Magical Girl Serial Killer Rena

Magical Girl Serial Killer Rena
14. Memulai Masalah



Setelah mengetahui bahayanya orang seperti Agura setelah aku hubungi Qori pun memutuskan mengajak aku dan Rea untuk ikut Umi menyusup kedalam event tertutup dengan fans yang diadakan Agura yang kali ini berada di sebuah gedung serba guna di kota ini.


Dengan sedikit keberanian, pada malam hari ini  seusai mengalahkan Less bersama kami bertiga dan  mendatangi event  Agura itu dan bergegas mencari Umi.


Saat memasuki gedung dengan event tertutup itu, entah mengapa aku merasakan suasana suram yang begitu pekat mengitari gedung itu.


Kami bisa melihat didepan sana ada sebuah ruangan yang didalamnya belasan gadis penyihir yang menyetujui memberikan Hope Point sedang mengirimkan Hope Point mereka pada Agura.


Kebetulan disekitar sana ada Umi yang masih terpaku diujung ruangan dengan kepala yang tertunduk seakan takut mengatakan penolakan pada Agura.


Para gadis penyihir yang juga fans Agura itu masuk kesebuah ruangan dengan Agura yang sedang duduk di sana.


Kami mengintip dan melihat jika Umi memperhatikan Agura yang sedang menonton berita pada televisi tentang kematian gadis SMA yang ditemukan mati terlindas di tengah jalan raya besar kota Batavia seperti yang aku lihat kemarin dan tepat di belakang Agura ada dua gadis yang menolak memberikan Hope Point pada Agura kemarin tetapi bedanya kali ini wajah mereka benar-benar suram karena memperlihatkan air muka ketakutan.


“Oh, Umi Zera kenapa kau datang lagi hari ini?” Agura berkata tanpa menoleh pada Agura karena masih menonton berita.


“Ya, aaku ingin mengatakan sesuatu padamu” Umi menjawab dengan tempo pelan.


“Mengatakan apa” kata Agura kemudian memutar kursi putarnya untuk berbalik dan menoleh pada Umi yang ingin bicara padanya.


Agura memberikan senyuman lebar namun dengan tatapan mata yang dingin dengan bola mata kosong seakan-akan bisa menggambarkan jika aura membunuh menyeruak dari tubuhnya sampai-sampai kami yang menguping pembicaraan itu bisa merasakannya juga, sehingga mampu membuat Umi merasa takut dan mengambil satu langkah mundur ke belakang.


Meski begitu Umi tetap memberanikan dirinya untuk memberitahu Agura mengenai Hope Point yang telah dibicarakannya pada Qori kemarin, Umi menghirup nafas untuk menenangkan diri setelah lancar mengeluarkan nafasnya kembali dia berkata “Aku benar-benar tidak bisa”


Perkataannya terputus saat sadar jika gadis-gadis lain yang menolak memberikan Hope Point pada Agura kemarin itu menatapnya dengan penuh rasa cemas di antara air muka takut yang mereka berikan beberapa kali mereka menggeleng kecil pada Umi seakan ingin memberitahu jangan menolak permintaan Agura, karena mereka sudah merasakan ancaman mengerikan akibat menolak.


Mereka berdua tidak ingin Umi menjadi korban selanjutnya seperti gadis yang ada di tv itu karena tidak berubah pikiran sama sekali, harusnya Umi seperti mereka yang langsung meminta maaf dan menerima permintaan Agura saat akan dibunuh beberapa hari yang lalu.


“Kau ingin mengatakan apa Umi?” tanya Agura lagi yang memperhatikan dengan seksama Umi yang sedang terdiam dan membisu beberapa saat, ketika mata Umi terhubung dengan mata dua gadis yang ketakutan di sebelahnya.


Kengerian dari Agura yang menciptakan ketakutan untuk orang yang menentangnya seperti dua gadis itu membuat Umi terpikir perkataan Qori sebelum pergi kesini kemarin tentang Gadis Penyihir T-Rex salah satu gadis penyihir yang ditakuti oleh banyak gadis penyihir di kota Batavia.


Gadis penyihir yang memiliki kekuatan sihir memanggil monster berbentuk T-Rex dengan jumlah berapa pun sesuai kehendaknya, sifat dan kedudukannya hampir sama dengan Len dan telah menjadi Rival seorang Len gadis penyihir mawar yang dikenal sebagai mafianya gadis penyihir di kota Batavia.


