
Meskipun hampir hancur namun setidaknya sedikit bagian wajah utuh mayat bekas pukulan benda tumpul yang dibawa oleh Clara itu adalah kakak Rea seorang polisi yang pernah aku temui saat ingin menemui Rea dulu, aku menebak alasan Clara membunuh karena membela diri saat kakaknya Rea mencoba menangkapnya yang menjadi buronan kelas atas sepertiku di negeri ini karena telah membunuh banyak anggota polisi dan tentu saja alasan apapun dari Clara tidak bisa menahan emosi meluap-luap dari Rea yang pernah depresi dan membuat gadis penyihir cahaya itu mengeluarkan aura membunuh yang kuat.
“Aku benar-benar akan membunuhmu Clara sialan!” Bentak Rea yang langsung menembakkan cahaya besar berwarna putih dari tongkatnya dengan energi sihir yang cukup besar untuk balas dendam.
Clara yang terkejut dengan serangan cepat dari Rea itu mencoba menghindar dengan gerakan cepatnya yang seperti biasa namun karena tubuhnya kulihat sudah babak belur duluan akibat luka ledakan dan peluru dari polisi dan hantaman batu dan tanah karena ulah Mily saat itu yang membuat baju gadis penyihir badut itu lusuh, Clara pun jadinya menghindar dengan lambat sehingga serangan cahaya yang ditembak kan Rea berhasil menghilangkan tangan kanannya.
“Temanku” Rea bergumam dengan suara dalam nan berat.
Rea pun berjalan perlahan mendekati Clara yang sedang menciptakan senjata pada sepatu badutnya dan berkata “Sekarang kakak ku.”
“TERKUTUK LAH SEMUA GADIS PENYIHIR!” Teriak Rea dan melompat kearah Clara untuk menghantamkan tongkat pada kepala gadis itu.
Clara berhasil menangkisnya dengan tangan namun Rea dengan cerdik memberikan kilatan cahaya putih dan mengeluarkan efek ledakan dan membuat dirinya dan Clara terpental keatas langit dan mengarah kearah hutan pegunungan.
“Ayo Cepat Rena” kata Mily padaku disaat aku sedang melihat Clara dan Rea yang menjauhi desa ini.
“Clara sudah diatasi” Mily berkata lagi saat membanting tubuh Rena masa depan yang kulihat saat menoleh padanya.
“Cepat antar ini pada Karen” Mily memberikan handphone sihir milik Karen kepadaku yang berhasil dia rebut dari Rena masa depan yang ia lumpuhkan dengan pukulan yang sekarang sedang meringis memegangi perut dengan beberapa luka lebam pada wajahnya.
“Sialan kau Mily” kata Rena masa depan dengan nada rendah kemudian menghilangkan luka lebam diwajahnya dengan kekuatan regenerasi gadis penyihir.
Melihatku yang memegang handphone sihir milik Karen Rena masa depan pun mencoba mengejar ku yang mulai mundur untuk pergi ke rumah Karen dan berkata padaku “Kau tidak bisa lari.”
Dengan cekatan Mily menghadang dengan melempar pedang besarnya kearah Rena masa depan dan membuat pedangnya tertancap tepat di depan kaki gadis itu dan Mily pun berkata dengan nada menantang “Hey fokuslah melawanku saja.”
“MILY” Rena masa depan berteriak dan memperlihatkan wajah geram yang begitu mengerikan sampai membuatku tidak menyangka jika Rena asli yang dirumorkan sangat lemah lembut dan cengeng menjadi mengerikan karena kejadian di masa depan yang tidak sesuai keinginannya.
Aku langsung terbang meninggalkan pertarungan Mily dan Rena masa depan untuk segera menghampiri Karen tetapi maskot sialan itu terbang dan menghadang ku dengan ekspresi datarnya yang terlihat kejam.
“Lep” ucapku menyebut Namanya ketika memperhatikan maskot gadis penyihir itu seperti akan mengeluarkan energi sihir untuk menyerang ku.
“Mau kemana Rena?” Lep bertanya dengan nada dingin.
Untungnya aku terselamatkan oleh panah sihir yang menghujam tubuh Lep meski tidak berdampak apa-apa pada tubuh maskot itu dan dari kejauhan aku mendengar suara seorang gadis yang tak aku kenali berkata dengan penuh semangat “Kau tidak boleh menghalanginya Lep.”
Saat aku menoleh ada gadis penyihir dengan senjata panahnya sedang tersenyum ke arahku dan berkata “Kami telah dihubungi kak Mily untuk membantumu demi kelancaran rencana kalian yang akan mengakhiri era gadis penyihir.”
