Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
17. Gelap



Pelatuk thompson yang ku sempal pada mulut Len, aku tarik tanpa berpikir panjang dan seketika meledakkan kepala Len tepat didepan mataku bercak daging dan darah kepalanya berhamburan hingga melumuri rambut hingga wajahku, air laut tempat aku berenang mengapung, menjadi warna merah pekat saat aku perhatikan dengan mataku yang sangat kosong dan anehnya aku puas melihat warna dan mayat Len yang mengapung di depanku itu.


Raungan Pteranodon terdengar kencang dari atas hingga membuatku menoleh dan di sana Agura yang menungganginya dengan wajah amarah menghujamkan dinosaurus  besarnya itu ke tubuhku, tubrukan paruh dengan bobot berat tubuh dinosaurus membuatku tenggelam beberapa saat, namun karena dahulu aku sudah terbiasa tenggelam seperti ini, aku tak memerlukan banyak waktu untuk keluar ke permukaan.


Saat mencapai permukaan aku melihat sosok Agura yang mencari ku diantara deburan ombak ku perhatikan saat terbang di atas permukaan laut, dan memastikan jika dia benar-benar lengah saat mencari ku setelah itu aku menghampiri Agura dengan kecepatan tinggi dan mencekik lehernya dengan lenganku dengan lebih kuat seperti yang dia lakukan saat itu.


Ditengah-tengah bergumul dengan Agura aku mendengar bunyi ledakan di dasar laut dan tahu jika Pteranodon milik Agura meledak berkeping-keping berkat bom tempel yang aku pasang pada tubuh Pteranodon itu saat menubruk diriku tadi dan mengurangi satu hambatan untukku.


Setelah ledakan itu aku melirik Rea, Qori dan Umi yang bertarung dengan gadis penyihir lain dan Less yang kini kehilangan kendali akibat tidak ada yang mengendalikan mereka, supaya aku bisa bergabung untuk membantu mereka sekalian menghajar Agura, aku pun menarik tubu gadis itu dengan cekikan bersama kecepatan tinggi dan menghantamkan tubuhku dan tubuh Agura pada rombongan gadis penyihir yang melawan Rea dan yang lainnya.


Mereka bersama Agura terpental cukup jauh saat ku lirik dari balik deburan semen dan debu pasir, tanpa lama saat formasi para gadis penyihir yang menjadi lawan kami bkacau, aku yang terbaring langsung berdiri dan berlari untuk bergabung bersama Qori, Rea dan Umi untuk bersiap melawan para gadis penyihir itu dengan dipimpin oleh Agura yang sebentar lagi berdiri.


“Rena telah membunuh Len” kata Agura saat berdiri dengan telunjuk yang terarah pada mayat Len yang mengambang dilautan,  wajah yang kotor dan lebam menempel pada ekspresi kesal dan marahnya yang masih ia pertahankan saat tak lekas menatapku.


Qori, Umi dan Rea serentak menatapku takut, reaksi wajar mereka itu muncul karena tidak menyangka jika aku harus membunuh seseorang gadis penyihir ditengah pertarungan tak terduga ini, namun karena dalam situasi sulit dan mendesak mereka bertiga memilih mengabaikan masalah keputusanku dan tetap fokus pada lawan didepan mata mereka.


“Tidak mungkin…” gadis penyihir Api anak buah Len menggaruk rambutnya yang pendek sebahu.


“Benarkah?” gadis penyihir Air memegangi Pundak Agura dan menatap dengan begitu dalam bersama matanya yang berkaca-kaca, Agura membisu dan memberikan anggukan pelan padanya.


“Sialan!” gadis penyihir koboy mengumpat dan mengepalkan tinjunya dengan kuat sehingga urat di lengannya muncul urat-urat yang cukup besar.


Agura mengarahkan telunjuknya tepat ke arahku dan berkata dengan nada berat “Jadi tidak ada alasan membiarkan mereka hidup.”


