinya digunakan untuk mencari sosok Clara yang sering berkeliaran untuk membunuh demi niat balas dendam pada Gadis Penyihir Badut itu.
***
"Itu dia" teriak Mily saat sedang mengejar gadis bertudung hitam itu dengan melompat -lompat juga dan saat jaraknya sudah mendekati gadis bertudung itu dengan pedangnya Mily memunculkan sihir yang bercahaya putih menyilaukan satu penjuru jalan gang berkat energi sihirnya yang besar.
"Sial, silau" kataku yang terkena dampak dari energi sihirnya namun meski terganggu aku masih berusaha memfokuskan mata pada sosok gadis bertudung itu yang saat setelah cahaya putih menyilaukan itu berakhir kewalahan dan hampir menabrak balkon rumah yang ada di gang besar ini.
Memanfaatkan momen yang membuat gadis bertudung hitam itu kewalahan setelah cahaya itu berakhir aku langsung menciptakan sniper tipe SPR-2 dan menembakkannya dengan menggabungkan energi sihir, dengan waktu yang terdesak gadis bertudung itu sempat mengeluarkan senjata sihir perisai namun karena peluru ku lebih cepat dia pun terjatuh saat peluruku mengenai sebagian kecil bahunya.
"Kena kau" kataku kemudian aku dan Mily berlari mendekatinya dan memperhatikan dia yang mengerang kesakitan karena bahunya terluka.
"Sialan" dia mengumpat dan menunjukkan semua wajahnya.
"Tunggu Rena!" teriak Mily yang mencoba menghentikan aku saat tanganku yang terkepal ingin memukul wajah gadis bertudung itu yang baru terungkap.
"Wajah yang sama..." Mily berkata saat matanya terbelalak dan mundur beberapa langkah ke belakang karena begitu terkejut ketika dengan seksama melihat wajah gadis bertudung itu.
Aku langsung memperhatikan wajah gadis bertudung itu juga dengan seksama dan wajah gadis itu membuatku begitu sangat terkejut, aku pun langsung melontarkan perkataan "Kau, kenapa bisa?"
"Ah, ketahuan juga" gadis bertudung itu berkata kemudian memperlihatkan sepenuhnya wajah darinya yang persis sama dengan yang aku miliki sekarang, yaitu wajah dari Rena si gadis yang menjadi wadah jiwaku untuk bereinkarnasi sekarang.
"Sudahlah aku beritahu saja semuanya" gadis itu tersenyum sambil meringis menahan sakit pada bahunya.
"Hai Rena" Gadis itu dengan santainya melambaikan tangan padaku.
Dan dengan wajah ceria dia berkata lantang "Aku adalah dirimu dari masa depan"
"Cara bicaramu keinginanmu tujuanmu sepertinya kau bukan diriku" Rena yang kulihat di depan mataku sekarang menyentuh pipiku dan karena begitu terkejut dengan situasi aneh ini aku pun tidak bisa menepis tangannya dan hanya terdiam saat dia berkata tentang dirinya yang menebak dengan benar jika aku adalah orang lain yang bersemayam di tubuhnya.
"Dugaan Lep sepertinya benar, kau adalah orang lain yang bereinkarnasi ke tubuhku" Rena yang asli dari masa depan itu menatap ku tajam dan memasang wajah serius.
"Reinkarnasi?" dari belakangku Mily berkata karena terkejut dan tak mengerti dengan pembicaraan kami berdua yang memiliki wujud yang sama di depan matanya.
"Pantas saja, diriku di masa lalu ini selalu menghalangi tugasku untuk membunuh Karen" Rena dari masa depan berkata dengan nada kesal.
Rena dari masa depan menghela nafas kemudian berdiri meski meringis sambil menahan darah yang keluar dari bahunya dan dia pun melanjutkan perkataannya "Ternyata diriku pada masa ini jiwanya telah diganti oleh orang yang menginginkan Karen hidup,"
Dengan wajah yang memelas Rena dari masa depan berkata pada diriku dengan nada tinggi "Tolonglah seseorang yang hinggap di tubuhku jangan menghalangiku lagi, aku hanya ingin mencegah gadis penyihir yang bisa mengakhiri era gadis penyihir di masa depan seperti Karen lenyap."