Tidak hanya gadis penyihir panah itu saja yang membantuku menghalangi Lep, belasan gadis penyihir dengan berbagai senjata sihir karena dihubungi oleh Mily yang popular diantara para gadis penyihir dan memiliki cara pikir dan tujuan yang sama mereka pun setuju untuk membantuku dan menghalangi Lep dengan yakin meskipun tahu kekuatan mereka tidak sebanding dengan pencipta mereka itu.
Keadaan menyedihkan dari para gadis penyihir yang membantuku itu membuatku khawatir dengan Rea yang melawan salah satu gadis penyihir terkuat seperti Clara dan saat aku menoleh kearah pegunungan pertarungan mereka berdua sepertinya masih berlangsung dengan sengit terlihat dari kilatan cahaya yang kelap-kelip cepat diantara hutan pada pegunungan itu.
Aku pun tiba di depan rumah Karen dalam beberapa menit setelah terbang di langit dan langsung mengetok rumah Karen, Karen yang ku hidupkan untuk kesekian kalinya itu akhirnya muncul dari balik pintu dan tapa basa basi aku pun memberikannya handphone sihir untuknya berubah.
“Karen!” ucapku yang tak sempat memberikan gestur bahagia saat melihatnya karena dipacu waktu atas pergerakan Lep yang akan mengejar ku.
“Rena?” Karen berkata dengan wajah yang kebingungan melihat diriku yang terburu-buru dengan wujud gadis penyihir.
“Cepat tolong gunakan ini” kataku saat mengeluarkan handphone sihir Karen yang berpola tanda hati dan menunjuk tombolnya yang berbentuk hati juga.
“Tekan ini” kataku saat menarik telunjuk Karen dan Karen yang kebingungan pun hanya bisa mengikuti diriku yang ia kenali sebagai teman masa kecilnya tanpa perlawanan.
Seketika perubahan megah terjadi pada teras rumah Karen yang memunculkan cahaya pink dan beberapa pola berbentuk hati membungkus tubuh Karen dan seketika merubah gadis itu menjadi gadis penyihir yang begitu indah dan menawan dengan gaun gadis penyihir dengan pola tanda hati berwarna pink dan sedikit warna putih diantaranya.
“Aku jadi gadis penyihir?” Rena bertanya padaku setelah perubahannya selesai dengan wajah yang Bahagia meskipun pada matanya tersirat kebingungan karena berbagai pertanyaan besar di otaknya.
“Ya” aku mengangguk juga dan memberikan ekspresi Bahagia dengan menyembunyikan perasaan khawatir di dadaku, aku menghela nafas kemudian kembali mengambilnya untuk menenangkan diri setelah itu berkata pelan sembari memegangi bahu Karen yang telah menjadi Gadis Penyihir “Dan aku minta tolong kau harus mengakhiri semua ini.”
“Mengakhiri takdir tragis yang telah melanda gadis penyihir di kota ini bahkan mungkin di dunia ini dengan kekuatan yang kau miliki” kataku dengan nada tegas bersama mata yang berkaca-kaca.
***
Setelah menjelaskan semua situasi yang selama ini terjadi di kota ini tentang gadis penyihir dan Lep serta tentang Rena masa depan yang ingin membunuh Karen karena Karen adalah gadis penyihir yang akan mengakhiri era gadis penyihir sesuai yang terjadi di masa depan.
“Akhirnya” sebuah suara misterius muncul diantara kami.
“Upaya ku untuk membuat jiwamu bereinkarnasi ada hasilnya Rene” suara itu berkata lagi dan memunculkan setitik cahaya putih yang terang.
Setitik cahaya putih itu mengitari tubuhku dan berkata “Kau berhasil menjadikan Karen gadis penyihir.”
“Reinkarnasi?” Karen memiringkan kepalanya saat mendengar perkataan yang muncul dari cahaya putih itu.
“Iya dia adalah Rene dan aku adalah sosok yang membuatnya bereinkarnasi agar kau bisa menjadi gadis penyihir demi mengakhir semua ini” cahaya putih itu menjelaskan dan kali ini mengitari tubuh Karen.
“Rene?” tanya karen saat menoleh ke arahku matanya pun berkaca-kaca dan beberapa saat kemudian benar-benar menangis, karena tahu jiwaku sebagai Rene yang pernah menemaninya dulu masih hidup pada tubuh teman masa kecilnya.
“Benarkah?” Karen bertanya lagi untuk memastikan dan aku pun membalas pertanyannya dengan mengangguk pelan dengan matamu yang berkaca-kaca juga karena lega akhirnya Karen mengetahui keberadaan diriku yang masih hidup.