“Jumlah kita lebih banyak, Less diatas sana juga bisa kita kendalikan” Agura melanjutkan saat melirik kearah para Less hasil panggilannya yang bergerak tak karuan dan ada juga yang mengamuk.


“Setelah ini sepertinya kita harus berterimakasih pada Lep” kata Agura saat melirik dua tongkat besar yang sepertinya menjadi alat pengendali Less miliknya.


“Lep?” tanyaku yang terkejut dengan perkataan Agura yang menyelipkan nama maskot para gadis penyihir di kota Batavia ini.


Namun tidak ada jawaban dari Agura, semua anak buah Len dan para fans nya langsung menyerang kami dengan beringas dan Agura dengan sembrono maju dan menyerang aku dengan mengayunkan dua tongkat besar itu dan melempar beberapa buah boneka dinosaurus miliknya dan menciptakan beberapa raptor yang menyerang ku bahkan Qori, Rea dan Umi.


“Ah Baiklah” Qori mengangguk dan langsung meninggalkan pertarungan kemudian membantu Umi dan Rea melawan gadis penyihir dan beberapa Less yang menyerang di belakangku.


Dengan rasa berani yang besar Agura berhasil menyerang ku dan membuat lengan sampai kakiku memar karena tongkat pengendali yang ia ayunkan, dia mundur beberapa langkah karena kelelahan dan mengambil nafas sesaat kemudian dia berkata dengan terengah-engah “Apa kata ayahku nanti mendengar anak sahabatnya mati.”


Mataku terbelalak mendengar kalimat Agura itu tatapanku semakin dingin pada Gadis Artis itu karena aku memiliki alasan membunuhnya sekarang, ya aku menyimpulkan dia juga berkaitan dengan pembunuhan Karen sekeluarga, luapan dendam ku tak terkendali dan membuatku dengan cepat menciptakan pedang besar untuk menghantam leher gadis itu sembari berkata dengan nada tinggi diantara seringai lebar gigiku “Hoh, rupanya kau juga ada hubungannya dengan Len!”


Dia menangkis pedangku dengan cekatan tapi karena emosi tubuhku yang seketika menjadi kuat karena sihir ketimpangan pun muncul dia tidak sanggup lagi menahan serangan brutal ku yang mengincar kematiannya meskipun dibantu beberapa Raptor kecilnya yang berusaha menggigitku.


Meski menahan rasa sakit gigitan yang membuat pundak dan kakiku berdarah, untuk beberapa menit aku yang telah kalap tetap menyerang tanpa ampun Agura akibat amarah suara bising di telingaku seketika hilang penglihatan ku pun hanya tertuju pada Agura dan membuatku tidak memerhatikan kondisi sekitar pertarungan sedikitpun.


“Umi!”


Tetapi teriakan pilu dari Qori di sampingku mampu membuatku tersadar dan mengembalikan suara bising pertarungan bahkan aku pun mampu melihat kondisi sekitar pertarungan kami lagi, dan menemukan Qori yang terduduk lemas dengan wajah kosong, Rea yang masih berdiri juga menangis dengan wajah yang begitu terkejut saat melihat sesuatu didepannya.


“Tidak_” Qori tersengal.


“UUUMMMIIII!” Teriakan Qori semakin kuat air mata yang mengalir deras muncul pada bola matanya.


Dan saat aku menoleh kebelakang aku melihat jika setengah tubuh Umi dimakan oleh satu Less raksasa berbentuk beruang darah dan daging gadis mungil itu bercucuran di tanah pelabuhan ini.


Karena emosi yang tidak bisa ku tahan alur pertarungan kami berantakan.


Dan aku lupa jika pertarungan ini adalah pertarungan terberat untuk kami bahkan untuk aku yang belum lama menjadi gadis penyihir.


Seharusnya aku harus lebih waspada dan memperhatikan teman-temanku.


Aku tidak bisa memperhatikan apapun karena hanya ingin membunuh Agura, sehingga membuatku gagal melindungi Umi.