
Gelap malam dengan anginnya yang dingin semakin membuat suasana mencekam tercipta antara aku dan Lep yang memilih tidak saling berbicara karena Lep menunggu tanggapan dariku akibat pertanyaannya dan aku yang membisu karena sedikit terkejut dengan perkataan Lep yang mengatakan konflik yang terjadi diantara gadis penyihir adalah hal yang menarik.
Wajahnya yang sekarang hampir menjadi siluet diantara bayangan lampu temaram terlihat lebih menyeramkan, wajah datar seperti robot yang selalu ia pasang seakan terlihat sangat senang jika melirik paruhnya yang memunculkan lengkungan diantara celahnya karena tersenyum, dari sana aku sadar jika ada yang salah dengan maskot ini dan system gadis penyihir yang diinginkannya.
“Semua hal tentang gadis penyihir di kota ini menjadi tanggung jawabmu?” tanyaku yang penasaran seberapa berpengaruhnya Lep untuk gadis penyihir di kota Batavia ini sampai menggunakan kata naungan.
“Ya, aku yang menciptakan mereka, aku yang memberi mereka kekuatan dan aku juga yang akan mengabulkan impian mereka tentu saja mereka tanggung jawabku” jawab Lep cepat dengan nada yang begitu riang.
“Demi mengalahkan Less” sayap penguin sebelah kanan yang seakan menjadi tangannya terangkat saat berkata.
“Berarti kau mengetahui juga semua tentang Less?” tanyaku dengan tatapan tajam.
Dengan air muka kecurigaan aku melangkah pelan mendekati Lep “Seperti asal-usul mereka, tujuan mereka.”
“Hmm”
Lep bergumam pelan.
“Aku tidak tau” kemudian menjawab dengan menggeleng kencang.
“Hahaha”
Tawa bernada jahat mencurigakan dari Lep yang cukup besar agak membuatku kesal sampai-sampai membuatku ingin mengayunkan kembali pisau daging, aku melangkahkan kaki kearah tembok untuk mengambil pisau daging itu dan mencoba untuk melemparnya lagi.
“Oh iya, aku ingin bicara” kata Lep dengan segera sehingga membuatku membatalkan niat menyerang dariku dengan melempar pisau daging.
“Denganmu dan semuanya, untuk memberitahu sesuatu” Lep dengan tangannya yang terbentang menunjukan wajah yakinnya yang begitu tegas.
“Semuanya?” mata ku menyipit saat bertanya tentang kejanggalan ucapannya yang berkata ‘semua’ dengan sangat yakin.
“Obrolan denganmu tadi berarti di dengar semua oleh gadis penyihir di kota ini?” kataku dengan nada amarah bersama volume yang begitu rendah.
Mata bulat Lep tertutup satu dengan wajah datarnya yang seakan memberikanku kedipan namaun bagiku masih terlihat mengerikan dengan ekspresinya yang datar seperti itu “tenang saja, obrolan tadi aku khususkan untukmu saja.”
“Sebenarnya saat ini aku menggunakan wujud kloningan pada semua gadis penyihir di seluruh kota Batavia” Lep menjelaskan sembari memutar pelan tubuhnya.
Kemudian berhenti memutar tubuhnya untuk menoleh lembut ke arahku “dan di depanmu ini adalah wujud asliku Rena.”
“Tes-tes” Lep menekan kedua tombol bulat yang ada di headphone yang ia kenakan dan memunculkan lingkaran sihir warna biru pada kepalanya.
Lep berdeham untuk membersihkan lehernya.
Kemudian berkata dengan lantang “Karena kejadian besar kemarin aku yang merasa kasihan pada gadis penyihir terpikir suatu hal.”
“Selama ini jika gadis penyihir mati maka pointnya hilang begitu saja” Lep perlahan memelankan suaranya.
“Jadinya sia-sia!”
Dan tiba-tiba ditinggikan sehingga membuatku agak terkejut.
“Karena itu aku memutuskan hope point gadis penyihir yang mati bisa diambil saat nyawa mereka hilang tanpa perlu dikirim”
Tangan yang merupakan sayap penguin dari Lep mulai ia kepakkan untuk diadukan agar menciptakan tepukan tangan.
Namun sia-sia karena sayapnya terhalang oleh tubuhnya yang bulat dan sekali lagi dia seakan paham melakukan hal memalukan hal yang sia-sia sehingga membuatnya menundukkan kepala dan berkata lagi dengan nada rendah “…cukup dengan menghancurkan handphone sihir gadis penyihir yang mati maka kalian akan mendapatkan hope point yang mereka miliki.”
“jadi jangan menghancurkan handphone gadis penyihir lain ya!” Lep menutup penjelasannya dengan nada yang ceria.
“Bye-Bye” kemudian melambaikan tangan, setelah itu menekan kedua tombol lagi pada headphone nya untuk menghilangkan lingkaran sihir biru yang mengitari kepalanya.