Mengancam, merampas Hope Point dengan kekuatannya seperti itulah rumor tentang gadis penyihir T-Rex yang selama ini tidak dikenali siapa namanya dan identitasnya menurut Qori yang mendapatkan informasi itu dengan kenalannya sesama gadis penyihir di Kota Batavia ini.


Melihat Agura yang memiliki identitas asli sebagai seorang artis yang tentunya sangat perlu menyembunyikan Identitas di luar pekerjaannya bukan tidak mungkin bagi Umi jika Agura itu sendiri adalah Gadis Penyihir T-Rex dan menyembunyikan identitasnya karena dikenal sebagai artis.


Karena itu Umi langsung meningkatkan kewaspadaannya kemudian memejamkan matanya untuk mengingat perkataan Qori.


"Sebisa mungkin kau harus menghindari pertarungan dan lari dari Agura, Umi" perkataan dari Qori kemarin itu juga sepertinya sedang diyakini oleh Umi saat ini yang sedang mencoba untuk kabur.


"Tenang aku akan selalu ada untuk melindungi mu"


"Umi tidak bisa memberikan Hope Pointnya padamu."


Umi begitu terkejut saat mendengar suara Qori yang tepat berada di sebelahnya.


Aku dan Rea yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba Qori pun membeku dan memilih waktu yang tepat untuk membantu Qori agar suasana di gedung ini tidak bertambah gaduh.


"Gadis penyihir T-Rex" Qori berkata lagi dan kali ini melirik Umi sembari memberikan senyuman yang membuat Umi merasa tenang dan Aman.


Umi dengan air muka tak percaya berbalas melirik sahabatnya itu dan memberikan senyuman tipis.


"Dia itu salah satu fans ku harusnya dia bisa memberikan apa yang idolanya mau" Agura menatap penuh amarah wajah Qori yang begitu percaya diri di hadapannya itu


"Kau hanya idola."


Qori menunjuk-nunjuk Agura dengan keras.


"Tapi sebagai Gadis penyihir kau sama busuknya dengan mereka yang rela melakukan hal kotor untuk keinginan diri sendiri" Qori meninggikan nada bicaranya dengan memberikan wajah kesal yang terselip senyum lebar pada Agura.


"Seperti dirimu yang menginginkan keabadian. "


Qori berkata dengan nada rendah saat mengungkapkan keinginan sebenarnya dari Agura yang ingin menukar impiannya dengan Hope Point.


"Pembual kedamaian sepertimu tidak pantas mendapatkan Hope Point dari sahabat ku yang sekuat tenaga mengumpulkannya" Qori menghujat Agura yang berbohong demi mendapat simpati dari fansnya.


"Apalagi dengan cara kotor yang telah banyak kau lakukan Agura" Qori melanjutkan sembari mengeluarkan Handphone Sihirnya dari saku celana jeans nya.


Mendengar perkataan Qori yang mengungkapkan niat sebenarnya dari dirinya yang ingin mengumpulkan Hope Point, Agura pun mengerutkan keningnya dengan menjaga tatapan dingin pada bola matanya.


"Siapa yang memberitahumu?" Tanya Agura.


Qori yang telah memasang kuda-kuda  siap bertarung langsung menjawab "Seseorang yang ku kenal_"


Namun perkataannya terputus saat Agura mencoba menyerangnya dengan melemparkan salah satu boneka T-Rex yang langsung membesar dan menghujam Qori dan Umi.


Qori dan Umi yang lompat menghindar saat terbang bisa melihat Agura yang telah berada dalam wujud gadis penyihir dengan tudung kain berbentuk kepala T-Rex dan ornamen-ornamen imut dinosaurus yang tertempel pada kostumnya.


T-Rex yang membesar dalam ukuran sedang itu mencoba mengejar untuk menggigit Qori dan Umi pada ruang tamu mewah super luas itu, saat dikejar saat itu juga Qori dan Umi yang ia beri kode berubah menjadi gadis penyihir.


Aku dan Rea pun saling mengangguk dan mengikuti kode itu dan ikut berubah menjadi gadis penyihir untuk membantu Qori dan Umi namun hampir seluruh fansnya menghalangi kami, membuat kami mau tidak mau harus melawan mereka.