“Oke, aku sudah menghilangkan wujud kloningan ku pada semuanya” Lep berkata sembari melangkah pelan mendekatiku.
Kemudian Lep memperhatikan aku yang sedang memegang handphone sihir milik Umi yang masih memliki jumlah Hope Point yang cukup banyak tersimpan, karena perkataan Lep pemikiran ragu muncul di benak ku saat terbesit untuk menghancurkan handphone sihir milik Umi dan seketika langsung ku tolak pemikiranku sendiri demi menghargai kematian Umi, setidaknya untuk saat ini.
“Kau tidak mau menghancurkan milik Umi itu Rena?” tanya Lep saat memiringkan kepalanya.
“Tidak” aku menggeleng pelan dengan wajah datar.
“Padahal kau bisa dapat Hope Point yang cukup banyak loh” Lep melanjutkan saat mengangkat satu sayap penguinnya.
“Bagimu sepertinya peraturan baru yang kau buat akan membuat situasi diantara gadis penyihir menarik ya?” aku yang kali ini memiringkan kepala menatap dingin wajah bulat maskot itu.
“Tentu saja” Lep menjawab cepat tanpa keraguan.
“Kau akan memicu gadis penyihir saling bunuh” timpal ku dengan meninggikan nada bicara.
“Tidak mungkin mereka saling bunuh seperti itu, gadis penyihir adalah sosok baik hati jadi tidak akan terjadi"” Lep menjawab lagi dengan begitu tenang.
"Lagipula gadis penyihir bisa mati karena dibunuh mafia seperti yang disebabkan Len, atau terbunuh oleh Less seperti Umi jadi tidak harus saling bunuh kan?" seketika dua bola mata Lep menyipit.
“hahaha” bahkan ketenangan yang terlihat dari wajahnya itu ia bawa saat tertawa terbahak-bahak sehingga membuatku kesal.
"Tapi tetap saja mereka akan saling bunuh jika tahu bisa mengambil point gari gadis penyihir yang mati" aku meninggikan nada bicaraku.
Tanganku yang terkepal erat saat kesal langsung terbuka karena sadar ada cahaya mobil yang menembus jendela ruang tamu rumah ini, aku langsung melangkah cepat untuk memantau dan menemukan sekitar 5 mobil jeep hitam yang terparkir di halaman rumah Rena yang cukup besar ini, dari dalam sana keluar sekitar 30 orang bersetelan jas dan celana serba hitam yang langsung menyerbu pintu rumah ini dan menggedor kuat.
“waaaaaah” paruh Lep terbuka lebar saat menyaksikan orang-orang itu yang terburu-buru, setelah itu muncul lingkaran sihir merah pada kedua mata maskot itu.
“Sepertinya anak buah ayahnya Len mencari mu” kata Lep yang langsung mengetahui siapa mereka tanpa mencari tahu berkat sihir yang dimilikinya
“Oh iya, mereka masih menyimpan handphone sihir Len loh” Lep melanjutkan saat berjalan mundur menuju bayangan gelap yang tercipta di sudut ruangan dapur.
“Ambil dari mereka dan hancurkan jika mau mendapatkan banyak Hope Point” hanya paruh Lep saja yang terlihat saat seluruh tubuhnya telah menghilang dalam gelap.
“Aku yakin melawan mereka adalah hal mudah bagimu dirimu yang sekarang” Lep terkekeh, kemudian tubuh maskot itu menghilang sepenuhnya.
“Aku sangat menyukai dirimu yang sekarang Rena” suara Lep masih menggema diantara kegelapan, dia pun mengakhiri perkataannya dengan tertawa riang.
Seketika aku mengalihkan fokus dari Lep yang sudah menghilang kearah para bawahan ayah Len yang mengepungku dan mengambil pisau daging tadi untuk melawan mereka sementara.
Satu hal yang kutahu mereka adalah anggota Mafia Raven yang telah membunuh Karen dan orang tuanya, kebetulan masih ada 5 orang lagi penyerbu rumah Karen yang belum aku bunuh, dan dari Qori aku tau kebusukan mereka yang memanfaatkan gadis penyihir yang lemah, anak bos mereka juga yang mengakibatkan kematian Umi dan membuat Qori bunuh diri.
Ah, benar dosa mereka sangat banyak, jadi kurasa tak apa jika aku membunuh mereka semua, tidak hanya mereka yang ada disini tapi keseluruhan organisasi mereka termasuk ayah Len.
Aku tersenyum lebar menyadari betapa bodohnya mereka mendatangiku seorang pembunuh yang telah memiliki kekuatan hebat dari gadis penyihir.
Aku membanting pisau daging yang ku genggam dan mengambil handphone sihirku saat aku merubah niatku untuk membantai mereka para ‘Mafia Raven’ mulai sekarang juga dengan wujud gadis penyihir dan kekuatan penciptaan yang aku miliki.